Jam setengah dua belas siang, sebuah taksi online berhenti di depan gerbang rumah megah keluarga Jack Ardiansyah. Turun dari dalamnya seorang lelaki tinggi besar dengan kemeja flanel rapi dan tas ransel di pundaknya. Sofyan, dua puluh lima tahun, anggota kepolisian Semarang, pacar resmi Erika Wijaya sejak dua tahun yang lalu.
Pak Hendra mengantarnya masuk dengan sopan. Sepanjang jalan dari gerbang ke teras, mata Sofyan menyapu setiap sudut rumah, pilar-pilar besar, taman yang luas, sampai jumlah kamera pengawas yang terpasang di dinding. Kebiasaan polisi memang tidak bisa dilepas. Sekali olah TKP, tetap olah TKP.
"Nduk!" Sofyan tersenyum lebar saat Erika muncul di ambang pintu.
"Mas Yan!" Erika mempercepat langkah, lalu berhenti di depannya dengan senyum lebar. Sofyan menyerahkan tas oleh-oleh sambil menanyakan apakah lututnya sudah membaik. Bau parfum Sofyan yang itu-itu saja, parfum puluhan ribu yang dibeli di toko dekat balai desa, tiba-tiba membuat Erika terharu. Perasaan ini aneh. Dia kangen, tapi juga tegang. Seperti makan bakso sambil dikejar deadline.
"Aku bawain lumpia sama wingko. Buat keluarga sini juga, biar sopan," kata Sofyan sambil menyerahkan dua kantong besar.
"Ya Allah, Mas Yan baik banget. Ayo masuk, ada Uncle Jack sama Mas Jo."
Di ruang keluarga, Daddy Jack menyambut Sofyan dengan ramah. Sofyan langsung membungkuk dan menyalami tangan beliau dengan dua tangan, gaya salim yang sopan.
"Jadi ini pacarnya Erika? Polisi?" Daddy Jack menatap Sofyan dari atas sampai bawah, lalu mengangguk puas. "Bagus, Nak. Anak muda yang punya cita-cita jelas. Dulu Daddy juga sempat mau jadi polisi, tapi malah jadi penulis."
"Pantas novelnya tentang pendekar semua, Om," jawab Sofyan, dan Daddy Jack tertawa keras. Nilai plus langsung tercatat untuk calon menantu versi kampung ini.
Jo juga akrab menyambut. "Jadi ini Samian yang dari kemarin-kemarin itu?"
"Sofyan, Mas," ralat Erika kesal. "Dari kemarin namanya diganti-ganti mulu."
"Terserah gue dong yang ngasih nama," sahut Jo sambil tertawa.
Di tengah obrolan hangat itu, mata Sofyan berhenti pada benda di tangan Erika. Ponsel keluaran terbaru, mahal, bukan ponsel butut yang biasa dipakai pacarnya.
"Kamu ganti hape, Nduk?" tanyanya. "Ini mahal lho."
Erika menelan ludah. "Iya, Mas. Dikasih buat bantu kerja nulis." Erika merapatkan ponsel ke telapak tangannya. Ia belum sanggup menjelaskan siapa yang memberikannya dan kenapa hadiah itu membuatnya terikat pada urusan orang lain.
"Alhamdulillah kalau gitu," kata Sofyan. Dia tersenyum, tapi matanya mencatat. Polisi itu mencatat semuanya tanpa buku.
Sofyan tidak menginap di rumah Jack. Dia sudah memesan kamar sederhana di penginapan yang tidak terlalu jauh. Erika lega ketika mendengar itu. Ia tidak ingin membuat tuan rumah repot, apalagi beberapa kamar memang sedang direnovasi. Daddy tetap menyuruhnya ikut makan malam sebelum pulang ke penginapan.
"Besok kalau mau ajak Erika jalan, bilang dulu sama Jo," pesan Daddy. "Biar pekerjaannya nggak saling tabrakan."
"Siap, Om. Saya nggak akan ganggu pekerjaannya."
Erika menatap Sofyan diam-diam. Baru kali ini dia mendengar kekasihnya membicarakan pekerjaannya tanpa menyebut bahwa perempuan akhirnya akan berada di dapur. Mungkin berada di depan Daddy membuat Sofyan lebih menjaga ucapan. Erika berharap sikap itu bukan hanya karena mereka sedang bertamu.
Ketika Jo mengantar Sofyan melihat taman depan, Erika menyelinap ke dapur. Bi Ani sedang menyiapkan bahan untuk makan malam, sedangkan Lina berdiri di dekat meja dengan daftar kecil di tangan.
"Ada acara apa, Lin?"
"Hari ini ulang tahun Bang Ammar. Daddy minta makan malamnya sekalian. Nggak usah pesta, katanya."
Erika menepuk kening. Kemarin Iccha sudah menyebutnya. Saking pusing memikirkan kedatangan Sofyan, dia malah lupa.
"Bang Ammar tahu?"
"Kalau tahu juga paling bilang nggak perlu. Makanya Daddy cuma minta makanan yang dia suka."
Lina memperlihatkan catatannya. Tidak ada hidangan aneh atau persiapan mewah. Justru hal itu membuat Erika merasa sedikit lebih dekat dengan keluarga ini. Di rumahnya, Ibu biasa memasak sayur kesukaan anak-anak ketika ulang tahun. Bedanya, meja di sini lebih panjang dan orang-orangnya lebih susah diajak duduk tanpa bertengkar.
"Daddy jangan terlalu capek, ya," kata Erika.
"Iya. Tadi beliau sudah minum obat. Aku juga sudah ingatkan supaya nggak lama-lama duduk."
Erika membantu menata mangkuk kecil. Lina menggeser satu piring, kemudian menanyakan apakah Sofyan akan mengajaknya pulang ke Semarang. Erika terdiam sebentar.
"Aku belum selesai kerja di sini. Kalau pulang sekarang, janjiku sama Mas Jo bagaimana?"
"Aku takut kamu berubah pikiran."
"Aku juga kangen Ibu. Tapi kangen kan ndak selalu berarti harus langsung ninggalin yang sedang dikerjakan."
Lina mengangguk. Dia tidak bertanya lagi, tetapi senyum lega terlihat jelas di wajahnya.
Di ambang pintu, Iccha muncul dengan kotak kecil. Dia menyembunyikan kotak itu di belakang badan begitu melihat Erika. Terlambat, tentu saja. Mata penulis ini bukan cuma dipakai mencari salah ketik.
"Hadiah buat yang ulang tahun, Mbak?"
"Bukan!"
"Oh, berarti buat aku. Matur nuwun, Mbak."
"Enak aja! Ini cuma barang yang udah kebeli sebelum gue tahu orangnya makin ngeselin."
Iccha menaruh kotak itu di meja. Isinya pulpen, terlihat dari celah tutup yang belum rapat. Erika tidak meledek lebih jauh. Ia ingat tangan Ammar yang merah dan mata Iccha yang sembap ketika pulang kemarin. Ada banyak hal yang sedang bertabrakan, dan hadiah kecil itu mungkin salah satunya.
"Mau aku taruh dekat tempat duduk Bang Ammar?" tanya Lina.
Iccha menggeleng cepat. "Jangan. Nanti gue kasih sendiri. Atau nggak usah sekalian."
Dia mengambil kotaknya lagi. Erika memperhatikan, tetapi tidak mencoba memaksa. Sesudah rencana manas-memanasi kemarin, rasanya dia sendiri perlu lebih hati-hati memberi nasihat.
Saat makan malam akhirnya dimulai, Daddy memberi ucapan singkat. Ammar yang baru pulang kantor menghentikan gerakan membuka kancing lengan kemejanya. Dia melihat ayahnya, lalu memandang hidangan di meja.
"Nggak perlu repot, Dad."
"Makan malam kan tetap harus makan. Daddy cuma minta kamu jangan buru-buru selesai."
Ammar duduk. Jo mengulurkan tangan untuk menyalaminya dan sengaja mengucapkan selamat dengan nada seperti pembawa acara. Ammar mendengus, tetapi menerima salaman itu. Lina menyusul, lalu Kiki yang mengucapkannya dengan suara pelan.
Tatapan Ammar berhenti pada adiknya itu. Wajah Kiki masih terlihat letih. Dia tidak menyinggung Tama atau kejadian semalam, hanya menggeser lauk ke dekat Kiki.
"Makan dulu," katanya.
Kiki mengambil sedikit, lalu menunduk. Daddy memperhatikan mereka tanpa berkata-kata. Erika dapat melihat betapa beliau ingin suasana seperti ini bertahan lebih lama.
"Selamat ulang tahun, Bang," ucap Erika. "Semoga sehat dan ... lebih sabar."
Jo langsung tertawa. "Doa yang terakhir itu penting banget, Rik. Amin paling kencang."
"Lu diam," sahut Ammar, tetapi tidak benar-benar marah.
Sofyan memperkenalkan diri dan menyalaminya. Ammar menjawab singkat, cukup sopan, sebelum perhatian di meja kembali pada makanan. Untuk beberapa menit, Erika mengira malam ini akan berjalan dengan baik. Semua orang mempunyai alasan untuk menahan ucapan, bahkan Kiki yang biasanya paling cepat mencibir.
Di meja makan, keluarga Jack berkumpul seperti biasa. Daddy Jack di ujung meja, lalu Jo, Kiki, Lina, Iccha, Erika, dan tamu kehormatan malam ini, Sofyan. Menu makan malam istimewa, ada udang goreng mentega kesukaan Erika.
Semua berjalan normal selama beberapa menit setelah ucapan ulang tahun selesai. Ammar, yang masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan dilipat sampai siku, lebih banyak diam. Tempat duduknya kebetulan berada di sebelah Erika.
Dan kemudian kebiasaan itu terjadi.
Ammar menarik piring Erika, mengisinya dengan nasi, mengambilkan udang goreng mentega, mengupas dua ekor udang dengan tenang dan meletakkannya di atas nasi Erika.
"Kamu suka udang kan? Makan. Kamu makin kurus," katanya datar, seolah itu hal paling normal di dunia.
Meja makan mendadak hening seperti sedang mengheningkan cipta.
Sendok Sofyan berhenti di tengah jalan menuju mulut. Matanya bergerak pelan dari piring Erika ke wajah Ammar, lalu ke wajah Erika yang sudah pucat seperti kertas HVS.
Di seberang meja, tatapan Iccha menghujam Ammar seperti seribu sendok yang siap dilempar serentak.
Kiki justru tersenyum lebar, seperti penonton yang dapat tempat duduk paling depan. "Wah, ada acara kupas-kupasin udang rupanya. Romantis."
Di bawah meja, kaki Erika menendang tulang kering Ammar dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
"Aow," Ammar menoleh padanya dengan wajah datar. "Kamu nendang aku?"
Dia bilang itu dengan suara keras, guys. Keras. Sehingga seluruh meja mendengarnya.
"Ndak, Bang," jawab Erika sambil menyeringai seperti orang kesurupan. "Kaki kesemutan."
"Bang, itu pacarnya Erika," bisik Jo cepat sambil mengangguk ke arah Sofyan.
Ammar menoleh ke Sofyan. Menatapnya dua detik. "Oh," katanya. Lalu dia kembali makan dengan tenang, seolah 'pacarnya Erika' adalah informasi sepenting prakiraan cuaca untuk kota lain.
Tapi di depan Iccha yang sedang memperhatikan, pertunjukan tidak boleh berhenti. Itu aturan mainnya. Maka Ammar menambahkan satu sendok lagi udang ke piring Erika.
"Tetap harus makan yang banyak," katanya.
Erika ingin sekali saat itu juga Bumi terbelah dan menelannya hidup-hidup.
"Mas Sofyan, cobain lumpianya, Mas. Enak, bawaan dari Semarang," sambung Lina cepat, pahlawannya malam ini, berusaha menyelamatkan suasana.
"Iya, makasih, Mbak," jawab Sofyan dengan senyum yang hanya sampai ke bibir. Rahangnya mengeras sepanjang sisa makan malam.
Selesai makan malam, Sofyan mengajak Erika berbicara di taman belakang. Udara malam Jakarta yang tidak pernah benar-benar dingin menyertai dua orang yang duduk di bangku taman dengan jarak yang malam ini terasa lebih lebar dari biasanya.
"Nduk," Sofyan memulai dengan suara yang ditahan-tahan, "aku mau tanya sama kamu. Dan jawab jujur."
"Tanya apa, Mas?"
"Bang Ammar itu siapa buat kamu?"
Erika menghela napas. Ini dia. "Dia kakaknya Mas Jo, Mas. Aku ndak punya perasaan apa-apa sama dia. Aku juga ndak minta tadi dibantuin begitu."
"Tapi kelihatannya kalian sudah dekat banget."
"Aku tinggal di rumahnya, ya pasti sering ketemu. Tapi itu ndak berarti aku boleh diperlakukan seenaknya, termasuk dibuat kelihatan mesra padahal aku ndak minta." Erika menggenggam jemarinya sendiri. "Aku akan ngomong sama dia supaya ndak diulangi."
Sofyan tidak tertawa. Dia menatap Erika lama sekali. "Nduk, aku ini polisi. Tapi sekarang aku nggak mau nebak-nebak dari gelagat. Aku mau dengar dari kamu. Hadiah hape itu dari dia juga?"
Jantung Erika mencelos. "Iya, Mas. Aku harusnya cerita dari kemarin. Maaf."
Sofyan akhirnya menghela napas panjang dan menggenggam tangan Erika. "Aku cuma takut kehilangan kamu, Nduk. Kamu jauh, aku di sini nggak pernah tenang. Tiap malam aku mikirin kamu makan apa, sama siapa. Aku sayang kamu. Jangan buat aku menyesal sudah mengizinkan kamu ke sini."
Erika menunduk. Rasa bersalah menekan dadanya seperti batu bata yang ditumpuk. Perjanjiannya dengan Ammar itu memang cuma misi, cuma sandiwara. Tapi sandiwara pun tetap membuatnya berbohong pada orang yang sayang padanya.
"Aku janji, Mas. Aku jaga diri. Mas Yan juga jaga diri di Semarang. Jangan begadang, jangan lupa maem."
Di taman, Sofyan mengeluarkan satu kantong kecil yang sejak tadi tersimpan di tasnya. Erika segera mengenali bungkus plastik dan karet pengikatnya. Ibu selalu membungkus makanan dengan cara seperti itu.
"Ini kacang dari Ibu," katanya. "Beliau nitip pas aku pamit. Katanya yang kemarin pasti sudah habis."
Erika tertawa pendek. "Mas ndak tahu aja Mbak Iccha makannya kayak apa. Yang bilang diet malah paling semangat."
Sofyan ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak insiden di meja makan, wajahnya terlihat lebih santai. Erika memeluk kantong itu di pangkuan, lalu menanyakan keadaan rumah. Apakah pintu belakang yang susah dikunci sudah diperbaiki? Apakah Ibu masih menyiram tanaman terlalu pagi?
"Pintunya sudah aku betulkan. Ibu juga sehat. Tapi beliau kangen kamu."
Erika menunduk. Taman yang luas dan lampu-lampu indah di sekeliling mereka mendadak terasa jauh dari rumah kecil di Semarang. Di sana, Ibu pasti sudah menutup pintu dan duduk sendirian. Ia ingin pulang, tetapi juga tidak ingin kembali tanpa menyelesaikan apa yang sudah diperjuangkannya.
"Aku juga kangen," katanya. "Tapi aku ndak bisa pulang sekarang."
"Aku nggak datang buat maksa kamu pulang."
Erika menatap Sofyan, memastikan dia tidak salah dengar. Lelaki itu mengangguk. Ia masih tidak suka dengan apa yang dilihatnya malam ini, tetapi keluhannya bukan perintah untuk meninggalkan Jakarta.
"Aku mau kamu ingat kalau ada orang yang nunggu di rumah," lanjutnya.
"Aku ingat, Mas. Tiap hari."
Erika merapikan karet pembungkus kacang. Dia tidak menjanjikan sesuatu yang belum sanggup dilaksanakan. Namun, ia berjanji akan lebih sering memberi kabar, termasuk tentang hadiah yang diterimanya dan hal yang membuatnya tidak nyaman. Sofyan mendengarkan sampai selesai tanpa memotong. Percakapan malam ini belum menyelesaikan semua masalah, tetapi setidaknya mereka mulai bicara sebagai dua orang yang sama-sama perlu didengar.
Di balkon lantai dua, di balik tirai yang tidak tertutup rapat, Ammar berdiri dengan segelas kopi yang sudah dingin. Matanya memperhatikan dua orang di taman itu tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Entah sudah berapa lama dia di sana.
"Puas lihatnya?"
Suara Iccha membuatnya menoleh sedikit. Wanita itu berdiri bersandar di kusen pintu balkon dengan tangan bersedekap.
"Dia punya pacar, Mar. Polisi pula. Ganteng, sopan, bawa oleh-oleh buat satu rumah. Cowok idaman mertua."
"Gue tahu," jawab Ammar datar.
"Terus kenapa lu masih ngeliatin dia kayak gitu?"
Ammar tidak menjawab. Dia meletakkan gelas kopinya di meja balkon, lalu berjalan masuk melewati Iccha begitu saja, seperti biasa, seperti selalu.
Iccha menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu. "Dasar kulkas. Nggak pernah sekali pun jawab pertanyaan penting," gumamnya pada malam.
Dan dari taman, Erika sempat mendongak ke arah balkon. Dia melihat dua bayangan yang berpisah di sana. Dia menghela napas panjang.
Rumah ini penuh orang yang saling suka tapi saling nyakitin, batinnya. Dan aku sibuk bohong ke orang yang paling jujur sama aku. Paijem tenan.