Sore itu di ruang kerja Jo, proyek novel berjalan seperti biasa. Erika duduk dengan laptop barunya, jari-jarinya siap menari, dan Jo duduk di sofa dengan gaya seperti orang mau curhat di acara televisi.
"Jadi waktu itu gue ngajak Caca makan di restoran Prancis, Rik. Pertama kalinya gue mau ngomong sayang ke dia," cerita Jo dengan mata berbinar mengingat kenangannya.
"Terus?" tanya Erika tanpa menghentikan ketikannya.
"Gue nervous banget. Buka menu, gue nggak ngerti bahasanya. Gue asal tunjuk satu menu yang namanya keren, es-car-got. Gue pikir itu semacam jamur dibakar keju."
Erika berhenti mengetik. "Terus ternyata?"
"Siput, Rik. Siput darat." Jo memejamkan mata seperti mengingat tragedi perang. "Gue makan itu dengan gagah berani di depan Caca, padahal di dalam perut rasanya mau perang dunia ketiga. Tapi gengsi, Rik. Gue tahan. Gue bilang, enak banget, Sayang."
"KYAAAHAHAHA!" Erika tertawa terpingkal-pingkal sampai memukul-mukul sofa. "Mas Jo! Mas Jo kencan pertama makan bekicot! Aku tulis ini di novel, ya! Ini wajib masuk!"
"Tulis! Biar anak cucu gue tahu bapaknya perjuangannya berat."
Tawa mereka terhenti saat ponsel Jo bergetar. Satu pesan masuk. Wajah Jo yang tadinya cerah mendadak turun beberapa tingkat, seperti lift yang kehilangan daya.
Caca : Something came up. Raincheck dinnernya ya.
Jo menatap layar itu lama sekali. Jo teringat janji yang sudah beberapa kali mereka ubah sebelum hari ini. Sejak ribut soal janji fitting yang dibatalkan waktu Daddy sakit, Caca berubah dingin. Telepon singkat, chat seperlunya, janji dibatalkan.
"Mbak Caca sibuk, Mas?" tanya Erika hati-hati.
"Iya. Sibuk." Jo mengulas senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Namanya juga mau nikah. Banyak yang diurus."
"Mas Jo," Erika menutup laptopnya pelan, "perempuan ngambek itu kayak mendung, Mas. Nggak usah ditakutin. Turun hujan bentar, terus terang lagi. Yang penting Mas Jo tetap ngasih payung."
Jo menatap Erika, lalu tertawa kecil. "Kamu ini, umur dua puluh tiga kok ngomongnya kayak orang lima puluh tahun. Dari mana kamu dapat ilmu-ilmu begitu?"
"Dari novel, Mas. Di novel, konflik tiga bab pasti selesai. Lha Mas Jo sama Mbak Caca ini baru ribut, jangan dibiarkan berlarut-larut. Kebablasan itu namanya."
"Kamu bener." Jo menghela napas, lalu menepuk bahu Erika pelan. "Makasih, Rik. Kamu memang adik kesayangan gue. Nanti kalau novel ini kelar dan gue nikah, gue sama Caca mau bulan madu ke Italia. Itu negara impiannya dari dulu."
"Wih, romantis, Mas." Erika ikut tersenyum. "Mbak Caca beruntung banget dapat Mas Jo."
Tidak lama kemudian Aldin masuk ke ruangan dengan setumpuk berkas. Dia dan Jo berdiskusi soal proyek yang dipegang Aldin sepenuhnya. Erika kembali mengetik, telinganya setengah mendengarkan omongan mereka soal saham dan vendor yang membuat kepalanya mengantuk.
Ponsel Aldin tergeletak di atas meja, layarnya menghadap ke atas.
Drrrt.
Layar itu menyala. Satu pesan WhatsApp masuk dan tampilannya terbaca jelas dari tempat Erika duduk. Dan perlu kalian tahu, guys, penulis itu punya bakat alami membaca tulisan dari sudut mana pun, termasuk terbalik. Itu skill turunan dari kebiasaan mengintip naskah orang.
Sephia ❤️ : Jadi kan nanti malam? Udah kangen banget sama kamu. 😘
Jantung Erika berdebar keras. Sephia. Lagi. Dan kali ini bukan cuma nama dengan foto pirang. Kali ini ada kata 'kangen' dan ada emoji hati. Orang tidak mengirim emoji hati ke tukang siomay, Thor.
Aldin dengan gerakan kilat meraih ponselnya, mematikan layar, dan memasukkannya ke saku. Wajahnya berusaha netral, tapi telinganya merah. Orang Jawa bilang, kupinge abang-abang tempe.
"Temen lama, Dek," kata Aldin tanpa diminta, pada Erika yang bahkan belum bertanya apa-apa.
Justru itu yang aneh, Mas. Orang ndak salah ndak buru-buru ngeles. Batin Erika.
"Iya, Mas," jawab Erika datar, pura-pura sibuk dengan laptopnya.
Padahal di dalam kepalanya, sirene sudah bunyi semua. Dia teringat suara Kirana di ujung telepon malam sebelumnya, tangis yang ditahan-tahan, kalimat 'kalau Mas Aldin sampai beneran selingkuh, mbak bisa mati, Rik.' Erika menggigit bagian dalam pipinya. Abang macam apa yang tega membuat perempuan sebaik Kirana menangis seperti itu? Dan adik macam apa dia, kalau diam saja melihat abangnya berjalan ke jurang?
Aldin pamit segera setelah berkas ditandatangani. Jalannya lebih cepat dari biasanya, seperti ada setan yang mengejarnya. Sepeninggal abangnya, Erika membuka buku notes batik andalannya, membalik ke halaman belakang, ke halaman khusus yang dia beri judul 'Operasi Sephia'.
Di situ sudah ada dua catatan. Hari ini dia menambahkan yang ketiga.
Bukti #3 : Pesan dari Sephia. Isinya kangen. Pakai emoji hati. Jam 16.40.
Erika menatap catatannya dengan kening berkerut. Bukti-bukti ini masih seperti remahan biskuit. Belum jadi satu biskuit utuh. Kata Mbak Iccha, jangan asal ngejudge tanpa bukti nyata. Dan Erika akan mencarinya. Demi Mbak Kirana yang menangis di ujung telepon. Demi Ibu yang tidak tahu apa-apa.
Jo tidak langsung menyimpan ponselnya. Dia membuka percakapan mereka lagi, mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Erika melihat dari sudut mata, tetapi pura-pura memeriksa paragraf terakhir di laptop.
"Kalau aku telepon sekarang, kesannya maksa nggak?" tanya Jo akhirnya.
"Mas Jo mau maksa Mbak Caca datang atau cuma mau tahu kabarnya?"
"Mau ngobrol. Kemarin aku juga ngomongnya keras."
"Ya bilang itu saja. Orang kalau minta maaf ndak usah pakai pembukaan tiga halaman, Mas. Itu novel, bukan telepon."
Jo terkekeh, kemudian menekan tombol panggilan. Erika kembali mengetik supaya dia tidak terasa sedang menguping. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum terputus. Jo mencoba sekali lagi, tetapi hasilnya sama.
"Mungkin lagi di jalan," kata Erika.
"Iya."
Jawaban itu terlalu cepat. Jo meletakkan ponsel menghadap ke bawah, lalu mengambil buku catatan batik milik Erika. Dia membalik beberapa halaman yang berisi rencana novel hadiah pernikahannya. Di salah satu bagian, Erika memberi tanda tanya besar di samping kata janji.
"Ini kenapa pakai tanda tanya?"
"Mas Jo belum cerita janji paling penting yang pernah Mas bikin sama Mbak Caca. Aku tandai biar ndak lupa nanya."
"Aku pernah janji nggak akan bikin dia merasa sendirian."
Jari Erika berhenti. Kalimat itu sederhana, tetapi dia ingat betapa sering Yoevanca akhirnya pergi bersama Aldin ketika Jo memilih tinggal di kantor. Apakah Jo juga mulai memikirkan hal yang sama?
"Terus aku malah sering nyuruh Al nemenin," sambung Jo, tertawa pendek tanpa keceriaan. "Aku pikir, karena sahabat sendiri, ya aman. Aku bisa kerja, Caca nggak sendirian."
"Mungkin Mbak Caca pingin ditemani orang yang dia pilih, Mas. Bukan cuma ditemani siapa saja."
Jo mengangguk pelan. Kali ini dia tidak membantah atau menjadikan perkataan Erika bahan bercanda. Dia mengambil kembali ponselnya dan mengirim pesan permintaan maaf. Erika hanya melihat wajahnya, bukan isi pesan itu.
"Aku bilang setelah Daddy membaik kita pilih cincin bareng. Kamu ingetin aku, ya."
"Iya. Tapi jangan salahin aku kalau nanti aku ingetin pas Mas lagi rapat."
"Wes, sekalian pukul pakai buku batikmu juga boleh."
"Lha malah bukuku nanti rusak. Kepala Mas Jo keras, Mas."
Tawa Jo kembali terdengar, meski pendek. Erika bersyukur. Namun, ia juga tahu gurauan tidak menyelesaikan semuanya. Ada pesan yang belum dijawab dan calon pengantin yang menunggu kepastian dari orang yang dicintainya.
Setelah Aldin pergi, Erika menatap catatan tentang Sephia cukup lama. Dia tidak menulis kesimpulan. Di bawah pesan yang sempat dilihatnya, dia menambahkan satu baris: perlu ditanya, jangan langsung menuduh. Hal itu membuatnya sedikit lebih tenang, walaupun rasa sesak belum hilang.
Ia keluar dari ruangan Jo untuk mencari abangnya. Pintu ruang kerja Aldin masih terbuka. Lelaki itu sedang memakai jas, sementara beberapa berkas sudah ditumpuk rapi di sisi meja.
"Mas mau pulang?"
"Ada urusan dulu. Kamu pulang sama Jo, ya."
Erika berdiri di ambang pintu, tidak masuk. "Mbak Kiran sudah Mas hubungi?"
Gerakan Aldin ketika membenarkan lengan jas terhenti. Dia melirik adiknya, lalu menarik napas.
"Nanti, Dek."
"Nanti itu kapan? Kemarin juga nanti."
"Mas lagi banyak kerjaan."
"Aku lihat sendiri Mas banyak kerjaan. Aku ndak bilang Mas bohong soal kerjaan. Tapi buat kirim kabar sebentar kan bisa, to?"
Aldin mengambil tas kerjanya. Kali ini Erika tidak mundur. Dia tidak menghalangi pintu, tetapi matanya tetap menatap kakaknya.
"Rik, jangan semua urusan Mas kamu pikirin. Kamu ke Jakarta buat kerja, bukan buat ngawasin Mas."
Ucapan itu membuat Erika mengatupkan bibir. Dia ingat kakaknya yang dulu menemaninya membeli buku bekas dan mengirim uang tanpa diminta. Orang yang sama sekarang melihatnya seperti dia sedang mencari kesalahan.
"Aku ndak ngawasin. Aku cuma takut Mas nyakitin orang yang selama ini baik sama kita."
"Mas tahu harus ngapain."
"Ya sudah. Aku juga berharap begitu."
Erika bergeser memberi jalan. Aldin melewatinya, lalu berhenti sebentar. Tangannya terangkat hendak menyentuh kepala adiknya, tetapi Erika lebih dulu menunduk untuk merapikan tali tas yang sebenarnya tidak berantakan.
"Jangan makan telat," kata Aldin.
"Mas juga."
Mereka berpisah tanpa pertengkaran. Anehnya, justru itu yang membuat Erika ingin menangis. Kalau Aldin marah, dia bisa membalas dan mengeluarkan semua pertanyaan. Sikap setengah lembut, setengah menolak seperti ini membuatnya tidak tahu harus berdiri di pihak mana.
Jo menjemputnya di depan lift beberapa menit kemudian. Dia tidak bertanya kenapa wajah Erika muram. Lelaki itu hanya memberikan botol air dan mengingatkan bahwa Daddy sudah menunggu kabar kepulangan mereka.
"Mas Jo sendiri belum makan dari siang," tegur Erika.
"Nah, berarti kita sama-sama harus pulang sebelum disidang Daddy."
Erika mengangguk. Ia menyimpan buku batiknya di dalam tas, terpisah dari ponsel. Untuk pertama kalinya, catatan tentang pekerjaan dan urusan keluarganya terasa sama beratnya.
Di rumah, dia sempat menelepon Ibu sebelum salat. Bu Mei menanyakan lututnya, kemudian tertawa ketika Erika bercerita tentang harga makanan di dekat kantor. Erika tidak mengatakan apa pun tentang Aldin. Dia juga tidak meminta Ibu mencari tahu melalui Kirana. Ibu sudah cukup khawatir karena dua anaknya tinggal jauh.
"Nek ana opo-opo, ngomong, Nduk. Jangan disimpan sendiri," pesan Ibu.
Erika menatap ujung selimutnya. "Nggih, Bu. Aku sehat, kok."
Dia ingin mengatakan banyak hal, tetapi yang berhasil keluar hanya kabar tentang makan dan pekerjaan. Sesudah telepon ditutup, Erika duduk beberapa saat sebelum beranjak mengambil air wudu. Ada hal-hal yang belum bisa dia ceritakan, bahkan kepada orang yang paling ingin dia peluk.
Erika mencoba mengingat wajah Kirana ketika mengantarnya ke stasiun. Wanita itu tidak membelikan barang mahal atau meminta oleh-oleh dari Jakarta. Dia hanya memeluk Erika dan menitipkan Bu Mei. Semenjak Bapak meninggal, Kirana memang lebih sering datang, kadang membawa sayur, kadang sekadar menemani Ibu berbincang sampai sore.
Mengingat itu, Erika membuka percakapannya dengan Kirana. Ada pesan singkat menanyakan keadaan lututnya. Bukan tentang Aldin. Justru perhatian yang sederhana itu membuatnya merasa semakin bersalah.
Erika mengetik bahwa kakinya sudah lebih baik, lalu menanyakan apakah Ibu sudah makan malam. Kirana menjawab bahwa tadi mereka makan bersama. Bu Mei sempat bercerita tentang pesan dari Erika, kemudian meminta Kirana membawa pulang sisa lauk untuk orang tuanya.
Tidak ada cerita tentang nomor yang diblokir. Tidak ada pertanyaan apakah Aldin sedang bersama perempuan lain. Erika tahu bukan berarti Kirana sudah tenang. Mungkin dia hanya tidak ingin terus menambah beban orang yang sedang bekerja jauh dari rumah.
Aku belum tahu apa-apa, Mbak. Tapi aku ndak lupa janjiku, tulis Erika akhirnya.
Kirana membalas dengan ucapan terima kasih. Setelah itu, cukup lama tidak ada pesan lain.
Erika meletakkan ponsel, kemudian mengambilnya lagi. Ia menambahkan bahwa Kirana boleh menghubunginya kapan saja jika sedang sedih, tetapi jangan menyakiti diri karena masalah ini. Ia tidak tahu kalimat yang paling tepat untuk menenangkan. Namun, dia ingin Kirana tahu bahwa masih ada orang yang mendengarkan.
Balasan datang beberapa saat kemudian. Kirana mengatakan dia sedang bersama ibunya dan akan beristirahat. Erika merasa sedikit lega. Setidaknya malam ini wanita itu tidak sendirian.
Baru setelah menutup percakapan, Erika sadar Jo sedang memandangnya. Dia tidak bertanya siapa yang membuat Erika cemas. Lelaki itu hanya menggeser buku batik ke tempat yang lebih aman karena hampir tersenggol gelas. Erika berterima kasih dan menyimpan catatannya. Ia belum berani mengucapkan dugaan tentang kakaknya di hadapan orang yang begitu mempercayai Aldin.
Malam harinya, ketika Erika baru saja selesai salat Isya, ponselnya berdering. 'Yayankku ❤️' terpampang di layar.
"Assalamualaikum, Mas Yan."
"Walaikumsalam. Nduk, aku ada kabar." Suara Sofyan terdengar lebih ringan dari biasanya. "Aku dapat cuti tiga hari. Besok pagi aku berangkat ke Jakarta. Sampai Gambir sekitar jam sebelas. Aku mau lihat tempat kamu kerja sama tempat kamu tinggal."
Erika merasa darahnya turun ke lutut. "Hah? Be-besok, Mas?"
"Iya. Kenapa? Kamu nggak seneng aku datang?" Nada Sofyan langsung berubah curiga. Dasar polisi, sedikit saja ada nada aneh langsung diinterogasi.
"Seneng, Mas! Seneng banget malah!" Erika memekik pelan sambil memukul-mukul bantalnya sendiri. "Cuma kaget wae. Kok dadakan ngumbar cuti."
"Pengen ngasih surprise. Ya udah, siap-siap. Aku kangen kamu, Nduk."
"Aku juga, Mas. Hati-hati di jalan."
Telepon ditutup. Erika menjatuhkan badannya ke kasur sambil menatap langit-langit kamar. Tiga hari. Sofyan di Jakarta tiga hari. Di rumah ini ada Jo, ada Aldin, dan yang paling berbahaya, ada Ammar dengan perjanjian sintingnya yang bisa kumat kapan saja tanpa aba-aba.
Iccha yang sedang memakai krim malam menoleh dengan mata berbinar. "Mas Polisi mau datang?! Wih, gue mau lihat! Ganteng nggak?"
"Ganteng lah, Mbak. Tapi galak."
"Gue suka yang galak."
"Pantes suka Bang Ammar."
Bantal melayang ke wajah Erika. "Diam lu, Burik!"
Erika tertawa, tapi hatinya dag dig dug tidak karuan. Dia berdoa dalam hati, semoga tiga hari ke depan berjalan damai, tenang, dan tanpa drama.