Tangan Ammar masih menempel di tembok ketika rasa nyeri mulai menjalar sampai ke pergelangan. Lelaki itu menarik napas panjang, lalu menatap buku-buku jarinya yang memerah. Pintu sudah tertutup. Tidak ada Iccha yang biasanya langsung mengomel kalau dia melakukan sesuatu yang bodoh.
Bukannya seharusnya dia lega? Janji temu dibatalkan, ruangan kembali tenang, dan tidak ada lagi suara cerewet yang mengganggu. Namun, justru wajah Iccha ketika menyeka air mata itulah yang memenuhi kepalanya.
"Ck!" Ammar mengibaskan tangannya sekali.
Dia meraih telepon meja, hendak menyuruh Iccha mengambil es. Jemarinya berhenti sebelum menekan tombol. Mengambil es untuk tangan yang dipakai meninju tembok setelah membentaknya? Ammar masih punya sedikit rasa malu, ternyata.
Di luar, Iccha menarik kursinya pelan. Dia meletakkan buku agenda terbuka di depan komputer, tetapi huruf-huruf di sana kabur. Wanita itu mengambil tisu dan menunduk supaya orang yang melintas tidak melihat wajahnya.
"Saya akan segera melaksanakan perintah Bapak," gumamnya menirukan ucapan sendiri. "Bagus, Cha. Baru juga kerja udah nangis kayak anak kecil."
Ia mencari nomor klien pertama. Saat panggilan tersambung, Iccha buru-buru meluruskan punggung dan mengatur suara.
"Selamat pagi. Saya Iccha, sekretaris Pak Ammar. Mohon maaf, saya ingin menyampaikan perubahan jadwal pertemuan hari ini."
Orang di seberang bertanya alasan pembatalan. Iccha menatap pintu ruangan Ammar, menggigit bibir, kemudian menjawab bahwa ada keperluan mendesak. Dia tidak berani menjanjikan waktu pengganti sebelum mendapat kepastian. Nomor kedua ternyata lebih sulit. Orang itu sudah dalam perjalanan dan meminta penjelasan.
"Saya memahami keberatan Bapak. Boleh saya menghubungi kembali setelah memastikan jadwal penggantinya?"
Ucapan itu keluar dengan susah payah, tetapi akhirnya diterima. Iccha menulis catatan kecil di samping nama klien. Tangan yang tadi gemetar kini mempunyai pekerjaan. Lumayan, pikirnya. Kalau sibuk, setidaknya dia tidak sempat mengingat bagaimana Ammar menariknya mendekat lalu menyuruhnya pergi.
Ketukan pelan terdengar di sisi meja.
"Permisi, Iccha. Data pegawai barunya belum lengkap. Saya boleh titip formulir?"
Arya berdiri dengan map tipis di tangan. Iccha segera menyapu sisa air matanya. Kepala personalia itu melihat, tetapi tidak menanyakan apa pun. Dia justru memundurkan langkah sedikit, memberi Iccha waktu merapikan diri.
Sopan juga, batin Iccha. Berbeda sekali dengan orang di balik pintu itu yang kalau bicara selalu seperti mau menagih utang.
"Boleh. Tapi aku lagi pusing. Kalau salah isi nanti jangan langsung dipecat, ya."
Arya tersenyum. "Kalau salah, diperbaiki. Bukan dipecat."
Begitu sederhana jawabannya sampai Iccha terdiam. Ada orang yang bisa menjelaskan tanpa membuatnya merasa paling bodoh sedunia. Kenapa Ammar tidak bisa begitu?
"Bagian alamat sekarang diisi alamat tinggal selama di Jakarta," jelas Arya sambil menunjukkan kotak yang dimaksud. "Nomor darurat juga sebaiknya orang yang bisa dihubungi."
"Kalau nomor daruratnya orang yang bikin keadaan jadi darurat gimana?"
Arya tertawa kecil. "Pilih yang lain."
Iccha ikut tertawa. Bunyi itu membuat Ammar yang baru membuka pintu menghentikan langkahnya. Dia melihat Arya menunduk di sisi meja, sedangkan Iccha memegang pulpen dengan senyum yang beberapa menit lalu tidak ada.
"Formulirnya bisa ditinggal," kata Ammar.
Arya segera berdiri tegak. "Baik, Pak. Saya hanya menjelaskan bagian yang perlu dilengkapi."
"Saya bisa baca sendiri," sambung Iccha sebelum Ammar sempat mengusir lebih jauh. "Terima kasih, Pak Arya. Nanti aku antar ke bagian personalia."
Dia sengaja tersenyum lagi. Masih ada sisa sedih di dadanya, tetapi ingatan tentang saran Erika datang pada saat yang tepat. Bukan berarti dia langsung sembuh. Namun, kalau Ammar merasa berhak menyuruhnya menjauh dari semua lelaki, mungkin sekarang saatnya Iccha berhenti menurut.
"Pak Arya, boleh saya tanya soal data kehadiran saya?" tanyanya sambil menunjukkan kolom lain di formulir.
Arya menatap formulir itu, lalu melirik Ammar sebentar. "Eh, iya, Mbak Iccha. Silahkan. Mau tanya apa?"
"Panggil Iccha aja, Pak. Kita kan sama-sama kerja di sini. Manggil mbak-mbak bikin aku berasa tua."
"Oke, Iccha. Kamu juga panggil Arya aja, nggak usah pakai pak-pakan. Bikin aku berasa kayak dosen."
Setelah kembali ke ruang kerjanya, sepasang mata elang milik Ammar Syalendra mengawasi pemandangan itu tanpa berkedip. Pulpen di tangannya berhenti bergerak di atas dokumen. Berhenti total. Kayak saldo rekening kalau akhir bulan.
Dia ngapain senyum-senyum sama Arya? Batin Ammar. Baru tadi pagi kenal, sekarang sudah bisa tertawa lepas begitu. Dasar Miss Sendok.
Iccha tertawa renyah mendengar lelucon Arya yang sebenarnya garingnya level kerupuk kalengan. Tapi demi misi, tertawalah dia seolah baru saja mendengar materi stand up comedy juara satu.
"Iccha, kalau kamu ada waktu, aku bisa anterin keliling arsip. Biar kamu nggak bingung cari berkas," tawar Arya.
"Boleh banget! Nanti saat istirahat saja, ya. Kebetulan aku belum tahu tempat makan di sekitar sini. Kamu udah makan?" Iccha menembak tanpa ancang-ancang. Namanya juga hidup cuma sekali, masa mau bucin doang terus dihabiskan.
"Aku belum. Mau sekalian makan siang bareng?"
"Gas!"
Berita itu menyebar lebih cepat dari promo diskon hari gajian. Dan seperti biasa, gosip paling cepat sampai justru ke telinga orang yang paling tidak ingin mendengarnya.
Di depan lift, dua orang karyawan sedang berbisik-bisik penuh semangat.
"Serius lho, kata Tiara, sekretarisnya Pak Ammar mau makan siang bareng Pak Arya di kafe seberang. Tadi ngobrolnya akrab banget katanya."
"Kok bisa? Pak Ammar nggak marah tuh?"
"Makanya itu. Berani-beraninya Pak Arya."
Ammar yang kebetulan lewat tepat di belakang mereka menghentikan langkahnya. Kedua karyawan itu menoleh dan langsung pucat pasi seperti mie instan sebelum diseduh.
"Si-Siang, Pak Ammar!"
"Siang," jawab Ammar datar. Lalu dia melenggang pergi dengan wajah yang datar juga. Hanya saja rahangnya mengeras dan genggaman tangannya pada gagang pintu ruangan bisa bikin gagang itu minta pindah tugas.
Di dalam ruangan, Ammar meraih ponselnya dan mengetik dengan jempol yang penuh emosi.
Ammar: Ke kantor gue sekarang!!! Bawa badan lu!!! Jangan nanya!!!
Di gedung sebelah, di ruang kerja Jo, Erika menatap layar ponselnya sambil menghela napas panjang. Dia memiringkan layar menjauh dari Jo yang sedang merebahkan badan di sofa. Nama Ammar sempat terbaca sebelum Erika mengunci ponselnya.
"Udah sana pergi," kata Jo sambil terkekeh. "Abang gue kalau pakai tanda seru sebanyak itu artinya level darurat nasional. Kamu berani nolak, nyawa taruhannya."
"Berangkat juga aku nyawanya taruhan, Mas," gumam Erika sambil membereskan laptopnya.
"Eh, Rik. Kalian berdua sebenarnya rahasianya apa sih? Kepo kan gue."
"Rahasia dapur, Mas. Ojo kepo. Nanti kepo kamu jadi tempe."
Sebelum meninggalkan gedung Jo, Erika meminta waktu beberapa menit untuk menyimpan pekerjaannya. Ammar sudah mengirim pesan kedua, tetapi kali ini dia tidak buru-buru menurut. Satu paragraf yang hilang karena laptop dimatikan sembarangan tidak akan kembali hanya karena lelaki itu sedang tidak sabar.
"Kamu sudah makan?" tanya Jo.
"Belum, Mas. Nanti sekalian."
"Jangan cuma diseret abangku ke mana-mana terus lupa makan. Lututmu juga baru mendingan."
Erika menyentuh lututnya melalui kain dress. Rasa nyeri masih muncul kalau duduk terlalu lama, tetapi tidak sampai menghalangi jalan. Dia berterima kasih, lalu meminta Jo tidak menunggu untuk melanjutkan cerita.
"Nanti habis makan aku balik lagi. Aku masih perlu tanya kejadian yang Mas ceritain tadi."
"Yang mana?"
"Waktu Mbak Caca pertama kali marah karena Mas telat. Mas cuma bilang akhirnya baikan. Baikannya bagaimana? Kan aku butuh adegannya."
Jo mengangkat alis. "Kamu ini kayak penyidik. Semua ditanyain."
"Kalau ndak ditanya nanti bukunya cuma berantem, baikan, berantem, baikan. Lima halaman selesai, Mas. Dua ratus juta jadi terasa mahal banget."
Jo tertawa dan mengangguk. Erika merasa lebih tenang. Di sini dia tahu apa yang dikerjakannya dan kenapa dia dibayar. Di gedung sebelah, dia justru sering merasa seperti tokoh yang alurnya diatur orang lain.
Saat bertemu Ammar di depan pintu, Erika segera menanyakan tujuan mereka. Lelaki itu menjawab bahwa mereka akan makan. Baru sesudah mereka berjalan melewati lobi, Erika melihat Arya dan Iccha di kafe seberang.
Oalah, makan apa nyari perkara, Bang? batinnya.
Dia memperlambat langkah. Ammar menoleh, dan Erika menunjuk lututnya sebelum disuruh berjalan lebih cepat. Lelaki itu tidak mengomel. Dia mengurangi langkahnya, lalu menunggu sampai Erika benar-benar berada di sisinya. Kebaikan kecil itu tetap tidak menjawab pertanyaan terbesar Erika: kenapa mudah sekali memperhatikan orang yang tidak dicintainya, tetapi susah sekali berkata baik kepada Iccha?
Kafe di seberang gedung itu siang ini lumayan ramai. Iccha dan Arya duduk di meja dekat jendela, meja paling strategis untuk dilihat seluruh dunia. Iccha memesan salad, Arya memesan pasta. Obrolan mereka mengalir santai, paling tidak dari sudut pandang Arya.
Pintu kafe terbuka. Masuklah sepasang manusia yang membuat suasana berubah seperti cuaca di bulan Februari.
Ammar Syalendra, dengan kemeja hitam dan wajah datarnya, berjalan masuk diikuti Erika yang wajahnya penuh tanda tanya. Dan dengan sengaja, tanpa ragu, Ammar memilih meja kosong yang persis bersebelahan dengan meja Iccha dan Arya.
"Pak Ammar?" Arya kaget setengah mati, langsung berdiri setengah membungkuk. "Siang, Pak."
"Siang," jawab Ammar sambil duduk seenaknya.
"Ini ...," Arya melirik Erika dengan sopan.
"Erika. Adiknya Aldin," jawab Ammar singkat.
"Adik angkat apa adik ipar, Pak?" celetuk Iccha sambil menyedot jus alpukatnya dengan suara yang disengajakan keras.
Ammar melotot ke arahnya. Iccha menatap balik tanpa takut. Dua manusia itu saling menembak lewat mata dan Arya di tengah-tengahnya merasa seperti sedang nonton final bulu tangkis ganda campuran.
Makanan Erika datang. Steak ayam dengan saus lada hitam. Belum sempat Erika menyentuh garpunya, Ammar sudah menarik piringnya, memotong-motong steak itu jadi bagian kecil-kecil, lalu mengembalikannya ke depan Erika.
"Makan. Kamu makin kurus," kata Ammar dengan nada yang diatur sehangat mungkin.
Erika menelan ludah. Di meja sebelah, tangan Iccha yang memegang garpu terlihat berhenti di udara.
"Bang," bisik Erika sambil menyeringai dipaksakan, "ini ndak ada di perjanjian, ya!"
"Perjanjian terakhir," bisik Ammar balik tanpa mengubah ekspresinya. "Pulang baca lagi."
Sial. Erika lupa. Poin terakhir itu memang senjata pemusnah massal.
Belum selesai kagetnya, Ammar sudah mengambil tisu dan mengusap sudut bibir Erika yang kena saus. Pelan. Lembut. Dengan tatapan yang kalau dilihat orang pasti disangka tatapan cinta sejati level sinetron episode terakhir.
Padahal itu tatapan 'ini semua demi si Miss Sendok'.
Di meja sebelah, terdengar suara garpu diletakkan agak keras di atas piring.
"Arya," panggil Iccha tiba-tiba dengan suara super ceria, "cobain salad aku, enak lho. Nih!" Iccha menyodorkan garpunya ke arah Arya, dan tangannya yang satu lagi mendarat manis di lengan Arya.
Arya melongo antara senang dan bingung. "Eh, i-iya. Makasih, Iccha."
Ammar menatap pemandangan itu. Garpu di tangannya perlahan bengkok di kepalan tangannya. Tidak, tidak bengkok. Tapi hampir.
Ya Allah, batin Erika sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Dua orang ini perangnya pakai hati orang lain. Kalau perang beneran mah aku mundur teratur, Thor. Aku cuma tentara upahan.
"Iccha, kamu sama Pak Ammar memang udah saling kenal lama, ya?" tanya Arya hati-hati, mencoba mencairkan suasana yang lebih dingin dari freezer.
"Dari kecil," jawab Iccha. "Sayangnya makin gede makin nggak berguna orangnya."
"Mm," Ammar menyahut tanpa menoleh, "sayangnya ada yang dari kecil sampai sekarang hobinya cuma melempar sendok."
"Sendok lebih berguna dari pada kamu!"
"Terbukti. Sendok bisa dipakai makan. Kamu?"
Arya meletakkan sendoknya, lalu menggeser botol air ke dekat Iccha. "Minum dulu. Makanannya nanti dingin kalau dipakai debat terus."
Iccha mengambil gelas. Tidak ada pertanyaan tentang kenapa dia dan Ammar bertengkar. Tidak ada pula pandangan yang membuatnya merasa menjadi tontonan. Arya hanya mengembalikan pembicaraan pada tempat makan lain di sekitar kantor. Ia menyebut warung kecil yang menjual soto, kemudian menjelaskan bahwa tidak semua makanan enak harus berada di restoran mahal.
"Nah, ini aku setuju," sambung Erika spontan. "Kalau tiap makan harus lihat angka nol banyak di menu, otak sudah kenyang duluan mikirin harganya."
Arya tertawa, dan Iccha ikut tersenyum. Ammar tidak. Lelaki itu mengambil gelasnya, tetapi air di dalamnya tidak berkurang.
Erika memerhatikan tangan Ammar saat dia meletakkan gelas. Buku jarinya merah. "Bang, tanganmu kenapa?"
"Kebentur."
"Kebentur apa?"
"Tembok."
Iccha menoleh cepat. Ammar segera menarik tangannya ke bawah meja. Gerakan itu justru membuat Erika curiga, tetapi dia tidak meneruskan pertanyaan. Ada terlalu banyak orang di sini, dan dia tidak mau membuat suasana lebih buruk.
Arya menatap Erika meminta pertolongan. Erika membalas dengan tatapan 'sabar, Pak. Ini memang episode harian mereka.'
Akhirnya Ammar berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, jumlahnya jauh lebih besar dari harga dua piring makanan.
"Erika, sudah selesai? Kita balik," katanya datar, lalu melangkah keluar kafe tanpa menunggu Erika.
Erika buru-buru meneguk habis jusnya dan pamit pada Arya. Sebelum Ammar benar-benar hilang dari pendengaran, Iccha dengan sengaja mengeraskan suaranya.
"Arya, besok kamu ada waktu nggak? Temenin aku ke toko buku, ya. Aku mau beli novel. Sekalian kita makan di tempat yang enak. Berdua aja."
Langkah Ammar terhenti. Hanya sepersekian detik. Lalu dia berjalan lagi, lebih cepat dari sebelumnya.
Erika menggeleng-gelengkan kepala sambil menyusulnya.
Udan badai beneran, Mas Jo. Ramalanmu jitu. Batin Erika.