**
Ammar nyelonong masuk melewati tubuh wanita sexxy itu tanpa permisi.
"Woey! Yang sopan kalau di kostan orang!" tegur wanita tersebut sembari membuntutti Ammar dari belakang. Dia mencoba untuk menghentikan aksi tidak sopan Ammar, tapi Iccha mencegahnya.
"Udah lu sini aja sama gue! Nggak usah ikut campur urusan lelaki!" kata Iccha menarik tangan wanita yang merokok itu agar tidak mengganggu Ammar.
"Lu juga siapa sie? Nggak ada sopan santun juga sama kayak pacar lu!" sentaknya memaki Iccha seraya mengibaskan tangannya hendak melepaskan diri dari cengkeraman Iccha.
"Dih ... kayak lu ada sopan santunnya aja, hahahaha ...." cibir Iccha lalu tertawa kencang. Dia masih memegangi tangan si wanita agar tidak melarikan diri.
Sementara itu, lelaki yang bernama Tama, yang konon katanya pacar Kiki dan tega duain Kiki, muncul dari dalam kamar mandi hanya memakai handuk yang membelit tubuh bawahnya.
"Oh my ghost!" pekik Iccha lalu menutup matanya dengan satu telapak tangan.
"Ngapain lu? Kayak nggak pernah lihat begituan!" sungut si cewek mencibir tingkah Iccha.
"Emang kagak pernah, emangnya gue kayak elu main coblos sana-sini," sahut Iccha tanpa takut mencemooh wanita asing yang tidak dikenalnya tersebut.
"Sialan!" decitnya.
"Ini juga rokok buang! Bau banget asepnya, nggak sayang tuch sama rahim lu? Cewek kok ngerokok!" cibir Iccha lalu menyerobot puntung rokok yang sudah memendek itu dari tangan selingkuhan Tama. Asapnya sukses mencemari paru-paru Iccha tanpa permisi, membuat Iccha menjadi sesak.
"Eh, jangan dibuang!" larang si cewek tersebut, tapi Iccha tetap membuangnya di luar kamar.
"Ntar beli lagi kalau urusan gue dah selesai di sini," sahut Iccha.
Kembali ke Ammar dan Tama.
"B-Bang A-Ammar ... Bang Ammar mau ngapain di sini, Bang?" tanya Tama dengan gugup. Wajahnya ketakutan, badannnya yang kecil dan tidak sebanding dengan badan Ammar yang kekar pun terlihat seperti kurcaci. Hanya sekali hentakan Ammar bisa membuat rivalnya ini keok tanpa bisa melawan.
"Baaag!" Ammar meninju wajah Tama hingga lelaki itu terjatuh dan kepalanya membentur dinding kamar mandi.
"Astaga!" pekik Iccha sembari menutup mulutnya yang ternganga. Spontan genggaman tangannya pada kekasih gelap Tama ini pun terlepas. Wanita itu berlari untuk melihat keadaan kekasihnya yang tumbang sembari memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan? Ayo lawan dong!" kata si cewek ini yang mencoba membantu Tama untuk berdiri.
"Baag!" Ammar memberi tendangan pada burung perkutut Tama hingga lelaki yang baru saja mau bangkit itu pun kembali tumbang.
"Aduuuh ...." Dia mengeluh sambil memegang tubuh bagian bawahnya dengan wajah kesakitan yang merah padam.
"Kurang ajar banget sie kamu! Biar aku laporin kamu ke polisi!" ancam si cewek menakut-nakuti Ammar, tapi Ammar sama sekali tidak takut. Dia menyunggingkan senyum setan sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aduuuh ... hancur udah masa depan," gumam Iccha yang ikutan ngilu ngelihat Tama kesakitan.
"Gue bisa hancurin lu lebih dari ini! Siapa pun yang bikin adik gue nangis, dia berurusan sama gue. Paham? Pergi sejauh mungkin dari hidup Kiki atau lu gue hancurin!" ancam Ammar lalu berbalik badan meninggalkan Tama setelah memberi satu tendangan lagi di perut Tama.
Tama tidak berani melawan karena dia tahu siapa Ammar yang tidak akan mudah dia kalahkan. Ada satu rahasianya juga yang dipegang oleh Ammar yang membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah ketika dia dianiaya.
"Rasain lu!" ledek Iccha kemudian berlari menyusul Ammar yang sudah keluar kamar duluan meninggalkannya.
"Too Cool, lu keren banget kalau lagi ngamuk." Entah ini pujian atau hinaan, Ammar merasa kata-kata Iccha ambigu di telinganya.
"Hm ...." sahut Ammar singkat sembari masuk ke dalam mobilnya.
"Dari mana lu tau kalau pacarnya Kiki tinggal di sini?" selidik Iccha ikutan masuk ke dalam mobil dan kini memakai sabuk pengamannya.
"Mata gue di mana-mana," jawab Ammar.
Ammar menjalankan roda empatnya dan bergegas menuju ke kantor.
Sepanjang perjalanan, Iccha teringat akan obrolannya dengan Erika tadi malam. Dia pun berpikir untuk menjalankan ide yang diberikan oleh Erika. Namun, siapa lelaki yang akan dia dekati mengingat dia orang baru di kantor itu dan belum banyak mengenal kawan-kawannya.
Maka setengah jam kemudian, sampailah Iccha dan Ammar di tempat mereka mencari nafkah.
Iccha turun duluan dari dalam mobil dan berjalan meninggalkan Ammar. Gaya berpakaiannya hari ini lebih sexy dari kemarin, lebih cantik karena make upnya yang juga lebih tebal dari sebelumnya. Dia menempatkan dirinya sebagai seorang sekretaris yang konon katanya tidak ada yang berwajah jelek, semuanya pasti good looking. Jadi Iccha mau seisi kantor ini hanya menatapnya ketika dia melintas.
"Centil banget!" gumam Ammar sambil mengamati Iccha dari kejauhan.
Ternyata benar, penampilan Iccha pagi ini membuat semua mata kini menatap ke arahnya penuh kekaguman terutama untuk karyawan lelaki. Dan karyawan perempuan menjadi insecure karenanya.
"Hai, semua! Aku sekretaris barunya Pak Ammar di sini, salam kenal, ya!" kata Iccha pada beberapan karyawan yang sedang nongkrong di lobbi sebelum jam kantor dimulai.
"Hai, Iccha. Salam kenal juga." Mereka menyahut dan berebut untuk bersalaman dengan Iccha.
"Satu-satu nggak usah berebut! Pasti kebagian salaman sama aku, Kok. Hehehehe ...." kata Iccha sok kecantikan banget pagi ini ngalahin Miss Universe.
Iccha menyalami kawan-kawan barunya bergantian, yang rata-rata semuanya adalah pria. Ada juga yang meminta nomor handphone Iccha dan dengan senang hati Iccha memberikannya. Sukseslah nomor handphone Iccha menjadi penghuni buku telepon di ponsel para pria-pria tampan ini. Namun, hanya ada satu yang masuk kriteria Iccha untuk menjadi alat uji coba perasaan Ammar, dia yang menurut Iccha paling tampan, paling oke jabatannya, paling keren dari yang lainnya, Arya namanya. Seorang kepala personalia yang gagah berumur dua puluh delapan tahun, yang masih betah menjomblo hingga saat ini. Iccha terpesona dengan brewok-brewok tipis yang menghiasi dagu lelaki tersebut.
"Ehem .... " Suara Ammar yang berat menghentikan obrolan ringan mereka. Dengan kompak mereka menoleh dan lekas berdiri untuk memberikan salam pada Ammar.
"Pagi, Pak Ammar," sapa mereka beriringan.
"Pagi," sapa balik Ammar dengan nada dingin.
"Iccha, saya tunggu di ruang kerja saya!" lanjutnya memberi perintah pada sekretarisnya.
"Siap, Pak!" sahut Iccha masih bisa cengengesan santai meski yang lainnya udah tegang karena melihat ekspresi bos besar mereka yang tidak bersahabat.
"Aku ke atas dulu, Ya! Daah semuanya!" pamit Iccha lalu melambaikan tangan ke arah kawan-kawan barunya.
**
Iccha berdiri di depan meja Ammar dengan ke dua tangan yang berada di depan saling berkaitan. Sedangkan Ammar duduk di singgasananya sambil memerhatikan Iccha dengan tatapan seperti ingin menerkam. Iccha bak anak murid sekolah daasar yang sedang disidang oleh gurunya.
"Seneng?" tanya Ammar singkat sambil melipat ke dua tangan di depan d**a dan punggung yang bersandar pada kursi kebesarannya yang empuk dan nyaman.
Iccha mengernyitkan keningnya. "Seneng apanya maksud lu?" tanya balik Iccha.
"Saya bos anda di sini, bisa berbicara dengan sopan?" tegur Ammar. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja dan kini berhenti tepat di sebelah Iccha mengamati Iccha dari arah samping, sehingga membuat wanita itu salah tingkah karena tatapan Ammar yang tajam.
"M-Maaf, Pak. Maksud Bapak senang tadi apa, ya?" Iccha meminta maaf lalu bertanya dengan lebih sopan.
"Senang karena dikerubuti oleh banyak pejantan?! Anda mau bekerja atau mau jadi model? Pakaian anda sungguuuh ...." Ammar menggantung kata-katanya. Dia mendekat pada Iccha lalu berbisik di telinga wanita itu, "... menggoda sekali." Seketika bulu kuduk Iccha berdiri karena terkena hembusan napas Ammar yang membelai pori-pori kulitnya.
Ammar menarik tubuh Iccha mendekat padanya, amat sangat dekat hingga tidak ada celah di antara mereka. Mata mereka saling bertemu, deru napas mereka bersahutan. Manik hitam Ammar masih terlihat menyeramkan bagi Iccha. Sudah biasa kan mereka tidak akur, tapi ini tidak biasa ketika mereka kini berhimpitan menjadi satu dengan detak jantung yang sama-sama bergenderang mengajak perang.
"Jangan membuat karyawan lelakiku di sini jatuh cinta denganmu! Itu tidak boleh!" Ammar memperingatkan dengan serius.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Iccha, kini mereka berkomunikasi menggunakan bahasa yang formal, meski terasa kaku di lidah masing-masing.
"Tidak ada yang boleh menikah dalam satu kantor," cetus Ammar.
"Kalau jodoh saya nanti adalah karyawan di kantor Bapak, saya siap mengundurkan diri," tegas Iccha dengan mata berkaca-kaca.
Ammar terlihat tersulut amarah, wajahnya merah padam.
"Batalkan semua janji temuku hari ini! Ada hal yang penting yang harus aku lakukan," perintah Ammar lalu melepaskan tubuh Iccha dengan segera sambil memalingkan muka.
"Urusan apa, Pak? Lalu saya harus bilang apa pada client?" tanya Iccha karena dia belum paham dengan pekerjaann barunya ini, dia belum bisa menghandle masalah dengan baik.
"Harus aku mengajarimu?" tanya Ammar dengan nada tinggi membuat tubuh Iccha melonjak karena kaget.
"Tapi saya ...." Iccha terisak-isak.
Kenapa lu nggak paham kalau semua ini gue lakuin demi narik perhatian lu, Mar? Hati Iccha lebih menangis dari pada ke dua matanya.
Iccha menyeka lelehan air matanya.
"Saya akan segera melaksanakan perintah, Bapak," ucapnya dan meninggalkan ruangan Ammar dengan tergesa-gesa.
Sepeninggal Iccha, Ammar mengepalkan tangan dan meninju tembok kantornya dengan kesal.