**
"Aarrkh ...!" Kiki berteriak dan membanting lampu meja yang tergeletak di dekat ranjangnya.
"Aku benci banget sama kamu, Tama! Kamu b******k!" Kiki mengamuk dengan teriakannya yang histeris.
Salah satu maid yang kebetulan saat itu sedang membersihkan lorong yang ada di depan kamar Kiki, pun mendengar teriakan majikannya tersebut. Namun, dia tidak berani untuk masuk dan memeriksa keadaan Kiki di dalam sana. Jadilah dia berlari ke arah ruang makan di mana sebentar lagi sarapan akan dimulai dan pastinya anggota keluarga sudah berkumpul di sana.
"Pak, Mas, Mbak, mohon maaf saya mengganggu," kata Maid tersebut dengan sopan. Napas wanita paruh baya yang sudah empat tahun bekerja dengan keluarga Jack Ardiansyah pun terlihat tersengal. Jarak antara kamar Kiki dengan ruang makan memang lumayan jauh hingga mereka yang ada di sini tidak mendengar apapun.
"Kenapa, Bi Ani?" tanya Jo penasaran.
"Mbak Kiki mengamuk di kamarnya, Mas Jo," jawab Bi Ani sembari menunjukkan jarinya ke arah kamar Kiki berada.
"Ngamuk? Kenapa lagi dia?" tanya Daddy Jack yang langsung meninggalkan meja makan dan berlari menuju ke kamar anaknya karena khawatir Kiki kenapa-napa.
"Astagfirullah!" ucap Jo yang ikut berlari dengan ayahnya. Erika dan Lina pun membuntutti di belakang Jo.
Sedangkan Iccha dan Ammar masih duduk di tempat mereka masing-masing. Mereka diam karena mereka tahu apa yang terjadi dengan wanita itu. Bayangan Kiki mengamuk dan hampir membunuh Iccha pun masih teringat jelas di pikiran mereka.
"Mar, terus gimana?" tanya Iccha dengan suara pelan.
Ammar terlihat memegang kepalanya dengan ke dua tangannya.
"Nggak tahu," jawab Ammar pasrah.
**
"Nak, kamu kenapa?" tanya Daddy Jack. Kamar Kiki sudah seperti kapal pecah saat beliau dan yang lainnya datang.
"Aku benci Tama, Dad. Aku benci dia ...." jawab Kiki dengan berlinangan air mata. Dia terduduk di lantai masih mengenakan pakaian yang semalam dia pakai.
"Tama ngapain kamu?" tanya Jo yang mendekat pada adiknya dan berlutut untuk mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Kiki.
"Dia hianatin aku, Bang. Dia punya cewek lain selain aku .... " Kiki mencurahkan problematika asmaranya pada sang kakak.
"Hush ... jangan nangis! Tenangin diri kamu!" Jo menarik kepala adiknya dan meletakkannya pada dadanya. Tangis Kiki semakin pecah. Dia memeluk abangnya erat-erat.
"Aku nggak punya ibu, aku juga nggak punya pacar sekarang, Bang. Hidupku kosong banget," keluh Kiki meluapkan apa yang dia rasakan.
Sedangkan Daddy Jack, beliau terpaku mentap dua anaknya yang berpelukkan erat. Apa yang di pikiran beliau saat ini? Rasa bersalah karena menganggap dirinya belum bisa mendidik anak-anaknya dengan baik terutama Kiki, beliau juga merasa belum memberikan kasih sayang yang cukup untuk keempat anaknya yang membutuhkan sosok ibu dalam hidup mereka. Nyatanya, susah sekali untuk berperan sebagai ayah dan ibu dalam satu waktu. Apalagi beliau harus bekerja keras mengurus bisnisnya yang menguras banyak waktu.
Ammar dan Iccha ternyata mengintip dari balik pintu. Dia sudah menduga kalau Tama lah yang membuat adiknya menjadi seperti ini. Dengan tangan terkepal dan wajah yang menakutkan Ammar berjalan meninggalkan kamar adiknya.
"Too cool, lu mau ke mana?" tegur Iccha, dia berlari mengejar Ammar hingga hentakan heelsnya terdengar menggema.
"Gue mau nyelesaiin masalah Kiki," sahut Ammar dengan langkahnya yang semakin cepat.
"Maksud lu apaan? Nggak usah aneh-aneh, deh! Tunggu gue ikut!" Iccha tidak mau meninggalkan Ammar sendirian dalam keadaan emosi seperti sekarang.
**
Ammar masuk ke dalam mobilnya, disusul oleh Iccha yang menempatkan dirinya di tempat duduk di sisi Ammar. Mereka menggunakan sabuk pengaman bersamaan.
"Lu mau ke mana?" tanya Iccha penasaran.
"Nyariin si lelaki bajiiingan itu," jawab Ammar. Emosinya sedang berada di puncak.
"Mau lu apain, Mar? Nggak usah aneh-aneh deh, ya!"
"Turun kalau lu banyak omong!" sentak Ammar lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan garasi.
Iccha berpegangan erat, takut terpental dengan gaya kemudi Ammar yang ugal-ugalan.
Sialan! Nyuruh turun, tapi mobil di gas! Pekik Iccha dalam hati.
"Gue cuma nggak mau ada apa-apa. Orang kalau lagi emosi suka macam-macam ulahnya," jelas Iccha dengan jantung berdebar-debar karena Ammar masih belum memelankan laju kuda besinya.
Ammar diam saja tidak menyahuti ucapan Iccha.
**
"Uncle, kita ke dokter, ya? Atau ada nomor dokter keluarga yang bisa saya hubungi? Biasane nek orang kaya kan punya dokter keluarga," ucap Erika memerhatikan Daddy Jack yang shock hingga membuat d**a beliau nyeri karena melihat anak wanitanya yang tengah patah hati sampai melempar segala benda yang ada di kamar.
"Uncle baik-baik saja, Erika," sahut Daddy Jack sambil meringis menahan sakit.
"Uncle nggak baik-baik aja, Uncle sakit ... kita ke dokter, ya!" paksa Erika.
Jo datang untuk melihat keadaan ayahnya. Syukurlah Kiki sudah bisa tenang jadi dia memiliki kesempatan untuk memperhatikan ayahnya.
"Dad, aku telpon Dokter Charles, ya," kata Jo segera menghubungi dokter langganan ayahnya.
"Syukurlah!" Erika menjadi lega.
Sepuluh menit kemudian dokter tersebut datang dan memeriksa keadaan Daddy Jack. Dokter mengatakan Daddy banyak pikiran dan hipertensinya pun kumat. Ini tidak bisa dibiarkan, karena darah tinggi bisa menyebabkan stroke pada penderitanya.
"Tolong dijaga keadaan papahnya ya, Jo!" pesan dokter tersebut lalu memberikan resep obat pada Jo.
"Siap, Om," sahut Jo seraya meraih kertas resep itu dari tangan Dokter Charles.
Erika teringat, mendiang ayahnya dulu juga sakit hipertensi dan ibu kerap membuatkan rebusan daun seledri setiap harinya untuk menjaga tensi tetap normal, paling tidak agar tidak terlalu tinggi naiknya saat kumat.
"Mas Jo mau ke apotik, ya?" tanya Erika dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Rik. Mau nebus obat," jawab Jo.
"Boleh aku sekalian nitip daun seledri di pasar?" tanya Erika.
"Daun seledri buat apa?" tanya balik Jo.
"Buat obat alami Uncle, Mas. Seledri bisa nurunin tekanan darah tinggi. Aku nggak tega ... hiks ...." Erika terisak, dia teringat mendiang ayahnya.
"Jangan nangis! Ya Allah, malah mewek," tegur Jo sambil mengelus-elus pundak Iccha.
"Aku ingat bapak, Mas. Jadi Mas Jo harus benar-benar jagain Uncle, jangan sampai nyesel kayak aku udah nggak ada, tapi belum bisa bikin bapak bangga." Erika jadinya curhat.
"Iya, Rik. Aku anak baik, kok. Aku pasti bakal jagain daddy," kata Jo lalu mengelus-elus pucuk kepala Erika.
"Ya udah aku ke apotik dulu ya terus beliin daun apa tadi?" Jo lupa-lupa ingat dengan nama tumbuhan yang diminta Erika.
"Seledri, Mas. Aku mau coba cek ke dapur dulu siapa tahu ada," kata Erika.
**
Erika memeriksa ke pantry dan bertanya pada salah satu maid yang bertugas untuk memasak setiap harinya.
"Ada daun seledri ndak, Bu?" tanya Iccha dengan sopan.
"Ada, Mbak Rika. Tapi tinggal sedikit," jawab maid tersebut.
"Ini tinggal dua helai aja," lanjutnya.
"Ndak apa, Bu. Biar buat aku ya, Bu." Erika meminta ijin.
"Boleh, Mbak. Ambil aja!"
Erika menyeduh dua helai daun seledri tersebut dan juga membuatkan Daddy Jack bubur beras. Setelah semuanya siap, dia membawa serta makanan dan minuman itu ke kamar penulis yang menjadi idola almarhum ayahnya tersebut. Sampai di dalam kamar, ternyata ada Lina yang menunggui ayahnya dengan cemas.
"Lina, kamu pasti belum makan kan? Makan dulu sana! Biar Uncle aku yang jaga," ucap Erika.
Belum ada satu pun penghuni rumah yang makan pagi karena tragedi yang Kiki buat. Mereka melupakan aktivitas rutin mereka dan sibuk mengurusi Kiki dan juga Daddy Jack yang terbaring sakit.
"Kamu sendiri juga belum makan kan, Rik?" tanya balik Lina.
"Iya, tapi aku udah biasa makan agak siangan. Udah sana kamu makan duluan aja! Biar Daddy aku yang jagain. Ini juga udah aku bikinin bubur buat daddy, kok," ujar Erika.
Erika ini baik banget lho ... aku suka ada dia di sini. Batin Lina memuji kepribadian Erika yang lugu, kalem, baik hati dan nggak neko-neko, persis kayak authornya. Hehehe ....
"Udah kamu makan dulu, Lin! Daddy baik-baik aja," sambung Daddy Jack dengan suara yang lemah.
Lina menurut apa kata dua orang yang ada di sini, dia meninggalkan kamar ayahnya untuk makan.
"Uncle aku suapin dulu, ya!" kata Erika duduk di sisi Daddy Jack dengan membawa mangkuk. Gelas yang berisi air seduhan daun dia letakkan di atas meja.
"Kamu baik banget, Rika," puji Daddy Jack.
"Kita wajib baik sama siapa pun, Uncle. Itu pesan almarhum bapak," sahut Erika sembari mmenyendokkan bubur yang masih terlihat mengeluarkan asap panas itu dan meniupnya.
"Andai Jo belum memiliki calon istri, pasti Daddy jodohin sama kamu, Rika," cetus Daddy yang seketika membuat Erika membulatkan bola matanya.
"Uncle ini kok ya ada-ada saja lho," kata Erika sambil menyunggingkan senyum simpul.
"Kan ya calon istri Mas Jo udah sempurna banget to, Uncle. Masa iya mau diganti sama yang ndeso bin krembis kaya aku to?" lanjutnya membandingkan dirinya sendiri dengan Yoevanca.
Noted : Krembis itu istilah Jawa, kalau di Bahasa Indonesiain seperti compang-camping nggak keurus gitulah.
"Tapi Daddy ...." Daddy tidak jadi bicara. "Ya sudahlah, itu sudah pilihan Jo," tutupnya.
"Ayo buka mulutnya, Uncle! Aku suapin sampai habis."
Erika merawat Daddy Jack dengan sepenuh hatinya. Pada saat Jo datang Erika baru saja selesai menyuapi lelaki tua itu. Jo memperhatikan Erika dari balik pintu kamar ayahnya, dia terpesona sekaligus kagum dengan ketulusan hati wanita lugu yang dia bayar untuk membuatkan novel untuknya.
**
Hari ini Jo sudah ada janji dengan Yoevanca untuk memesan cincin pernikahan, tapi karena ayahnya sedang sakit maka Jo membatalkannya. Bahkan semua pekerjaan sudah dia limpahkan pada Aldin sepenuhnya. Jo tidak bisa bekerja dalam keadaan banyak pikiran seperti sekarang, apalagi ini menyangkut ayah dan juga adiknya.
"Sayang, aku mohon mengerti keadaan aku! Kita reschedule saja janji temunya." Jo berusaha meminta pengertian dari calon istrinya.
"Sudah beberapa kali kamu minta reschedule. Kamu tidak serius menikah denganku," sahut Yoevanca kesal.
"Aku serius, tapi kalau menyangkut kesehatan daddy aku nggak mau ambil resiko," balas Jo sedikit emosi.
"Tapi pernikahan kita juga penting!" sembur Yoevanca tidak mau menurunkan egonya dan memaklumi keadaan. Padahal mana ada yang mau orang tuanya sakit? Jo pun tidak mau berada di posisi seperti ini.
"Reaksimu nggak seperti yang aku harapin, Ca! Harusnya kamu datang ke sini, kamu tengokin calon papa mertua kamu, kamu perhatiin beliau, bukan malah membesar-besarkan marahmu! Bahkan cuma untuk nanyain kabar daddy aja enggak! So, whatever you want! I don't care!" sentak Jo naik pitam dan memutus sambungan suara secara sepihak.
"Shiit!" Yoevanca mengumpat dan membanting ponselnya.
**
Mobil yang dikendarai Ammar berhenti di sebuah kos-kostan khusus pria. Dia keluar dengan memakai kaca mata hitam di hidungnya dan melingkas lengan kemejanya hingga tinggi ke atas.
"Semoga nggak terjadi pertumpahan darah di sini," harap Iccha segera menyusul Ammar.
Lelaki itu berjalan menuju sebuah kamar yang paling pojok bernomorkan tujuh yang tergantung di depan pintu.
"Tama! Keluar nggak lu berengsek!" teriak Ammar sambil menggedor pintu kamar itu dengan kasar dan kencang.
Iccha takut melihat amarah Ammar yang berkobar-kobar, tapi dia sudah bertekad untuk menemani Ammar setakut apapun yang dia rasakan saat ini.
"Please, jangan pakai kekerasan!" pinta Iccha seraya mengelus-elus lengan Ammar yang kekar.
"Shut up!" sentak Ammar membuat Iccha seketika membungkam mulutnya.
Pintu dibuka oleh seorang wanita yang tidak Ammar kenal.
"Mana Tama?" tanya Ammar menengok ke dalam ruangan yang terlihat berantakan.
"T-Tama? Dia ... dia nggak ada, Bang," jawab wanita itu dengan gugup. Jelas sekali kalau dia menyembunyikan keberadaan Tama.
Dia pasti perempuan nakal, mana ada perempuan baik-baik ada di dalam kostan khusus pria menggunakan pakaian minim seperti itu dan rokok di sela-sela jarinya? Pikir Iccha sembari mengamati penampilan wanita yang berdiri di hadapannya.