**
Iccha dan Erika berbincang-bincang cukup lama, banyak hal yang mereka ceritakan tidak hanya masalah percintaan, tapi juga tentang hidup mereka. Untung saja, Erika dan Iccha sama-sama orang yang pandai beradaptasi jadi mereka dengan muda saling mengenal dan akrab meski dalam perkenalan yang singkat.
Tengah malam Iccha merasakan kehausan. Dia bangun sambil mengucek-ucek matanya yang berasa lengket. Diambilnya gelas yang tergeletak di meja yang ada di dekat ranjang, tapi pada saat dia akan menuangkan air dari dalam teko, eh ternyata tekonya kosong.
"Sial! Mesti ke dapur dulu nih, mana haus banget," gerutu Iccha lalu menguap dengan cukup lebar.
Iccha membuka selimut yang membungkus separuh tubuhnya. Dia tarik kakinya dan dia turunkan tepat di atas sandalnya.
"Nggak ada setan kan ya malam-malam begini? Ngeri gue!" gumam Iccha. Mau nggak mau memang harus keluar kamar karena dia nggak bisa lama-lama menahan dahaga.
Pandangan mata Iccha masih kabur, dia berjalan dengan langkah gontai sambil membawa gelas di tangan kirinya. Namun, saat di depan kamar dia kaget melihat ada sesosok makhluk bertumbuh tinggi besar berdiri membelakanginya.
"Aaarrkhh ... setaaan!" teriak Iccha ketakutan hingga gelas yang ada di tangannya jatuh dan pecah berantakan.
Makhluk itu berbalik badan. Kaget juga dia dengar teriakan Iccha yang sangat kencang.
"Heh, Gila!" pekik makhluk itu yang tidak lain adalah Ammar, bukan setan ya dia manusia, hanya salahnya Ammar memakai hodie berwarna hitam dengan kepala yang dikerudungi oleh hodie tersebut di tengah malam seperti ini, jadinya emang mirip sama makhluk misterius yang suka meneror.
"Ya Allah, elu? Gue pikir setan tadi, gila lu!" umpat Iccha sambil menyandarkan tubuhnya di badan pintu. Kaget, lemes, keringat langsung sekujur tubuh. Ngantuknya pun jadi ilang. Untung saja Erika nggak bangun, dia kalau udah tidur mau ada gempa bumi juga tetap anteng.
"Lu gila!" umpat balik Ammar lalu nyelonong mau masuk kamarnya.
"Eh, jangan melarikan diri, Ya! Bantuin gue bersihin gelas yang pecah! Ini kan ulah elu, Cool!" omel Iccha lalu menarik tangan Ammar agar tidak pergi.
"Aku ngantuk," ketus Ammar lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa memedulikan Iccha.
Iccha nggak tinggal diam, dia ikut masuk ke dalam kamar Ammar.
"Kenapa? Mau bobo bareng gue?" goda Ammar yang sudah berbaring di atas ranjang tinggal tarik selimut aja.
"Ayo bantuin gue!" paksa Iccha, dia mendekat pada Ammar dan menarik-narik tangan lelaki itu agar bangun dan menurutinya.
"Ck!" decak Ammar lalu segera berdiri dan menuruti kemauan Iccha.
"Kan bisa nyuruh asissten rumah tangga," gumam Ammar kesal karena waktu tidurnya terganggu.
"Ya lu yang harus tanggung jawab," desak Iccha.
"Tapi gue haus banget, gue mau minum, Cool," keluh Iccha dengan manja. Mereka kini sama-sama berjongkok untuk menjumputi pecahan beling dengan tangan telanjang.
"Makan sana!" sahut Ammar singkat.
"Gue haus bukan lapar!" ketur Iccha.
"Terus?" tanya Ammar singkat.
"Anterin aku ke dapur sekalian ambil sapu buat bersihin serpihan belingnya yang kecil-kecil," jawab Iccha. Aslinya minta ditemenin, tapi sekalian nyari alasan yang masuk akal.
"Ngrepotin! Bilang aja takut," cibir Ammar sambil menyunggingkan senyum setannya.
"Mana ada gue takut?" sungut Iccha nggak mau banget diremehin. "Please-lah anterin! Gue takut lu kabur dan nggak mau tanggung jawab, bukan karena takut ketemu setan," kekeh Iccha.
"Ya udah ayo!" Ammar tidak mau meneruskan perdebatan, dia berjalan duluan meninggalkan Iccha.
"Tungguin dong, Too Cool!" umpat Iccha sambil berlari mengejar langkah Ammar yang lebar.
Iccha berjalan sembari memegang hoodie hitam Ammar dari belakang.
Kelakuan lu, Cha. Udah kayak bocah. Desah Ammar dalam batin sambil melirik sekilas wanita yang ada di belakangnya.
Mata Iccha celingukkan ke kanan dan kiri dengan bulu kuduk yang meremang. Rumah sebesar ini, tapi sunyi sekali seperti tidak ada kehidupan. Jangankan malam hari, siang pun juga sepi.
"Krieet ...." Suara pintu terbuka membuat Iccha berjingkat dan spontan memeluk Ammar erat-erat. Ammar menghentikan langkah dan membiarkan Iccha mendekapnya dari arah belakang dengan wajah yang terbenam di punggung gagahnya.
"Katanya nggak takut," cibir Ammar dengan suara pelan.
"A-ada yang buka pintu, Cool. Mana tau maling atau setan," kata Iccha dengan takut-takut.
"Mbak, saya antar ke kamar ya?" Suara seorang lelaki terdengar setelahnya.
Ammar mengernyitkan keningnya dan berpikir siapa yang datang malam-malam begini. Suara lelaki itu jelas sekali kalau itu adalah Pak Hendra, petugas keamanan yang berjaga di rumahnya yang bak istana. Masalahnya adalah siapa yang Pak Hendra ajak bicara, kenapa harus diantar sampai ke kamar.
Ammar melepas ke dua tangan Iccha yang melingkar di tubuhnya dan berjalan cepat menuju ke arah ruang tamu yang tidak jauh dari tempatnya sekarang, hanya tinggal menuruni anak tangga untuk sampai ke sana.
"Ammar, tungguin gua!" seru Iccha dan ikut berlari bersama Ammar.
Sampai di ruang tamu, mata Ammar dan Iccha terbelalak mendapati Kiki sudah tergeletak di atas sofa dengan pakaian yang super sexyy. Wanita itu nampaknya tengah dalam pengaruh alkohol. Sedangkan, Pak Hendra berdiri di dekat sofa terlihat kebingungan akan bertindak apa, takut kalau dia sentuh Kiki akan menimbulkan fitnah apabila orang tersebut tidak tahu keadaan yang sebenarnya.
"Syukurlah anda belum tidur, Mas Ammar. Mbak Kiki diantar oleh kawan lelakinya dalam keadaan mabuk, Mas," jelas Pak Hendra.
"Astaga!" celetuk Iccha sambil menutup mulutnya. Dia kaget karena baru pertama kali melihat perangai Kiki yang ternyata bar-bar kalau di luar rumah.
"Biar saya yang urus, Pak. Pergilah!" perintah Ammar.
"Siap, Mas!" Pak Hendra pun kembali ke pos jaga di mana tempatnya bekerja.
"Jadi Kiki suka begini ini tiap malam, Mar?" tanya Iccha seraya mendekati Kiki. Iccha duduk di sisi wanita itu dan mengendus betapa menyoloknya bau alkohol yang menguar hingga ke hidungnya.
"Hm .... Biar aku pindah ke kamar." Ammar mendenguskan hidungnya, tidak tahan dengan bau minuman haram yang menempel pada tubuh adiknya.
"Jangan sentuh aku! Lelaki baajingan! Hahaha ...." Kiki meracau tidak karuan ketika Ammar menyentuhnya. Meski pun mabuk, dia masih memiliki tenaga juga untuk menangkis tangan abangnya.
"Ki, tidur di kamarmu!" perintah Ammar.
"Jangan memerintahku seenaknya! Pergi kamu! Kamu lelaki penghianat!" umpat Kiki sembari berdiri dengan sempoyongan.
Ammar memegang keningnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sedang mencoba untuk menahan amarahnya, dia tidak mau emosi dan membuat dia hilang kendali hingga menyakiti adiknya yang tidak sadar.
"Hahahaha ... dasar lelaki kardus! Kamu pacaran sama aku cuma karena aku anak orang kaya, hahaha ...." Kiki mendekat pada abangnya dan bergelendotan. Lalu ... dia mengarahkan netranya ke arah Iccha, membuat wanita itu takut ditatap seperti itu oleh orang mabuk.
"Dia ...." Kiki menujuk Iccha dengan matanya yang memerah.
"Dia selingkuhanmu kan? Biar aku bunuh dia!" kata Kiki, dia melepaskan tubuh Ammar dan mendekat pada Iccha. Jalannya yang sempoyongan membuat dia menabrak meja dan membuat vas bunganya jatuh, tapi tidak pecah.
Iccha ketakutan, dia mencoba melarikan diri, tapi dia terpojok oleh Kiki yang kini memegang ke dua tangannya.
"Gue Iccha, Ki. Aku bukan selingkuhan siapa-siapa!" ucap Iccha panik tidak karuan.
"Kamu cewek nggak bener! Mati kamu sekarang!" pekik Kiki lalu melingkarkan jari jemarinya ke leher Iccha hingga mata wanita itu membelalak. Kiki mencekiknya.
"Ki, sadar!" teriak Ammar lalu segera menarik adiknya dengan kasar mencoba menyelamatkan Iccha yang bisa mati kalau didiamkan dalam cengkeraman Kiki.
"Kamu belain dia .... " Kiki terjatuh di lantai lalu menangis. Sedangkan Iccha juga menangis karena ketakutan.
"... aku pacar kamu, tapi kamu belain dia," racau Kiki. Tingkahnya semakin tidak terkendali. Dia tiduran di atas lantai dan mengacak-acak rambutnya hingga penampilannya semakin berantakan. Mana bajunya kekurangan bahan.
"Gue takut banget, Mar. Gue nggak mau mati," keluh Iccha shock berat.
"Biar gue bawa Kiki ke kamar, lu di sini dulu!" jelas Ammar.
"Gue nggak mau, gue masuk ke kamar aja! Gue takut," sahut Iccha.
Ammar membopong tubuh Kiki yang tidak sadarkan diri dan membawanya ke kamar. Dia prihatin melihat adiknya yang hampir tiap malam menghabiskan hidupnya dengan bermain-main alkohol dan club malam. Kiki kehilangan arah, dia frustasi karena merasa hidupnya tidak sempurna, hanya memiliki banyak uang tanpa kasih sayang seorang ibu dalam hidupnya.
Selepas menidurkan adiknya di kamar, Ammar berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan Iccha minum. Sambil menunggu gelas besar itu terisi penuh dengan air, Ammar menyempatkan diri untuk bersyukur, bersyukur karena kejadian malam ini tidak membuat anggota keluarga yang lainnya terbangun terutama ayahnya. Jack Ardiansah pasti sedih sekali melihat Kiki masih belum bisa berubah menjadi anak yang baik seperti yang beliau harapkan.
**
Ketukan pintu, membuat Iccha terperanjat. Dia yang masih terbayang dengan kejadian beberapa menit yang lalu di ruang tamu masih ketakutan hingga detik ini. Kalau saja Kiki tidak melepaskan cekikkannya mungkin dia hanya tinggal nama malam ini dan keesokkan harinya headline di media online, maupun cetak akan penuh dengan berita tentang dirinya yang meregang nyawa karena dibunuh oleh orang mabuk. Sungguh nyawa yang terbuang dengan sangat percuma!
"Cha, ini gue," seru Ammar dari balik pintu yang masih tertutup rapat.
"Ngapain dia ke sini?" gumam Iccha sambil berjalan membukakan pintu.
Awal-awal yang Iccha lihat adalah wajah tampan Ammar yang begitu dingin, tapi mempesona untuknya. Setelah itu dia barulah sadar kalau lelaki itu membawakan segelas minum untuknya.
"Ini minum!" kata Ammar sembari menyodorkan gelas yang dia bawa.
Iccha menerima benda itu dengan ke dua tangannya.
"Thanks, Ya!" ucap Iccha singkat dengan mata berkaca-kaca.
"Hm ...." sahut Ammar singkat dan berlalu pergi meninggalkan Iccha untuk masuk ke dalam kamarnya.
Hanya segelas air putih aja gue bisa ngerasa sesenang ini. Andai aja lu lebih perhatiin gue kayak lu perhatiiin Erika, gue pasti baakal jadi kucing yang lucu dan menggemaskan buat lu, Mar. Yang akan nurut dan suka banget bermanja-manja sama lu. Pikir Iccha dan dia pun meneguk air itu dengan cepat hingga habis tanpa sisa.
"Air putih yang diambilin sama cowok yang kita taksir ternyata rasanya ada manis-manisnya, hehehe ...." gumam Iccha dengan senyum bahagia yang tersungging di bibirnya.