"Ayo janji dulu!" perintah Iccha dengan galak dan masih belum mau melepaskan tangannya dari mulut Erika.
"Mm ... mm ...." Erika tidak bisa berbicara jadi hanya mmm mmm saja.
"Ngangguk dodol!" sentak Iccha memerintah.
Erika menurut dan menganggukkan kepalanya beberapa kali hingga Iccha benar-benar melepaskan bungkaman tangannya.
"Haduuh ... mbak, mbak kok yo sadis e ngunu ki lho," gerutu Erika sebal.
"Makanya jangan ember lu jadi orang! Sek tak kunci dulu pintunya!" kata Iccha lalu berlari ke arah pintu dan menguncinya.
"Ngapain juga to mbak dikunci?" tanya Erika dengan nada protes.
"Biar nggak ada yang masuk, nggak ada yang nguping juga, biar aman," jawab Iccha lalu berjalan kembali mendekat pada Erika.
"Ayo Mbak Iccha udah janji lho yo mau ngomong jujur." Erika menagih janji Iccha.
"Iya-iya .... "
Iccha dan Erika duduk berhadap-hadapan di atas ranjang. Masalah cincin jadi lupa seketika karena teralihkan dengan masalah asmara.
"Iya gue bakalan jujur sama lu, meski harga diri gue bakalan anjlok setelah ini, tapi lu janji ya, Burik! Jangan sampai masalah ini bocor keluar apalagi sampai ke telinga Ammar. Gue tahu lu lagi dekat kan sama dia," cetus Iccha lalu berekspresi muram saat mengatakan kalimat yang paling akhir.
"Iya gue janji, Mbak Icchaiccha di dinding," sahut Erika.
"Hahahaha .... " Iccha malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Lhoh malah guyu (ketawa)," tegur Erika nggak ngerti apa yang bikin lawan bicaranya ini tertawa.
"Habisan lucu banget lu ngomong begaya pakai gue, gue segala ... hahaha ... medok banget, ora pantas ngerti ora?" cibir Iccha gantian berbicara dengan logat Jawa.
"Iyo-iyo emang dasarnya lidah Jowo mau ngomong gaul malah jatuhnya lucu ya, Mbak?" Erika garuk-garuk kepala.
"Huum."
"Ayo balik lagi ke yang tadi, Mbak! Jangan mencoba mengalihkan isu!" decak Erika.
"Iya-iya ... jadi gue akui ...." Iccha mendongakkan kepalanya dan memejamkan mata sejenak.
Mungkin gue memang butuh teman buat ngungkapin apa yang gue rasain. Gue nyesek juga lama-lama mendam ini sendirian. Batin Iccha.
"Kenapa sie, Mbak? Ndak usah sedih gitu." Erika memegang tangan Iccha yang tergelatak di atas pahanya sendiri.
"Iya, bener gue cemburu tiap kali lihat lu deeketan ama Ammar. Gue sakiit banget pas dia ngasih lu barang-barang baru. Gue hancur rasanya saat dia perhatiin elu, Rik. Padahal lu baru tiga hari kan di sini? Sedangkan gue udah dari kecil ada di hidup dia," jelas Iccha dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Allah, Mbak. Maafin aku, yo! Aku juga nggak tahu kenapa Bang Ammar banget sama aku, aku minta maaf nek (kalau) nyakitin hati Mbak Iccha," tutur Erika merasa sok menyesal. Memang ini yang dia harapkan dari kedekatannya dengan Ammar, ingin mencari tahu bagaimana respon Iccha.
"Bahkan tiap kali gue lihat laptop sama hape lu aja, berasa pingin gue ancurins saat ini juga," decak Iccha geram. Dia menyerobot hape Erika yang tergeletak di atas ranjang dan mengambil ancang-ancang untuk melemparnya.
"Mbak ... mbak ... Ya Allah, ojo lah nek hapeku dibanting! Jangan dibanting! Itu hargane mahal, aku dah dari lama pingin hape kayak gini." Erika panik, takut beneran dihancurin ponsel idamannya. Kalau orang cemburu kan apapun bisa dilakuin.
"Habisan aku kesel banget, Rik. Kenapa hape ini Ammar yang ngasih spesial ke lu? Kenapa bukan orang lain aja?" tanya Iccha sambil melemaskan tubuhnya. Dia menurunkan pula tangannya yang tadi terangkat hendak melempar ponsel Iccha.
Lalu apa yang Iccha lakukan? Yang pertama dia menarik hapenya dulu dari genggaman tangan Iccha, takut kalau tiba-tiba dibanting tanpa ijin. Kemudian setelah memastikan hapenya aman, Erika menggeser posisi duduknya dan memeluk Iccha untuk menenangkan wanita yang kini tengah menangis terisak-isak sambil menyembunyikan kepalanya di anatara paha. Ke dua kaki Iccha tertekuk dan dia peluk erat.
"Lha kenapa Mbak Iccha nggak ngomong jujur aja sama Bang Ammar kalau Mbak Iccha naksir sama dia dari dulu?" tanya Erika sembari mengelus-elus rambut Iccha untuk menenangkan.
Iccha mendongakkan kepalanya, terlihat wajah wanita itu sudah basah kuyub. Dengan mata memerah Iccha memelototti Erika.
"Lu bego?! Gimana bisa gue nembak Ammar? Mau ditaruh mana muka gue yang cantik ini?" sembur Iccha memarahi Erika.
"Astagfirullah galak banget to, Mbak." Erika mengelus dadanya sendiri.
"Ya elu tanyanya juga bikin gue emosi. Mana mungkin gue bilang kalau gue naksir sama Ammar sedangkan lu tau sendiri gimana galak dan dinginnya dia sama gue. Jatuuh banget harga diri gue, Rik!" omel Iccha lalu kembali membenamkan wajahnya di antara ke dua pahanya, menangis lagi seperti anak bayi merengek minta dibeliin mainan.
"Sabaar, Mbak. Sabaaaar!" Erika mengelus-elus lagi rambut Iccha.
"Saabaar sabaaar, lu bisa bilang gitu karena lu gak ngerasain jadi gue! Lu mah enak diperhatiin, diperlakuin baik sama Ammar, nah gue?!" Iccha menunjuk pada dirinya sendiri.
"Tapi sumprit gue ndak ada apa-apa sama Bang Ammar, Mbak. Gue-"
"Gak usah gua gue ya lu! Nggak lucu gue lagi nangis terus ketawa gegara denger omongan lu yang belagak gaul!" pekik Iccha sambil menunjukkan jari telunjuknya ke wajah Iccha.
"Medok gitu pake gua gue gua gue, nyebelin banget!" lanjut Iccha kesal.
"Yo maaf, Mbak. Tapi ini beneran aku mau ngomong dulu, aku tuch ndak ada apa-apa sama Bang Ammar. Lagi pula kan Mbak Iccha tahu to nek (kalau) aku udah punya pacar? Pacarku polisi, Mbak. Aku rak (nggak) minat sama Bang Ammar. Jadi Mbak Iccha ndak usah khawatir gitu," tutur Erika menenangkan hati Iccha yang dilanda gundah gulana.
"Tapi nyatanya Ammar mepet elu, Burik!" sungut Iccha kesal bukan main kalau tiap ingat itu.
"Jangan burak-burik wae to, Mbak! Namaku itu Erika kok jadi Burik ki lho," protes Erika jengkel namanya main diganti seenaknya tanpa nyebar nasi kuning ke tetangga-tetangga.
"Terus gue mesti gimana sie, Rik?" tanya Iccha meminta pendapat.
"Yang panggil aku Rika aja jangan Burik!" jawab Erika dengan nada memerintah.
"Bukan masalah gue harus manggil lu apa yang gue tanyain! Tapi ... ck ... susah ya ngomong sama penulis yang lemot banget kayak elu! Huwa ...." Setelah mengomeli Erika, Iccha mengencangkan tangisnya sambil geluntungan di atas ranjang.
"Ya Allah, perasaan aku salah mulu to," gersah Erika kebingungan.
"Ya lu ngeselin! Gue tadi tanya maksud gue ... gue harus gimana sama perasaan gue ke Ammar? Gimana caranya gue narik perhatian Ammar? Bukan masalah gimana gue mau manggil elu, Rika," jelas Iccha seraya menghentak-hentakkan kakinya di atas springbed, hingga tempat itu terasa berguncang-guncang termasuk tubuh Erika.
"Iya-iya, Mbak. Aku minta maaf kalau aku lemot. Sini aku bantuin kalau Mbak Iccha pingin narik perhatian Bang Ammar," kata Erika memberikan angin segar pada Iccha yang buta soal perkara cinta.
"Gimana-gimana?" tanya Iccha, beranjak dari tempat tidur dan duduk di depan Erika dengan tangisnya yang sudah mulai reda.
"Tapi elap dulu itu ingusnya, Mbak! Njijik'i rak karuan (Menjijikkan sekali!)" omel Erika. Secara ingusnya Iccha meluber ke mana-mana.
"Iyo-iyo." Iccha menarik tisu untuk menghapus air mata dan juga ingus yang turun dari dua lubang hidungnya, tapi mata wanita itu masih sangat merah.
"Udah bersih kan? Jadi gue mesti gimana sekarang?" tanya Iccha, pembicaraan mulai serius.
Ini saat yang tepat buat balas rencananya Bang Ammar, salah sendiri dia jadiin aku tumbal. Gumam Erika dalam batin sambil senyam-senyum sendiri karena dia bahagia bisa nemuin cara buat baliik ngerjain Ammar, si lelaki dingin yang nggak bisa nunjukkin rasa sayangnya, tapi malah justru nyakitin hati wanita yang dia cinta.
"Mbak Iccha harus panas-panasi Bang Ammar!" ucap Erika memberi saran.
"What? Lu minta gue bakar Si Kulkas dua pintu gitu?" tanya Iccha dengan ke dua bola mata yang membola.
"Dih ... yo rak ngunu kui maksudku (ya nggak gitu itu maksudku), Mbak! Itu kriminal namanya," decak Erika.
"Maksud aku, Mbak Iccha coba panasin dia dengan dekat sama lelaki lain, biasanya kita bakalan tau orang itu naksir kita apa ndak, saat kita dekat sama orang. Nah contoh e sing gampang ngene (contohnya yang mudah begini), pas aku dideketin sama Bang Ammar, Mbak Iccha yang ada rasa jadine kan bereaksi tuh?"
"Apanya yang berereksi? Dih ... penulis mesuum mah kalau ngomong suka ngawur," decak Iccha mencibir Erika.
"Lho yang mesuum itu Mbak Iccha sing wes pingin kawin (yang udah pingin kawin). Wong aku bilang RE-AK-SI bukan E-REK-SI." Erika sampai menjeda dan memperjelas dua kata yang membuat Iccha salah sangka.
"Wong ya wes kethok bedo ne lho kok iso-isone malah nyalahke aku (Orang ya udah kelihatan bedanya lho kok bisa-bisane malah nyalahin aku)," omel Erika.
"Ngomong apa sie lu? Pakai Bahasa Inggris aja malah gue jabanin," gerutu Iccha yang sama sekali nggak paham Erika ngomong apaan.
"Ya udah pokoknya Mbak Iccha sok cuek aja sama Bang Ammar, terus Mbak Iccha mencoba dekat sama cowok lain di depan Bang Ammar, nanti kita lihat REAKSI-nya, bukan EREKSI! Sontoloyo tenan!" jelas Erika sambil mengomeli Iccha.
"Hahaha ... iya-iya, maaf! Tapi masalahnya-"
"Perasaan kebanyakan masalah mulu si, Mbak?!" potong Erika dengan kening berkerut-kerut.
"Ya aku nggak punya teman cowok di sini, Rik. Terus gimana mau manasinnya?" tanya Iccha hopeless.
"Jangan khawatir, Mbak! Think smart (Berpikir pintar!)," sahut Erika berlagak sok paling pintar di dunia.
"Serahkan semuanya padaku! Penulis online amatiran yang pinter banget playing victim, hahahahaha .... " Erika memuji-muji dirinya sendiri.
"Gimana-gimana?"
"Mbak Iccha kan sekarang kerja di kantornya Bang Ammar, pasti di sana ada karyawan cowoknya kan? Masa iya segitu banyaknya karyawan cewek semua, Mbak?"
"Ya ada sie, ada cleaning service, satpam-"
"Yang keren dong masa cleaning service."
"Iya ada banyak juga teman cowok cakep dan keren di sana, tapi akunya cuma mau Ammar, huwaaa ...."
"Lha itu Mbak bisa pergunain teman-teman cowok Mbak buat nyari tahu apakah Bang Ammar suka sama Mbak Iccha atau enggak, gimana? Oke kan ideku?"
"Oke juga sie, jadi mulai besok aku harus dekat sama salah satu karyawan cowok gitu, ya? Bentar aku pikir dulu sambil nyari target." Iccha memasang ekpresi berpikir.
"Yes ... tentuin targetnya dulu! Jangan sampai kalah keren dari Bang Ammar kalau bisa." Erika mewanti-wanti.
"Oke, deh. Kamu emang pinter banget, Rik! Hahahaha ...."
"Siapa dulu dong, Erika Wijaya Sang Penulis Online," kata Erika membanggakan dirinya sendiri.
Yes, aku berhasil ngompor-ngomporin Mbak Iccha, rasain kamu Bang ... hahahahaha ... pembalasan dendam besok akan dimulai. Kata Iccha dalam batin.