**
Erika masih kepikiran soal Aldin dan Kirana, dia yang biasanya makan banyak kini sama sekali tidak bernapsu melihat begitu banyak menu yang tertata di atas meja. Erika hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ada satu pun yang masuk ke dalam mulutnya.
"Kok kamu nggak makan, Rik?" tanya Jo yang sejak tadi memperhatikan gelagat Erika yang duduk di sisi abangnya. Ammar menoleh dan ikut menanyakan hal yang sama.
Pada perhatian banget dah kalau sama Si Burik. Gumam Iccha sembari mengunyah pelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Aku ndak apa-apa kok, Mas. Masih kenyang aja, jadi aku permisi ke kamar dulu aja, Ya. Uncle, aku ke kamar, ya!" Erika berpamitan dengan sopan. Dia berdiri dan berjalan dengan kaki yang masih sedikit pincang.
"Aku juga ke kamar ya, Uncle," pamit Iccha dan menyusul Erika yang masih berjalan beberapa meter meninggalkan meja makan.
"Kenapa mereka?" tanya Uncle Jack merasa aneh dengan tingkah dua tamu yang menginap di rumahnya.
"Rik, lu kenapa sie? Lagi ada masalahnya kayaknya?" Iccha mengangsur dua pertanyaan sekaligus pada Erika sembari memegang lengan Erika untuk membantu wanita itu berjalan.
"Aku mah bingung, Mbak. Pikiranku lagi kacau banget ini. Aku ndak ngerti mau cerita sama siapa," jawab Erika lalu air matanya luluh lantah.
"Lhoh kenapa emangnya? Ayo cerita aja sama gue! Kita ngobrol di kamar, ya!" ajak Iccha.
"Lha Mbak Iccha kan tadi belum selesai makannya tow?" tanya Iccha sambil menyeka air matanya.
"Aku ya ndak napsu makan," jawab Iccha mengikuti logat bicara Erika.
"Lagi ada masalah juga?"
"Kagak, lagi diet gue, takuut melar."
"Diih ... udah langsing e koyo ngene lho, Mbak."
Sampai di dalam kamar. Iccha duduk di atas ranjang dan Erika pun juga. Mereka sudah siap ngobrol ditemani dengan setoples kacang bawang yang Ibu Mei bawakan.
"Gimana-gimana?" tanya Iccha dengan mulut yang tidak jelas karena sambil mengunyah kacang di mulutnya.
"Aku lagi mikirin Abang aku, Mbak," jawab Erika dengan wajah lesu.
"Kenapa abang lu? Si Aldin kan?" tanya Iccha.
"Dia lagi ribut sama pacarnya di kampung."
"Yang ribut abang lu sama pacarnya kenapa lu yang ndak napsu makan?" Iccha ketularan dah ngomong ndak, ndak terus.
"Masalahnya pacarnya Mas Aldin ngadu ke aku sambil nangis-nangis, jadinya aku kasian ngunu (gitu), Mbak," jelas Erika.
"Namanya juga orang pacaran kan mesti ada ributnya to, Rik?"
"Iya aku tahu, tapi indikasinya Abang aku ono (ada) pacar yang lain, Mbak. Makanya Mbak Kirana galau banget sekarang," jelas Erika. Dia pun menduga hal yang sama dengan Kirana kalau Aldin memang memiliki kekasiih lain di sini. Terbukti banget dengan gelagat abangnya itu yang menghindari ketika ditanya soal kapan dia akan menikahi Kirana dan juga ... telepon dari wanita yang diberi nama Sephia oleh Aldin.
"Dari mana Kirana bisa ngambil kesimpulan kalau Aldin ada pacar lain?" selidik Iccha, meski belum pengalaman dalam hal percintaan, tapi dia nggak bego-bego amat juga sie.
"Dari gelagat Mas Aldin, Mbak. Misalnya nih, Mas Aldin sekarang tuch suka banget blokirin nomor hapenya Mbak Kiran, terus aku wes (udah) bilang sama Mas Aldin buat nelpon Mbak Kiran, tadi pas deknen (dia) ke sini tak tanyain udah aku telpon jawabnya, padahal belum ... satu lagi," tutur Erika dengan bersemangat.
"Masih ada lagi?" tanya Iccha masih sibuk banget sama kacang yang ada di pangkuannya.
"Masih, Mbak," jawab Erika.
"Ealah ... katanya diet kok malah ngemil kacang ki piye to, (bagaimana sie), Mbak?" protes Erika.
"Rak usah anu-anuin ... eh .... " Iccha mau sok-sokan pakai Bahasa Jawa malah gagal.
"Opo sie, Mbak? Anu-anuin ki rak (gak) jelas," gerutu Erika.
"Maksudku tuch tadi mau bilang nggak usah ngurusin aku, tapi aku rak ngerti Bahasa Jawanya ngurusin itu apa."
"Yo podo wae (Ya sama aja), ngurusin juga," jelas Erika.
"Terus apalagi ciri-ciri abang lu selingkuh?" tanya Iccha balik ke pokok permasalahan yang tadi mereka bahas.
"Ngalihin pembicaraan kalau aku tanyain tentang hubungan ke depannya sama Mbak Kiran. Kaya orang yang nggak antusias ngunu (gitu) lho, Mbak," jawab Erika.
"Ya namanya juga cowok, Rik. Apalagi LDR pastinya mereka jenuh kalau tiap malam minggu sendirian," ucap Iccha yang justru malah membuat Erika menjadi tambah kepikiran.
"Jadi menurut Mbak Iccha beneran Mas Aldin punya selingkuhan?" tanya Erika sembari membelalakan bola matanya.
"Huum ... menurut gue juga begitu, tapi lu kudu cari bukti dulu! Jangan asal ngejudge tanpa bukti nyata!" jawab Iccha lalu memberi Erika nasehat.
"Karena semua tuduhan itu perlu bukti yang akurat, Rik. Nggak asal tuduh juga, bisa jadi abang lu lagi bete sama kerjaan," oceh Iccha yang kebetulan malam ini lagi waras jadi bisa ngomong bener.
"Iya, Mbak. Aku bakal nyari bukti, Kok. Oh ya aku lupa, tadi siang aku juga nemu di handphone-nya Mas Aldin ada yang nelpon, cewek gitu, tapi ndak kelihatan wajahnya. Pokoknya rambut itu cewek pirang, Mbak. Koyok wong bule (Kaya orang bule), terus dikasih nama Sephias ama Mas Al," cerita Erika lagi, ternyata belum kelar sampai situ saja tanda-tanda kalau Aldin punya selingkuhan.
"Sephia? Kok kaya judul lagunya Sheila on seven to, Rik? Itu lho yang kayak gini lagunya, selamat tidur kekasih gelapku ... Sephia ...."
Iccha bersenandung, suaranya lumayan bagus juga nggak fals dan bisa untuk dinikmati. Namun ... Iccha dan Erika saling bertatap mata ketika mengingat penggalan lirik lagu tersebut.
"Kekasih gelapku, Sephia," sebut mereka secara bersamaan.
"J-Jadi .... " ucap Erika dengan terbata-bata.
"Jadi Abang lu beneran punya kekasih gelap, Rik. Dan Si Bule itu pacarnya," jelas Iccha dengan mata yang masih terbelalak.
"Sek, sek, Mbak! (Tunggu, tunggu, Mbak!)" pinta Erika sambil menaikkan ke dua telapak tangannya, seperti orang yang sedang memberi kode untuk menunggu.
"Bisa jadi foto profil di kontak itu cuma palsu, sekarang kan musimnya gitu, Mbak," lanjut Erika mengungkapkan prediksinya.
"Jadi maksud lu, cewek itu orang Indonesia, tapi nyomot poto orang bule gitu?" tanya Iccha menjelaskan apa yang dia tangkap dari perkataan Erika.
Erika mengangguk mantab. "Iyo, lagian kan mana ada orang bule yang mau sama abangku, Mbak? Dinalar wae (saja)!"
"Iyo wae .. ya iyo iyo wae .... asyiik asyiik jos ...." Iccha malah bernyanyi tembang Jawa sambil menggerak-gerakkan tangannya menari jaipongan.
"Serius iki (ini), Mbak," gerutu Erika jadi kesal. Jantung wanita itu kini berdebar dengan kencang.
Terus aku harus ngomong piye (gimana) sama Mbak Kirana? Pikir Erika kebingungan.
"Jangan overthinking dulu, Rik! Fokus aja sama hidup lu sendiri! Urusan abang lu itu biar diurus sama abang lu!" kata Iccha menasehati Erika yang wajahnya terlihat sangat tegang.
"Orak iso ngunu, Mbak. (Nggak bisa gitu, Mbak)," sahut Erika dengan wajah memelas.
"Iso, iso," balas Iccha lalu memasukkan segenggam kacang bawang ke dalam mulutnya.
"Nguntal wae awet mau kok berharap kuru, mlempung malah iyo," gerutu Erika mengomentari Iccha yang sejak tadi tidak berhenti mengunyah.
"Ngomong apaan sie lu, Rik, Burik?" tanya Iccha nggak ngerti sama sekali.
"Ndak ngomong apa-apa. Wes (Sudah) antebin aja!" jawab Erika.
Artinya tadi tuh, "Makan aja dari tadi kok berharap kurus, bengkak malah iya."
Iccha turun dari atas ranjang. Toples kacang yang sejak tadi dipangkunya dia taruh di atas tempat tidur. Lalu dia berjalan ke arah di mana ia menaruh tasnya. Iccha memasukkan tangan kanannya di dalam tas miliknya itu, lalu dia aduk-aduk.
"Kok nggak ada? perasaan tadi aku taruh di dalam tas deh," gumam Iccha mulai panik karena apa yang dia cari tidak ia temukan.
"Mbak Iccha nyari apaan sie?" tanya Erika yang tadinya nggak mau kepo jadinya kepo karena lihat ekspresi Iccha yang demikian.
"Aduuuh ... gue nyari cincin gue, Rik. Tadi pas di kantor aku lepas karena jariku gatal banget digigit semut, terus seingat gue, gue masukin ke dalam tas, tapi kok tak cari ndak ono ki piye (nggak ada ini gimana)?" jelas Iccha, lama-lama mahir juga dia pakai Bahasa Jawa kalau terus kumpul sama Erika.
"Aduuh ... diingat-ingat lagi, Mbak! Barang kali Mbak Iccha lupa naruhnya. Itu cincin pasti mahal banget kan, ya?" Erika ikutan turun dari atas ranjang, lalu mendekat pada Iccha dengan kaki yang masih pincang.
"Mahal lah, pemberian papah gue, Rik."
"Coba kene tak bantuin, Mbak! Aku deg-degan lho ini, takut banget kalau ilang aku yang jadi tersangka, soalnya satu kamar sama Mbak Iccha, mana aku yang paling miskin pasti aku tersangkanya," ucap Erika yang jadi takut banget kalau jadi bahan tuduhan, padahal bentuk cincin Iccha kayak apa aja dia nggak tahu.
"Iya deh coba bantuin nyari, Ya!" kata Iccha yang sudah panik banget.
"Sini coba aku ublek-ublek tasmu, Mbak," ucap Erika lalu memasukkan tangannya ke dalam tas milik Iccha.
"Ublek-ublek apaan pula sie, Rik? Bahasa lu ya aneh-aneh aja."
"Ublek-ublek itu maksudnya ... ah opo ya bingung aku jelasinnya," decak Erika dengan tangan yang masih mengaduk-aduk isi tas mahal Iccha.
"Kalau kita suntak wae gimana, Mbak?" tanya Erika memberi usulan.
"Suntak apa lagi? Ya Allah nggak usah pakai bahasa planet deh kalau ngomong ama gue," desah Iccha sembari mendudukkan pantatnya di sofa.
"Suntak itu apa, Ya? Anu ... iku lho, Mbak." Erika berpikir sambil meletakkan ke dua tangannya di pinggang.
"Opo? Opo?" tanya Iccha dengan bibir mengerucut ke depan.
"Ditumplekin ... opo sie, ditumpahin kali, Ya." Erika kebingungan mentraslate kata 'Disuntak' ke Bahasa Indonesia.
"Oh maksud kamu dikeluarin isinya gitu?" Untung Iccha-nya bisa nangkap maksud wanita Jawa ini.
"Nah iyo bener!" seru Erika.
"Ya udah kita tumpahin isinya di atas tempat tidur aja!" perintah Iccha.
Mereka berdua berjalan menuju ke tempat tidur. Iccha membawa tas mahal yang akan mereka eksekusi dengan mendekapnya.
"Sekarang aku tumplakin ke sini," kata Iccha.
"Tumplekin. Mbak. Bukan tumplakin," ralat Erika karena Iccha salah dalam mengucapkan.
Iccha pun mengeluarkan seluruh isi tasnya di atas ranjang. Ada dompet, bedak, parfum, pulpen, deodorant dan ... ada satu benda yang bikin mata Erika jadi salah fokus.
"Mbak ... ini kan foto Bang Ammar?! Kok ada di tas Mbak Iccha?!" tanya Erika sangat penasaran. Dia memegang foto berukuran 3R itu dan mengamatinya. Foto Ammar saat sedang bermain basket di salah satu lapangan. Meski pun itu foto sudah lama, tapi Erika sama sekali tidak pangling meski Ammar di gambar itu masih terlihat sangat muda.
"Eh, nggak usah lihat-lihat deh!" ketus Iccha sambil merampas foto tersebut dari tangan Erika.
"Gimana ndak lihat? Orang kelihatan mak bedunduk ning ngarepku kok, Mbak," ketus balik Erika.
"Mak benduduk itu apalagi, Ya Allah?!" geram Iccha.
"Jadi Mbak Iccha suka sama Bang Ammar, Ya? Ayo ngaku!" goda Erika dengan senyum usil yang mengembang di bibirnya.
Iccha salah tingkah lalu menyembunyikan foto yang sudah terlanjur dilihat oleh Iccha di balik punggungnya.
"Nggak ada suka-suka dimarah mamak," jawab Iccha sembari memalingkan muka.
"Seriusan ini, Mbak. Gini-gini aku tahu kalau Mbak Iccha bete banget tiap Bang Ammar deketin aku, bener orak (enggak)?" tembak Erika semakin bersemangat mengorek informasi tentang isi hati Iccha yang sebenarnya.
"Diih ... sok tahu," cebik Iccha sebal.
"Udah cariin cincin gue aja nggak usah banyak nanya deh!" sungutnya.
"Iya kan nyari sambil tanya juga bisa, Mbak. Ngaku aja deh, Mbak! Udah ketangkap basah juga ndak bisa ngeles lagi," desak Erika seraya mengobrak-abrik barang-barang Iccha yang berhambur di atas tempat tidur. Dia melihat dengan teliti barang kali ada cincin yang terselip di antara benda-benda itu.
"Diih ... mana ada gue naksir si kulkas dua pintu? Kagak ada ye, amit-amit dah," kelit Iccha dengan ekspresi wajahnya yang galak, tapi Erika tahu kalau wanita itu sedang menutupi sesuatu.
"Yang bener nie? Jadi ndak apa kalau Bang Ammar naksir aku?" Erika memancing reaksi Iccha dengan pertanyaan yang menjurus.
"Ya ja-." Iccha menutup mulutnya, memalingkan muka.
Hampir aja keceplosan. Pikir Iccha dalam hati.
"Ja apa, Mbak? Jangan kan maksudnya? Nggak usah isin-isin alias malu-malu sama aku, Mbak! Aku ki paham perasaan Mbak Iccha. Kayak di novel-novel, sok dingin, jutek, berasa ndak butuh padahal dalam hati cenut-cenut. Hahahaha," cetus Erika santai lalu tertawa terbahak-bahak.
"Besok aku bilang sama Bang Ammar ah kalau Mbak Iccha nyim-" Erika tidak bisa meneruskan kata-katanya karena Iccha tetiba mendekat dan membungkam mulutnya.
"Nggak usah ember! Nggak usah kenceng-kenceng juga ngomongnya! Sialan!" tegur Iccha kemudian mengumpat kasar. Dia panik banget, takut makhluk hidup yang ada di sebelah kamar meereka mendengar perkataan Erika dan membuat dia jadi nggak punya muka setelahnya.
"Mm ...." Erika berusaha untuk menyingkirkan tangan Iccha yang membekapnya.
"Gue bakal lepasin lu asal lu janji jangan ember! Gue janji juga gue bakal ngaku sama lu setelah ini! Janji dulu!" ucap Iccha memberi syarat. Dia bicara dengan suara yang sangat pelan sambil sesekali menoleh ke arah pintu takut tetiba ada orang yang masuk.