**
Ammar diam-diam mencari ke mana Iccha pergi. Rumah sebesar ini dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak membuat orang bisa saja tersesat.
"Lin, tau Iccha?" tanya Ammar pada adiknya yang sedang menonton tivi di ruang keluarga.
"Nggak tau, Bang," jawab Lina tanpa menoleh. Acara sinetronnya lagi seru jadi sayang kalau dilewatkan.
"Ki, kamu tahu?" Ammar gantian bertanya pada adik perempuannya yang satu lagi.
"Mana aku tahu, Bang. Emang aku babysitter-nya Iccha," jawab Kiki yang copy paste-nya Ammar, tapi versi cewek.
"Percuma nanya kalian!" sungut Ammar kemudian memilih pergi untuk mencari Iccha di tempat lainnya.
Langkah lebar Ammar sudah lelah mencari di setiap sudut rumah. Salah sendiri satu komplek rumah dia semua, jadinya capek kalau mau ke mana-mana.
"Ke mana Si Iccha?" Ammar kebingungan.
Langkahnya terus berjalan hingga akhirnya lelaki itu bertabrakan dengan orang yang dia cari di belokkan menuju ke taman belakang. Iccha nyaris jatuh, tapi Ammar sigap menangkapnya. Mereka bertatapan mata sepersekian detik. Suara burung malam menjadi saksi keromantisan tak sengaja yang mereka berdua ciptakan.
Namun, bayangan Ammar yang begitu manis dengan Erika kembali mampir di pikiran Iccha dan membuatnya kembali sedih.
Ternyata begini rasanya jatuh cinta sendirian? Sakit banget!
Iccha menepis tangan Ammar yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Jangan pegang-pegang gue! Ntar gue gatel-gatel!" tegur Iccha sambil memalingkan wajahnya.
"Cuma mau bantu lu biar nggak jatuh," sahut Ammar dengan datar.
"Nggak butuh lu bantu! Gue jatuh juga apa ruginya buat lu? Bukannya lu seneng kalau gue menderita?" sungut Iccha. Manik mata wanita itu kembali digenangi oleh embun bening.
"Dasar, Miss sendok! Galaknya nggak ketulungan!" ledek Ammar.
Iccha mendorong d**a Ammar dengan cukup kencang hingga lelaki itu mundur dua langkah ke belakang.
"Emang gue galak! Gue kasar! Gue gak seperti Erika yang kalem bin lugu seperti yang lu suka!" sentak Iccha meledak-ledak. Air matanya sampai tidak terasa menetes juga.
"Minggir!" Iccha mendorong d**a Ammar sekali lagi kemudian berlari meninggalkan Ammar sambil menyeka air matanya.
"Sensi!" kata Ammar memperhatikan Iccha yang berlari kecil menjauhi dirinya.
**
Di dalam kamar, Erika masih berduaan dengan Jo dan kembali bekerja untuk menyelesaikan proyek novel yang harus selesai dengan deadline sebelum hari pernikahan Jo dan Caca. Agak sedikit ngebut Erika menulisnya mengingat tinggal beberapa bulan lagi menjelang hari H.
"Mas, kenapa to kok tadi siang malah nyuruh Mas Aldin yang nemenin Mbak Caca? Memang Mas Jo ndak takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?" Erika mengangsur dua pertanyaan sekaligus. Namun, tangan wanita itu tetap menari-nari lincah di atas keyboard laptopnya. Masih pakai laptop yang lama, ya. Erika sedang tidak sempat untuk memindahkan semua dokumennya ke dalam laptop baru pemberian Ammar.
"Hal-hal yang tidak diingankan piye (gimana) maksudmu?" tanya Jo, beneran nggak ngerti atau cuma pura-pura nggak ngerti.
"Ya kalau orang Jawa kan suka bilang, Mas. Witting tresno jalaran soko kancing mengo (Tumbuhnya cinta disebabkan karena kancing yang terbuka)- Eh salah!" Erika meletakkan telapak tangannya untuk membungkam mulutnya.
"Opo lah Rik artinya?" tanya Jo tidak paham.
"Maksud aku, witting tresno jalaran seko kulino, Mas. Artinya cinta datang disebabkan karena terbiasa, terbiasa bertemu, terbiasa bercanda, terbiasa bersama ... nah itu semua bisa bikin cinta perlahan-lahan tumbuh. Kalau Mas Aldin dan Mbak Caca terbiasa bersama nanti mereka bisa jatuh cinta bagaimana?"
Penjelasan Erika membuat Jo berpikir sejenak. Lelaki itu diam dengan pandangan mata yang menerawang ke depan.
"Tapi menurut aku nggak mungkin ah, Rik. Aku percaya sama Aldin, lagian kok kamu bisa punya pikiran jelek sama abangmu sendiri sih, Rik? Nggak mungkinlah dia begitu," bantah Jo.
Aldin sudah seperti saudara, dia bahkan tahu benar bagaimana sifat Aldin. Lagi pula dia percaya kalau Aldin tidak mungkin tega menghianati persahabatan mereka.
Jo memang lelaki yang malas sekali keluar rumah apalagi untuk sekedar jalan-jalan ke mall dan menemani Caca berbelanja. Yach ... mungkin sesekali pernah, tapi Caca hampir tiap seminggu tiga kali selalu minta ditemani shoping. Untuk itulah Jo suka meminta tolong Aldin untuk menggantikan dirinya.
Aku maunya percaya, Mas. Tapi kok perasaanku jadi ndak enak gini ya ... apalagi ....
Ponsel Erika berdering. Maksudnya ponsel baru pemberian dari Ammar. Satu panggilan masuk dari Kirana.
Setiap dapat telpon dari Mbak Kiran kok aku deg-degan lho. Batin Erika.
"Sebentar ya, Mas! Aku angkat telepon dulu dari Mbak Kiran." Erika meminta ijin lalu menjauh dari Jo untuk menjawab panggilan dari Kiran.
"Rik, bantuin mbak! Hiks ...." Tangis Kiran langsung pecah begitu Erika menjawab teleponnya.
"Mbak ... Mbak Kiran kenopo?" tanya Erika yang mendadak panik setelah mendengar Kirana menangis tersedu-sedu.
"Aku ndak bisa hubungi Mas Aldin lagi, Rik. Nomorku diblokir lagi opo yo? Aku ndak ngerti salahku apa sama masmu," jawab Kirana terisak-isak.
"Astagfirullah!" Pikiran jelek Erika pada Abangnya semakin menjadi-jadi.
"Tapi tadi siang Mas Aldin sudah hubungi Mbak Kiran kan?" tanyanya. Aldin berjanji akan menghubungi Kirana setelah Erika menegurnya tadi siang-saat di kantor Jo.
"Enggak, Rik. Udah beberapa bulan ini Masmu suka aneh begini. Aku ndak ngerti salahku di mana? Lama juga kan dia ndak pulang kampung, kalau bukan karena Bapak meninggal dia pasti juga ndak bakal pulang," cerita Kirana.
Erika mengingat-ingat. Benar apa yang wanita itu katakan, sikap Aldin memang berubah. Biasanya bisa dua minggu sekali dia pulang. Namun, beberapa bulan ke belakang dia memang nggak pernah pulang. Kalau bukan karena ada kabar Bapak meninggal dunia, Aldin mungkin belum pulang hingga sekarang.
"Terus aku harus bantuin Mbak Kirana apa?" tanya Erika menawarkan bantuan. Kasihan juga dengar Kirana nangis sedih seperti itu. Sudah hampir empat tahun mereka pacaran dan adem ayem saja. Erika dan Ibu juga sudah cocok dan dekat sama Kirana.
"Tolong kamu selidikin Masmu ya, Rik! Demi Mbak, Rik. Kalau Mas Aldin sampai beneran selingkuh, mbak bisa mati, Rik," ujar Kirana putus asa duluan.
Menjalin cinta jarak jauh memang butuh kepercayaan dan rasa sabar yang tinggi. Jarak yang ada bisa menciptakan rindu bila kita saling percaya dan memahami keterbatasan yang memisahkan, tapi jarak yang membentang juga bisa menjadi boomerang pabila hati kita terus dikendalikan oleh rasa curiga. Inilah seninya bermain cinta, tapi tak bisa bersentuhan secara nyata.
"Iya, Mbak. Aku bakal nyari tahu kok apa yang terjadi sama Mas Aldin. Mbak Kiran ndak usah khawatir! Tapi, jangan sampai Ibu tahu soal ini dulu ya, Mbak," jelas Erika. Dia setuju untuk menyelidiki kakaknya.
"Iya, Rik. Beres!"
"Tapi Mbak Kiran juga jangan aneh-aneh! Pakai bilang mau mati segala, ndak baik, Mbak." Erika menasehati calon kakak iparnya.
"Aku cinta banget sama masmu, Rik. Aku ndak bisa kehilangan dia."
"Iyo aku tahu, Mbak. Tapi bunuh diri itu dosa. Yo wes Mbak Kiran baik-baik di sana dan jaga Ibu, ya!"
"Iya, Rik. Tapi Masmu baik-baik aja kan, Rik? Tolong sampaiin maafku kalau memang aku punya salah dan jangan lupa ingatin dia maem sama salat ya, Rik. Bilang sama Masmu aku sayang banget sama dia," tutur Kiran membuat Erika menjadi terharu.
Sedalam ini lho sayangnya Mbak Kiran buat Mas Aldin, aku ndak tahu kalau sampai beneran Mas Aldin selingkuh aku harus ngomong apa.
"Wassalamualaikum, Mbak." Erika menutup perbincangan mereka.
"Astagfirullah." Dia mengelus-elus dadanya sendiri.
Erika kembali masuk ke dalam kamar. Ia berbincang-bincang dengan Kirana di depan kamarnya agar lebih leluasa.
"Kenapa wajahmu sedih gitu, Rik?" tanya Jo.
Ngomong ndak ya sama Mas Jo? Sebaiknya jangan dech! Aku sendiri yang harus nyari tahu soal ini.
"Ndak ada kok, Mas. Ayo tadi kita sampai mana?" Erika memilih tidak bercerita. Ini kan masalah intern keluarganya, tidak sepatutnya dia melibatkan Jo.
**
Jarum jam bertumpukkan pada angka sepuluh. Erika mengantuk sekali setelah seharian memeras otaknya untuk menghalu ria mengerjakan dua novel on going di dua platform berbeda, ditambah dengan proyeknya bersama Jo. Syukurlah karena Jo tidak membatasi Erika hingga dia bisa tetap menulis di tempat ia menuangkan imajinasinya selama ini.
"Mbak Iccha kok belum tidur?" tanya Erika pada wanita yang kini tengah sibuk memelototti ponselnya. Iccha duduk di depan meja rias setelah mencuci muka dan memakai night cream andalannya. Erika sudah rebahan di atas ranjang. Tidak ada tradisi rutin sebelum tidur selain cuci kaki dan muka saja tanpa pakai cream malam atau apapun itu.
"Belum ngantuk!" jawab Iccha jutek.
"Galak banget sie, Mbak. Aku ndak ngerti lho aku salah apa sama Mbak Iccha." Erika sok polos, sok berasa jadi korban kejutekan Iccha.
"Pikir aja sendiri!" sungut Iccha sambil merebahkan diri di ranjang-di sisi Erika. Mereka tidur bersebelahan dengan jarak kurang lebih lima jengkal tangan orang dewasa.
Iccha memiringkan badannya ke kanan memunggungi Erika yang meliriknya dengan bibir mengerucut ke depan.
"Mbak Iccha marah gara-gara Bang Ammar baik sama aku, ya?" tembak Erika membuat Iccha langsung berbalik badan menghadap Erika.
"Dih ... nggak usah kegeeran!" kilahnya.
"Kalau bukan karena itu terus apa? Perasaan selepas sarapan tadi pagi kita ndak ngobrol apa-apa lagi selain di garasi pas mobil Mbak Iccha bannya kempes," selidik Erika.
"Terus kita ketemu lagi di restoran dan itu pun kita ndak ngobrol, tapi kok Mbak Iccha jadi bersikap dingin ke aku kan aneh to yo," lanjutnya.
"Ya gue kesel aja .... " Lidah Iccha serasa tercekat. Nggak mungkin juga dia ngomong jujur, hanya bikin derajatnya jadi turun drastis.
"Kesel napa hayo? Kalau Mbak Iccha ndak suka aku deket-deket Bang Ammar ya jujur aja ndak apa, wong ya aku sama dia ndak ada apa-apa."
"Ndak ada apa-apa kok dia kasih-kasih kamu hadiah? Itu namanya ada apa-apa." Iccha mulai naik darah.
"Ya mana aku tahu nek (kalau) masalah itu to, Mbak. Coba tanya sendiri gih sama Bang Ammar! Kalau ndak, besok aku tak ngomong sama dia kalau Mbak Iccha meri (iri) pingin dibeliin hadiah juga sama kayak aku," gerutu Erika.
"Meri itu siapa?" tanya Iccha tidak mengerti. Setahunya Meri itu nama karyawan papinya.
"Meri itu iri, Mbak," jawab Erika menjelaskan.
"Dih ... siapa juga yang iri? Nggak level!" cibir Iccha.
"Ya sudah kalau ndak iri ya jangan jutek ngunu (begitu) sama aku, Mbak. Oke aku maaf dech kalau ada salah." Erika mengulurkan tangannya. Mereka berhadap-hadapan dan sama-sama memeluk guling.
Iccha menerima uluran tangan Erika. "Iya udah kita damai, ya," sahut Iccha.
Kalau gue jutek sama Erika bisa-bisa bikin dia curiga kalau gue ada rasa sama si kulkas dua pintu.
"Alhamdulillah. Nek ndak jutek kan yo tambah cantik kamu, Mbak," puji Erika.
Erika mengambil ponsel yang dia charge di naki, kemudian dia mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang.
'Misi awal berhasil, bos. Kasih hadiah biar target ndak marah.' Sent.
**
Hari selanjutnya. Seperti biasa rumah megah Daddy Jack selalu diawali dengan sarapan pagi bersama. Semua anggota keluarga termasuk dua tamu mereka yaitu, Erika dan juga Iccha duduk di depan meja makan dan menikmati makanan mereka masing-masing tanpa banyak berkata-kata.
"Mas Jo, aku ke kamar sebentar, ya! Ada yang ketinggalan, Mas." Erika meminta ijin pada Jo setelah selesai menghabiskan makannya.
"Oke, Rik," sahut Jo mengijinkan. Agar mudah untuk berkomunikasi dan mempercepat waktu pembuatan novel maka Jo memutuskan agar Erika selalu ikut kemana pun dia pergi. Dia juga sudah berbohong pada Caca dengan mengatakan bahwa Erika akan menjadi asisstennya menggantikan Aldin yang akan sibuk dengan pekerjaan yang lain mewakili dirinya.
Erika menggeser kursi ukiran kayu itu ke belakang agar bisa keluar dari tempatnya. Namun, naas ternyata Kiki yang tidak suka dengan kehadiran Erika justru memiliki ide usil dengan menjegal kaki Erika dengan kaki kanannya yuang sengaja ia ulurkan. Erika jatuh dan lututnya terbentur ke lantai dengan kencang.
"Erika!" Semua orang berteriak menyerukan nama Erika yang sudah sukses mencium lantai marmer.
Jo dan Ammar berebut untuk melihat keadaan Erika. Sedangkan itu, Kiki terlihat menahan tawanya. Dia senang karena sudah berhasil mengerjai Erika.
"Aduuh ... loro (sakit) banget," keluhnya sambil berusaha berdiri dengan susah payah.
"Sini aku bantu!" Ammar dan Jo sama-sama mengulurkan tangannya ke arah Erika yang masih terduduk di atas lantai dengan posisi dua kaki yang tertekuk di ke belakang.
Erika bengong, melihat ke dua kakak beradik itu berebut ingin menolongnya. Dia melihat tangan Jo dan Ammar bergantian.
Gusti, apa Ammar beneran naksir sama Erika. Pikir Iccha.
Ngapain sie ini dua abang gue jadi pada sok perhatian sama cewek kampung ini. Batin Kiki tidak suka.
"Kiki, ikut Daddy!" perintah Daddy Jack dengan tegas sambil melambaikan tangannya ke arah anak ketiganya tersebut.
"I-iya, Dad," sambut Kiki dengan gagap.
Sial! Apa bokap tau ini hasil tingkah usil gue? Gerutunya sambil berjalan mengekor di belakang Daddy-nya.
"Ayo, Mbak! Aku bantu Mbak berdiri!" sambung Lina yang berbaik hati memegang ke dua lengan Erika dan membantu wanita itu untuk berdiri.
Tidak ada gunanya sudah uluran tangan dua lelaki tampan tersebut. Mereka dengan kompak menarik tangan mereka masing-masing. Ini adil namanya, biar nggak ada yang iri kalau Erika memilih salah satunya.
"Sini, Mbak!" Lina mendudukkan Erika di bangku makan yang tadi sudah ia tinggalkan.
"Lutut Mbak Erika memar, Bang," kata Lina setelah memeriksa keadaan Erika.
"Ya udah kita bawa ke rumah sakit aja, takutnya ada yang retak atau gimana," kata Jo.
"Hm ... setuju," sambung Ammar yang tumben-tumbenan bisa sepakat dengan adiknya.
Abang beneran beda dan care banget sama Erika. Nggak apalah kalau mereka memang berjodoh. Gumam Jo sambil memerhatikan ekspresi abangnya.
"Ndak usah, Mas. Ini ndak apa, kok. Dikasih balsem aja pasti sembuh," tolak Erika. Ini bukan perkara besar menurutnya tidak perlu juga sampai di bawa ke rumah sakit.
"Tapi kamu meringis terus gitu kok, berarti kan sakit banget," debat Jo.
"Nyeri sih, Mas. Tapi beneran ndak apa kok," kata Erika yang bersikukuh tidak mau di bawa ke rumah sakit.
"Ya udah kalau gitu kamu di rumah aja ya hari ini sampai benar-benar pulih," ucap Jo memberi Erika dispensasi waktu agar tidak ikut ke kantor hari ini.
"Makasih ya, Mas." Erika bersyukur Jo sangat mengerti keadaannya.
"Lin, kamu jagain Erika dulu, ya!" perintah Jo.
"Siap, Bang."
Noted :
Di ruang kerja Daddy, Kiki diamuk habis-habisan oleh sang ayah. Daddy Jack tidak suka ada anak yang tidak memiliki sopan santun seperti yang baru saja Kiki lakukan pada Erika.
"Aku cuma iseng doang, Dad." Kiki masih bisa membela dirinya sendiri.
"Iseng kamu bilang? Erika itu tamu kita, kita harus memuliakan tamu yang datang ke rumah kita, Ki!" sentak Daddy.
"Memuliakan yang sepadan dengan kita, Dad! Tapi dia cuma anak kampung!" sentak balik Kiki.
"Plaak!" Daddy menampar anak wanitanya itu dengan cukup kencang hingga tangan beliau gemetaran. Ini pertama kalinya beliau kasar dengan anak-anaknya.
"Daddy tega mukul aku demi dia, Dad?" teriak Kiki.
"Daddy lakuin ini biar kamu ngerti, Nak. Kita nggak boleh ngerendahin orang lain," tutur Daddy.
"Bang Ammar aja udah mulai sok perhatian sama Erika dan sekarang Daddy juga ikut belain dia. Aku nggak tahu deh apa istimewanya Erika!"
"Daddy cuma mau kamu rubah sikap kamu! Kamu sudah dewasa, kamu sudah sepantasnya menikah! Usiamu tidak muda lagi, Ki! Sampai kapan kamu habiskan waktumu hanya untuk foya-foya dan membuat maksiat? Mommy-mu di atas sana pasti akan sedih melihatmu seperti ini," jelas Daddy dengan sedih dan mata yang berembun.
"Salahin Lina kalau Mommy sedih! Karena Lina yang udah buat Mommy meninggal!" tegas Kiki lalu berlari pergi meninggalkan Daddy-nya.
"Ya Tuhan, kenapa kamu seperti itu, Nak? Maafkan aku, Maira! Aku nggak bisa mendidik Kiki dengan baik," sesal Daddy dengan lelehan air matanya yang mulai banjir.
**
Erika berbaring di kamar. Dia sudah bisa berjalan hanya sedikit nyeri saja karena tempurung lututnya berbenturan cukup kuat dan meninggalkan rasa nyeri dan bekas lebam yang membiru.
"Mbak, aku kasih parem jahe, ya," kata Lina dengan membawa piring kecil berisi parutan jahe. Aroma jahe yang khas dan tajam menguar hingga ke hidung keduanya.
"Panggil nama aja kita kan seumuran kata Mas Jo!" ralat Erika.
"Iya, Mbak- Eh, Rik."
Lina dengan telaten memupukkan ramuan tradisional itu di kedua lutut Erika tanpa jijik sama sekali. Lina dan Kiki sungguh bertolak belakang sikapnya, yang satu ramah yang satu pemarah. Seperti Jo dan Ammar, yang satu suka bercanda yang satu lagi seriusnya nggak ketulungan.
"Oya, Lin. Tadi Kiki diajak ke mana ya sama Uncle Jack?" tanya Erika yang mendadak menjadi khawatir kalau wanita yang sudah mencelakainya itu diamuk oleh ayahnya.
"Biasa, Rik. Paling diajak ke ruang kerja Daddy," jawab Lina.
Erika terdiam. Kenapa di dalam rumah sebesar ini, tapi rasa persaudaraan di antara anggota keluarga terasa sangat hambar. Tidak ada keakraban sama sekali, mereka cenderung hidup dengan dunianya masing-masing. Meski baru dua hari ada di sini, tapi Erika bisa merasakan aura ketidakharmonisan itu begitu kuat.
"Jangan terlalu dipikirkan! Sudah biasa kalau Mbak Kiki diamuk sama Daddy," ucap Lina.
"Lin, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Erika sedikit sungkan.
"Iya boleh, kamu mau tanya apa?" Lina sudah selesai mengobati Erika. Kini rasa hangat menjalar di lututnya.
"Terima kasih, ya. Kamu baika banget," ucap Erika sebelum bertanya.
"Sama-sama," sahut Lina sambil menyunggingkan senyumnya. Wanita berkerudung biru itu sangat sederhana dan anggun.
"Kenapa Mbak Kiki jutek banget ya sama aku? Sejak pertama kali kita ketemu dia udah kayak ndak suka gitu sama aku."
Lina tersenyum. "Bukan cuma sama kamu, kok. Tapi sama semuanya yang ada di sini terutama aku."
"Kenapa sama kamu? Memang kamu salah apa?" selidik Erika lebih jauh lagi.
Lina nampak muram, membuat Erika menjadi tidak enak hati karena sudah terlalu ingin tahu tentang cerita yang ada di keluarga ini.
"Ma-Maaf, Lin! Kalau kamu ndak mau cerita juga ndak apa, kok," kata Erika sambil menggenggam jemari tangan Lina.
Lina menyeka lelehan air matanya, semakin tidak enak hati saja Erika dibuatnya.
Ya Allah ... aku kok ndak bisa nge-rem mulutku to? Aku dosa banget sudah bikin Lina nangis. Ngapurane Gusti (Maafkan aku Gusti!)
"Jangan nangis, Lin! Ya udah kalau ndak mau cerita ndak apa, kok."
"Mbak Kiki benci sama aku karena Mommy meninggal setelah melahirkan aku," ungkap Lina membuat mata Erika melotot dan nyaris copot.
"Astagfirullah!" pekik Erika.
"Sabar ya, Lin." Erika memeluk Lina dengan erat.
Lina menceritakan semuanya. Ketika dia lahir Kiki masih berusia dua tahun, Ammar enam tahun dan Jo masih empat tahun. Mereka semua baru tahu kalau Ibu meninggal selepas melahirkan Lina ketika usia Lina menginjak tujuh belas tahun. Daddy baru berani jujur setelah sekian lama karena usia itu dianggap matang untuk anak-anaknya. Ammar, Jo, Lina dan Kiki pastilah shock mendengar kenyataan itu, terlebih Lina yang merasa sangat berdosa karena Ibunya meninggal karena dirinya. Namun, apa yang terjadi sudah tidak bisa disesali lagi. Ammar, Jo dan Lina berusaha untuk menerima, tapi ternyata Kiki yang masih tidak bisa legowo dan justru menjadi benci dengan Lina setelah itu.
"Semua sudah takdir, Lin. Ndak ada yang bisa kita lakukan kalau Allah sudah berkehendak. Kamu yang sabar, ya! Perlahan-lahan pasti Mbak Kiki bisa menerima," ujar Erika memberi support sistem untuk Lina.
"Makasih ya, Rik. Aku senang ada kamu di sini jadi aku ada temennya," kata Lina bahagia dengan kedatangan Erika.
"Aku cuma enam bulan di sini, Lin. Sampai urusan novelku sama Mas Jo kelar."
"Iya aku tahu, kok. Aku juga penulis online seperti kamu."
"Yang bener, Lin? Wah ... kita satu vibes dong kalau gitu." Erika kegirangan mendapati Lina satu profesi dengannya.
"Iya, Rik. Tapi aku ambil genre horor dan pembunuhan."
"Yach ... aku ndak berani, Lin. Syereem .... "
Berbincang-bincang dengan Erika membuat Lina sedikit terhibur. Rasa sepinya hilang karena ada teman yang bisa diajaknya berdiskusi dan nyambung.
"Aku berharap salah satu dari abang aku ada yang berjodoh sama kamu, Rik. Biar kita bisa sodaraan," harap Lina dengan antusias.
"Hehehe ... kayaknya ndak mungkin, dech." Belum-belum Erika sudah mematahkan hati Lina.
"Kok gitu?" tanya Lina dengan kecewa.
Karena hati kedua abangmu sudah ada yang punya, Lin. Erika hanya menjawab dalam hati saja.
"Aku sudah punya pacar, Lin," jawab Erika.
"Kan masih bisa putus. Hahahaha." Lina terkekeh.
"Hish ... kamu ini kok berdoanya yang jelek-jelek sie?" protes Erika.
**
Iccha sudah berangkat duluan ke kantor meninggalkan Ammar yang tadi sok sibuk mengurusi Erika yang jatuh.
"Sial!" Iccha memukul kemudi mobilnya. Mobil yang bannya tiba-tiba sudah diperbaiki ketika dia pulang bekerja. Entah siapa yang sudah berbaik hati memanggilkan montir untuk mengganti ban mobilnya, Iccha tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Meski gue udah berusaha bersikap biasa aja, tapi kenapa gue tetap kepancing emosi setiap kali lihat si mister too cold sok perhatian sama si burik!" gerutu Iccha masih menyisakan emosi yang tidak bisa dia hilangkan begitu saja.
Iccha mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga dia sampai di kantor Ammar paling awal dari yang lainnya, tapi tetap lebih awal para office boy dan office girl yang harus stand by pagi-pagi buta untuk membersihkan setiap sudut ruangan dan sudah siap digunakan ketika para karyawan datang.
"Terus sekarang gue harus nyiapin semua urusan Ammar. Gue mesti ingat-ingat jadwal dia hari ini biar gue gak kelihatan bego pas dia tanya, Hari ini ada jadwal meeting sama siapa saja?" Iccha membuka laptop lipat yang ada di meja dan memeriksa agenda kerja Ammar.
"Harusnya dia agak maklum kan, ya. Orang gue kuliah di jurusan akuntansi bukan sekretaris jadi nggak terlalu pinter urus beginian. Lagian papi sama mami juga aneh-aneh aja kayak nggak ada kantor lain yang mau nampung gue," omel Iccha sambil menunggu proses laptopnya menyala.
Kira-kira setengah jam setelah itu, karyawan satu per satu datang dan membuat suasana sedikit ramai. Kemudian si pemilik perusahaan yang cool-nya nggak ketulung keluar dari pintu lift dan disambut dengan banyak salam dari para karyawannya. Seperti biasa hanya menjawab seperlunya dan menarik bibir sedikit adalah ciri khas Ammar dalam berinteraksi.
"Pagi, Pak," sapa Iccha bersikap seprofesional mungkin.
"Pagi juga," sapa balik Ammar.
Iccha berjalan mengekori Ammar masuk ke dalam ruangan.
"Pak, hari ini Bapak ada meeting dengan .... " Iccha membacakan satu per satu jadwal meeting Ammar.
"Terima kasih. Tolong ambilkan berkas di meja Pak Edward sekarang!" perintah Ammar sambil memakai dasinya.
"Siap, Pak," sahut Iccha sambil berbalik badan.
"Tapi-"
"Kenapa, Pak?" tanya Iccha menghentikan langkahnya.
"Bantu aku memakai dasiku dulu!" perintah Ammar.
Biasanya juga bisa pakai dasi sendiri. Manja! Umpat Iccha dalam hati meski senang juga sebenarnya karena Ammar memerlukan bantuannya.
"Iya, Pak," jawab Iccha menurut.
Wanita itu memutari meja kerja Ammar untuk mendekat pada lelaki tersebut. Tinggi badan Iccha lebih pendek dari Ammar jelas dia harus mendonggakkan kepalanya untuk menjangkau leher lelaki itu.
Ups ... netra Iccha dan Ammar bertemu, tapi bibir mereka saling membisu.
Santai aja napa sie jantung? Sialan! Pekik Iccha.
Tangan sekretaris itu mulai bergerak dan membuat simpul dasi di leher bosnya. Dasi berwarna biru tua sangat cocok dengan warna jas dan kemeja yang Ammar kenakan.
"Tampan," celetuk Iccha secara tidak sadar.
"Hah? Lu bilang apa?" tanya Ammar padahal jelas sekali dia mendengar apa yang keluar dari mulut Iccha.
Begonya gue! Kenapa bisa keceplosan sie? Iccha merasa bodoh. Harga dirinya langsung terjun payung dari lantai dua puluh satu.
"Nggak ada! Udah selesai, gue mau ke ruangan Pak Edward," jawab Iccha. Galaknya mulai keluar lagi. Sudah bagus-bagus berkomunikasi secara profesional seperti tadi malah kumat lagi jutek-jutekkannya.
Ammar melingkarkan satu tangannya di pinggang Iccha dan merapatkan tubuh mereka.
"Ya ampun! Gue bisa kehabisan napas! Gila lu!" sentak Iccha sambil meletakkan ke dua tangannya di d**a bidang Ammar.
"Jangan galak-galak! Kalau nggak mau jadi pe-ra-wan tu-a!" cibir Ammar lalu melepas Iccha begitu saja sampai dia mau jatuh. Untung saja Iccha buru-buru berpegangan pada meja.
"Hahahaha." Iccha tertawa.
"Bisa ngatain orang, tapi nggak sadar diri! Besok tanggal sembilan belas Januari, umurmu tiga puluh tahun, Coey! Udah kakek-kakek! Masih jomblo juga!"
"Dih ... hapal bener ya sama hari ulang tahun gue. Gue aja lupa, diem-diem naksir ya?" sindir Ammar.
"Iya kali mending gue jadi perawan tua dari pada naksir ama lu!" Iccha kesal karena Ammar bisa menebak dengan tepat isi hatinya.
"Kenapa juga gue mesti ngucapin hari ulang tahunnya? Jadi kegeeran kan dianya," gerutu Iccha.
**
"Jo, adik gue mana?" tanya Aldin sembari berjalan memasuki ruang kerja Jo.
"Erika belum bilang sama lu apa? Dia tadi jatuh dan lututnya memar," jawab Jo.
"Kok bisa? Ya Allah, ceroboh banget itu anak!"
"Mau gue bawa ke rumah sakit nggak mau, jadi ya udah gue suruh istirahat aja di rumah."
"Gimana keadaannya?" tanya Al.
"Lututnya memar, Al," jawab Jo.
"Ya udah entar gue tengokkin dia dech."
Siang harinya Aldin benar-benar datang ke rumah Daddy Jack untuk menemuinya adiknya. Dia khawatir Erika kenapa-napa.
"Aku ndak apa kok, Mas." Erika meyakinkan abangnya bahwa kondisinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Tapi iso mlaku (bisa jalan) kan kamu?" tanya Al. Dia memberi pijitan lembut di kaki adiknya.
"Bisa kok, Mas."
Hening sebentar.
Apa aku mesti tanya sama Mas Aldin sekarang, ya? Tentang Mbak Kirana. Pikir Erika.
"Mas, Mas Aldin sudah nelpon Mbak Kirana kan?" tanya Erika.
Aldin menelan ludah kasar. Dia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian.
"Sudah kok, Dek," jawabnya.
Kenapa Mas Aldin bohong? Tapi ... mending aku pura-pura percaya dulu saja, dari pada nanti Mas Aldin malah marah. Aku kudu (harus) nyari info secara diam-diam.
"Syukur dech, soalnya Mbak Kirana itu khawatir banget kalau Mas Aldin lama ndak ada kabar. Mbak Kirana sayang banget lho sama Mas Aldin," tutur Erika memuji-muji calon kakak iparnya.
"Iya, Mas ngerti kok, Dek."
"Mbak Kirana itu kan cantik to, Mas. Banyak yang suka, kenapa ndak cepet-cepet Mas nikahi terus mbok bawa ikut ke Jakarta?"
"Belum saatnya, Dek. Mas belum yakin bisa nafkahi Kirana dengan bener."
"Terus kapan to, Mas? Pacaran juga udah empat tahun, umur Mas juga udah matang to? Ibu kan juga ndang (keburu) pingin punya cucu to, Mas," desak Erika.
"Kamu aja dulu sama Sofyan yang nikah!"
"Aku masih mau kuliah dulu, Mas. Masih pingin jadi penulis sukses."
"Perempuan biar pendidikannya tinggi kan juga akhirnya di dapur to, Dek?"
"Lho Mas Aldin kok bilangnya gitu to?" protes Erika.
"Ndak usah dibahas lagi! Mas mau balik lagi ke kantor ada meeting penting habis ini."
Aldin memilih menyudahi pembicaraan yang dirasanya tidak nyaman untuk dia diskusikan. Lelaki itu pun pergi meninggalkan adiknya.
Erika terisak-isak. "Kenopo perasaanku makin ndak enak kayak gini? Aku yakin Mas Aldin nyembunyiiin sesuatu dari aku, Ibu dan Mbak Kirana. Mas ... kalau sampai Mas macem-macem di sini, aku bakal ndak mau nganggap Mas Aldin kangmas (kakak) ku lagi!"
Noted : Akan Mulai Update rutin mulai tanggal 1 Desember 2021.