**
Malam hari, kedua wanita yang saling berbagi kamar ini nampak sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Iccha membaca novel online di ponselnya, sedangkan Erika sibuk menulis di laptop bututnya.
Mbak Iccha masih ndak mau ngomong sama aku sejak pulang dari kantor. Erika mengamati Iccha dari tempatnya bekerja. Wanita itu membaca novel sambil berbaring santai di atas ranjang, sedangkan Erika duduk di atas sofa. Ketika makan malam pun Iccha meninggalkannya tanpa mengajaknya untuk berjalan bersama menuju ke ruang makan.
Pasti gara-gara Bang Ammar deket-deket aku, ya. Kalau kayak gitu artinya Mbak Iccha cemburu yo sama aku? Kalau cemburu itu kan artinya tanda tresno alias cinta. Erika masih mengamati wanita ngambek yang sok sibuk dengan gadgetnya.
Iccha menoleh karena merasa diperhatikan. "Ngapain lu liat-liat gue?" tanyanya galak.
Erika tersenyum nyengir hingga menampakkan jajaran gigi putihnya yang rapi. "Ndak apa kok, Mbak. Oya, novelku udah update tadi siang lho, Mbak." Erika berbasa-basi.
"Udah tahu! Orang udah gue komen juga, barusan gue bacanya, lu pikir gue yasinan apa sejak tadi?" gerundel Iccha masih dengan nada tinggi.
"Oh ... belum ngecek aplikasi, Mbak. Sek (Tunggu) aku mau lihat Mbak Iccha komen apa." Erika beralih ke layar laptopnya untuk membuka aplikasi novel online dan memeriksa komen yang dikirimkan Iccha. Sebagai penulis yang masih amatiran Erika paling senang kalau ada pembaca yang memberikan komentar di ceritanya. Kalau ada yang komentar berarti ada yang baca kan, bukan cuma nulis doang, tapi yang baca cuma makhluk tak kasat mata.
Halaman website tempatnya menuangkan ide cerita sudah terbuka, jaringan internet di rumah Jo sangat oke dengan kecepatan wifi yang sangat tinggi, berbeda sekali dengan paketan internet yang biasa dia pakai di rumah, yang apabila hujan jaringannya pun ikut menghilang tersapu air deras.
Erika membuka notifikasi komentar masuk dengan segera. Ada angka sepuluh pada toolbar yang artinya ada sepuluh orang yang memberi chapter novelnya komentar.
Erika langsung menjurus pada sebuah Akun bernama IcchaicchaDidinding, itu nama yang dipergunakan oleh Iccha untuk log in ke aplikasi tersebut. Sudah kayak lagu anak-anak aja, ya. Diam-diam merayap ... wkwkwkwk ...
IcchaicchaDidinding : Dih ... ngeselin banget si Alexa, sama ini mau sama itu mau ... Ngeselin bgt kek authornya. ??
"Lhoh lhah kok jadi aku dibilang ngeselin to, Mbak?" protes Erika.
"Emang lu ngeselin!" sahut Iccha sambil memiringkan badannya ke kiri dan memeluk guling yang ada di dekatnya.
"Lah aku ngeselin dari mananya to, Mbak? Orang aku diem wae (aja) lho," debat Erika.
Mesti goro-goro (gara-gara) Bang Ammar. Yakin seratus persen aku.
"Pikir aja sendiri!" decak Iccha.
Erika mengerem mulutnya agar tidak membuat Iccha semakin kesal dengannya. Yang namanya orang lagi cemburu pasti susah buat diajak ngomong baik-baik.
Drrrt ... drrrt .... Ponsel Erika yang sengaja di-silent bergetar. Satu pesan masuk di aplikasi whats*app-nya.
"Sopo to? (Siapa ya?)" Erika mengambil benda pipih yang ia letakkan di atas meja-bersebelahan dengan laptop bututnya dan membuka pesan tersebut.
"Oalah dari Ba-" Erika membungkam mulutnya dengan cepat. Iccha melirik ke arah Erika, saat itu Erika juga sedang mengarahkan pandangan matanya ke arah Iccha. Netra mereka pun saling bertemu untuk kedua kalinya. Oalah ... kok udah kayak adegan sinetron sih, Thor? Wkwkwkwk ...
"Apalagi lu?" tanya Iccha nyolot.
"Ndak ada kok, Mbak. Ojo galak-galak ngunu lho! (Jangan galak-galak gitu lho!)" tegur Erika. Dia mengalihkan fokusnya ke benda pipih yang sudah bergetar lagi karena Erika yang tak kunjung menjawab pesan tersebut.
"Orang kok ndak sabaran!" Erika ngedumel memarahi orang yang buru-buru ingin dijawab pesannya.
'Oke Bos siap laksanakan!' Erika mengetik kata-kata itu dan segera mengirimnya kepada orang di seberang sana.
Tak lama berselang hanya lima menit setelah ia membalas pesan. Pintu kamar Erika dan Iccha terdengar ada yang mengetuk beberapa kali.
Nah ... wong'e wes teko. (Nah ... orangnya udah datang).
Erika berdiri untuk membuka pintu seperti yang sudah ia dan si pengirim pesan sepakati bersama, tapi eh ... malah keduluan Iccha yang sampai duluan di depan pintu sebelum dirinya.
Kriieeet .... suara pintu yang dibuka lebar oleh si pemilik kamar, eh nampaknya si tampan nan dingin Ammar yang datang dengan membawa dua buah barang mahal di tangannya.
"Eh, ngapain lu? Itu buat gue, ya?" tanya Iccha. Mendadak dia sudah kegeeran duluan melihat Ammar membawa laptop dan juga handphone keluaran terbaru yang Ammar bawa.
Ammar tidak menjawab dan langsung nyelonong begitu saja melewati tubuh Iccha yang mengharapkan jawabannya. Iccha dibuat patah hati untuk ke dua kalinya setelah tadi kejadian saat di restorant.
Ya Allah ... aku kok jadi ndak tega, ya. Erika menjadi sedih melihat ekspresi Iccha yang kecewa.
"Rik, ini aku beliin kamu laptop baru sama hape baru. Aku lihat hape kamu udah jelek banget, buang gih!" ujar Ammar. Dia meletakkan dua benda itu dipangkuan Erika.
"Tapi, Bang. Kok pake repot-repot segala ki lho? Lah aku jadi ndak enak kalau begini," balas Erika sambil memeriksa satu per satu barang mahal yang dihadiahkan oleh Ammar.
Ini beneran buat aku kan? Ndak cuma php doang? Erika masih tidak percaya ada dua benda mahal yang selama ini dia impikan.
Laptop merk terkenal dengan spesifikasi yang paling canggih serta ponsel berharga kisaran lima juta rupiah yang selama ini hanya bisa dia khayalkan. Tak pelak kedua bola mata Erika berbinar-binar bak diberi vitamin A alami karena melihatnya.
"Sama sekali nggak ngrepotin kok, Rik," ucap Ammar.
Sementara itu Iccha masih diam terpaku di tempat ia menyambut Ammar. Kenapa ia merasa begitu sakit melihat pemandangan di hadapannya. Erika yang baru kemarin Ammar kenal kenapa justru bisa mendapatkan perhatian dan sikap manis dari Ammar sedangkan ia tidak. Padahal sudah sejak kecil mereka bersama sebagai teman main meski mereka tidak seumuran. Iccha adalah teman sekolah Jo, tapi ia kerap bermain dengan Ammar saat mereka kecil dulu dan masih tetanggaan.
Apa gue beneran jatuh cinta sama dia? Enggak! Gue gak boleh nyimpan perasaan suka ini sama lelaki yang salah, lelaki yang nggak bisa ngehargain gue. Batin Iccha dengan mata berkaca-kaca.
Tak lama berselang Jo datang dan nampak kaget melihat ada Ammar di dalam kamar Erika dan juga Iccha.
"Lho Abang kok di sini?" tanya Jo pada Iccha dengan suara yang pelan. Kedua manusia di sana tengah sibuk ngobrol, Ammar membantu Erika memindahkan sim card ke dalam ponsel barunya, mereka terlihat akrab seperti sudah lama saling mengenal.
Iccha tidak menjawab dan masih melamun menatap interaksi antara Ammar dan Erika yang begitu hangat dan tanpe memedulikan dirinya.
Jo garuk-garuk kepala. Kok gue ngerasa ada yang aneh. Batinnya. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di tembok kamar seraya melipat ke dua tangannya di depan d**a.
"Lu lihat dech, Cha! Ini tuch gak kayak Bang Ammar, dia bisa akrab sama Erika padahal kemarin aja dia kayak nggak suka gitu pas gue ngenalin Erika ke dia dan Daddy. Dan ... " Jo menekan intonasinya ketika mengucap kata Dan, ia menegakkan tubuhnya dan mendekat pada Iccha yang diam saja tanpa berkomentar. ".... Lu udah kenal abang gue dari lama kan? Dia itu irit bicara dan susah banget deket sama cewek, tapi sa-"
"Cukup, Jo! Gue juga ngerti arah pembicaraan lu! Nggak perlu lu terusin lagi!" sentak Iccha setelah sejak tadi dia bungkam. Wanita itu memilih pergi keluar dari kamar.
"Lah kenapa dia jadi nyolot gitu? Cewek itu emang aneh, ya," cibir Jo lalu mendekati kakaknya dan juga Erika yang masih terlihat asyik.
"Abang, ngapain di sini?" tanya Jo.
"Udah selesai ya, Rik. Aku tinggal dulu!" Ammar tidak menjawab pertanyaan dari adiknya, ia justru berpamitan pergi pada Erika.
Lelaki berumur dua puluh sembilan tahun tersebut berdiri dari sofa dan melenggang pergi meninggalkan Erika dan juga adiknya tanpa sepatah kata pun lagi.
Jo memperhatikan gerak-gerik abangnya yang memang dirasa amat sangat aneh bin ajaib. Ammar lho ini, manusia berjulukan kulkas dua pintu bisa semanis ini dengan Erika, bahkan sampai menghampiri penulis online itu di dalam kamarnya. Yang dia duga, Ammar pasti akan menganggap Erika tidak pernah ada di rumah ini atau kalau pun terpaksa harus berinteraksi, pasti Abangnya akan bersikap jutek dan dingin seperti sikapnya pada Iccha atau wanita-wanita lainnya. Nah ... ternyata dugaan Jo salah besar!
"Rik, Burik!" Jo memanggil Erika diselipi dengan meledek setelahnya.
"Hish ... ojo (jangan) burik to, Mas! Sing apik sithiklah (Yang bagus sedikitlah!)" protes Erika. Masa iya Erika jadi burik! Ndak ada bagus-bagusnya.
"Iyo-iyo, Baby," ralat Jo yang sok mesra.
"Malah Babi! Oh ... ancen paijem tenan!" umpat Erika dengan umpatan favorit Jo. Lelaki itu terkekeh mendengar Erika marah-marah padanya.
"Hahaha ... ojo nesu-nesu (jangan marah-marah)! Nanti ndak cepat tua," tegur Jo kemudian kembali terkekeh.
"Wes ben (Biarin)! Wong cantik-cantik disamain burik sama babi!" sungut Erika sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oh nek (kalau) maju-maju gitu tak krues (plintir) bibirmu itu," canda Jo membuat Erika tidak jadi marah malah terkekeh geli.
"Yo ojo-lah (jangan-lah), Mas! Nanti monyong lambeku (bibirku)."
"Eh, Rik ... Rika .... "
"Iya, Roma," sahut Erika. Mulai dech mereka main drama-dramaan jaman baheula.
"Kampret! Hahahaha .... " umpat Jo sambil menepuk bahu Erika dengan cukup kuat.
"Astagfirullah! Bukan murim, Mas! Jangan pegang-pegang!" tegur Erika sembari mengelus-elus pundaknya yang terasa panas akibat tepukan telapak tangan Jo yang tidak kira-kira kencangnya.
"Hilih nyolek sitik wae (sedikit saja) kok. Pelit!" debat Jo.
"Hahaha ... orak (tidak) masalah sedikitnya, Mas. Tapi sakitnya itu," celetuk Erika.
"Wes to (sudah ya)! Aku mau tanya penting ini, Rik," tutur Jo mulai berekspresi serius.
"Monggo (silahkan), Roma!" Erika masih bisa saja bergurau membuat Jo kembali tertawa.
"Wes ah (sudah ah)!"
"Iya-iya."
"Eh, Rik. Ini laptop baru sama handphone baru pemberian abang gue, ya?" tanya Jo. Sejak tadi ini yang mau dia tanyakan, tapi berputar-putar terus karena kebanyakan bercanda.
"Iya, Mas," jawab Erika.
"Wah ... tenan to (benar kan)!" Jo menepuk keningnya sendiri sambil melemaskan tubuhnya bersandar pada sandaran sofa.
"Ono opo to (Ada apa to), Mas?" tanya Erika kebingungan. Lah ekspresi Jo aja begitu, seperti ada yang berbahaya atau semacam masalah yang besar.
"Sebentar lagi pasti bakalan turun udan (hujan) badai, Rik," jawab Jo. Ia kembali menegakkan badannya dan berkata dengan sangat mantab hingga hujan lokal pun terlihat keluar dari mulutnya.
"Teles (basah) aku, Mas. Mas Jo yang ujan gitu," decak Erika sambil mengelap tangannya yang bekas hujan lokal Jo.
"Kan aku udah bilang sama kamu, Abangku itu kayak-"
"Kulkas dua pintu," tukas Erika.
Jo menjentikkan jarinya. "That's right (Itu benar)!"
"Tapi kenapa dia bisa sebaik ini sama kamu? Ya Tuhan, gue berharap jangan kiamat dulu sebelum gue nikah, Rik!" Jo terlihatnya berlebihan sekali, tapi tidak ... memang aneh ketika Ammar yang memberikan perhatian pada wanita asing seperti Erika yang ... Aduh ... kalau dilihat penampilannya sangat biasa saja.
"Kamu apain abang aku sih, Rik? Pelet, ya?" tuduh Jo.
"Masya Allah! Opo wajahku ki rupo-rupo (wajah-wajah) kemenyan sama dupa to, Mas? Fitnah itu lebih kejam dari pada ndak memfitnah lho, Mas. Pencemaran nama baik itu," gerutu Erika.
"Nah terus kenapa dia bisa semanis ini sama lu? Belum ada dua hari lu di sini lho, Rik. Kan heran to yo aku," desak Jo. Menurutnya pasti ada sesuatu yang terjadi.
Mas Jo ndak tahu aja kalau sebenarnya ....
"Anu .... " ucap Erika ragu-ragu.
"Anu opo?" tanya Jo tidak sabaran.
"Anu-anuan?" tanya Jo lagi.
"Masya Allah!" seru Jo dengan histeris. Erika sampai memundurkan posisi duduknya menjauh dari Jo.
"Nopo si, Mas? Malah bikin aku takut wae lho!" omel Erika.
"Jadi kamu udah anu-anuan sama Bang Ammar?!" Pertanyaan Jo membuat mata Erika terbelalak.
"Lhah to ngeres pikiranmu, Mas Jo! Sapu sek (dulu) sana!" decak Erika sambil memalingkan wajahnya.
"Lha tadi kowe (kamu) yang bilang anu lho yo," debat Jo tidak mau disalahkan.
"Hish ... tapi bukan berarti aku anu-anuan sama abangmu to! Aku juga ndak tahu kok Bang Ammar baik banget sama aku, Mas. Tanya sendiri kalau kamu kepo!" jelas Erika agak ngotot bin ngeyel.
"Tapi ini beneran aneh dech, Rik," gerutu Jo yang masih tetap bersikukuh pada pendapatnya. Lelaki itu melipat satu tangannya di depan d**a, dengan tangan yang satu lagi terulur ke atas dan jemari tangannya bermain-main di wajahnya sendiri. Ekspresi berpikir! Sudah seperti mikir utang negara aja, Jo.
Mas Jo ndak akan paham! Hanya aku yang paham dan .... dia manusia aneh yang bingung cara menunjukkan rasa sayangnya sama wanita yang tau apa yang sebenar-benarnya terjadi. Huft! Bikin aku jadi ndak konsen nulis! Pekik Erika dalam batin.
"Wes (Sudah) ah, Mas! Ndak usah dibahas lagi! Aku kan ya ndak tahu isi hatinya Bang Ammar." Erika berusaha mengalihkan pembicaraan agar Jo tidak terus-terusan mendesaknya. Bisa gawat kalau dia nggak kuat iman dan berujung keceplosan yang membuat dia terkena masalah besar.
"Mending kita diskusiin masalah novel aja dech, Mas!" lanjutnya.
"Tapi kan kamu udah punya pacar, Rik," celetuk Jo. Rupanya perkataan Erika sejak tadi dianggapnya angin lalu saja.
"Iyo terus kenopo nek (kalau) aku sudah punya pacar, Mas?" tanya Erika, keki.
"Nek, nek, nenek lu itu!" cibir Jo kemudian mengerucutkan bibirnya menggoda Erika.
"Nenekku wes (udah) almarhumah, Mas. Jangan dipanggil-panggil!" tegur Erika.
"Kalau Abang gue naksir sama lu terus si Samian lu taruh mana?"
Masya Allah! Masih juga dibahas lho, ya. Erika menepuk keningnya sendiri.
"Sofyan, Mas. Bukan Samian! Samian iku (itu) ya siapa sie?"
"Lha mbuh (Lha nggak tau)! Asal nyeplos aku. Terus piye (gimana)?"
"Apanya?" tanya Erika singkat.
"Kalau abangku love you, kamu mau love-lovean sama dia dan ninggal sop buntut?"
"Sofyan, Mas! Iiih ... dari tadi ganti-ganti nama orang terus lho!"
"Iyo-iyo!"
"Ndak ada itu aku sama Bang Ammar love-lovean. Tak jamin seribu persen!" tegas Erika.
"Wes ah! Ayo bahas novel aja! Mumpung aku lagi cesspleng otaknya!"