**
Siang harinya, ketika waktunya lunch tiba. Jo mengajak serta Erika untuk makan bersama. Jadilah setengah hari ini dia bekerja di kantor Jo atas seijin Jo juga tentunya. Lumayanlah, suasana baru dan nyaman membuat otak Erika encer sekali hingga ia bisa menghasilkan empat ribuan kata dalam waktu tiga sampai empat jam saja. Biasanya itu bisa ia kerjakan selama seharian penuh. Maklum banyak godaan salah satunya adalah ghibah di group chat para penulis yang susah sekali ia tolak.
"Udahan dulu menghalunya! Ayo kita makan!" ajak Jo dengan sumringah.
"Ashiap, Mas Jo. Aku juga sudah lapar banget," sahut Erika bersemangat. Kalau di rumah dia biasa makan lima kali dalam sehari. Banyak amat ya makannya? Nah itu pun juga nggak gendut-gendut. Cacingan ya, Rik?
Namun, sebelum meninggalkan kantor, ada seorang wanita berambut pirang masuk ke dalam ruangan Jo dan menyapa Jo dengan mesra serta manja.
Apa dia Mbak Caca? Pikir Erika sambil memerhatikan wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Hai, Baby," sapa Jo sambil memeluk wanita itu dan mencium keningnya singkat.
"I miss you .... " balasnya dan mencium bibir Jo singkat.
Ya ampun, iki (ini) porno to? Gumam Erika shock berat. Aldin buru-buru menutup mata adiknya dengan ke dua telapak tangannya.
"Ojo didelok! (Jangan dilihat!)" desah Aldin berbisik di telinga adiknya.
Mas Aldin ndak tahu aja kalau adegan begitu udah biasa aku tulis di novel-novelku.
"Would you like some lunch, honey? (Apa kamu mau makan siang, Sayang?)" tanya wanita itu dengan Bahasa Inggris ya sangat fasih.
"Yes, dear. Do you want to come eat with us? (Iya, Sayang. Apa kamu mau ikut makan bersama kami?)'' jawab Jo menggunakan Bahasa Inggris fasih juga.
Sementara itu, Erika masih terkesima dengan penampilan Yoevanca. Benar-benar cantik sempurna seperti yang Jo jabarkan. Kulit putih mulus dengan tubuh yang tinggi semampai. Penampilannya juga sexy dan terlihat mewah. Jelas saja, semua barang yang menempel di tubuhnya merupakan barang-barang branded yang mahal dan limited edition. Meski tanpa dijabarkan pun orang tetap bisa menilai kalau wanita ini keturunan bule kaya raya kelas atas.
Mendadak Erika tergelitik untuk membandingkan penampilan Caca dengan penampilannya sendiri. Ia gantian melihat dirinya sendiri dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Mulai dari bawah nich, sepatu sederhana yang ibu belikan di pasar dekat rumah dibandingkan dengan sepatu heels milik Caca yang bermerk Christian Loubou*tin.
Jelas mental banget lah. Sepatu pembelian Ibu ini kalau dibuat balang (lempar) anak segawon (anjing) aja ndak berasa. Gumam Erika dalam batin.
Lalu beralih ke dress minim yang dikenakan oleh Caca, dress dengan model press body tanpa lengan. Warnanya merah maroon dengan ornamen sederhana yang menghias baju berbahan mengkilat tersebut. Hanya ada pita kecil di pinggang dengan model kerah V neck yang membuat kesan sexy semakin menjadi.
Bajuku ini belinya online-an. Pas diskonan pula aku belinya. Harga seratus ribu dikorting jadi lima puluh ribu doang. Heleh ... jelas kalah meneh (lagi) lah aku. Gerutu Erika tanpa sadar ia berdecak.
"Kenapa kamu, Dek?" tanya Aldin yang duduk di sebelahnya.
Erika menggeleng. "Ndak ada kok, Mas," jawab Erika.
Lanjut yuk ....
Erika melihat tas yang tergantung di bahu Yoevanca.
Ya Allah, iki kan tas yang tadi baru aku tulis di novelku. Iku wae (saja) hasil searching di mbah google. Ndak nyangka Mbak Caca pakai tas larang (mahal) ini. Keren!
Tas milik Yoevanca bermerk Louis Vout*en yang terkenal mahal dan menjadi langganan para artis-artis dunia. Harganya tidak tanggung-tanggung mencapai lima puluh jutaan rupiah. Itu buat Caca harga tas yang masih standart, tapi buat Erika?
Aku jual dua ginjalku aja masih ndak cukup buat beli tas koyo ngunu (seperti itu). Sabar ... yang cuma mampu beli tas di pasar malam ujung gang dua puluh lima ribuan tetap ndak boleh berkecil hati. Erika menenangkan dirinya sendiri. Bahwa semua yang kita punya memang patut untuk disyukuri. Skornya 3 : 0 ya. Wkwkwkwk ....
Lalu ... kita beralih ke perbedaan yang paling mencolok dari ke dua wanita tersebut. Yang apabila mereka duduk bersebelahan orang-orang pasti akan melihat perbedaannya secara nyata meski tanpa membanding-bandingkan. Apakah itu? Rambut!
Yes ... warna rambut Yoevanca berwarna pirang alami sedangkan rambut Erika aslinya hitam, tapi di semir pakai semir rambut sepuluh ribuan yang dia beli di mini market dekat rumah. Yang nyemirin siapa? Ya ibu-lah, wanita sederhana serba mewah ini mana pernah mau ke salon? Buang-buang uang dan waktu saja. Jadilah, yang niatnya biar keren, tapi kata orang rambut Erika malah seperti rambut jagung di tengah sawah.
Skor jadi 4 : 0.
Sad banget! Secara bibit, bebet, bobot alami aja emang udah kalah. Namun, jangan berkecil hati, Rik! Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri kan? Mungkin kelebihanmu saat ini belum terlalu mencolok, tapi asah terus bakatmu biar jadi penulis sukses yang berpendidikan, biar dunia bisa menganggap kamu itu keren, nggak perlu pengakuan dunia juga sie, lihat ibu bangga punya anak sepertinya saja Erika sudah bahagia. Itu motivasi utama yang ada dalam diri Erika. Membanggakan Ibu dengan bakat yang dia punya.
"Oya, Ca, kenalin ini Erika adiknya Aldin," ucap Jo setelah beberapa saat mereka bermesraan tanpa mempedulikan ada dua manusia lain di antara mereka yang sejak tadi menjadi penonton adegan kiss-kissan yang tidak pada tempatnya.
"Hei, Erika!" sapa Caca dengan ramah. Tadi Erika menyangka wanita ini bakalan sombong, tapi kenyataannya tidak. Bahkan dia tidak gengsi untuk mengulurkan tangan duluan.
"Hei, Mbak Caca. Nice to meet you, (Senang bertemu denganmu), eh bener ndak sie?" Erika sok pakai Bahasa Inggris, Bahasa Inggris yang pengucapannya medok sekali.
Jo, Aldin dan Caca tergelak mendengar Erika memaksakan diri memakai bahasa yang tidak mahir dia kuasai.
"Nice to meet you too (Senang bertemu denganmu juga)," sahut Caca dengan sisa-sisa tawanya yang renyah.
Ke dua wanita yang berbeda kasta tersebut saling berjabat tangan dan saling melempar senyuman. Sebenarnya mereka sama-sama mempesona sesuai darah yang mengalir di tubuh mereka masing-masing. Erika keturunan Jawa alias wanita pribumi, yang terlihat lebih sederhana dan kalem, sedangkan Caca wanita blasteran luar negeri yang lebih elegant. Tergantung selera lelaki mau yang produk lokal apa yang ekspor dari luar negeri. Dih ... sudah kayak barang, Thor.
"Jadi Erika lagi nyari kerja di Jakarta dan berhubung di kantorku ada lowongan jadi dia aku training dulu selama enam bulan, Sayang," dusta Jo agar rencana besar yang sedang dia susun tidak ketahuan Yoevanca.
"Oh that's good, Baby. (Itu bagus, Sayang). Erika, kalau B'Jo galak denganmu, kamu bisa kasih tahu aku. So aku bisa marah-marahi dia," ucap Caca menggunakan Bahasa campur-campur, tapi tetap saja logat Inggrisnya yang paling kental.
Erika justru salah fokus dengan panggilan sayang yang diberikan Caca untuk Jo.
"Bejo? Hahahaha." Erika tertawa terpingkal-pingkal. Ini reaksi yang sama yang dulu pernah keluar dari mulut Aldin ketika mendengar panggilan sayang Jo dari Caca.
"Yes, B'Jo not Bejo, Rika!" ralat Caca.
"Tapi nek dirungokke B'Jo karo Bejo kan meh podo to, Mbak," debat Erika menggunakan Bahasa Jawa yang jelas Caca tidak mengerti artinya.
Pembacanya juga nggak paham kali, Thor. Jadi Erika bilang," Tapi kalau didengarkan B'Jo dan Bejo kan hampir sama to, Mbak."
"What did she say, Baby? (Apa yang dia katakan, Sayang?" tanya Caca pada Jo.
"Jadi Erika bilang kalau B'Jo and Bejo hampir sama kalau didengar," jawab Jo menterjemahkan ucapan Erika.
"Oh begitu." Yoevanca mengerti dan manggut-manggut. "Jadi, Rika. Mm ... B'Jo it means (artinya) Baby Jo. Mm ... semacam sinonim like that (seperti itu), do you understand what i said? (apa kamu mengerti apa yang saya katakan?"
"Yes, I stand under you, Sist," jawab Erika membuat semua orang terkekeh karena mengingat artinya.
"Kowe ki ancen marai aku isin wae kok, Dek, (Kamu tuch memang bikin aku malu saja kok, Dek)," tegur Aldin sambil mengusap wajah Erika dengan telapak tangannya.
"Oke, kita berangkat makan siang sekarang! Gue udah lapar banget," ajak Jo.
**
"Eh ... Eh ... Eh ... Ammar!" seru Iccha memanggil Ammar yang melintas di hadapannya.
"Bapak!" tegur Ammar mengoreksi panggilan Iccha untuknya. Lelaki itu menghentikan langkahnya tepat di depan meja kerja Iccha yang ada di depan ruangan kerja Ammar.
Iccha menggeser tempat duduknya ke belakang agar dia bisa berdiri, lalu ia memutari meja besar beralaskan kaca yang selama beberapa bulan, bukan bulan mungkin tahun ke depan menjadi temannya menjalani hari-harinya sebagai sekretaris pribadi Ammar. Dia berdiri di depan sang bos besar yang yang nampak cuek-cuek saja sambil berkacak pinggang.
"Iya, Pak Ammar." Seperti yang Ammar mau, Iccha meralat panggilannya dengan yang lebih sopan.
"Pak Ammar mau ke mana?" tanya Iccha masih pura-pura sopan padahal dalam hati dia ingin sekali memukul jidat lelaki itu menggunakan sendok makan seperti yang semalam dia lakukan.
"Lunch," jawabnya singkat.
"Kok saya nggak diajak, Pak?"
"Memang anda siapa? Makan sendiri!" Ammar melenggang pergi meninggalkan Iccha tanpa menoleh lagi.
"Hiiiih ... dasar Mis-" Iccha tidak jadi memanggil Ammar dengan sebutan kesayangannya.
"Nyebelin banget itu lelaki!" umpatnya sambil memperhatikan punggung gagah Ammar yang bergerak seiring dengan langkah kaki tegap lelaki itu berjejak.
Aku hitung mundur sampai tiga dia pasti nyusul. Batin Ammar yang kini sudah berdiri di depan pintu lift.
Tiga.
Dua.
Sa-
"Pak, tunggu! Saya ikut!" seru Iccha seperti yang sudah Ammar duga.
Dengan tergesa-gesa wanita itu mengambil tasnya yang tergeletak di atas kursi dan berlari menyusul Ammar yang ternyata sudah masuk ke dalam lift.
"Mister Too Cold! Tungguin gue!" teriak Iccha panik. Lengkingan suaranya sampai membuat office boy yang sedang membersihkan jendela gedung langsung menengok ke arahnya.
Nyari mati itu karyawan baru! Bisa-bisanya nyamain Pak Ammar sama Tukul. Batinnya seraya menaik turunkan pembersih kaca yang dia pegang.
"Hah! Hah! Hah!" Napas Iccha terengah-engah. Untung Ammar masih bersedia untuk menunggunya.
"Kenapa sie lu nyiksa gue mulu dari tadi?" protes Iccha sambil menyeka keringat yang mengucur deras di dahi dan juga lehernya.
Gila! Belum-belum gua udah dibuat lari-lari dua kali sejak tadi pagi. Gersah Iccha dalam batin.
Pintu lift tertutup dan siap membawa dua penumpang berbeda jenis kelamin ini untuk turun ke lantai satu.
"Siapa yang nyiksa?" tanya balik Ammar sambil membuka dua kancing jas hitamnya.
"Elu, Mister Too Cold!" tegas Iccha.
"Sekali lagi kamu panggil aku pakai nama itu di kantor, tunggu aja apa yang bisa aku lakuin!" ancam Ammar sambil menghimpit tubuh Iccha di dinding lift hingga wanita itu ketakutan karena badan mereka yang nyaris menempel.
"Oke-oke! Ampun, Pak Ammar!" Iccha menurut saja dari pada membuat Ammar marah dengannya.
Pintu lift terbuka. Pada saat itu sudah ada beberapa orang yang mengantri di depan sana. Mereka ternganga melihat pemandangan yang ada di depannya.
Ini adalah adegan yang sangat spektakuler untuk mereka semua. Bos mereka yang anti perempuan sedang bermesraan dengan sekretaris barunya di dalam lift. Wow ... berita ini pasti akan cepat menyebar ke seluruh antero Jack Ars Company II dalam waktu yang singkat.
Menyadari hal tersebut, Ammar segera menjauhkan dirinya dari tubuh Iccha agar pikiran para anak buahnya tidak semakin menjadi-jadi.
Jatuh harga diriku! Pekik Ammar dalam batin.
Lelaki itu mengibaskan jas formalnya dengan gaya super cool ketika keluar dari dalam lift, disusul oleh Iccha yang mengekor di belakangnya sambil menundukkan kepala karena malu. Tanpa diminta barisan karyawan yang ada di depan pun segera memberi jalan sambil memberi salam hormat pada Ammar dengan sedikit membungkukkan badan mereka. Ketika bos Ammar sudah berjalan jauh mereka baru berani buka suara untuk bergosip ria.
"Nggak nyangka ternyata Pak Ammar ada fair sama sekretaris barunya," kata si biang gosip yang tadi sempat memergoki Iccha berlari dari arah basement dan memanggil Ammar dengan sebutan 'Mister Too Cold'.
**
Iccha membuntutti Ammar sampai ke parkiran kendaraan. Mereka kembali lagi berada di tempat yang tadi pagi mereka tinggalkan.
"Kamu mau ke mana? Aku ikut," rengek Iccha.
"Aku mau lunch, kan udah aku bilang tadi," ujar Ammar dengan nada dinginnya yang mendarah daging.
Mereka mengganti sapaan lu gue menjadi aku kamu agar orang yang mendengarnya juga tidak berpikir kalau mereka adalah musuh bebuyutan.
"Aku kan lama nggak tinggal di Jakarta jadi aku nggak tahu restoran yang enak di mana," tutur Iccha dengan manja sambil mencebikkan bibirnya.
Ammar menggelengkan kepala sambil menatap heran ke arah Iccha.
Lu nggak berubah, Cha. Masih jadi anak yang nggak bisa mandiri.
"Boleh ikut kamu kan?" tanya Iccha dengan tatapan mengiba.
"Hm .... " jawab Ammar singkat.
"Yes ... asyiik!" Iccha bersorak senang sampai-sampai dia melonjak-lonjak dan melingkarkan ke dua tangannya di leher Ammar.
"Stop, Ya!" tegur Ammar sambil menyingkirkan tangan Iccha dari lehernya.
Iccha sedih, kenapa Ammar tidak bisa bersikap manis dengannya. Tidak perlu manis juga, ya ... minimal diperlakukan selayaknya manusia normal yang tidak dimusuhi saja dia sudah bahagia. Bukannya jutek dan dingin terus seperti ini sepanjang harinya. Apalagi mulai hari ini mereka akan bekerja sama menjadi bos dan sekretaris pribadi yang intinya mereka akan berkomunikasi setiap harinya, apa iya mereka harus berpura-pura damai di depan kolega kemudian kembali bertengkar setelah rekan bisnis mereka menghilang?
Ammar masuk ke dalam mobil kantor, karena tidak mungkin keluar menggunakan motor dalam keadaan cuaca panas seperti sekarang. Sementara Iccha masih berdiri di tempatnya sambil menyeka lelehan air mata yang tanpa terasa menetes dan membasahi pipinya.
Kenapa Papi dan Mami minta aku buat kerja sama dia? Apa mereka nggak tahu kalau lelaki dingin itu nggak pernah perlakuin aku dengan baik? Memang mereka ikhlas kalau aku setiap hari dibentak-bentak sama dia? Gerutu Iccha. Air matanya semakin banjir.
Sedangakan itu, Ammar melihat pantulan diri Iccha dari kaca spion mobil. Kunci kontak mobil yang dia pinjam dari sopir kantor sudah ia masukkan ke dalam lubangnya, tapi Ammar urung menyalakan mesinnya. Lelaki itu membuka kembali pintu mobil berwarna silver yang tadi sudah dia tutup. Dengan langkahnya yang tegas ia turun dan berjalan mendekati Iccha. Wanita itu terlihat masih menyeka air matanya. Ia melirik Ammar dengan sorot mata tidak suka.
"Jangan nangis!" tegur Ammar.
"Siapa yang nangis? Mata gua kelilipan debu!" Iccha mulai galak dan nyolot.
Gengsi banget kalau sampai dia tahu gue nangisin dia! Huft!
Ammar mengurungkan tangannya ke arah Iccha. "Ayo! Kita lunch bareng!" ajaknya dengan bahasa yang diperhalus.
Eh, kenapa dia tiba-tiba jadi baik?
Iccha belum merespons uluran tangan Ammar, dia justru sibuk memerhatikan tangan besar tersebut seolah itu adalah benda langka yang baru pertama kali dia lihat.
Karena Iccha tak kunjung merespons maka Ammar yang berinisiatif untuk menggandeng tangan Iccha duluan. Wanita yang umurnya lebih muda dua tahun dari Ammar itu terkesiap dengan mulut ternganga.
"Ayo masuk ke mobil!" ajak Ammar sambil menuntun Iccha berjalan beriringan dengannya.
Ammar membukakan pintu mobil untuk Iccha. "Silahkan masuk!" ucapnya berusaha bersikap seperti layaknya seorang lelaki kepada seorang wanita meski nada bicaranya masih datar tanpa ekspresi.
Iccha tersenyum, diperlakukan seperti itu oleh Ammar saja dia sudah bahagia sekali seperti baru saja dikirimi tas branded keluaran terbaru.
Iccha mencubit pipi Ammar dengan gemas. "Sweet banget!" pujinya.
"Ck!" Ammar berdecak dengan senyum tipis tersungging di bibir tebalnya.
"Terima kasih ya, Bang," sahut Iccha menyebut Ammar Bang kemudian masuk ke dalam mobil dengan hati berbunga-bunga.
Ammar menutup pintu dan berjalan memutari mobil sambil mengelus pipinya yang bekas cubitan tangan Iccha.
**
Tak disangka ternyata Ammar dan Iccha makan di restoran yang sama dengan rombongan adiknya. Jo melambaikan tangannya ke arah sang kakak yang baru saja masuk dari pintu utama resto dan terlihat menyisirkan pandangan matanya mencari tempat yang kosong untuk dia dan Iccha tempati.
"Bang!" seru Jo dengan lantang. Ammar menoleh dan mendapati Jo masih melambai-lambaikan tangannya.
"Kita gabung aja sama mereka, Mar," ucap Iccha memberi pendapat.
Sikap dingin Ammar mulai kumat lagi. Ia berjalan terlebih dulu, lagi-lagi Si Iccha ia tinggal di belakangnya. Padahal dalam hati sudah pingin banget jalan berdua sambil digandeng tangannya.
"Hiih!" Iccha jengkel setengah mati dan berjalan dengan terburu-buru menyusul Ammar yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.
"Sini, Bang! Sekalian aja sama kita," kata Jo dengan bersahabat mempersilahkan kakaknya.
"Hm .... " sahut Ammar singkat seraya menempatkan dirinya di bangku kosong yang ada di dekat Erika.
Astagfirullah, setiap dideketi Bang Ammar aku deg-degan lho. Batin Erika sambil menelan sisa steak ayam yang masih tertahan di mulutnya.
Sedangkan Iccha duduk di sebelah Caca.
"Hei, Caca!" sapa Iccha sok kenal sok dekat. Pernah dua kali bertemu, tapi tanpa tegur sapa.
"Hei, what your name? (Hei, siapa nama kamu?)" sambut Caca sambil mengulurkan tangannya.
"I am Iccha," jawab Iccha dan membalas uluran tangan calon istri Jo.
"Iccha and Caca, hahaha .... " Caca terkekeh menyadari nama panggilan mereka hampir sama.
Setelah bercanda tawa sejenak, Ammar dan Iccha memesan makanan. Rombongan Jo sudah mendapatkan makanan mereka karena tiba lebih awal. Bahkan Caca dan Aldin sudah menghabiskan makanan mereka. Tinggal Jo dan Erika yang belum.
"Rik, apa kamu nggak bisa makan yang bener?" tegus Ammar. Dia mengambil lap putih yang ada di pangkuan Iccha lalu mengusap saos steak yang mengotori sudut bibir Iccha dengan sangat lembut.
Masya Allah aku tambah deg-degan wae (aja). Ganteng lho padahal kalau manis begini. Batin Erika. Jaraknya dengan Ammar kini dekat sekali.
Aldin beberapa kali mengucek-ucek matanya, tidak percaya kalau Ammar bisa semanis ini dengan perempuan, apalagi perempuan itu adalah adiknya.
Iccha tidak suka dengan pemandangan yang dia lihat. Ini sudah sangat menyakiti mata sehatnya. Ingin sekali dia melempar sendok yang ada di piring Yoevanca ke arah Ammar.
Sama gue aja dia kasar banget, eh giliran sama Erika manisnya nggak ketulungan. Iccha hanya berani memrotes dalam hati saja.
"Makasih yo, Bang," ucap Erika dengan malu-malu. Ia melirik sebentar ke arah Iccha, kemudian buru-buru menundukkan kepala karena wanita itu memelotottinya dengan tidak suka.
Mbak Iccha marah kayaknya sama aku. Erika jadi tidak enak hati.
"Jo, Bang Ammar lagi sakit, ya?" tanya Aldin berbisik di telinga sahabatnya.
"Kagak tau. Kenapa emang?" tanya balik Jo dengan berbisik pula.
"Nah tuch manis banget sama adek gue," jawab Aldin. "Abang lu bukannya anti perempuan?"
"Alhamdulilah, Abang gue terbukti normal," sahut Jo.
"Ehem .... " Merasa dighibahin karena telinganya berasa panas, maka Ammar pun memberi reaksi meski hanya 'Ehem-an" saja.
Jo dan Aldin segera menutup mulut mereka masing-masing dari pada panjang nanti urusannya.
"Baby, I want you to choose our wedding dress (Sayang, aku mau kamu memilihkan baju pernikahan kita)," ucap Caca sambil bergelendot manja di pundak Jo.
"Aku suka apa saja yang kamu pilih, Sayang," balas Jo seraya mengelus-elus pipi Caca.
"After this, I have an appointment with our wedding dress designer. You must accompany me. (Setelah ini, aku ada janji temu dengan designer baju pengantin kita. Kamu harus menemaniku)," pinta Caca masih bergelendotan di bahu Jo.
"Sorry, baby. I have important business after this, you go alone or ... ask Aldin to accompany you, (Maaf, Sayang. Aku ada urusan penting setelah ini, kamu pergi sendiri ya atau ... minta Aldin untuk menemanimu,)" jawab Jo dengan berat hati.
Yoevanca terlihat kesal dan langsung menjauhkan badannya dari Jo.
"Al, Let's go! (Al, ayo kita pergi!)" Caca mengomando Al untuk ikut bersamanya dengan wajah masam. Jo selalu saja sok sibuk dan memintanya pergi dengan Aldin.
"Ca!" seru Jo berusaha menghentikan Caca yang pergi dengan keadaan marah, tapi Caca tidak menggubrisnya dan tetap pergi sambil melingkarkan tangannya di lengan Aldin dengan mesra.
Mas Jo kok begitu sie? Apa dia nggak takut kalau Mas Aldin deket-deketan sama calon istrinya. Ya Allah, semoga Mas Aldin bisa menjaga hatinya. Pikir Erika sembari memerhatikan Abangnya dan si bule cantik yang berjalan semakin menjauh dari tempatnya.
Hanya tinggal empat orang di sini. Sedang Erika masih saja tidak bisa mengalihkan pikirannya dari permasalahan Abangnya dan juga Kirana. Dia kembali teringat dengan panggilan telepon dari seorang wanita yang masuk ke ponsel Aldin beberapa waktu yang lalu. Iya, memang tidak terlalu jelas wajah si perempuan karena memakai topi yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, kenapa tetiba feelingnya begitu kuat kalau Aldin memiliki kekasih lain selain Kirana yang setia menunggunya di kampung halaman.
"Rik, kamu kenapa? Kok bengong lagi?" tanya Jo membuat Erika segera mengakhiri lamunannya.
"Ndak apa kok, Mas," jawab Erika membohongi yang sebenarnya. Ini masih praduganya jadi tidak perlu ada orang yang lain yang tahu.
"Ya sudah kita balik ke tempat kerja, Ya!" ajak Jo. Erika mengangguk.
Sedangkan itu, Ammar dan Iccha meneruskan makan siang mereka. Kebetulan makanan pesanan mereka sudah datang.
"Bang Ammar, Mbak Iccha aku pamit dulu, ya," ucap Erika.
"Hati-hati, ya!" sahut Ammar lagi-lagi dengan penuh keramahan, sedangkan Iccha hanya tersenyum kecut asal-asalan. Moodnya anjlok sudah melihat perbandingan sikap Ammar kepadanya dan pada wanita asing tersebut.
Mbak Iccha beneran marah lho. Gumam Erika.