**
Sampai di PT. Jack Ars Company II di mana Ammar Syailendra yang mengelolanya.
Iccha turun duluan setelah kuda besi beroda dua milik Ammar terparkir di basement perusahaan yang sudah penuh dipadati oleh kendaraan milik karyawan yang lainnya. Beberapa karyawan nampak menyapa dengan sopan ketika melintas melewati sang CEO dingin yang hanya membalas sapaan mereka dengan senyum yang ala kadarnya.
Dasar Too Cold! Songong banget! Umpat Iccha dalam batin karena melihat reaksi Ammar yang benar-benar hemat ekspresi.
Setelah motor terparkir dengan benar. Noted : Tidak ada yang berani parkir di area ini selain Ammar. Itu sudah mutlak milik Ammar, hanya kendaraannya yang boleh ada di situ! Hm ... Sudah sewajarnya dia bersikap seperti itu, bahkan setiap sudut gedung kantor pun adalah miliknya kan?
Lelaki bertubuh tegap dengan rambut yang tebal dan hitam itu berjalan menjauh dari si merah yang tak kalah gagah dari pemiliknya. Hei, Apa Ammar lupa kalau dia sekarang tengah bersama dengan Iccha yang akan mengemban tugas menjadi sekretarisnya per hari ini? Spontan Iccha menendangkan ujung heels-nya ke arah knalpot motor Ammar karena kesal sudah diabaikan.
"Ngeselin banget! Main tinggal aja nggak ngajak-ngajak!" omelnya.
Sedangkan lelaki yang menjadi alasan kemarahan Iccha terlihat santai-santai saja seolah tidak terjadi apa-apa, bahkan menengok pun tidak. Ammar tetap pada langkahnya yang lebar hingga Iccha yang masih berdiri di tempatnya, tertinggal kurang lebih lima belas meter di belakang.
"Ya Allah, beri aku kesabaran!" pinta Iccha seraya menengadahkan ke dua tangannya ke atas. Iccha mempercepat langkahnya untuk mengejar Ammar.
"Woey! Mister Too Cold! Tungguin gua!" teriak Iccha dengan sangat kencang hingga suaranya itu terdengar menggema dan gelombang suaranya itu sampai juga hingga ke telinga Ammar.
"CK! Bikin malu!" gumam Ammar pelan sambil menengok ke belakang sebentar.
Terlihat Iccha berlari-lari dengan heelsnya yang berukuran sepuluh centi. Agak ngeri juga kalau sampai heelsnya patah seperti semalam, bukan masalah sakitnya, tapi malunya kalau banyak orang yang lihat.
Beberapa pasang mata karyawan yang ada di sekitaran sana pun menyorot Iccha dengan penasaran. Seorang wanita cantik dengan rambut merah ala-ala bule Eropa berlarian dari arah basement dan berani memanggil nama bos besar mereka dengan sebutan "Mister Too Cold". Dan ... Jaket yang masih melingkar di pinggang wanita itu pun adalah jaket kesayangan Ammar, yang paling kerap Ammar pake dari jaket yang lainnya hingga para penghuni Jack Ars Company II pun hapal dengan penampakan benda tersebut.
"Dia siapanya Bos Ammar?" bisik salah satu orang di telinga kawannya. Seorang pegawai perempuan yang terkenal paling suka ngegosip di kantor ini.
"Entah!" jawab rekannya sambil mengedikan bahunya. Bukan hanya dia saja yang menanyakan hal yang sama, tapi juga yang lainnya. Iccha sukses menjadi daya tarik para karyawan Ammar yang terkadang suka kepo dengan urusan percintaan bos mereka yang dingin bak lemari pendingin dua pintu.
"Sial! Gue beneran ditinggal lho," gerutu Iccha yang sekarang sudah sampai di lobby kantor. Napas wanita itu terengah-engah.
"Gila! Udah yang kayak habis pelajaran olah raga pas jaman SMA!" gumamnya lagi sambil menyeka peluh yang menetes di jidat.
"Terus gue mesti ke lantai berapa? Kurang asem emang Si Ammar. Gue kan nggak tahu ruangan dia di mana, mana pake ninggal duluan," gerutu Iccha.
Yang pintar dikit, Cha! Tanya resepsionis dong!
"Hm ... Iya gue mesti tanya mbak resepsionis," kata Iccha seraya menyeret langkah kakinya menuju ke meja resepsionis yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Selamat pagi, Nona. Saya Tiara Angelina petugas front office PT Jack Ars Company II ada yang bisa saya bantu?" sapa Tiara sebelum Iccha menyapa. Sungguh enak sekali suara mbaknya ini di telinga, merdu, halus, ramah, seperti penyiar radio. Senyumnya juga mempesona, emang dasarnya sudah cantik juga. Hm ... Mana ada petugas front office yang jelek sie?
"Mbak, ruangannya Mis-" Iccha buru-buru membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Hampir saja dia memanggil Ammar dengan panggilan kesayangannya, 'Mister Too Cold'.
"Ruangannya Pak Ammar di mana, Ya?"
"Ruangan Pak Ammar ada di lantai tiga, Nona. Silahkan buat janji temu terlebih dulu sebelum bertemu dengan beliau!" jawab Tiara.
"Nggak perlu, Mbak," tolak Iccha. Wanita itu buru-buru meninggalkan meja resepsionis.
"Ta-Tapi, Nona!" tegur Tiara yang sama sekali tidak digubris oleh Iccha. Wanita itu sekarang sudah berdiri di depan pintu lift yang akan membawanya naik ke atas.
Tiara menelpon Ammar untuk memberitahukan bahwa ada seorang wanita yang tidak diketahui namanya menyelinap ingin masuk tanpa membuat janji temu terlebih dulu.
"Biarkan saja!" jawab Ammar dengan ciri khasnya yang datar. Dia sudah menduga kalau wanita itu pastilah Iccha, siapa lagi kalau bukan si pengacau itu?
Sepuluh menit kemudian, suara orang mengetuk pintu ruangannya. Senyum devil Ammar tersungging dengan sangat tipis.
Dia sudah datang. Pikir Ammar.
"Masuk!" perintahnya dengan suara yang diperkencang.
Handle pintu terlihat bergerak turun, setelah itu terbuka lebar ketika si tamu mendorongnya ke dalam.
Ammar hanya menatap ke ambang pintu sekejap saja kemudian menyibukkan dirinya pada komputer lipat yang ada di mejanya.
Wow ... Keren juga ya kalau Si Mister Too Cold pakai jas kerja formal kayak gitu. Batin Iccha yang niatnya marah-marah, tapi justru terkesima melihat penampilan lelaki yang selama ini jadi musuhhya.
Selepas Iccha pindah rumah ke Bandung dan berpisah jauh dari Ammar, hanya beberapa kali kesempatan mereka bisa bertemu, itu pun ketika ada acara dari rekan orang tua mereka, maklum orang tua Ammar dan Iccha adalah teman dekat. Ya meski pun mereka saling simpan nomor ponsel, tapi mereka tidak pernah berkomunikasi, hanya stalker status dan sosial media doang beraninya tanpa berani menyapa atau masuk ke dalam kolom komentar.
"Cepet kerja!" perintah Ammar membuat lamunan Iccha seketika buyar. Wanita yang mencangklongkan tas mahalnya di pundak sebelah kanan itu berkacak pinggan dan mengintruksikan kedua kakinya untuk masuk lebih dalam ke ruang kerja Ammar.
"Maksud lu apa ninggal gue tadi?" tanya Iccha dengan nada tinggi.
Ammar memicingkan matanya sambil merubah posisi. Dia kini sudah duduk di kursi kebesarannya sambil memainkan jemari tangannya di atas keyboard.
Yang diomeli cuek bebek! Justru sok sibuk dengan pekerjaannya. Hm ... Membuat tensi darah Iccha semakin naik saja.
"Braaak!" Iccha menggebrak meja kerja Ammar hingga beberapa barang yang ada di atasnya terlihat bergeser dan air putih yang ada di dalam gelas nampak berguncang, tapi belum sampai tumpah.
Lelaki pemarah itu mendesahkan napas ke udara sambil memejamkan matanya beberapa saat.
"Gue lagi ngomong sama lu, Ya! Kenapa gue lu tinggal? Gue gak tahu di mana ruangan lu! Kalau gue kesasar gimana?" amuk Iccha masih mempermasalahkan hal yang sama.
"Lu kesasar gak?" tanya balik Ammar.
"Mm ... e ... Ya enggak sie," jawab Iccha.
"Terus masalahnya di mana?" Ammar pintar sekali memutar balikkan fakta.
"Lu itu ngeselin, ya!" umpat Iccha sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai hingga menimbulkan suara yang cukup berisik, menurut Ammar yang suka ketenangan.
"Patah lagi ntar," tegur Ammar membuat Iccha segera menghentikan hentakkan kakinya.
"Jangan membesar-besarkan masalah yang sebenarnya bukan masalah!" Kata-kata bijak keluar dari mulut Ammar. Lelaki itu berjalan memutari meja dan mendekati Iccha.
"Mau ngapain lu?" tanya Iccha ketika Ammar melingkarkan ke dua tangannya ke pinggang Yang Icha.
Ammar tak menjawab, seharusnya Iccha paham apa yang sedang Ammar lakukan.
Melepaskan jaket miliknya yang masih melingkar di pinggang Iccha.
Ya ampun, aku sampai gak sadar kalau jaketnya masih aku pakai. Gumam Iccha.
"Kamu boleh mulai bekerja! Itu meja kerjamu!" Instruksi dari Ammar setelah jaket itu sudah berhasil terlepas dari tubuh Iccha.
**
Di Jack Ars Company I sudah berkumpul Jo, Aldin dan juga Erika. Erika duduk diam di sofa sambil memperhatikan ke dua lelaki yang ada di hadapannya sedang sibuk mendiskusikan pekerjaan.
Aku ndak mudeng mereka ngomong opo. Saham, apalah-apalah. Hm ... Tauku cuma alur sama typo.
"Oke, jadi lu yang nanganin proyek ini, Al! Gue masih sibuk ngurus pernikahan gue juga kan. Mungkin sesekali gue pantau," ucap Jo setelah diskusi selesai. Semua hal penting Jo berikan sepenuhnya pada Aldin mengingat sebentar lagi dia akan menikah dan butuh banyak sekali persiapan yang harus dia urus.
"Siap laksanakan, Pak Bos," sahut Aldin sambil meletakkan tangannya di ujung kening. Sikap hormat bendera.
"Dek, Mas Al ke ruangan Mas dulu, ya! Di seberang ruangannya Mas Jo. Kalau mau mampir tinggal masuk aja," kata Aldin pada adiknya.
"Nggih (Iya), Mas," sambut Erika.
"Ojo diapak-apake adikku (Jangan diapa-apain adikku!)" Aldin memperingatkan sahabatnya.
"Rebes! Wes kono minggat'o (Sudah sana pergi!)" jawab Jo.
"Mas Al, tunggu dulu!" seru Erika menghentikan langkah kaki Abangnya yang sudah sampai di ambang pintu.
"Nopo (Kenapa)?" tanya Aldin sambil berbalik badan.
"Mas, Mbak Kirana mencari Mas Aldin, katanya sejak semalam Mas Aldin Ndak bisa dihubungi," jawab Erika.
Aldin nampak berubah ekspresi setelah mendengar apa yang dikabarkan oleh adiknya.
"Biasa, lagi ngambek-ngambekkan paling, Rik," sambung Jo sambil mengunyah permen karet yang tadi dibelinya di minimarket terdekat ketika perjalanan menuju ke kantornya.
"Sok tahu lho kamu tuch! Paijem tenan!" umpat Aldin sambil mengulurkan kepalan tangannya ke arah Jo.
"Paijemmu gedi!" balas Jo membuat Erika terkekeh.
"Mulai ribut dech. Ya udah kalau Mas Al mau kerja, aku cuma mau nyampaiin itu aja kok," ucap Erika.
"Habis ini aku telpon Kirana," ujar Aldin lalu berbalik badan dan tubuhnya pun tak terlihat lagi setelah menutup pintu ruangan kerja Jo.
Tinggal Jo dan Erika berdua. Wanita itu masih bengong menatap ke arah pintu dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. Ada sesuatu yang dipikirkannya.
"Kenapa, Rik? Kok malah bengong?" tanya Jo yang sejak tadi memperhatikan Erika.
"Aku bingung mau ngomong apa ndak, Mas," jawab Erika seraya tertunduk lesu.
"Ono opo to (Ada apa to)? Ayo cerita aja! Nggak usah sungkan gitu, Rik! Anggap aku kayak kakakmu sendiri," bujuk Jo membuat Erika begitu nyaman dan berniat untuk menceritakan apa yang sedang mengganjal hatinya.
"Jadi ngene (begini), Mas .... " Erika sedikit ragu, tapi dia tetap ingin bercerita karena tidak mau memendam masalahnya seorang diri dan berakibat pada pekerjaannya sebagai seorang penulis. Penulis itu butuh pikiran yang waras dan tenang ketika menuangkan imajinasinya dalam sebuah tulisan. Untuk itulah ada baiknya para penulis harus pandai-pandai menjaga kondisi pikirannya agar tetap sehat.
"Gimana?" tanya Jo yang penasaran sekali dengan masalah yang akan diceritakan oleh Erika.
"Mas Jo kan udah lama ya temenan sama Mas Aldin .... " kata Erika memulai ceritanya, Jo manggut-manggut.
"Terus?" tanya Jo singkat.
"Apa Mas Jo pernah lihat Mas Aldin godain cewek lain di sini?" Erika balik melempar pertanyaan.
"Astaga! Namanya cowok ya biasalah kalau godain cewek, Rik. Asal nggak kebangetan sie oke-oke aja menurutku."
"Jadi Mas Aldin juga suka godain cewek lain, Mas?"
"Nggak usah Aldin, gua aja suka godain cewek. Ya tapi kan cuma iseng doang, Rik."
"Masalahnya Mbak Kiran itu bilang kalau sikapnya Mas Aldin itu sekarang berubah, Mas. Udah jarang ngasih kabar lagi ke dia. Ya namanya cewek ya pasti pikirannya neko-neko lah, Mas. Kayak semalam tuch, Mbak Kiran curhat sambil nangis-nangis katanya nomornya diblokir sama Mas Al. Aku kasihan-lah, Mas," cerita Erika tentang masalah percintaan abangnya dengan sang kekasih.
"Ya mungkin mereka lagi ada masalah aja, Rik. Sejauh ini aku nggak pernah lihat Aldin pergi sama cewek lain sie," ungkap Jo sesuai dengan apa yang dia lihat. Meski Aldin sahabat dekatnya, dia pasti akan tetap menegur kok kalau Aldin berani selingkuh di belakang ceweknya. Kesetiaan itu nomor satu untuk Jo jadi dia juga tidak akan tinggal diam kalau ada yang nyeleweng apalagi sahabatnya sendiri.
"Tapi kalau cuma ribut kecil kan biasa, Mas. Ndak perlu juga pakai blokirin nomor, kasihan juga Mbak Kiran-nya jadi kepikiran, untung aku di sini jadi bisa negur Mas Al," desah Erika dengan ekspresi wajah yang masam.
"Tenang, Rik! Aku akan jadi orang pertama yang negur Aldin kalau dia sampai berani macam-macam sama cewek lain, aku juga gak suka penghianat kok. Udah nggak usah dipikirin! Biarin masmu sama pacarnya nyelesaiin urusan mereka sendiri," nasehat Jo pada Erika. Dan Erika pun mengangguk tanda menurut.
Jo dan Erika menyudahi pembicaraan tentang Aldin dan Kirana. Kini mereka kembali fokus membahas proyek novel mereka.
"Jadi kamu gak punya laptop yang bagus?" tanya Jo karena yang dia lihat laptop Erika sudah ketinggalan jaman.
"Ini juga udah bagus kok, Mas," jawab Erika yang memang serba hidup dalam kesederhanaan.
"Perasaan Si Al gua kasih gaji gede kenapa dia gak merhatiin apa yang jadi kebutuhan adiknya?" gerutu Jo menyalahkan sahabatnya.
"Bukan salah Mas Al juga kok, Mas. Memang akunya yang ndak mau dibeli-beliin," tutur Erika meluruskan pemikiran Jo yang salah.
"Antik kamu tuch! Jarang ada wanita kayak kamu, Rik, Burik, hahaha." Jo terkekeh.
"Kok jadi burik ki lho, Mas. Nakal Mas Jo kok!" sungut Erika kesal.
Selalu diselingi dengan canda agar pekerjaan tidak menjadi terasa berat dan membosankan. Meski baru sehari mengenal Jo, tapi Erika merasa nyaman bekerja sama dengan lelaki tersebut. Sikapnya yang humoris dan terkadang bisa dewasa juga membuat Erika mengagumi lelaki itu tanpa dia sadari. Entah berapa kali dia berkata dalam hati, "Beruntungnya Mbak Yoevanca ya punya calon suami kayak Mas Al." Sedikit iri boleh, ya. Banyak wanita yang menginginkan suami seperti Jo seperti tokoh karangan dalam novel-novel romance yang sedang menjadi idola para wanita, seorang CEO tampan dan kaya raya yang menjadi idaman para wanita di dunia imajinasi.
Setelah menulis beberapa chapter, Erika menyisipi pekerjaannya dengan menulis cerita dari judul yang lainnya. Novel on going yang sudah taken kontrak di salah satu platform online ternama yang harus dia tuntaskan juga tanggung jawabnya, lumayanlah dari menulis di platform ini dia sudah menghasilkan ratusan dollar Amerika, penghasilan yang lumayan untuk sekedar mengajak ibu makan bakso di pinggir jalan.
Aku jadi kangen Ibu.
Erika melihat Jo sedang fokus bertukar suara dengan rekan bisnisnya. Lelaki itu nampak serius dengan sesekali terlihat mengerutkan keningnya dan ekspresi seperti itu justru semakin membuat wajah Jo terlihat tampan serta berkharisma. Tanpa sadar Erika menyunggingkan senyumnya dan bersamaan dengan itu Jo juga menghadap ke arah Erika, tatapan mata mereka bertemu. Ada rasa canggung setelah manik mereka saling bertaut, tapi Erika buru-buru menundukkan kepalanya. Jo pun kemudian tersenyum melihat Erika yang malu-malu.
"Jaga hatimu, Rik!" Erika memberi pesan pada hatinya sendiri. Jo lelaki yang sebentar lagi akan menikah dan Jo adalah lelaki kaya raya yang sama sekali tidak sebanding dirinya yang hanya anak petani biasa.
Ingat Sofyan juga kan?! Nama lelaki itu terlintas di pikiran Erika. Entahlah, perasaan apa ini ketika Erika merasa tidak memiliki kenyamanan bersama lelaki yang sudah lama menjadi kekasihnya. Apa dia tengah jenuh? Bukannya hal yang lumrah ketika kita merasa bosan dalam menjalin hubungan? Semoga jarak yang tercipta saat ini justru bisa mempererat hubungannya dengan sang kekasih, karena rindu yang diciptakan oleh jarak dan mengembalikan rasa yang sudah hampir karam.
"Ya Allah, pikiranku jadi ke mana-mana. Mending aku telepon Ibu dulu," lirih Erika sambil merogoh ponsel yang ia simpan di dalam tasnya untuk menghubungi Ibu.
Padahal baru sehari berpisah, tapi rasa rindu di antara ibu dan anak ini sudah menumpuk saja. Namun, Ibu lega hanya dengan mendengar suara Erika saja Ibu sudah bahagia. Mengetahui kalau anak bungsunya sehat dan diperlakukan baik di kota orang, ibu sudah cukup bahagia.
"Semoga lelahmu diberkahi Allah ya, Nduk," doa Ibu untuk Erika.
"Amin, Bu. Matur nuwun (terima kasih) doanya nggih, Bu," sambut Erika. Dia percaya kalau doa ibu adalah salah satu syarat untuk mempermudah jalannya untuk menuju kesuksesan.
"Masmu mana, Nduk? Ibu mau ngomong sebentar," kata Ibu meminta bicara dengan ALdin, anak sulungnya.
"Sebentar ya, Bu." Erika berdiri dari tempat duduknya. Jo melirik sejenak, tapi tidak menegur.
Erika menapaki langkah keluar dari ruangan kerja Jo dan beralih ke satu ruangan yang ada di seberang sana. Ruangan yang tergantung sebuah tulisan di pintunya, "Aldin Wijaya, Assisten Pribadi CEO."
"Mas, ini Rika," serunya setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Sabar nggih, Bu," ucap Erika meminta Ibunya untuk menunggu.
Sekitar satu menit berdiri di depan pintu, tapi si empunya tak juga menyahut apalagi membuka pintu. Erika nekad dengan nyelonong masuk begitu saja tanpa ijin. Toh Aldin kan kakak kandungnya, pikir Erika saat ini. Jadi bukan lancang namanya kalau dia asal masuk.
"Mas!" seru Erika memanggil abangnya. Terdengar suara gemericik air dari balik bilik kecil yang Erika yakini itu adalah kamar mandi.
"Mas lagi pipis, Dek!" sahut Aldin dari dalam sana.
"Ibu mau ngomong sama Mas Aldin," seru lagi Erika.
"Iya, tunggu dulu!" sahut Aldin lagi berlomba-lomba dengan suara air yang mengalir dari dalam keran.
Erika menunggu Aldin menyelesaikan hajatnya seraya merebahkan dirinya di atas sofa empuk yang tersedia di sana. Lagi-lagi pujian untuk Jo keluar lagi dari mulutnya.
"Mas Jo itu baik banget, Bu. Ruang kerja Mas Aldin aja nyaman banget, beruntung ya Bu karena Mas Aldin bisa punya temen seperti Mas Jo," terang Erika sambil menyisirkan pandangan matanya ke setiap sudut ruangan kerja kakaknya yang super nyaman.
"Alhamdulillah, Nduk. Masmu harus banyak-banyak bersyukur," kata Ibu.
Ponsel Aldin yang tergeletak di atas meja berdering membuat Erika spontan memajukan badannya yang tadi bersandar nyaman di sandaran sofa.
Satu panggilan masuk dari seorang wanita. Dari fotonya bisa dipastikan kalau itu bukan Kirana, kekasih Aldin yang ada di kampung tetapi wanita lain. Seorang wanita cantik memakai topi dengan rambut pirang yang menjuntai dan bergelombang di ujungnya. Wanita yang sangat cantik yang tidak pernah Erika lihat selama ini. Aldin menyimpan contact perempuan tersebut dengan nama 'Sephia'.
"Ini siapa, ya?" Erika bertanya-tanya. Buruk sangka yang tadi sudah hilang kini mampir lagi dalam otaknya.
"Ono opo (Ada apa), Nduk?" tanya Ibu ingin tahu.
"Ndak ada kok, Bu," jawab Erika menutupi apa yang sedang dia pikirkan.
Telpon Aldin terus berdering, hingga si pemilik keluar dari kamar mandi. Erika seketika menjauhkan tangannya dari benda pipih itu ketika melihat abangnya sudah berjalan menghampirinnya.
"Ada telpon, Mas," kata Erika memberitahu.
Aldin terburu-buru mengambil handphone-nya dan menjauhkannya dari hadapan Erika. Aldin mereject panggilan tersebut dan beralih mengirimkan sebuah pesan ke orang tersebut agar tidak salah paham kenapa dia tidak mengangkat panggilannya.
"Kok dimatiin, Mas?" selidik Erika.
"Nggak apa, kok. Mana hpmu? Biar Mas bicara sama Ibu." Aldin terkesan mengalihkan pembicaraan, itu yang Erika tangkap. Gesture tubuh Al juga mengisyaratkan kalau ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan dari Erika.
Tidak lama, ponsel Erika sudah berpindah di tangan Aldin. Meski begitu Erika terus saja dihantui dengan berbagai banyak praduga.
Apa benar kata Mbak Kirana kalau Mas Aldin punya yang lain di sini? Aku kok jadi ndak enak hati begini to. Pikir Erika.