Allysa membawakan selimut tebal yang tersedia di ruangan Elgard, dia lalu menyelimuti Elgard dengan sepenuh hati.
"Saat itu hubungan kita memang belum selesai Elgard, aku meninggalkanmu secara sepihak tanpa menjelaskan apapun padamu. Maaf Elgard tapi aku bukan egois, hanya saja orang tuamu yang menginginkannya. Dan sekarang harusnya aku sadar, bahwa aku memang tidak pantas masuk lagi ke dalam hatimu. Diana, dia wanita yang sepantasnya kamu dapatkan" lirih Allysa dengan mata yang berkaca-kaca melihat nyenyaknya Elgard saat itu.
Sepenggal kisah mereka saat kuliah memanglah yang terindah yang pernah Allysa rasakan, bahkan sampai saat ini perasaan pada Elgard masih sama besarnya. Dia tidak tahu sehancur apa Elgard saat dirinya pergi begitu saja dan seakan membencinya tanpa alasan.
Allysa pun keluar dari ruangannya dan pulang saat itu. Sendirian menuju halte bus dan duduk disana dalam keheningan. Perlahan angin malam semakin menyadarkannya, bahwa ada batasan dirinya dan Elgard yang memang akan sulit sekali untuk dihancurkan.
"Mulai besok, aku harus bekerja dengan profesional. Ya aku harus berjanji pada diriku sendiri"
****
Mobil mewah Kevin sampai di parkiran rumah megahnya, saat dia memasuki rumahnya dia cukup terkejut saat tahu ada Diana di sana bersama ke dua orang tuanya.
"Kev? mana kakakmu, pulang ke rumahnya lagi?" tanya ibu Kevin yang berpakaian sangat mahal dengan raut wajah yang tegas dan ketus.
Diana tersenyum padanya "Kevin, ibu tanya lho?" ungkapnya.
Dia yang sejak tadi terdiam lalu duduk di kursi lainnya dan berhadapan dengan Diana "Dia masih di kantor, ayah bu aku dan Elgard memang tidak sedekat itu kita juga tidak memiliki banyak kesamaan. Tapi," Kevin menatapi Diana tak suka.
"Kenapa Kevin? jelaskan dengan benar" sahut ayahnya penasaran.
"Tapi Elgard jelas tak menyukai perjodohannya dengan Diana, jadi aku mohon biarkan Elgard memilih pasangannya. Dia sudah sangat berusaha untuk membuat perusahaan kita semakin maju, tolong beri dia kebebasan." tekan Kevin.
Diana menghela nafasnya lalu memutar bola matanya kesal. "Kevin, jangan mengatur 2 keputusan keluarga yang sudah dibuat. Keluarga Diana lah yang paling berperan besar dalam perusahaan kita-" marah ayah Kevin.
"Tidak ayah! Elgard yang paling berperan besar, jika dia tidak bisa mengurus semuanya meski dibantu perusahaan lain tetap saja semuanya akan kacau. Tapi Elgard bisa menyelesaikannya, jadi jangan atur kehidupan masa depannya biarkan dia bebas" tekan Kevin, untuk pertama kalinya dia membentak ke dua orang tuanya.
Ibu dan Ayah Kevin terdiam, mereka cukup terkejut dengan reaksi Kevin. Kevin pun bangun dari duduknya dan pergi. "Aku harap kalian memikirkan ini, percuma pernikahan berlangsung tapi tidak bertahan lama"
"Ayah ibu Kevin berubah kan? aku rasa itu karena wanita itu" lirih Diana menatap keduanya serius.
"Wanita? siapa?"
Diana terlihat sedih dan berkaca-kaca "Aku sudah yakin kalian tak mengetahuinya kan? Allysa datang ke perusahaan dia bekerja sebagai sekertaris Elgard, Allysa yang merupakan mantan kekasih Elgard saat kuliah" ungkapnya lalu menangis.
"Astaga, wanita itu kembali lagi? bukannya kita sejak dulu sudah mengancamnya untuk menjauhi Elgard" kesal ayah Elgard.
"Sayang, jangan menangis kami baru tahu ini dan secepatnya kami akan bertindak" jelas ibu Elgard yang lalu memeluknya.
Diana semakin histeris "Elgard berubah saat Allysa datang, dia menjadi pemarah dan sangat tidak suka kalau aku datang kesana. Begitupun dengan Kevin, aku tak tahu bagaimana Allysa mengelabui ke dua putra kalian. Dia sangat jahat"
"Sttt sayang, kami akan mengurusnya tenanglah" lirih ibu Elgard.
"Wanita itu memang tak tahu malu, kita harus buat dia mundur dari perusahaan atau kita alihkan dia ke perusahaan cabang" jelas Ayah Elgard dengan tatapan marah.
****
Malam kian larut, namun kini Elgard membuka matanya perlahan dia lalu memperhatikan ke sekelilingnya.
"Sial, aku masih ada di sini? jam berapa ini, bisa-bisanya aku terlelap" ucapnya lalu melihat selimut tebal itu.
"Apa Allysa tadi kemari? tapi kenapa dia tidak membangunkanku ya?"
****
Sementara itu Allysa baru saja sampai di rumahnya, keadaan sudah sangat hening dia fikir ibunya sudah terlelap namun rupanya dia menunggunya dan duduk di ruang tamu.
"Ibu ada apa? kenapa belum tidur" tanya Allysa yang terlihat khawatir.
Dia tersenyum manis lalu menyambut pelukan hangat Allysa "Ibu hanya merindukan putri ibu, setiap hari dia bekerja sampai malam demi ibu dan adiknya yang sama sekali tak bisa membantu. Maaf ya sayang" lirihnya.
"Stt ibu, tak perlu meminta maaf. Ibu dan adik cukup diam dan tenang saja yah, lagi pula pekerjaan Allysa yang sekarang tak seberat dulu" jelas Allysa menatapnya serius.
"Allysa ada yang ingin ibu tanyakan, sebenarnya ibu mencoba untuk melupakannya tapi entah kenapa ibu merasa harus menanyakan ini"
Allysa membenarkan duduknya dan menatap Lena serius "Ada apa bu?"
"Jangan-jangan" lirih Allysa dalam hatinya dengan perasaan mulai tak tenang.
Lena menarik nafasnya "Tadi siang bu Sekar dan bu Hanna datang kesini, mereka tiba-tiba bilang kalau ada sebuah video dewasa yang mengatas nama kan kamu di perusahaan dan katanya itu viral di kantor. Ibu gak percaya sih tapi ibu hanya ingin memastikan kamu gak ada masalah apa pun kan di kantor?" tanya Lena dengan tatapan serius.
Degup jantung Allysa berpacu sangat cepat, hal yang dia takutkan adalah ibunya melihat video itu. "Ibu, Allysa di kantor baik-baik saja kok tidak ada masalah. Bagaimana mereka bisa menyebarkan berita itu, memang ada buktinya?" tanyanya serius.
"Awalnya mereka ingin melihatkan video itu pada ibu, tapi tiba-tiba katanya linknya tidak bisa di akses. Lagi pula ibu percaya sama kamu Allysa, ibu yakin kamu tidak akan berbuat hal-hal seperti itu" jelasnya lalu tersenyum hangat padanya.
Allysa segera memeluk ibunya dengan erat "Ibu memang yang paling memahamiku" lirihnya.
"Selalu sayang"
***
Pagi hari sekali, mobil Kevin terparkir di depan rumahnya Allysa. Dia mengetuk pintunya dan disambut hangat oleh Lena.
"Eh nak Kevin ya? sebentar Allysa nya masih di kamar, lagi siap-siap" semangatnya.
Kevin mengangguk "Ya bu lagi pula ini masih pagi, saya menunggu saja disini ya" ucapnya lalu duduk di kursi yang tersedia di teras rumahnya.
"Oke nak Kevin sebentar ya ibu buatkan teh, kopi atau s**u?" tanyanya.
"Ehm bu tidak usah"
"Ayolah nak Kevin, teh, kopi atau s**u?" tekan Lena dengan senyuman yang seakan memaksanya.
Kevin pun tersenyum dan segera mengangguk "Baiklah, teh saja bu"
"Baik" Lena segera masuk ke rumahnya lagi dan menyiapkan teh untuk Kevin.
Disaat itu, dua orang tetangga bu Sekar dan bu Hanna melewat ke rumah Allysa mereka terlihat sangat penasaran dengan kehadiran Kevin pria muda tampan dan memiliki mobil mewah.
"Ini nak Kevin" Lena menyiapkan tehnya di meja.
"Terima kasih bu" namun tatapan Kevin terlihat resah dengan ke dua ibu itu yang menatapnya penuh curiga meski mereka terlihat bersembunyi-sembunyi.
Lena tersenyum dan menggeleng "Nak Kevin, abaikan saja ya mereka memang selalu seperti itu" bisiknya.
"Oh ya baik bu"
Saat mengobrol dan menikmati tehnya bersama ibunya Allysa, Allysa pun datang ke arah mereka dengan sangat terkejut melihat Kevin berada disana.
"Eh kok ada Kevin? ibu kok gak bilang-"
"Gak papa Allysa lagian ini masih pagi kan?" senyum manis Kevin.
Lena pun mengangguk setuju dengan ucapan Kevin "Lagi pula yah kamu kalau dandan itu lama banget" godanya.
"Ih ibu, enggak kok" hal itu justru membuat Kevin dan ibunya tertawa.