Tuk.. Tuk..
"Ih siapa sih? masih ada orang di dalam, gak sopan banget" teriak Angela dari dalam toilet.
"Cepat keluar" ucap seseorang dari luar sana.
"Bu Diana pokonya saya gak mau tahu yah bu, jika sesuatu terjadi pada saya ibu harus tolong saya karena ibu juga terlibat" tekan Angela sedikit berbisik di ponselnya.
"Terlibat? sorry Angela, itu semua clear ide kamu kan? saya hanya memfasilitasi. stop saya sudah muak dengan Allysa, dan sekarang kamu sebodoh itu sampai bisa ketahuan?"
Brakk!
Pintu toilet terbuka begitu saja, Diana saat itu juga langsung mematikan sambungan ponselnya. Sementara Angela sangat ketakutan saat tahu yang di hadapannya saat ini adalah polisi.
"Pak bu, ada apa?" paniknya dengan mundur perlahan.
Namun polisi perempuan segera menarik tangannya kasar. "Anda Angela Pramudya kan? anda di tangkap karena kasus pembuatan video dewasa yang membawa nama Allysa dan merugikannya. Anda di tangkap dengan pasal berlapis" jelas polisi wanita tersebut dengan tatapan serius dan memborgol ke dua tangannya.
"Bu tapi saya tidak melakukannya, pak! saya tidak bersalah" teriak Angela yang menjadi bahan tontonan orang-orang di sekitarnya.
"Jadi dia orangnya ya? tega banget masukin wajah Allysa, mungkin dia cemburu karena tidak dipakai pak Elgard lagi"
"Haha dasar murah!"
Angela menatapi mereka marah "Diam kalian!" teriaknya.
"Stt anda jangan membuat keributan, mari ikut kami dan siapkan pengacara" ucap polisi wanita itu lagi, sementara ke dua polisi pria segera meringkusnya dengan kasar.
Angela dibawa keluar dari toilet dan semuanya menatap Angela dengan sedikit tawaan merendahkannya. "Pak tolong lepas, saya tak bersalah! saya hanya disuruh pak!" teriak Angela nyaring.
Elgard yang baru memasuki kantor lantas mendekat ke arah polisi dan berjabat tangan dengannya. "Terima kasih pak bu" senyumnya.
"Pak Elgard, terima kasih" senyum Allysa yang datang padanya.
Kevin yang memperhatikan senyum lega Allysa hanya terdiam dan berlalu pergi, jujur saja perasaannya sakit karena senyuman Allysa pada Elgard jelas berbeda saat bersamanya.
"Allysa awas kau" tekan Angela.
"Berhenti Angela, saya akan menambah hukumanmu jika kau berani kembali menganggu Allysa" jelas Elgard menunjuknya dengan penuh kebencian.
Angela menggeleng "Pak saya tidak salah pak, saya hanya-" dia terdiam saat itu juga ketika melihat Diana datang ke dalam dengan tatapan yang seakan mengancamnya untuk diam.
"Berhenti Angela! pak secepatnya bawa dia" perintah Elgard lalu segera di turuti oleh mereka.
"Baik pak Elgard, terima kasih atas laporannya"
Elgard hanya mengangguk dan Angela pun berlalu pergi sembari melewati Diana yang baru saja datang dengan tatapan dingin.
"Sayang?" semangat Diana lalu segera merangkul tangannya. Beberapa karyawan memberi hormat pada Diana sembari berlalu pergi ke mejanya masing-masing begitu pun dengan Allysa yang kurang senang atas kehadirannya.
Sementara Elgard hanya tersenyum melihat tingkah Allysa yang terlihat mulai cemburu dengan kehadiran Diana.
"Hei sayang? kenapa senyum-senyum begitu?" tanyanya serius.
"Diana, kenapa kau datang dan pergi begitu saja ke kantor ini? apa kau tidak ada kerjaan?" tekan Elgard menatapnya tak suka lalu melepaskan tangannya.
Dia terlihat kesal "Jangan kasar begitu padaku sayang, beberapa bulan lagi pernikahan kita berlangsung" ucapnya lalu memegangi wajah Elgard dengan mengelusnya lembut.
****
"Bu Leni? Bu?" teriak seseorang yang berada diluar rumah Allysa meneriaki nama ibunya terus menerus.
Rumah sederhana yang terlihat asri dan nyaman itu tidak sama dengan lingkungan sekitarnya, para tetangga sering sekali membuat onar apalagi pada Leni yang memang terkenal janda cantik meski usianya terbilang masih muda, meski begitu dia mengidap penyakit yang lumayan berat sehingga hal itu membuatnya tak bisa bekerja lagi seperti dulu.
Leni keluar dari rumahnya dan cukup terkejut saat melihat dua ibu-ibu tetangganya yang terlihat akan membawa berita besar padanya.
"Ada apa ya ibu-ibu?" tanya Leni dengan tatapan yang malas.
"Bu tahu tidak? putri ibu Allysa, dia punya skandal besar. Astaga, pantas saja dia bisa diterima di perusahaan besar"
"Ya ternyata kecurigaan kita sejak awal betul kan bu? Allysa itu pasti berbuat kotor haha, makanya bisa jadi sekertaris di perusahaan besar. Haduh tapi aku gak habis fikir sama Allysa dia cantik tapi bisa-bisanya menjual dirinya- ups"
Leni mengerutkan keningnya dengan tatapan yang serius "Maksudnya apa ya? hati-hati bu jangan sembarangan ya" kesalnya.
"Bu Leni jadi belum tahu ya? Allysa punya skandal besar video dewasanya menyebar di kantornya, dia tidur sama kakek-kakek" tawa ibu itu puas.
Ibu Leni membuang wajahnya tak percaya sembari tersenyum tipis "Kalian ini selalu mengkhayal dan menjelek-jelekan Allysa, sebenarnya apa masalah kalian?" kesalnya.
"Baik bu Leni kalau tidak percaya sebaiknya ibu periksa video ini, sebentar"
Ke dua ibu-ibu itu lantas sibuk mengotak-atik ponselnya mencari sumber video yang tadi mereka dapatkan. Namun tiba-tiba link tersebut terus menerus loading dan tidak bisa di buka.
"Ih kok ini gak bisa dibuka sih?"
"Tadi masih bisa lhoo"
Ibu Leni pun tertawa "Sudahlah bu ibu yah, saya tidak punya waktu untuk mengurus video-video seperti itu. Apalagi dengan berita yang belum jelas, maaf saya banyak kerjaan. Dan perlu saya jelaskan ya, Allysa putri saya itu anak yang baik-baik. Jika ibu-ibu merasa anak-anak ibu tidak bisa seperti Allysa, berarti mereka harus berjuang lagi bu" senyumnya.
Ke duanya terlihat kesal dan menatap kepergian Leni ke dalam rumahnya. Sementara ponsel mereka tiba-tiba error setelah mencoba terus menerus membuka link ilegal.
"Sialan, ponselku malah error dan panas begini"
***
Elgard duduk di ruangannya dengan santai, sembari mengecek beberapa berkas yang sudah dikerjakan karyawannya.
Kringg..
Ponselnya berdering, Elgard segera mengangkatnya.
"Halo pak, semua link yang menyebarkan video sudah kami hapus dan tutup permanen. Pekerjaan kami sudah sepenuhnya selesai." ucap seseorang di seberang sana.
Elgard tersenyum "Bagus, saya akan kirim uangnya sekarang bersama dengan 20 persen bonus untuk kalian karena pengerjaan yang cepat" jelasnya.
"Baik terima kasih pak"
****
Ruang tahanan yang cukup gelap dan berdebu, kini Angela terduduk disana dengan baju tahanan yang sama dengan orang-orang disekitarnya. Dengan perasaan benci dan dendam yang semakin bertambah, sejak tadi dia menunggu kedatangan Diana untuk bisa menolongnya namun nyatanya itu hanyalah angan-angannya.
"Sialan, Diana yang diuntungkan atas semua itu. Dia tidak dihukum sepertiku, dan bahkan dia tidak menyelamatkanku" tekannya kesal.
"Awas saja Diana, kau akan mendapatkan balasannya saat aku sudah keluar nanti. lihat saja, akan aku tunjukan uangmu tak akan bisa menyelamatkanmu dariku" teriaknya marah.
Beberapa tahanan yang tidur di belakangnya menatapnya kesal, karena mereka tadi tertidur dengan nyenyak.
"Heh anak baru, belagu banget lu?"
"Berisik t***l!"
Ke tiga wanita berbadan besar itu lantas mendekat ke arahnya, menarik rambutnya kasar dan menyeretnya hingga ke tembok.
"Ampun bu, maapkan aku" lirihnya takut.
Bugh! beberapa tonjokkan mendapat di pipi Angela.
"Kurang ajar ya lu! berani-beraninya bilang kita bu? kita disini bos nya!" teriak mereka bertiga yang terus menerus menyiksa Angela.
****
Waktu menunjukkan semakin larut, seperti biasa Allysa bekerja sampai larut. Setelah menyelesaikan berkas-berkasnya, dia lalu berdiri dan mengingat Elgard.
"Apa dia masih di ruangannya ya? aku belum berterima kasih dengan benar padanya" lirih Allysa lalu segera bergegas padanya.
Sebelum itu Allysa membuatkan kopi terlebih dahulu untuk Elgard, setelah masuk ke ruangannya rupanya dia masih ada disana dan tertidur di mejanya lagi dan lagi.
Allysa mendekat padanya dan menyimpan kopi hangat itu di mejanya, dia perlahan tersenyum melihat terlelapnya Elgard di meja kerjanya.
"Kau tertidur pulas di meja? kau selelah itu ya El?" ucapnya.
Dia melihat sebuah data yang tergeletak di sampingnya, sebuah data di tahun sebelumnya dimana perusahaan ini hampir bangkrut namun melalui pinjaman yang besar dari perusahaan Diana membuatnya bangkit kembali sampai sekarang.
"Jadi, Diana memang sangat berperan besar untuk keluargamu ya Elgard. Harusnya aku jangan membuat hubungan kalian renggang, maafkan aku"