"Kev? tadi ibu ngomongin apa aja?" tanya Allysa menatapi Kevin serius.
Sementara itu Kevin yang sedang mengemudi mobilnya santai menatapi Allysa bingung "E-engga ngomong apa-apa sih, emangnya kenapa?"
"Tadi malam ibu nanyain soal video itu, dia tahu dari tetangga yang nyebelin tapi untung videonya gak bisa di akses dan ibu pun gak mikir apa-apa lagi. Cuma, dia khawatir tapi aku bilang semuanya baik-baik aja" jelas Allysa dengan tatapan sendu menatapi jalanan yang masih sepi dengan cahaya matahari yang baru sebagian menyinari.
Kevin menghela nafasnya "Kamu pasti khawatir ya? tapi ibu Lena gak bicara apa-apa sih"
"Hm syukurlah"
Mobil menepi dan membuat Allysa terlihat kebingungan menatapinya. "Ada apa Kevin?"
"Allysa sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan" lirihnya tertunduk, mengumpulkan niatnya.
"Hah? apa? katakan aja, kamu keliatan serius gitu" senyumnya merasa canggung.
Dia lalu menatapi Allysa "Soal Elgard, aku ingin kamu dan dia kembali bersama dan akan mencoba menyatukan kalian lagi" lirihnya.
Meski dalam hati Kevin ada sesuatu hal yang dia simpan begitu dalam, hingga membuatnya sakit saat mengatakan hal itu.
"Apa? kenapa Kevin, tidak perlu lagian kami sudah lama putus"
"Aku tahu, tapi Elgard masih sangat mencintaimu Allysa. Dulu aku sangat acuh pada Elgard, aku fikir dia adalah anak yang keras kepala saat dia sekolah dia sangat malas berbeda denganku. Tetapi sekarang aku sadar setelah semua perjuangan dia di perusahaan, tapi orang tua kami malah menjodohkannya dengan Diana. jujur aku tak suka Diana dan hal itu pun tak adil bagi kakakku" jelas Kevin.
Allysa menghela nafasnya panjang "Tidak Kevin, aku tidak ingin masuk lagi ke kehidupan Elgard aku tidak ingin membuat runyam lagi. Jadi lebih baik aku benar-benar menutup hatiku untuknya"
"Kau serius?" senyum Kevin yang disisi lain merasa ada kesempatan untuk dirinya.
Dia pun mengangguk "Ya, aku rasa sejak awal kami memang tak seharusnya saling mencintai"
"Meski memang nama Elgard akan sulit aku hapus di hatiku" lirih Allysa dalam hatinya.
Setelah itu pun Kevin kembali mengendarai mobilnya dengan perasaan yang sangat senang. "Allysa, minggu depan kau pergi kemana?"
"Hm sepertinya belum ada rencana"
"Ikut bersamaku ya?" senyum Kevin menggemaskan.
"Hah? kemana?"
"Nanti aku beri tahu"
****
Elgard menyuruh Allysa datang ke ruangannya, dia ingin menanyakan tentang selimut itu.
"Pak Elgard? mencariku?" tanya Allysa sangat formal.
"Ya, semalam kau kesini Allysa?" tanyanya dengan tersenyum manis.
Dia mengangguk cepat "Ya"
"Terima kasih sudah menyelimutiku, semalam aku kedinginan sekali kenapa tak memelukku?" goda Elgard lalu mendekatinya.
Namun langkah Allysa segera mundur dan menjauh darinya "Pak Elgard saya mohon profesional lah" lirihnya menunduk.
"Kenapa tiba-tiba Allysa? kau berubah? ada apa?" tanya Elgard serius lalu semakin mendekatinya.
"Pak Elgard aku mohon ini di kantor dan hubungan kita sebatas atasan dan bawahan" jelas Allysa dengan tatapan memohon padanya.
Elgard menyudutkan Allysa ke dinding, lalu saat itu pun dia mengunci pintunya. "Pak" lirih Allysa lagi.
"Allysa sebenarnya ada apa? aku masih sangat mencintaimu dan kau pun sama kan?" tekannya.
"Elgard! hubungan kita ini gak mungkin, kamu itu sudah punya tunangan dan beberapa bulan lagi kalian akan menikahkan? aku gak mau jadi penghancur hubungan kalian" tekan Allysa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dia menghela nafasnya dan membuangnya pelan "Allysa dengar, aku akan mengakhiri semua ini sejak awal, aku memang ingin membatalkan semuanya dengan Diana karena aku tak mencintainya. Meski kau tak datang secepat ini, aku akan pergi mencarimu" lirih Elgard dengan nada yang gemetaran.
"Tidak Elgard, aku tak ingin masuk ke duniamu. Aku hanya ingin bekerja disini, cukup. Tolong profesional ya" tekan Allysa dengan tatapan mengancam padanya.
"Tak bisa, aku tak mau seperti itu Allysa. setelah bertahun-tahun kau meninggalkanku, kau tak akan bisa meninggalkanku lagi" ucap Elgard lalu memeluknya erat, namun Allysa segera melepaskan pelukannya.
"Aku serius Elgard, disini aku hanya ingin bekerja. Jadi aku mohon jangan membuat pekerjaanku terancam hanya karena kita saling mencintai" lirih Allysa.
Elgard menatapnya serius "Siapa yang mengancammu? Apa Diana?"
"Tidak Elgard itu hanya ketakutanku, aku dan kamu jelas berbeda. Jadi mohon jangan menyentuhku lagi, dan menikahlah dengan Diana." Tekan Allysa.
Dia menggeleng "Kita masih saling mencintai Allysa jadi tidak ada hal lain yang lebih berharga untukku dari pada itu semua"
"Aku sudah berhenti mencintaimu Elgard, dan ada seseorang yang mengisi hatiku saat ini" tatapan tajam Allysa terlihat sangat serius.
Elgard menggeleng dan memegangi ke dua bahu Allysa kasar. "Semua yang kau katakan bohong kan? Kau itu selalu milikku Allysa"
"Berhenti, aku benar-benar serius" Allysa menjauhkan ke dua tangan Elgard yang mulai goyah.
"Apa Kevin? Adikku?" Tanya Elgard dengan matanya yang sudah berkaca-kaca deru nafasnya terdengar sangat berat. Setiap detik dia menunggu jawaban itu keluar dari mulut Allysa, meski sekarang hatinya sudah sangat teriris.
Allysa terdiam beberapa saat lalu menatapi Elgard dengan serius "Siapapun itu, kau tak berhak tahu pak Elgard Samudra karena itu semua diluar pekerjaanku" jelasnya.
"Kau serius Allysa? Setelah semua yang aku lakukan untuk menyelamatkanmu dari tuduhan itu? Kau malah bersama Kevin?" Emosi Elgard sudah meluap dia menghela nafasnya panjang lalu mendorong meja hingga berantakan.
Allysa segera keluar dan membuka kunci ruangannya, saat itu pun air matanya juga berjatuhan sangat deras. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan hubungan ini dengan Elgard. Tetapi yang pasti dia hanya ingin pekerjaannya tetap bertahan.
Tiba-tiba seseorang menarik tangan Allysa dan membawanya dengan paksa menuju ke balkon perusahaan di lantai lain. Meski Allysa mencoba berteriak namun pria lain di belakangnya juga menutup mulutnya.
Tangan Allysa terlihat sangat merah setelah ditarik paksa oleh seorang pria berbadan besar. "Kalian siapa?" Tanya Allysa takut pada ke dua pria itu setelah membuka mulutnya.
"Bos, dia Allysa" ke dua pria itu lalu meminggir dan menampilkan dua sosok manusia yang paling Allysa tak ingin temui.
Ibu dan ayah Elgard yang dulu pernah mengancamnya untuk putus dengan Elgard hingga mengancam akan menculik ibu dan adiknya.
Allysa mundur perlahan dia terlihat sangat takut dan gemetar. "Kamu itu masih engga tahu malu ya?" Sinis ibu Elgard yang selalu berpakaian nyentrik dan mahal.
"Bu saya tidak tahu ini perusahaan Elgard, saya benar-benar tidak tahu. Kami tidak ada hubungan apa-apa lagi bu" lirih Allysa lalu menangis setelah semua perasaannya berhasil mereka hancurkan saat itu dan kini.
"Kamu bilang tidak tahu? Lalu setelah kamu tahu kamu masih disini? Kenapa engga resign, kamu tahu kan kamu itu gak sebanding dengan Elgard" tekan ibu Elgard lalu mendorong Allysa.
"Bu saya mohon maaf, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini ibu dan adik saya sakit" lirih Allysa yang terjatuh lalu memegangi kaki ibu Elgard.
Ibu Elgard menatapi suaminya "Bagaimana?"
"Yah mau bagaimana lagi, karena kami berbaik hati kami akan memindahkan kamu ke cabang lain yang jaraknya jauh dari perkotaan sini. Kami tidak ingin kamu menghancurkan rencana pernikahan Elgard dan Diana paham?" Tekan ayah Elgard.
Allysa segera mengangguk "Baik pak, akan saya lakukan terima kasih" tangisnya.
"Tapi kau harus berjanji untuk tidak menemui Elgard lagi sampai kapanpun" tekannya.
"Baik pak"
"Untuk perpindahannya akan dilakukan hari besok, akan ada biaya tambahan untuk kamu mencari tempat tinggal disana" jelas ibu Elgard.
"Terima kasih bu"
"Tapi bagaimana dengan ibu dan adik saya" Allysa terlihat sangat khawatir.
"Kau bisa menemuinya saat libur kan? Ayolah jika kamu membutuhkan pekerjaan ya harus siap dengan konsekuensinya" kesal ayah Elgard.
"Ba-baik pak"