Tak lama beberapa mobil polisi datang, segera menyergap mereka yang sudah melecehkan Allysa. Setelah video dewasa Allysa beredar mereka begitu saja menganggunya dan menganggapnya w************n.
"Pak tolong pak maafkan saya pak, istri dan anak saya pasti menunggu saya pulang" teriak seorang karyawan Elgard dengan tangisan palsu sebelum dia berhasil dimasukan ke dalam mobil.
"Baru sekarang dia menyesal dan membawa nama istri dan anaknya" kesal Elgard lalu membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam.
Di dalam mobil Allysa terlihat masih sangat ketakutan dengan menangis tersedu-sedu. Elgard menatapnya khawatir dia lalu membawa jas yang tadi sudah dia buka dan menyelimuti Allysa.
"Bagaimana bisa mereka menganggumu?"
"Saat aku pulang lembur, mereka sedang duduk disana sambil merokok lalu mulai mengangguku dan semakin keterlaluan. lalu mereka bilang videoku sangat hot dan membuat mereka tergoda, aku di tarik hingga terjatuh dan mereka memegangi pay-" tangisan Allysa pecah belum sempat selesai dengan kata-katanya. Elgard segera memeluknya erat dan mengusap kepalanya sangat lembut dengan sepenuh hati, hal yang tak biasa Elgard lakukan pada wanita manapun.
"Mereka sangat keterlaluan, memang patut mereka masuk penjara" kesal Elgard dengan nafas yang naik turun.
"Aku tak tahu video itu sudah menyebar sampai kemana, bahkan mereka mempunyai videonya dan memperlihatkannya padaku. Bahkan kau juga Elgard? percaya itu aku kan?" tanya Allysa dengan tatapan yang sangat serius.
Elgard menggeleng "Sejak awal aku tahu itu bukan kau Allysa, hanya saja aku tak bisa mengontrol emosiku dan hanya memikirkan kondisi perusahaan jika rumor itu beredar. Karena hal itu akan mengancam kariermu Allysa, kau bisa dipecat secara tidak hormat meskipun itu bukan kehendakku" jelasnya dengan tatapan khawatir.
"Jadi kau mengkhawatirkan pekerjaanku" lirih Allysa.
"Ya, bukannya ibu dan adikmu sangat membutuhkanmu?"
Allysa secepatnya mengangguk saat itupun tangisannya kian pecah. "Maka berhentilah menangis dan lawan mereka yang memfitnahmu, sekarang pulang denganku Allysa kita akan cari pelakunya"
Dia hanya mengangguk dengan raut wajah lebih kuat dari sebelumnya, Allysa menatapi Elgard penuh harap. "Terima kasih El" lirihnya.
Sementara itu seorang gadis berdiri di belakang semak-semak, setelah mobil polisi pergi dia pun keluar dari sana dan terlihat sangat kesal memperhatikan mobil Elgard yang sudah jauh dari hadapannya.
"Kurang ajar, mereka malah ketangkap? dasar engga becus. Dan pak CEO apa kau yakin akan memilih Allysa dari pada aku?"
"Bukankah kau yang bilang bahwa tubuhku ini candu pak?"
"Sialan!" Angella menjerit kencang dan membuat orang-orang yang melewat menatapnya aneh.
"Akan aku pastikan Allysa pergi dari kehidupan Elgard bagaimana pun caranya" teriaknya lagi.
***
Allysa turun dari mobil mewah Elgard, pintunya dibukakan oleh sang CEO. Dia pun turun dengan masih mengenakan jas mewah Elgard.
"Ini rumah siapa?" tanya Allysa sedikit ragu dan takut.
"Tenang ini rumah pribadiku" ajaknya lalu dia meraih tangan Allysa dan membawanya ke dalam.
Mereka memasuki area kamar Elgard yang dipenuhi dengan aroma mint nya yang khas. Allysa menatapi kamar megah itu dengan tatapan yang takjub pasalnya kamarnya sangat rapi, semua buku tersusun rapi, dengan sentuhan lukisan-lukisan klasik.
"Kau suka kamarnya?" tanya Elgard tersenyum manis.
"Ya, sangat rapi dan wangi"
"Kau bisa memilikinya" jawab Elgard yang langsung membuat Allysa menatapnya bingung dan sedikit menyipitkan matanya.
Elgard lalu tertawa kecil "Ya jika kau menikah denganku suatu saat, kita akan memiliki kamar ini bersama-sama" ucapnya lagi berhati-hati.
"El, kau sudah punya tunangan sadar itu" tekan Allysa sedikit memelototinya.
"Aku tidak akan pernah menikahi Diana, Allysa. Tidak akan pernah"
Tuk.. Tuk..
"Pak, datanya sudah lengkap" ucap seseorang dari luar sana.
Elgard menatapi Allysa serius "Kau sudah siap Allysa?"
"Siap untuk apa?" bingung dia lagi dan lagi.
"Untuk mengetahui siapa pelakunya"
Mereka pun sampai di ruangan kerja Elgard, dia cukup terkejut saat tahu beberapa orang ada di ruangan kerja Elgard.
"El sebenarnya ada apa ini?" tanya dia masih bingung.
Orang suruhan Elgard pun menunjukkan video dewasa yang aslinya, jelas bukan Allysa di dalamnya.
"Ah apaan itu" panik Allysa lalu menutup mukanya segera.
Elgard pun mempause videonya "Allysa jelas video itu adalah editan dan video barusan adalah versi aslinya, aku sudah menyuruh mereka untuk mencari tahu siapa dalangnya"
"Pak kami sudah mendapatkan datanya dengan lengkap, mohon di cek" ucapnya lalu menunjukkan sebuah profil media sosial dan alamat lengkapnya.
Allysa dan Elgard sangat terkejut saat membaca semua datanya. "Jadi dia-" Allysa mundur dan membuang wajahnya kesal.
***
Malam yang begitu hening, yang terdengar hanyalah suara jam yang setiap detik menemani Allysa. Dia kini terbaring di kasur mewah milik Elgard atasannya.
Namun sejak tadi matanya tidak bisa terpejam, dia sendiri di ruangan megah itu tanpa siapapun lagi di sisinya. Allysa menatap ke atap dimana sebagian diatasnya hamparan kaca sehingga terlihat bintang-bintang indah disana.
"Kalian terlihat tenang, sama sepertiku. Tapi nyatanya kita berbeda, pikiranku kacau video itu sudah menghancurkan harga diriku. Video yang bahkan tidak pernah aku lakukan, namun semua orang kini mengetahuinya seakan benar-benar akulah yang melakukannya"
"Tatapan mereka, hinaan mereka, sanggupkah aku berjalan lagi diatas muka bumi? meski pelakunya tertangkap mungkin tetap saja di bayangan mereka akulah yang melakukan hal menjijikan itu"
Allysa terbangun, dia mengenakan kaos oblong putih milik Elgard. Dia lalu keluar dari kamar Elgard dan duduk di balkon, melihat pemandangan malam yang jauh lebih jelas lagi. Air matanya kembali terjatuh begitu saja.
"Yang paling aku takutkan adalah kekhawatiran ibu, bagaimana jika beritanya sampai pada ibu? bagaimana dia tahan dengan orang-orang di sekitarnya?" tangisannya mulai terisak.
Suara langkah kaki terdengar mendekat kearah Allysa, Elgard datang dan duduk di sebelahnya membawakan segelas s**u hangat untuknya.
"Hei? kenapa menangis lagi?" Elgard berjongkok di hadapannya dan menatapi Allysa dari bawah sana. Tangan kekarnya menghapus air mata yang sudah membasahi pipi Allysa.
"Hidupku tetap hancur Elgard meskipun pelakunya tertangkap, harga diriku tidak apa-apanya buat mereka. Dan.. bagaimana jika ibu mengetahuinya" tangisannya makin pecah dia menutup wajahnya dengan ke dua tangannya.
Elgard dengan cepat memeluknya erat "Sudah Allysa, tidak akan ada yang merendahkanmu lagi. Aku akan pastikan kau aman, begitupun dengan ibumu ya?"
"Bagaimana caranya Elgard?"
"Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan Allysa, kau tenang saja dan serahkan semuanya padaku" jelas Elgard menenangkannya lagi.
Besoknya...
Allysa segera di datangi oleh Eve dan Sarah yang baru tahu tentang kejadian kemarin malam dari cctv kantor, dan hal itu menyebar ke seluruh perusahaan. Banyak yang menyayangkan kejadian itu, namun tak sedikit pula yang merasa Allysa beruntung karena sudah di selamatkan Elgard.
"Kau yakin gak papa Allysa?" tangis Sarah segera memeluknya.
Eve mencoba menahan air matanya namun tetap saja terjatuh "Astaga Allysa, aku sangat khawatir, tapi untuk saja pak Elgard menolongmu" tangisnya.
"Sudahlah, aku sudah baik-baik saja"
Angela yang melewat sengaja menabrak bahu Allysa hingga membuatnya hampir terjatuh. "Hei jangan kurang ajar Angela, kau sengaja kan?" marah Sarah memelototinya.
"Sorry, barusan aku buru-buru banget" senyumnya mengejek kemudian berlalu pergi.
"Tak apa kok, setidaknya hari ini aku sudah lega karena sudah mengetahui pelaku pengeditan video itu dan pak Elgard sudah menyerahkan laporan itu ke polisi" ungkap Allysa yang sontak membuat langkah Angela terhenti.
Semua orang di samping Allysa sangat senang mendengarnya. "Syukurlah, setidaknya dia harus dihukum Allysa namamu sudah hancur gara-gara dia"
"Ya dia harus dipenjara maksimal 30 tahun"
"Astaga? apa barusan aku gak salah denger?" panik Angela dalam hatinya dan segera bergegas menuju toilet.
Kevin yang baru datang lantas menemui Allysa "Hai, Kak Allysa? apa kau sudah lebih baik?" tanyanya serius.
"Hai Kevin, panggil nama saja ya?" senyum Allysa sangat manis, membuat Kevin tak bisa berhenti berdebar.
"Ya Allysa, oh ya maaf kemarin malam aku tak bisa membantumu aku pergi jadi-"
"Tak apa Kevin, kakakmu berhasil menyelamatkanku" senyum Allysa yang tanpa dia sadari sangat melukai hati Kevin.
Eve dan Sarah hanya menyaksikan kisah cinta segitiga ini dengan tersenyum-senyum. "Sabar Kev, next time pasti ada kesempatan lagi" bisik Eve.
Beberapa polisi datang dan cukup mengejutkan para karyawan. "Kami mencari saudari Angela Pramudya"
"Dia tadi ada disini pak, sepertinya ke toilet" jawab salah seorang karyawan.
Eve dan Sarah menatapi Allysa terkejut "Jadi Angela pelakunya? astaga!"
"Ya dia pelakunya"