Kevin datang ke ruangan Elgard dengan tergesa-gesa. "Elgard berhenti, apa-apaan kau malah menyudutkan Allysa seperti ini? jelas-jelas dia adalah korban, kau harus bisa menilai suasana jangan terus bersikap arogan dan jahat pada karyawanmu" marah Kevin.
"Semuanya kacau Kevin" lirih Allysa menangis, Kevin lalu memeluknya erat.
"Tenang Kak Allysa aku akan mencoba mencari siapa pelakunya" ucapnya.
Elgard menjauhkan Kevin darinya dengan kasar "Kau jangan mencari kesempatan Kevin, aku yang akan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini" tekan Elgard.
Dia lalu memegang tangan Allysa erat "Allysa maafkan aku, aku tak bisa mengontrol emosi dan semuanya-" Allysa melepaskan tangan Elgard.
"Kau tak percaya padaku Elgard" lirih Allysa lalu pergi dari ruangannya.
"Kau lihat? bahkan Allysa pun sekarang sudah sadar bahwa kau hanyalah orang egois dan arogan Elgard" tekan Kevin lalu pergi.
Dia sangat kesal lalu mengacak-acak rambutnya "Kurang ajar!"
Saat Allysa kembali ke ruang kerjanya beberapa rekannya menatapnya jijik dan sesekali menertawakannya, entah mengapa video yang jelas bukan dirinya begitu terlihat realistis.
Kevin berjalan di belakang Allysa dan menatapi semua rekannya dengan tatapan yang marah.
"Allysa kau tak apa?" tanya Eve dan Sarah khawatir dan mendatanginya ke mejanya.
"Entahlah semuanya menuduhku" dia pun tertangis tersedu-sedu.
Kevin berdiri di depan menghadap ke semua rekan kerjanya. "Miris sekali ya di saat ada rekan kerja kalian yang dituduh dengan bukti yang tidak akurat, kalian malah mencemoohnya"
"Bagaimana perusahaan ini akan berkembang semakin maju jika dari dalamnya saja sekacau ini, kalian tak bisa mendukung tim kalian bahkan mungkin saat bekerja. Kalian sungguh tidak profesional, saya sangat kecewa" tekan Kevin dengan tatapan dingin.
Semuanya terdiam begitu saja lalu menatap Allysa yang sedang menangis dengan tatapan bersalah "Pak saya minta maaf"
"Kami hanya menyangka itu dia"
Kevin tersenyum sinis "Jika memang dia apa urusannya dengan kalian? itu privasi dia, dan saya pastikan video itu 100% AI saya akan mengambil jalur hukum dan mencari dalang di balik semua ini"
"Benar, kita sudah keterlaluan. Kita juga punya kehidupan dan kesalahan, dan jika memang itu bukan Allysa kita sangat menjijikan"
"Allysa maafkan kami"
Mereka mengumpul di meja Allysa dan memohon maaf padanya, Angela yang awalnya hanya diam dan duduk lantas ikut-ikutan dengan yang lainnya.
"Kami juga akan membantu sebisa kami tentang video itu"
"Ya kita akan bantu"
Eve dan Sarah pun merasa sangat lega, begitu pun Allysa menghapus air matanya dan tersenyum. "Terima kasih semua"
***
Di sebuah restoran Italy yang bernuansa klasik dan mahal, Elgard menunggu seseorang disana dengan raut wajah marah dan menggerutu.
Saat orang yang dia tunggu datang, dialah Diana dengan tampilan cantik dan anggun berkelas. Dengan senyum merekah di wajahnya dia lalu duduk di depan kursi Elgard.
"Ada apa tiba-tiba menelpon calon suamiku?" ucapnya sumringah.
"Aku tidak ingin basa-basi Diana, apa kau yang menyebarkan video itu ke seluruh karyawan perusahaan?" tekan Elgard dengan tatapan yang nyaris menelan Diana.
Diana mengerutkan dahinya dia terdiam sebentar lalu akhirnya tertawa "Astaga kau membicarakan video apa Elgard? apa video mu dan selingkuhan-selingkuhanmu? siapa lagi? wanita mana lagi?" tanya Diana dengan memutar bola matanya kesal.
"Kau jangan pura-pura tidak tahu Diana, kau pasti dalangnya kan? itu memecah belah perusahaan Diana dan bisa membuat kami merugi" tegas Elgard lagi.
Dia menghela nafasnya berat "Astaga Elgard kau selalu menyudutkan lawan bicaramu, apa kau tidak bisa santai dan berfikir logis?" kesalnya.
"Entah kenapa aku bisa mencintai lelaki se arogan dirimu" ungkapnya lagi lalu meminum jus yang sudah Elgard pesan.
"Jika bukan kau siapa lagi Diana, kau selalu pandai berbohong"
"Berhenti Elgard mari ganti topik pembicaraan, kapan pernikahan kita akan segera dimulai? aku dan ayahku sepakat untuk segera di percepat" tegas Diana.
Elgard mengacak-acak rambutnya kesal "Persetan dengan pernikahan kita Diana"
"Wait, apa maksudmu Elgard? kau tak bisa main-main denganku sayang apalagi dengan ayahku"
"Apa itu karena wanita itu? baiklah jika dia memang penghalang hubungan kita, aku akan meminta ayahku untuk menyingkirkannya" senyum Diana tajam.
Dia menatapi Diana marah lalu mencengkram ke dua bahu Diana keras "Kau jangan ikut campur Diana? kau hanya tumbal ayahmu, kau tidak apa-apanya dimataku dan soal ayahmu aku yang akan menyingkirkan dia" tekannya marah dengan menyisakan bahu merah Diana.
"Sa-sakit Elgard" kesal Diana mencoba menjauhkan tangannya.
Elgard lalu mendorongnya dan pergi begitu saja meninggalkan Diana. Sorot mata Diana terlihat begitu dendam padanya. "Entah terbuat dari apa hatiku Elgard, bisa-bisanya aku masih berharap pernikahan kita akan berlangsung dan aku masih mencintaimu dengan sangat" lirihnya sambil memegangi bahunya.
"Dia mulai mempunyai keberanian untuk melawan ayahku, aku yakin karena perempuan yang bernama Allysa itu. Aku harus benar-benar menyingkirkannya, video itu sama sekali tak membuat Elgard goyah akan perasaannya" tambahnya lagi.
***
Di ruang kamarnya Elgard terduduk di kursi kerjanya, menunggu beberapa orang yang duduk di sampingnya mereka sedang mencari pelaku pembuatan video AI.
"Masih berapa lama?" tanya Elgard dengan tatapan serius pada 3 orang itu.
"5 menit lagi pak"
Elgard menghela nafasnya perasaanya kacau sejak tadi Allysa malah pergi dengan menangis karenya.
"Pak sudah ketemu, video ini di edit oleh akun bernama @truelala" jelasnya
"Lacak alamatnya" perintah Elgard.
"Baik, mungkin akan memakan waktu 30 menit pak"
Elgard berdiri dan menggunakan jasnya "Ok selesaikan semuanya dalam 30 menit, nanti saya kembali" perintah El saat melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Siap pak"
***
Mobil Elgard berkendara cukup cepat menuju perusahaannya, dia khawatir pada Allysa sejak tadi.
"Selamat malam pak" sopan beberapa karyawan yang masih bekerja lembur disana.
"Apa Allysa masih ada?"
Mereka saling bertatapan "Sepertinya sudah pulang pak"
"Kalau Kevin?"
"Oh kalau pak Kevin sejak siang dia pergi, sepertinya ada kunjungan"
Elgard pun mengangguk dan sedikit lega "Sebaiknya begitu"
Dia lalu bergegas untuk kembali pulang, namun di depan mobilnya terlihat Angela yang menunggu dengan senyum menggoda padanya. roknya yang minim melihatkan pahanya yang sangat mulus.
"Pak Elgard sayang" lirihnya terdengar seperti desahan.
"Hentikan Angela, aku tak ingin melihatmu sekarang" gerutunya.
"Ayolah pak, aku sangat merindukanmu" Angela mendekati Elgard dan mulai meraba d**a bidangnya dengan penuh gairah.
Elgard hanya terdiam, sementara Angela terus berusaha. "Ayo pak, sudah lama aku tak memuaskanmu" bisiknya.
"Kau pasti sangat merindukan aksi ranjangku kan? ayolah sayang" desahnya.
"Angela hentikan!" tegasnya lalu mendorong Angela menjauh darinya.
Dia terdiam dengan sedikit kesal, Elgard lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengabaikan Angela begitu saja.
Saat di perjalanan, dia melihat segerombolan pria yang sedang mengganggu seorang perempuan setelah Elgard lihat dengan seksama dia adalah Allysa.
"Kurang ajar!" marahnya lalu segera menghentikan mobilnya.
"Allysa!" teriak Elgard seraya membuka jasnya siap dengan pertempuran untuk cintanya.
Dia menoleh ke arah Elgard dan menangis histeris, kemejanya sudah sobek dengan menunjukkan branya yang hampir terlepas.
"Tunggu dia atasanku" panik seseorang yang merupakan karyawan perusahaan.
"Kurang ajar kau dari divisi 3 kan?" marah Elgard lalu berlari ke arah mereka dengan penuh amarah.
Elgard mulai menghantam mereka dengan membabi buta. "Allysa masuk kemobil" perintahnya dan segera dilakukan olehnya.
"Pak maaf pak saya hanya disuruh" ucap dia dengan penuh penyesalan, sementara Elgard terus berkelahi dengan 2 pria lain yang asing.
"Hei kalian hentikan dia atasanku, pekerjaanku bisa gawat" paniknya.
"Atasanmu?" mereka pun refleks berhenti tepat di saat pukulan keras mengenai kepala ke duanya dengan hanya satu gerakan tangan Elgard.
Semuanya pun terjatuh di jalanan dengan lemas. "Bukan hanya pekerjaan yang akan hancur, tetapi akan ku pastikan kalian masuk sel tahanan"