"Elgard! kau disana?" teriak Diana terus mengetuk pintu ruangan Elgard yang terkunci.
"Habis kau Allysa" senyum Angela yang berdiri di belakang Diana.
Diana terlihat sangat marah "Kalian cepat cari kunci cadangan" perintahnya pada ke dua asistennya.
"Baik"
Di seberang sana Kevin yang baru saja datang mencoba memahami apa yang terjadi saat ini, dia tahu betul apa yang Diana lakukan.
Kevin bergegas pergi menuju ke sebuah tempat yang seharusnya dia datangi. Ruang rahasia yang terhubung langsung ke ruangan Elgard.
Tak butuh waktu yang lama dia membuka pintu rahasia dan mengagetkan Elgard dan Allysa yang nampak di pangkuannya dengan pakaian yang berantakan.
"Kevin apa-apaan kau? tidak sopan" marah Elgard.
"Kevin" lirih Allysa tertunduk malu sembari membenarkan kemejanya.
"Diana berada di luar Elgard entah tahu dari mana dia mengetahui bahwa kalian sedang berduaan disini" jelasnya.
Elgard terkejut dan sangat kesal "Kau serius? wanita itu sangat mengganggu, sial aku harus cepat-cepat menyingkirkannya" kesalnya.
"Kak Allysa ikut denganku sekarang" ajak Kevin menarik tangannya.
"Maaf Allysa, aku tak ingin kau berada dalam situasi ini tapi semuanya rumit. Untuk saat ini ikut dulu bersama Kevin, dia akan menjagamu. Maafkan aku Allysa" ucap Elgard menatapnya penuh arti.
Namun bukan itu yang Allysa takutkan sekarang melainkan reaksi Kevin yang tampak masih terkejut "Ayo" ajak Kevin.
Allysa dan Kevin pergi ke ruang bawah tanah untuk bersembunyi disana, sementara tas dan barang-barang Allysa di meja sudah Kevin bawa sedari tadi.
Kini hanya keheningan diantara keduanya, di ruang bawah tanah yang cukup nyaman.
"Kak Allysa jika kau keberatan dengan yang Elgard lakukan seharusnya kau menolak" sahut Kevin serius dia seperti mencoba memendam amarah yang menyulut dalam dirinya.
"Sudah aku coba, tapi tidak bisa"
"Kau adalah orang yang paling Elgard cintai, setelah pendidikannya berakhir dia menjadi frustrasi dan selalu mencarimu. Lalu dia lampiaskan pada wanita-wanita semacam Angela. Tapi jati dirinya berubah, dia menjadi angkuh dan dingin" gerutu Kevin.
Allysa terdiam dan masih menunduk "Seharusnya sejak awal aku mengundurkan diri di perusahaan ini, tetapi di sisi lain aku sangat membutuhkan pekerjaan ini"
"Aku paham, aku hanya ingin kau dalam keadaan aman kak Allysa. Tapi melihat rasa cinta Elgard padamu yang jelas masih ada mungkin setiap hari di sini bukan hanya dari segi pekerjaan saja yang akan menekanmu, Diana akan terus mencari masalah"
"Ya aku tahu, seharusnya tadi aku kabur saat Elgard mendekat tapi-"
"Kau masih ada perasaan padanya kan?" lirih Kevin dalam hatinya.
Kevin tersenyum "Aku paham pasti sulit disituasi itu ya?" dia mendekat ke arah Allysa dan membuatnya terpaku.
"Apa yang dia lakukan?" gerutu Allysa dalam hati, memperhatikan ketampanan Kevin dari jarak yang cukup dekat.
"Kevin, ada apa?" tanya Allysa saat hidung Kevin menyentuh pipi Allysa.
Tangan Kevin menyentuh kepala Allysa lembut menghilangkan sebuah benang yang ada disana. "Ada benang di kepalamu" ujarnya lalu membuangnya.
***
Cklek..
Pintu ruangan Elgard terbuka lebar menunjukkan ruangan yang sepi dan gelap. "Elgard?" teriak Diana yang memang ruangan itu cukup luas.
"Pak Elgard sepertinya itu bu?" sahut Angela menunjuk ke arah sofa yang berada di ruang santai.
Mereka menuju ke sana dan Elgard sedang tidur di sofa itu sendiri. Diana menatapi Angela serius "Dia sendiri, kau membohongiku ya?" teriak Diana marah.
"Bu tapi tadi.."
"Kalian berisik sekali" gerutu Elgard kesal dan matanya masih tertutup.
Diana mendekat dan mengelus kepala Elgard lembut "Maaf aku mengganggu istirahatmu, tadi pintunya terkunci dan aku khawatir Elgard" sahut Diana serius.
"Benarkah terkunci?" gumam Elgard menyipitkan matanya.
"Angela kenapa kau disini? bukannya jam kerja mu sudah selesai?" ketus Elgard lagi.
Diana terlihat marah pada Angela "Pergi!" tekannya.
"Ba-baik bu"
"Astaga aku tertipu oleh wanita itu, aku berlari ke sini dan ternyata dia hanya membuang waktuku dia berbohong." gerutu Diana yang membawa selimut hangat lalu menyelimuti Elgard.
"Kau bilang apa?" tanya Elgard
Diana menggeleng "Tidak, kau harus banyak istirahat pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi"
"Entahlah" Elgard membuang nafasnya berat.
"Kenapa? kau masih belum bisa mencintaiku? Tetapi pernikahan itu harus tetap berlangsung El, itu perjanjian antara dua keluarga" tekan Diana menatapnya tajam.
Elgard tersenyum tipis "Kau tahu? aku bisa menjatuhkan ribuan klien dan mitra untuk kuhancurkan bisnisnya, dan hal tentang pernikahan ini bisa saja aku gagalkan Diana hanya dengan sekejap mata. Jangan terlalu berharap. Aku Elgard Samudra, apa kau lupa?" tatap tajam Elgard pada Diana yang kini duduk di hadapannya.
Diana tersenyum dan membuang wajahnya "Jangan melantur kau itu boneka ayahku Elgard, saat ayahku sudah memutuskan kau tidak bisa mengelak"
Dia lalu bangun "Selamat malam calon suamiku" ucapnya lalu pergi dari sana.
"Sialan, kenapa Elgard masih belum bisa mencintaiku? atas segala upaya yang telah aku usahakan. Itu pasti karena wanita itu, aku harus mengurusnya" gerutnya dalam hati.
***
Tepat di parkiran Angela hendak pulang dan sudah masuk di mobilnya, dia terdiam saat melihat Kevin dan Allysa berjalan bersama dan memasuki mobil yang sama.
"Kenapa dia tiba-tiba dengan Kevin? bukannya tadi.. apa mungkin mereka. Arghh sialan, sepertinya akan sulit untukku mengalahkan Allysa, dia dilindungi Kevin dan pak Elgard" kesalnya meremas setir mobilnya keras.
"Aku harus mencari cara lain"
"Cara yang pertama adalah membuat Kevin dan pak Elgard jijik padanya" senyumnya jahat.
***
"Kevin terima kasih sudah mengantar ya, maaf merepotkan" sahut Allysa canggung, jelas dia masih malu saat Kevin melihat dirinya dan Elgard tadi.
Dia mengangguk melihat sekeliling rumah sederhana itu "Ibu sama adik kamu mana?"
"Kayaknya sudah tidur, ini kan sudah jam 10 malam"
Cklek..
Pintu terbuka menunjukkan wanita yang berusia 45an yang berparas masih cantik di usianya. "Allysa? kenapa pulang malam sekali?"
"Iya bu pekerjaan Allysa baru selesai" ucapnya.
"Ini siapa?" senyumnya pada Kevin.
"Saya Kevin bu rekan kerja Allysa"
Mereka pun berjabat tangan "Ya terima kasih ya sudah mengantar Allysa" senyum hangat ibunya.
"Sama-sama bu, kalau begitu saya pamit ya ini sudah malam"
"Ya hati-hati nak"
"Kak Allysa aku pergi ya"
***
Pagi berikutnya..
"Astaga, itu benar Allysa kan?"
"Kenapa dia mau sama pria tua bangka begini?"
"Aku gak percaya sih ini gak mungkin Allysa"
Ucap beberapa rekan Allysa setelah mendapatkan link video yang menunjukkan Allysa tidur dengan pria tua di sebuah hotel. Kabar itu beredar langsung menyebar ke seluruh kantor.
Eve dan Sarah berlari ke arah Allysa saat mengetahui dia datang. Hal itu membuat Allysa cukup terkejut.
"Ada apa?" semua rekan kerjanya menatapnya remeh dan menertawakannya.
"Cepat kemari" ajak Eve menarik Allysa untuk menjauh dari mereka semua.
Setelah sampai di gudang, Eve menunjukkan ponselnya pada Allysa, dia sangat terkejut setelah melihat videonya. "Astaga apa-apaan ini?" panik Allysa dengan mata terbelalak.
"Allysa kita berdua yakin itu bukan kau kan? tapi semua orang mengira itu kau, entah siapa yang melakukan ini" ucap Sarah yang ikutan panik.
"Apa mungkin bu Diana?" sahut Eve.
"Bisa jadi dia ingin Allysa dipecat dari kantor ini"
Allysa terlihat frustrasi dan mengacak-acak rambutnya. "Aku harus bagaimana sekarang? itu video AI kalian sadar itu kan? tapi dibuat dengan serealistis itu" gerutunya menutup wajahnya lalu mulai menangis.
"Ya tuhan Allysa bagaimana ini" ke dua sahabatnya terlihat panik.
"Aku tak tahu, semua pasti mengira itu aku kan?" tangisnya pecah.
Tuk.. tuk..
"Allysa kau di dalam? pak Elgard ingin bertemu denganmu, dia menunggu di ruangannya" ucap seseorang dari luar sana.
"Kau harus pergi Allysa yakinkan dia itu bukan kau"
***
Dia sampai di ruangan Elgard. Allysa tampak tertunduk setelah air matanya mengalir terus menerus.
"Allysa kenapa bisa beredar video seperti ini? kau merusak citra perusahaan" tegas Elgard.
"Pak tapi itu bukan aku"
"Berhenti Allysa aku tak peduli itu memang kau atau bukan, tapi perusahaan dari mitra lain akan memintamu untuk diberhentikan. Video itu sangat realistis Allysa dan kami harus melakukan penyeledikan"
"Kasus ini akan menurunkan citra perusahaan dan kau akan kena imbasnya" Elgard terlihat sangat frustrasi.