Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Allysa yang baru saja dipecat kini terduduk di halte bis sendirian. Dia menangis tersedu karena perlakuan Diana tadi padanya sangat keterlaluan.
"Ya seharusnya sejak awal aku berhenti saat tahu Elgard adalah atasanku, tapi aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Adikku sakit, ibuku juga sakit aku harus bagaimana sekarang" gemetar Allysa.
"Pagi tadi ibu sangat bersemangat karena aku sudah dipastikan akan diterima di perusahaan besar, ternyata.."
"Aku tak sanggup melihat ibu yang kecewa dan khawatir jika aku jelaskan semuanya"
Allysa mengepalkan tangannya kesal "Sejak awal kita memang seharusnya tidak pernah saling mencintai Elgard, benar kata orang tuamu aku hanyalah remahan yang tak berguna dan hanya akan mempermalukanmu dan keluargamu"
Sebuah mobil lalu terhenti di pinggir jalan, Kevin keluar dari sana sedikit berlari ke arah Allysa. "Kak Allysa? kenapa menangis? apa Elgard berbuat kasar padamu?" panik dia lalu membukakan jasnya dan melindunginya dari kedinginan malam.
"Tidak, tapi Diana dia memecatku" tangis Allysa pecah.
"Apa? kenapa tiba-tiba dia-"
"Karena aku mantan Elgard dan entah kenapa dia bisa mengetahuinya meskipun kami sudah tidak ada hubungan apa-apa" lirih Allysa.
"Jadi.. dia mantan yang tak terlupakan itu? pantas saja Elgard sangat tergila-gila padanya, ibu dan ayah sangat membenci kak Allysa" gerutu Kevin dalam hati.
Kevin menghela nafasnya "Tenang kak, besok kau harus masuk kerja lagi aku akan membereskan semuanya dan bicara kepada Diana"
"Benarkah? apa aku masih bisa bekerja?"
"Ya aku juga pemegang saham perusahaan, aku akan bicara pada Diana dan aku pastikan kau masih bisa bekerja besok"
"Terima kasih Kevin" tangis Allysa pecah sembari memeluk Kevin.
***
Pagi berikutnya di kantor, Angela cukup terkejut saat melihat kedatangan Allysa yang kembali ke kantor.
"Allysa, kau kemarin jadi pulang bareng Kevin?" tanya Eve dan Sarah yang baru saja datang di belakangnya dan merangkulnya.
"Hm ya"
"Benarkan dia anak baik-baik?"
Suara beberapa langkah kaki datang membuat beberapa karyawan di ruangan itu menoleh ke belakang, rupanga Diana dan 2 sekertarisnya.
"Kau masih tidak tahu malu, kemarin kau sudah aku pecat bukan?" tegas Diana menatap sinis Allysa, Eve dan Sarah menatap Allysa khawatir.
"All? apa yang terjadi"
Dia hanya terdiam dan berharap Kevin segera datang. "Cepat pergi dari sini, kau sudah aku pecat Allysa!"
"Security!" teriak Diana.
"Hentikan Diana!" Kevin datang dan membuat semua karyawan cukup terkejut dengan Kevin yang berani memanggil Diana dengan namanya.
Diana menoleh dan memutar bola matanya "Kevin jangan ikut campur!"
"Aku pemilik sebagian saham di perusahaan ini, dan aku berhak atas keputusan perusahaan ini" tekan Kevin.
Diana membuang wajahnya "Kau tahu, ayahku sudah melakukan semuanya untuk membuat perusahaan ini bertahan. jadi aku berhak untuk-"
"Hentikan Diana, itu ayahmu bukan kau? kau pikir ayahmu akan senang jika kau berbuat semaumu di perusahaan yang jelas-jelas masih milik ayahku" tekan Kevin lagi menatapnya tajam.
Semuanya sangat terkejut dengan pengakuan Kevin. "Jadi dia adiknya pak Elgard?"
"Selama ini dia menutupi identitasnya, astaga"
"Pantas saja dia juga tampan seperti pak Elgard"
Diana terdiam dia cukup kesal dengan ucapan Kevin "Sudah cukup dikabulkan kan semua kemauanmu? Elgard sudah kau dapatkan, dia juga sudah resmi menjadi tunanganmu jadi cukup sampai disitu Diana jangan melampaui batas" tekan Kevin lagi.
Semuanya berbisik-bisik sembari menatapi Diana tak suka. "Sialan, Kevin kau adik ipar yang kurang ajar" kesal dia lalu pergi dari ruangan.
"Hah akhirnya berakhir, Kevin terima kasih" senyum Allysa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ya Kevin terima kasih sudah menolong Allysa" tambah Eve dan Sarah yang masih kebingungan dengan masalah yang Allysa hadapi.
"Ya itu sudah tugasku"
"Jadi selama ini kau menyamar? ternyata kau adiknya pak Elgar?" tanya Sarah penasaran.
Kevin tersenyum manis dan mengangguk "Maaf ya bukan maksudku untuk menyamar, aku hanya ingin menjadi bagian dari kalian tanpa kalian canggung dengan sebenarnya siapa aku"
"Ya Kevin tidak papa, eh maksudku pak Kevin" senyum mereka semua.
"Kalian panggil saja aku dengan sebutan biasa ya" senyum Kevin.
***
"Jadi begitu ya, kau mantannya pak Elgard? astaga Allysa sulit di percaya, tapi dengan kecantikanmu kau memang sangat mempesona" kagum Sarah menatap Allysa serius setelah dia menceritakan semuanya.
"Ya, mungkin saja kau dan pak Elgard memang berjodoh All buktinya kalian dipertemukan lagi" tambah Eve.
Allysa memutar bola matanya "Sudahlah, aku cukup muak dengan sikap bu Diana kemarin aku harap tidak ada hubungan apapun lagi dengan Elgard. Supaya aku bisa bekerja dengan nyaman disini"
"Allysa, kau dipanggil ke ruangan pak Elgard" ucap seorang karyawan dengan sedikit berlari.
Dia menutup wajahnya kesal "Astaga di jam istirahat? aku harap hanya pekerjaan yang dia bicarakan" gerutunya.
"Sana All, mau dihindari pun tetap tidak akan bisa kau adalah sekertarisnya" tawa Eve.
"Ya semangat"
Allysa mengangguk lalu segera bergegas pergi dari hadapan temannya. Setelah sampai di ruangan Elgard.
"Kemari" perintah Elgard menyuruh Allysa mendekat, nampaknya Elgard terlihat lebih dingin dari biasanya.
"Baik pak"
"Selesaikan semuanya hari ini" tekannya menunjuk tumpukan berkas di mejanya.
Allysa memelotot "Semuanya pak? hari ini?"
"Ya kau tak dengar perkataanku?"
"Ba-baik pak"
****
Disaat semua karyawan sudah pulang, Allysa masih duduk dimejanya dan mengerjakan berkas yang baru dia kerjakan sebagian.
"All, kita duluan yah? berkabar kalau ada apa-apa" sahut Eve.
"Ya Allysa kita pasti bantu, soalnya kan sekarang Kevin si pelindungmu gak ada jadi berkabar ya"
"Oke aku pasti baik-baik aja kok"
Allysa teringat dengan sikap Elgard tadi "Mengingat sikapnya berubah begitu saja membuatku semakin kesal" gerutunya memutar bola matanya.
"Tiba-tiba baik, tiba-tiba memberiku pekerjaan numpuk dengan arogannya" tambahnya lagi.
"Selesaikan semuanya hari ini, apa kau tak dengar perkataanku?" gerutunya lagi mencoba meniru tingkah Elgard tadi.
Tanpa dia sadari seseorang berdiri di belakangnya "Bilang apa kau barusan?" dingin dia.
"Eh Elgard? maksudku pak El" gelagap Allysa.
Tangan Elgard menarik Allysa untuk mengikutinya "Pak mau kemana?"
Namun dia hanya diam, mereka lalu masuk ke ruangan Elgard dan dia mengunci pintunya dari dalam.
"Elgard, kenapa di kunci?" tanya Allysa dengan tatapan marah.
Sementara itu diluar sana Angela berdiri dengan tatapan kesal melihat ke duanya masuk ke ruangan "Kurang ajar, rencanaku gagal Allysa masih bertahan disini. Seharusnya jam sekarang adalah giliranku bermesraan dengan pak Elgard" gerutunya sembari meraba bagian dalam pahanya lembut. "Sialan"
"Aku ingin kau istirahat disini"
"Kenapa? bukannya pekerjaanku harus selesai hari ini" kesal Allysa.
Elgard menghela nafas "Kau cemburu Allysa?"
"Apa?"
"Jelas kau cemburu kan karena ternyata aku sudah bertunangan dengan Diana" senyum Elgard.
Allysa tersenyum tipis "Astaga, tidak El aku sudah menganggapmu sebagai mantan dan sekarang kau atasanku itu saja pak Elgard" jelasnya.
"Bohong, kau masih ada perasaan padaku meski hanya sedikitkan?" bisik Elgard padanya.
Elgard memegangi bahu Allysa dan menatapnya dalam "Disini masih ada namaku, itu jelas Allysa" El memegangi d**a Allysa lembut.
"Pak Elgard jangan melampaui batas" gugup Allysa yang memang sangat merindukan sentuhan El sejak dulu.
"Aku merindukanmu Allysa, sangat" Elgard mendorong Allysa ke dinding dan menciumi lehernya lembut dan hangat, Allysa sangat menikmatinya meski isi kepalanya sudah sangat berisik.
"Lihat kau menyukainya kan?" senyum Elgard.
Allysa menggeleng "El ini tidak benar, aku tidak ingin menjadi penghancur hubungan kalian"
"Kalian siapa? aku tak peduli dengan Diana, selama ini aku selalu mencarimu meskipun kau mencampakkanku. Aku melampiaskan kekesalanku pada semua wanita, tapi mereka tak sama" bisik Elgard lagi mendorong Allysa makin dekat.
Tangan Allysa mencoba terus menolak Elgard, namun Elgard semakin mendekati bibir Allysa hingga tak bisa membuatnya berkutik.
"Aku sangat mencintaimu Allysa" ucapnya sembari menciumi bibir Allysa penuh gairah, hal ini yang selalu Elgard rindukan sudah lama.
"Elgard aku juga masih sangat mencintaimu" lirih dia dalam hatinya.
***
"Kau yakin dia masih di perusahaan? bersama sekertarisnya?" tanya Diana yang baru saja datang, diikuti oleh Angela yang sangat bersemangat.
"Ya bu, mereka sejak tadi ada diruangan berdua dan dikunci"
***
"Elgard aku mohon jangan diteruskan" lirih Allysa saat Elgard terus menciumi lehernya dan membuka kancing baju Allysa cepat.
"Tidak bisa Allysa"
Tangan Allysa mengelus kepala Elgard lembut saat dia berhasil membuka kerah baju Allysa dan menciumi dadanya.
"Wangimu masih sama Allysa, selalu membuatku tercandu"
"Ah Elgard kau gila"