"Oh. Maafkan aku. Sungguh maafkan aku Your Grace," katanya lagi dengan nada geli yang tidak sanggup ia tutupi. Thomas menangkap sindiran ketika gadis itu menyebut dirinya dengan gelar kehormatannya. Membuat darahnya menggelegak dan ingin mengguncangkan tubuh Annalise. Dia sangat yakin bahwa ada baut yang terlepas dari kepala cantik itu dan sudah sepantasnya bahwa Thomas lah yang akan mengembalikannya ke tempat yang semestinya.
Thomas merengut masam, merasa segalanya sudah tidak bisa lagi menjadi lebih buruk daripada ini dan meminta Ruthbone membebat lukanya. Ruthbone lalu menutupinya dengan kain kasa yang bersih, kemudian meminta Isabel dan pemuda yang mengikutinya –yang Thomas duga bernama Hugo– untuk keluar dari ruangan ini.
Ketika ia melihat Annalise yang mengikuti Isabel, dirinya lalu menggeram marah. "Kau tidak kuizinkan untuk keluar dari sini!"
Annalise tersentak. Berbalik dengan senyum kecil di wajahnya. "Maaf?"
Thomas semakin kesal. Sungguh ia yang biasanya sangat mudah mengendalikan diri entah mengapa sangat mudah tersulut oleh gadis dengan surai keemasan di depannya.
"Tetap di sini, Lady Annalise," tekan Thomas dengan segala kewenangannya.
Di belakangnya, ia mendengar suara kesiap dari Isabel. Dan tanpa sadar, ia juga menginginkan kesiap itu keluar dari bibir ranum Annalise. Namun itu tidak terjadi. Annalise Collins malahan mengangkat tinggi dagunya. Tersenyum geli dan mengambil tempat duduk tepat di hadapan Thomas.
"Jadi... Kupikir kita akhirnya tidak akan berbohong mengenai diri masing-masing?"
Thomas bergeming. Mengambil kemejanya dan memakainya dengan cepat. Ia menyadari bahwa Annalise kembali menginspeksi tubuhnya dan walaupun ia terkadang senang dengan perhatian dari para wanita, namun dengan gadis itu, Thomas serasa ingin meleburkan mereka menjadi satu. Bahkan kilat penasaran dan senyum geli di wajah Annalise saja bisa membuat Thomas merasa gerah. Dan itu sangat tidak baik.
"Siapa kau?" tuntut Thomas.
Annalise menggeleng. "Pertanyaan yang tepat adalah, siapa Anda, Your Grace?"
Tatapan keduanya bertemu. Jelas tidak ada yang ingin mengalah sampai Matthew berdeham. Ia tahu bahwa dirinya sudah merusak rencana sang master. Dan jika biasanya itu mengganggunya, tapi kali ini dengan melihat Thomas seperti tidak berkutik di depan...
Matthew memicingkan matanya. Hampir tersedak ketika menyadari bahwa gadis itu adalah Lady Annalise Collins. Putri bungsu dari Duke of Berrow.
Matthew lalu mengerjap. Melihat interaksi keduanya yang memiliki perangai sama keras kepalanya. Dan tanpa sadar, Matthew mengulas senyum tipis.
Oh dirinya pasti akan sangat terhibur dengan hal ini. Namun pertama-tama...
Matthew kembali berdeham. Berderap menuju tempat Thomas dan berdiri di antara keduanya.
"Lady Annalise Collins," katanya sembari membungkukkan tubuhnya.
Thomas yang masih mengamati Annalise, jengkel ketika Matthew bisa membuat kesiap muncul dari bibir Annalise.
"Aku pernah melihatmu saat mengunjungi estat Berrow," jelasnya lagi. "Aku adalah Matthew Scott. Orang yang pernah bekerja bersama dengan Duke of Berrow, ayahmu."
Kini gantian Thomas yang tidak bisa mencegah suara kesiap dari bibirnya. Ia lalu menoleh ke arah Matthew yang sedang tersenyum kepada Annalise.
"Matthew-"
"Izinkan aku memperkenalkan tuanku. Thomas William Hardy, Duke of Wellington."
Thomas mengatupkan rahangnya. Menatap ke depan dan lagi-lagi kecewa karena tidak melihat raut kaget di wajah Annalise. Dirinya malah menemukan senyum tipis yang dipulas dengan sangat sempurna di wajah cantik itu. Membuat ego Thomas terluka karenanya.
"Your Grace. Aku merasa sangat terhormat bisa bertemu denganmu," ujar Annalise seraya turun dari tempat duduknya. Menekuk sebelah kakinya, Annalise sedikit membungkuk di depan Thomas.
"Lady Annalise," desis Thomas mau tidak mau ikut turun dari ranjang. Menyambut uluran tangan Annalise dan mengecup punggung tangannya layaknya perkenalan resmi para bangsawan.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan putri seorang duke, di sini."
"Oh, kota Bath merupakan kota wisata yang ramai, Your Grace. Pemandian air panasnya bahkan dipercaya bisa menyembuhkan penyakit dan mengusir kepenatan. Dan sepertinya, ibuku bersikeras agar aku mendapatkan khasiat tersebut di sini," jelas Annalise panjang.
"Tapi kurasa kau bukan seseorang yang memerlukan khasiat penyembuhan."
Annalise tertawa. "Percayalah, Your Grace. Ibuku dan dokter Ruthbone tidak akan setuju dengan pendapatmu," katanya ringan.
Thomas lalu menoleh ke arah Ruthbone yang sedari tadi terdiam di tempatnya.
"Dokter Ruthbone, apa sekarang aku boleh pergi?" tanya Annalise.
"Bukan dia yang harus kau tanya mengenai keberadaanmu di sini," desis Thomas.
"Maafkan aku, Your Grace. Tapi dokter Ruthbone adalah dokterku dan jika dia mengatakan bahwa saat ini aku harus pergi dan 'beristirahat', maka aku akan 'mematuhinya'," katanya lagi sembari menekankan kata beristirahat dan mematuhi.
"Ruthbone!"
"Dokter Ruthbone!"
Ruthbone tersadar dari keterdiamannya. Menatap bolak balik kepada dua orang yang sama keras kepalanya dan seolah takdir sedang bercanda, mempertemukannya di tempatnya.
Ia lalu berdeham. Mengangkat wajahnya dan memiliki binar jahil di matanya.
"My lady. Anda sudah tidak memerlukan perawatan apapun karena kupukir Anda sudah cukup sehat untuk kembali ke London dan mengikuti season."
Annalise mengerjap tidak percaya. Bibirnya terbuka dan menutup. Matanya membelalak dengan marah karena merasa telah dikhianati oleh sang dokter. Bagaimana bisa....
Ya Tuhan.
"Dan, Your Grace. Baru saja aku mendapat kabar dari ibumu bahwa dirinya sudah sampai di London dan bersikeras untuk bertemu denganmu. Tentu saja aku memberitahu Her Grace bahwa kau ada di sini."
Kini gantian Thomas yang mengatupkan bibirnya. Berjanji dalam hati bahwa kawan lamanya akan mendapatkan balasan akan kata-katanya jika terbukti benar. Satu-satunya orang yang tidak ingin Thomas temui saat ini barangkali adalah ibunya. Jika sang ibu tahu apa yang telah Thomas perbuat kepada sepupunya, dan upaya apa yang sedang Thomas tempuh untuk menebusnya, barangkali dirinya akan menjadi mayat dan mengambang di sungai Thames esok hari.
"Well. Bukankah sebaiknya kalian keluar dari sini karena aku masih memiliki pasien yang menungguku?" tambah Ruthbone dengan jenaka.