Thomas, seorang pria selalu tahu apa yang ia inginkan dan cara untuk mendapatkannya.
Duke of Gordon ke-X.
***
Matthew berdeham ketika mereka bertiga –Thomas, Annalise, dan dirinya– sudah berada di luar ruangan rawat milik sang dokter. Menolak untuk melepaskan Ruthbone begitu saja, Thomas berniat berjalan ke perpustakaan dan diikuti dengan Matthew di belakangnya.
"Ke mana kau akan pergi, Your Grace?" tanya Annalise ketika melihat Thomas segera bergegas.
"Perpustakaan. Dan kau, tunggu di sini! Urusan kita belum selesai," perintahnya tegas. Annalise melengos. Menolak perintah tidak berdasar dari Thomas kepadanya.
Thomas memang seorang duke, tapi dirinya juga putri dari seorang duke dan Thomas, tidak berhak memerintahnya. Annalise lalu berbalik. Dengan langkah pendek namun cepat berjalan mendahului Thomas yang mengarah ke arah taman mawar milik Isabel berada.
Ego Thomas sekali lagi merasa tersentil mendapat reaksi dari gadis bersurai keemasan itu. Ia memicingkan mata melihat lekuk tubuh dan goyangan pinggul Annalise kala berjalan di depannya dan meninggalkannya. Kemudian, ketika Matthew berdeham lagi untuk menyadarkan sang master, Thomas mengembuskan napas. Membenahi lagi pikirannya dan berjalan dengan angkuh mendahului Matthew.
"Katakan apa yang kau dapatkan!" tembak Thomas begitu Matthew berbalik setelah menutup pintu perpusataan milik Ruthbone. Ruthbone tidak akan protes atau pun marah semua propertinya Thomas gunakan semena-mena, bukan?
Ada kalanya Ruthbone bahkan mengatakan berkali-kali bahwa dirinya berhutang nyawa kepada Thomas. Dan walaupun Thomas membenci pengulangan dari kata-katanya, namun ia selalu bisa memanfaatkan apa yang diberikan kepadanya dengan baik.
"Rombongan Puppets Theater akan sampai di sini tiga hari lagi. Mereka akan mengadakan pertunjukan selama sebulan sebelum perpindah ke kota lain."
"Katakan bahwa kau sudah tahu di mana mereka menginap," tuntut Thomas dengan tangan yang ia tangkupkan di bawah dagunya. Tatapan matanya tajam mengarah ke arah depan. Gerigi otaknya segera berjalan dan ia segera memroses segala hal dengan baik.
Matthew mengangguk. Menyebutkan sebuah nama penginapan sederhana yang setiap tahunnya menjadi tempat menginap para rombongam tersebut.
"Pemilik penginapan tersebut adalah teman dari Ronnie Rayleigh. Pemimpin Puppets Theater. Keamanan mereka terjamin, begitu pula akomodasi untuk para pemain maupun pegawai mereka."
Thomas memicingkan matanya. Roda dalam otaknya terus bergerak dan tanpa suara, Matthew tahu harus terus menyampaikan informasi yang ia dapatkan seharian ini.
"Pertunjukkan mereka akan dilaksanakan seminggu lagi. Aku sudah memesan tiket untuk kita-"
"Tambahkan satu lagi."
Matthew mengernyit bingung.
"Tidak, pesan saja satu bilik di sayap kanan. Jika ibuku benar-benar berada di kota ini, maka aku tidak tahu berapa banyak tiket yang harus kusiapkan," ujarnya masam.
Matthew ingin bersuara. Menyampaikan bahwa kabar yang ia terima dari dokter Ruthbone setengahnya adalah benar. Dowager Duchess of Welington memang sudah berada di London. Dan kabar mengenai kandasnya pertunangan sang master adalah penyebab utamanya. Beliau pasti sudah tidak sabar memberondong Thomas dan dirinya dengan beribu pertanyaan. Dan Thomas yang pandai berkelit, pasti menjadikan Matthew sebagai korbannya.
Memang apa yang bisa Matthew katakan kepada sang dowager? Bahwa putranya memang tidak memiliki perasaan khusus kepada Lady Katherine –sang mantan tunangan– dan karena itulah, tidak ada upaya berarti yang sang master lakukan untuk mempertahankannya. Karena Matthew tahu, apapun atau siapa pun tidak akan semudah itu terlepas jika sang master sudah mengincarnya.
"Apa kau pernah melihat pertunjukkan Puppets Theater, Matthew?"
Matthew mengernyitkan hidungnya. Thomas jelas tahu bahwa pekerjaannya tidak memberinya waktu untuk melakukan hal tidak berguna seperti itu. Walaupun Matthew tahu informasinya, namun tidak sekali pun ia pernah menontonnya secara langsung.
"Tidak."
Mendengar jawaban lugas Matthew, Thomas mencebik muram. Satu lagi alasan mengapa ia bisa saja ditemukan mengambang tak bernyawa di sungai Thames. Dan itu di karenakan Matthew yang mengaku tidak pernah bersenang-senang. Oh dear. Ibunya benar-benar akan membunuh dirinya.
Tetapi memang barangkali itulah yang Thomas kehendaki untuk Matthew lakukan, bukan? Menjauhkan Matthew dari teater. Dan khususnya, menjauhkan Matthew dari Jennifer Winter.