Thomas, aku pernah meremehkan seorang wanita dan berakhir dengan satu tikaman di perutku. Itu, sekali lagi menegaskan bahwa mereka adalah makhluk yang tidak boleh diremehkan.
Duke of Gordon ke-X.
***
Sepanjang hidupnya, Annalise mengenal baik empat pria dengan perangai yang berbeda. Ayahnya, adalah seorang duke terhormat yang sangat mencintai ibunya. Bisa dibilang, ayahnya sangat mencintai ibunya dan bersedia melakukan apapun yang ibunya inginkan. Dia adalah ayah yang baik hati. Tidak membedakan kasih sayang kepada keempat anaknya dan seorang duke yang hebat.
Suatu ketika, sang ayah bisa berubah menjadi sangat penyayang, dan di saat lainnya dirinya bisa menjadi sangat berkuasa, tak terbantahkan, dan mutlak. Bahkan hanya dengan sorot matanya, ayahnya bisa membungkam keliaran dari kedua kakak lelakinya dan menjinakkannya dengan mudah. Karena segala hal di dalam diri ayahnya itulah, membuat Annalise selalu mengagumi dan menghormatinya dari sudut hati terdalamnya.
Kakak pertamanya, Richard Collins, Earl of Westcliff adalah seorang pria yang sangat liar sebelum bertemu dengan istrinya. Ia sangat menyukai petualangan yang membuat tubuhnya tidak pernah terbebas dari luka goresan. Barangkali, selain Annalise, Richard adalah salah satu orang yang seringkali menemui dokter maupun tabib. Kemudian, Richard pergi ke medan perang. Bertarung melawan pasukan Napoleon dan pulang –yang syukurlah, ya Tuhan– dengan keadaan utuh bersama kakak keduanya, Arthur Collins.
Arthur merupakan penjelmaan dari ayahnya. Seorang pria dengan pribadi yang lebih pendiam daripada Richard namun bisa menjadi mengerikan ketika orang terkasihnya diganggu ataupun disakiti. Dia barangkali tidak seliar Richard, dan dia sangat menyayangi keluarganya. Arthur, yang Annalise tahu rela melakukan apapun demi keluarganya.
Sebulan kepulangan kedua kakaknya, mereka sangat bahagia dan merasa terberkati. Sampai Annalise merasakan perubahan di keduanya. Senyum yang tidak lagi tulus dari hati mereka dan malam-malam yang dipenuhi oleh mimpi buruk.
Beruntungnya, ibu dan kakaknya –Henrieta– juga menyadari hal tersebut. Mereka berkumpul bersama. Saling bergenggaman tangan dan bercerita. Menumpahkan segala kerisauan di dalam hati dan akhirnya, dengan kedua matanya, Annalise melihat luka-luka di tubuh kedua kakaknya.
Luka yang menurut mereka tidak seberapa. Karena luka tersebut tidak mengantarkan mereka kepada kematian melainkan tetap membuat mereka hidup.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Annalise melihat kerapuhan dalam para pria Collins. Sang ayah yang saat itu berkumpul pun hanya terdiam. Walaupun begitu, Annalise tahu bahwa ayahnya menangis tanpa suara.
Kemudian, di saat ini dirinya melihat lagi bekas luka yang memenuhi d**a dan punggung seseorang bernama Thomas. Seseorang yang dirinya tahu dengan refleks menyelamatkan dirinya dan tanpa ragu menangkapnya ketika terjatuh. Meskipun mereka tidak saling mengenal. Meskipun perbuatannya bisa membuatnya terluka. Dan memang benar itu adanya.
Ia ingin menangis untuknya. Walaupun pada akhirnya ia tidak bisa menahan isakan lolos dari bibirnya. Hingga hal tersebut membuat pria itu mungkin geram kepadanya.
Yang Annalise tahu kemudian adalah, bahwa pria di hadapannya bukanlah pria biasa. Dia bukan hanya seorang 'Sir' dan mungkin saja, dia adalah seorang pahlawan. Seorang pemimpin batalion tempur barangkali. Atau seseorang yang berkawan dengan mara bahaya. Pria di depannya jelas terlalu tinggi.
Namun pria itu sudah menyelamatkannya.
Mengabaikan peringatan di kepalanya bahwa dirinya harus menjauhi pria ini, Annalise malah bertindak sebaliknya. Ia penasaran. Ia ingin tahu mengenai pria itu. Dan momen seperti ini sudah sering Annalise alami.
Ibunya bahkan berkata bahwa dirinya selalu ingin mengetahui segala hal. Membuat Annalise tidak jauh berbeda dari pribadi liar Richard hanya saja sedikit lebih baik dan dalam penjelmaan seorang perempuan.
Ia lalu terus berbicara, sembari otaknya berputar mengenai saat bersama ibunya yang sering kali menceritakan tentang para bangsawan. Ia mencari nama Thomas William di dalam brankas pikirannya dan tidak menemukannya.
Thomas yang ia tahu memiliki nama Hardy di belakangnya, seseorang yang pernah menjadi mantan tunangan dari istri sepupunya, George Blake. Sepupunya adalah pria keempat di hidupnya yang terkesan pendiam, berkepala dingin, penyayang, dan salah satu pria favoritnya.
Namun sosok yang ia dengar dari para pelayan yang berlalu lalang di sekitarnya mengenai Thomas Hardy adalah pria pesolek dengan senyum memikat. Bukannya pria pendiam dengan aura gelap dan bekas luka di sekujur tubuhnya.
Tapi ia lalai. Seharusnya ia menyadari bahwa sering kali, pertempuran mengubah seseorang. Mereka sering kali memasang banyak topeng hanya untuk melindungi dirinya.
Hingga seseorang yang akan menjelaskan segalanya, membuka pintu. Memanggil Thomas dengan gelar kehormatan seorang duke, dan Annalise tahu bahwa pria di depannya adalah Thomas Hardy. Bukan hanya seorang Thomas William seperti yang ia ucapkan. Melainkan Duke of Wellington yang sering ayahnya ceritakan kepadanya di saat-saat tertentu.
"Matthew!" seru Thomas dengan suara penuh penekanan.
Annalise bisa merasakan tubuhnya membatu. Bulu kuduknya meremang. Dan dengan segenap kekuatannya, ia menoleh ke arah Thomas dan seseorang bernama Matthew.
Mereka adalah legenda yang sering kali ayahnya ceritakan. Pahlawan yang sering kali berada di balik layar. Sosok yang bekerja langsung untuk sang ratu.
Kemudian, alih-alih seharusnya dirinya takut karena sudah bertindak sewenang-wenang kepada sang duke, dirinya malah tertawa. Merasa lucu karena sang duke mempermainkannya. Berhasil membuatnya terlihat konyol dengan menyeretnya ke sana ke mari.
Tawa tersebut, pada akhirnya membuat tatapan lima orang di sekelilingnya terfokus kepadanya.
"Uhm... Maafkan aku," katanya dengan derai tawa yang anehnya tidak mau berhenti. Tujuannya ke kota Bath adalah untuk menjauh dari para bangsawan seperti Thomas, dan seperti takdir sedang bercanda dengannya, dirinya malah dihadapkan langsung dengan pria seperti Thomas. Astaga!
Ia lalu merasakan senggolan dari Isabel. Membuatnya mau tidak mau harus menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mengapa kau tertawa?" tanya Thomas penasaran. Ia sudah mengira bahwa gadis itu pastilah cerdas. Namun reaksi yang ia harapkan ketika Annalise mengetahui perihal dirinya bukanlah tawa yang membuat hasratnya melambung. Ini salah. Teramat salah.