Enam bulan setelah pernikahan, Richard akhirnya mengakui bahwa gambar burung terbaru Annalise tidak lagi menyerupai ayam yang sedang marah.
Pengakuan itu diberikan dengan berat hati pada sebuah sore ketika keluarga Berrow datang ke rumah Wellington untuk melihat beberapa hasil latihan yang dipilih gadis tersebut.
"Ia masih tampak mempunyai pendapat buruk tentang manusia," tambahnya.
"Berarti kau berhasil membuatnya merasa akrab," jawab Annalise.
Arthur tertawa sebelum mengambil gambar lain. Henrieta sudah lebih dahulu melihat sebagian karya itu dalam pertemuan menggambar, tetapi tetap memperhatikan penataan yang dipilih adiknya untuk ditunjukkan kepada keluarga.
Tidak ada ruangan yang diubah menjadi pameran besar.
Hanya beberapa meja, kertas yang disusun hati-hati, teh, serta orang-orang yang bersedia melihat lebih lama daripada satu tatapan sopan.
Thomas berdiri dekat jendela dengan senyum yang tidak berusaha disembunyikan.
Ia menyukai bahwa sore tersebut mempunyai alasan berkumpul yang berasal dari pekerjaan istrinya sendiri.
***
Annalise belum menjadi seniman yang dapat menggambar apa pun dengan mudah. Masih ada bentuk yang sulit, hari ketika tangan terasa tidak sabar, dan pelajaran yang terlewat karena tubuhnya meminta istirahat.
Namun, beberapa halaman memperlihatkan perubahan yang dapat dikenali tanpa perlu dijelaskan dengan pujian berlebihan.
Gresham berhenti pada gambar sebuah tangan memegang buku.
"Ini tanganku?"
Putrinya mengangguk.
Kali ini ibu jarinya hanya mempunyai satu posisi yang cukup masuk akal. Annalise telah menggambarnya kembali dari percobaan pada hari ketika Thomas menemui ayahnya untuk membicarakan lamaran.
Gresham tersenyum begitu lama sampai gadis itu mengatakan ia boleh membawanya pulang.
"Kau yakin?"
"Aku memang menyelesaikannya untuk Mama."
Duke of Berrow berdiri di sisinya, memandang gambar tersebut dengan kelembutan yang tidak sering diperlihatkannya kepada benda-benda di meja.
Annalise melihat keduanya dan merasa senang dapat memberikan sesuatu selain kabar bahwa dirinya baik-baik saja.
***
Edith menunjukkan gambar dua tangan yang sudah ditempatkan pada bingkai sederhana di ruang duduk.
Ia tidak mengatakan bahwa dirinya pernah menyarankan bingkai yang lebih besar. Thomas cukup murah hati untuk tidak mengingatkannya, terutama karena pilihan akhir ternyata disukai ibunya juga.
George dan Kate datang menjelang teh disajikan. Mereka membawa kabar Rafe dan Steve yang semakin sibuk bergerak dan semakin sulit diminta mempunyai keinginan sama pada waktu bersamaan.
Annalise tertawa pada cerita itu tanpa merasa setiap kabar mengenai anak merupakan pertanyaan yang sedang diarahkan kepadanya.
Tidak ada orang yang menuntut penjelasan mengenai kapan rumah Wellington akan menyusul.
Jika pembicaraan mulai bergerak ke arah dugaan yang tidak diperlukan, Edith cukup pandai mengembalikannya kepada orang yang sedang diceritakan.
Thomas memperhatikan perubahan tersebut dengan rasa terima kasih yang kemudian disampaikannya langsung, pada waktu yang tidak membuat ibunya merasa sedang dinilai di depan tamu.
***
Pernikahan mereka telah memperoleh kebiasaan yang tidak selalu indah jika diceritakan sebagai kisah cinta.
Ada pagi ketika Thomas kembali membaca surat terlalu lama. Ada sore ketika Annalise kesal sebelum menjelaskan bahwa dirinya lelah, lalu harus mengakui bahwa suaminya tidak dapat membaca semua perubahan perasaan melalui letak pensil.
Mereka masih berbeda pendapat mengenai jendela, waktu berangkat, serta jumlah buku yang pantas disebut sedikit.
Namun, kesalahan tidak lagi disimpan sampai cukup besar untuk membuat seseorang merasa seluruh rumah telah memusuhinya.
Mereka belajar mengatakan, menanyakan, dan kembali mencoba pada hari berikutnya.
Thomas tetap mempunyai pekerjaan. Annalise tetap mempunyai hari ketika rencana perlu diubah. Tidak satu pun dijadikan bukti bahwa pernikahan hanya berhasil selama kehidupan bersedia mengikuti harapan mereka.
Pada sore-sore yang baik, keduanya mengingat untuk menikmatinya tanpa terlalu sibuk takut bahwa kegembiraan akan habis jika tidak dijaga dengan erat.
***
Matthew datang membawa surat Joanna ketika para tamu mulai berpamitan. Ia sudah menemui adiknya beberapa kali sejak pernikahan, melalui perjalanan yang dibicarakan dan kegiatan yang disesuaikan sebelum hari keberangkatan.
Surat kali ini memuat kabar pertunjukan serta satu gambar yang dibuat Joanna sendiri sebagai balasan kepada Annalise.
Gambar Mrs. Hudson itu lebih banyak menunjukkan pendapat daripada kemiripan.
Annalise tertawa begitu melihatnya, kemudian meminta Matthew mengatakan bahwa dirinya ingin menyimpan karya tersebut bersama surat lain.
"Ia berharap Anda tidak memberikan penilaian terlalu keras."
"Katakan aku sudah mempunyai cukup banyak gambar buruk untuk tidak berani menyombongkan diri."
Matthew tersenyum dan mengatakan akan menyampaikan langsung melalui balasannya.
Ia tidak perlu meminta Thomas meneruskan alamat. Tidak perlu menunggu seseorang menganggap waktu yang tepat telah datang untuk mengetahui di mana adiknya berada.
Kesederhanaan itu sudah menjadi bagian hidup, dan justru karena itulah Matthew tidak lagi menganggapnya kecil.
***
Kabar Alaric datang melalui Edith pada malam yang sama. Rombongan berjalan dengan baik, beberapa pertunjukan lebih ramai daripada yang lain, dan ia masih mempunyai urusan keluarga serta tanah yang ditangani melalui orang-orang yang dipercaya.
Kehidupan panggung tidak membuat dirinya berhenti mempunyai tanggung jawab. Tanggung jawab pun tidak lagi dipakai sebagai alasan tidak boleh menikmati pekerjaan yang dipilih.
Thomas membaca bagian yang memang ditunjukkan ibunya, lalu tertawa pada sebuah komentar mengenai pemain yang selalu kehilangan sarung tangan.
Ia bertanya apakah Alaric masih menuduh orang lain kurang tertib sambil menyimpan naskah di tempat yang tidak diingat sendiri.
Edith mengatakan pertanyaan tersebut sebaiknya dimasukkan ke surat balasan agar mereka tidak hanya berbicara buruk di belakangnya.
Thomas berjanji akan menulis.
Ia menyukai hubungan yang kini dapat memuat gurauan biasa tanpa harus selalu berputar pada kehilangan, rahasia, atau rasa bersalah.
***
Sesudah rumah lebih tenang, Annalise membereskan gambar yang belum dibawa tamu. Thomas membantu mengumpulkan kertas pelindung dan hampir menumpuk dua halaman sebelum tinta pada salah satunya benar-benar kering.
Istrinya langsung menghentikannya.
"Aku sedang membantu."
"Aku juga sedang menyelamatkan bantuanmu dari akibat yang menyedihkan."
Thomas tertawa dan mengikuti petunjuk berikutnya dengan lebih hati-hati.
Mereka bekerja sampai meja kembali dapat digunakan. Annalise menyisihkan gambar burung terbaru, lalu meletakkannya bersama burung lama yang pernah ditertawakan Richard.
Suaminya menanyakan mengapa keduanya disimpan dalam satu lipatan.
"Supaya aku ingat bahwa pernah buruk tidak berarti harus berhenti," jawabnya.
Thomas memandangnya, kemudian berkata bahwa dirinya sangat berterima kasih istrinya mempunyai pendapat semacam itu.
Annalise menatapnya sesaat sebelum tertawa lembut dan meraih tangannya.
***
Mereka duduk dekat jendela setelah semua kertas aman. Di jalan, suara kereta mulai berkurang, dan lampu-lampu memberi bentuk berbeda pada rumah yang dilewati orang-orang menuju urusan malam.
Annalise menyandarkan kepala pada bahu Thomas.
"Aku senang hari ini."
"Aku juga."
Ia menanyakan apakah suaminya sudah membayangkan sore seperti ini ketika dahulu ingin mencari seorang duchess.
Thomas berpikir, lalu menggeleng dengan jujur.
Dulu ia lebih banyak membayangkan persoalan yang akan selesai daripada kehidupan yang akan dimulai.
"Aku tidak mengetahui cukup banyak," katanya.
Annalise mengangkat wajah dan tersenyum.
"Kau mulai belajar."
Thomas mencium keningnya, menerima gurauan itu sebagai sesuatu yang hangat.
Di ruangan sebelah, dua tangan dalam gambar tetap berada berdampingan, disimpan di tempat yang dapat dilihat setiap hari tanpa perlu menunggu perayaan.