Thomas, cinta tidak membuat semua hari cerah. Pastikan masih ada tempat duduk yang nyaman ketika hujan datang.
Duke of Gordon ke-X.
***
Hujan turun pada pagi ketika Annalise ingin menyelesaikan gambar di taman.
Ia berdiri dekat jendela dengan buku tertutup, memandang jalan yang mulai basah. Thomas menemukannya dalam keadaan itu dan hampir menawarkan membawa kursi ke tempat beratap sebelum mengetahui bahwa istrinya juga tidak ingin keluar.
Tubuhnya terasa lelah setelah beberapa hari yang cukup sibuk, meskipun kegiatan telah diatur lebih pelan daripada kunjungan pada masa lalu.
"Aku tidak ingin membuat semua orang membatalkan rencana," katanya.
Thomas menanyakan rencana siapa yang dimaksud.
Gadis itu berpikir, lalu tersenyum kecil.
Edith akan menulis surat. Thomas mempunyai pekerjaan singkat bersama pengurus. Wilda belum menyiapkan apa pun selain pakaian yang dapat dipakai di dalam rumah.
Rupanya satu-satunya rencana yang sedang dipertahankan dengan keras adalah keinginannya sendiri untuk menyelesaikan gambar hari itu.
Ia mengembuskan napas dan mempersilakan suaminya menertawakan kekesalannya sedikit.
Thomas memilih mencium keningnya sebelum pergi bekerja.
***
Annalise duduk bersama Edith setelah sarapan. Sang dowager membawa surat dari Gresham yang berisi kabar keluarga serta pertanyaan mengenai kapan mereka akan kembali.
Tidak ada permintaan agar putrinya segera pulang karena terlalu lama berada di luar London.
Gresham justru menulis bahwa Richard mengaku merindukan seseorang yang dapat membantahnya dengan benar. Arthur tidak bersedia menganggap pernyataan itu sebagai pujian.
Annalise tertawa, lalu menyandarkan punggung.
Edith membacakan bagian lain ketika gadis itu mengatakan matanya ingin beristirahat sebentar dari kertas.
Bantuan tersebut diberikan tanpa komentar mengenai betapa lemahnya seorang pengantin muda seharusnya terlihat.
Di luar, hujan membuat daun-daun bergerak. Di dalam, suara Edith berganti antara membaca dan menambahkan pendapat yang tidak ditulis Gresham.
Annalise kadang harus bertanya bagian mana yang berasal dari ibunya.
Sang dowager menjawab dengan kesungguhan yang sangat meragukan.
***
Sesudah beristirahat, gadis itu merasa lebih nyaman tetapi belum ingin menggambar lama. Ia mengambil buku yang berisi beberapa latihan dan mulai memilih gambar yang ingin disimpan bersama.
Ada kendi yang miring, tangan yang terlalu panjang, jendela yang pernah menjadi seluruh pemandangan harinya, serta burung yang masih tampak marah meskipun sudah bertahun-tahun tidak diganggu.
Edith melihat halaman terakhir dan tertawa begitu lepas sampai Annalise ikut menyerah.
"Aku tidak tahu mengapa semua orang menyukai kesalahanku yang satu itu."
"Karena ia mempunyai kepribadian yang kuat."
Annalise memandang burung tersebut dengan pura-pura tersinggung.
Kemudian ia menyelipkannya kembali, tidak jadi membuang sebagaimana kadang dipikirkan ketika ingin terlihat lebih pandai.
Gambar yang buruk pun mempunyai tempat dalam kisahnya.
Ia tidak perlu menghapus seluruh jejak ketidakmampuan agar hasil yang lebih baik layak disimpan.
***
Thomas kembali menjelang makan siang, tepat ketika Edith sedang mengaku mempunyai kegiatan lain yang jauh lebih penting daripada menertawakan burung.
Ibunya pergi dengan surat-surat di tangan. Thomas duduk dekat Annalise dan melihat dua gambar tangan yang diletakkan berdampingan.
Salah satunya baru dimulai sebelum mereka meninggalkan London. Gambar kedua dibuat sesudahnya, dengan garis yang lebih tenang dan posisi kedua tangan yang tidak dipaksa tampak sama besar.
"Kau sudah menyelesaikannya?"
"Hampir. Ada bagian yang ingin kuperbaiki, tetapi aku mulai curiga aku hanya takut menyebutnya selesai."
Thomas memandang gambar tersebut cukup lama.
Ia mengenali tangannya sendiri di dekat tangan Annalise, tidak menggenggam terlalu kuat, hanya hadir dengan posisi yang tampak wajar.
"Aku menyukainya," katanya.
Gadis itu tersenyum, lalu mengatakan akan menyimpannya sampai tinta pada catatan kecil di belakang kering.
***
Catatan tersebut hanya menyebut tempat dan waktu gambar dibuat. Tidak ada kalimat yang harus terdengar indah agar layak menjadi kenangan pernikahan.
Annalise ingin mengingat bahwa mereka pernah duduk pada sore biasa, memperdebatkan posisi jari dan tertawa karena Thomas terlalu mudah bergerak.
Suaminya meminta agar gambar itu ditempatkan di ruangan yang sering digunakan, bukan disimpan di antara berkas pribadi yang hanya dilihat dirinya.
Gadis itu setuju, lalu menambahkan bahwa mereka perlu memilih bingkai yang tidak membuat dua tangan terlihat sedang mengikuti upacara kerajaan.
Thomas menatapnya.
"Kau mempunyai pendapat yang cukup khusus mengenai bingkai."
"Aku belajar dari cincin yang nyaris kauizinkan penjualnya letakkan di tanganku."
Ia tertawa dan mengakui kekalahan sebelum perdebatan benar-benar dimulai.
Di luar, hujan belum berhenti. Anehnya, Annalise tidak lagi merasa pagi tersebut telah mengambil sesuatu darinya yang harus segera diganti.
***
Pada sore hari, mereka membicarakan masa depan dengan cara yang tidak menyerupai pertanyaan dari tetangga di meja makan.
Thomas menanyakan apakah ada sesuatu yang masih ingin dibicarakan mengenai keluarga yang mungkin kelak mereka bangun. Ia tidak mengajukannya setelah melihat seorang anak atau menerima surat dari Edith. Pertanyaan itu datang dalam percakapan pribadi, ketika Annalise mempunyai kesempatan sungguh memikirkan jawabannya.
Gadis itu mengatakan bahwa dirinya belum ingin merencanakan anak sekarang.
Ia masih belajar menjalani rumah baru, kegiatan, serta kebutuhan tubuhnya. Jika suatu hari keinginannya berubah, ia ingin membicarakannya kembali dengan pemahaman yang lebih baik, tanpa menganggap pernikahan telah menetapkan jawabannya sejak awal.
Thomas mendengarkan dan menyetujuinya.
Ia tidak menyembunyikan bahwa dirinya pernah membayangkan mempunyai anak. Namun, harapan itu tidak membuat kehidupan yang sudah mereka jalani menjadi ruang tunggu yang belum pantas disebut bahagia.
***
Annalise menatapnya sebelum mengatakan bahwa ia lega mereka dapat membicarakan hal tersebut tanpa seseorang harus menang.
"Aku tidak ingin jawabanmu berubah hanya karena takut mengecewakanku," kata Thomas.
"Aku juga tidak ingin kau berpura-pura tidak pernah mempunyai harapan lain."
Mereka duduk bersama kejujuran yang tidak seluruhnya mudah, tetapi tidak lagi menakutkan karena harus disembunyikan.
Tidak ada kepastian mengenai tahun-tahun mendatang. Mereka tidak dapat menjanjikan kesehatan yang selalu baik atau semua keinginan akan dipenuhi.
Namun, mereka dapat memilih untuk tidak menjadikan sesuatu yang belum ada sebagai ukuran apakah rumah mereka sudah cukup berharga.
Thomas meraih tangannya.
Annalise membalas genggaman itu, kemudian mulai tersenyum ketika menyadari posisi mereka hampir menyerupai gambar di atas meja.
"Jangan bergerak," katanya.
"Aku baru saja merasa percakapan kita sangat penting."
"Memang. Tanganmu tetap terlalu dekat dengan tinta."
***
Hujan berhenti sebelum malam. Thomas menawarkan berjalan sebentar di bagian yang terlindung, dan Annalise menerima setelah memastikan dirinya merasa cukup nyaman.
Mereka tidak mengitari seluruh taman. Hanya beberapa langkah, udara yang lebih segar, serta suara air menetes dari daun.
Annalise melihat bangku yang ingin digambarnya pagi tadi.
Ia masih berada di tempat yang sama.
Tidak semua kesempatan hilang hanya karena seseorang perlu berhenti satu hari.
Thomas berdiri di sisinya dan menanyakan apa yang sedang dipikirkan. Gadis itu mengatakan bahwa dirinya mungkin akan kembali ke gambar tersebut besok, jika ingin.
"Jika tidak?"
"Pohonnya boleh menunggu."
Thomas tertawa dan merapikan selendang setelah Annalise mengulurkan ujung yang bergeser.
Mereka kembali sebelum udara terlalu dingin, menemukan lampu sudah dinyalakan dan Edith menunggu dengan kabar tentang makan malam.
Rumah itu mempunyai cukup banyak kehidupan untuk dinikmati, bahkan pada hari yang dimulai dengan rencana yang tidak terlaksana.