Ketika mereka akhirnya berangkat ke kediaman keluarga Wellington beberapa pekan kemudian, Thomas menemukan bahwa peringatannya mengenai jumlah buku memang layak dikeluarkan lebih awal.
Annalise membawa satu peti kecil yang tampak terlalu berat untuk hanya berisi kebutuhan membaca selama kunjungan.
"Ada kertas juga," katanya ketika melihat wajah suaminya.
"Penjelasan yang sangat menenangkan."
"Dan beberapa benda yang ingin kugambar."
Thomas memandang peti itu sekali lagi. "Aku berharap tidak ada kursi di dalamnya."
Gadis itu tertawa dan naik ke kereta setelah memastikan buku yang ingin dibaca dalam perjalanan berada di tas, bukan di antara barang yang baru dapat dibuka sesudah tiba.
Waktu perjalanan telah dipilih bersama. Henrieta mengetahui kapan Annalise berencana kembali. Pengurus telah menerima kabar mengenai urusan Thomas, dan tidak ada orang yang perlu mengubah seluruh pekerjaan hanya karena sang duke mendadak ingin berangkat.
Edith akan menyusul setelah kunjungannya sendiri selesai.
Untuk beberapa hari pertama, rumah tersebut akan menerima mereka berdua.
***
Jalan terasa lebih akrab, meskipun Annalise tidak mengaku mengingat setiap belokan. Ia mengenali tempat persinggahan yang pernah dikunjungi bersama orang tuanya dan langsung menanyakan apakah mereka akan membeli sesuatu untuk Edith.
Thomas menghela napas dengan kesabaran yang dibuat-buat.
"Mama bahkan tidak berada di kereta ini."
"Itu tidak membuat ingatannya berkurang."
Mereka berhenti sesuai rencana. Annalise beristirahat, Thomas memeriksa kabar perjalanan, lalu keduanya makan tanpa memperlakukan jeda tersebut sebagai kegagalan tiba lebih cepat.
Gadis itu sempat mengeluarkan buku gambar untuk menangkap bentuk pintu penginapan. Ia hanya membuat beberapa garis sebelum menyimpannya kembali.
Tidak semua yang terlihat perlu diselesaikan pada hari yang sama.
Thomas menunggu sampai ia menutup tas, lalu menawarkan tangan untuk kembali ke kereta. Annalise menerimanya sambil menanyakan apakah suaminya kini cukup sabar menghadapi seorang istri yang kadang berhenti karena melihat jendela menarik.
"Aku sedang mengumpulkan bukti," jawabnya.
***
Sambutan di rumah tidak sama dengan kunjungan pertama.
Kali ini Annalise diperkenalkan sebagai duchess yang akan ikut menjalani rumah tersebut, bukan tamu yang perlu dibuat nyaman selama beberapa malam. Namun, ia bersyukur perbedaan itu tidak disampaikan melalui barisan panjang orang yang semuanya menunggu penilaian.
Pengurus menyambut, menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui, lalu memberi mereka waktu beristirahat sebelum membicarakan urusan lain.
Anjing tua masih berada dekat pintu, tampak sama tidak terkesannya terhadap kepulangan tuannya.
Annalise membungkuk sedikit untuk menyapa tanpa mengganggu hewan itu berdiri.
"Ia mengingatku?"
"Ia mengingat kemungkinan ada makanan dalam barangmu."
"Aku memilih tafsiran yang lebih menyenangkan."
Thomas tertawa dan mengantarnya masuk. Tidak ada kamar yang dihias berlebihan sebagai kejutan. Barang-barang mereka diletakkan dengan rapi, sementara keputusan kecil tentang letak buku serta keperluan pribadi dibiarkan menunggu sampai Annalise dapat melihat sendiri.
***
Pada sore berikutnya, ia kembali ke ruang menghadap taman.
Pohon yang pernah digambarnya masih berdiri di tempat yang sama, tetapi beberapa daun telah berubah. Cabang yang diingatnya tampak sedikit berbeda dari sudut tempat ia duduk sekarang.
Annalise membuka gambar lama dan membandingkannya.
Thomas berdiri di dekat pintu, menunggu setelah menyelesaikan pekerjaan pagi.
"Pohonnya tidak mematuhi gambarmu?"
"Ia rupanya merasa bebas melakukan sesuatu tanpa memberiku kabar."
"Kebiasaan yang tidak sopan."
Annalise tersenyum, lalu meminta kursinya digeser sedikit. Thomas membantu sebelum duduk dengan buku sendiri.
Tidak ada tamu yang perlu mereka temui sore itu. Tidak ada pembicaraan mengenai apakah kunjungan merupakan tanda akan datangnya lamaran.
Mereka sudah menikah.
Anehnya, kepastian tersebut tidak membuat semua hal menjadi kurang menarik. Annalise justru merasa dapat memperhatikan pohon dengan lebih sabar karena tidak lagi sibuk menebak apa yang sedang diputuskan orang lain mengenai dirinya.
***
Ia tidak langsung mengambil alih urusan rumah.
Pada hari berikutnya, pengurus rumah memperlihatkan beberapa tempat penyimpanan dan menanyakan kebiasaannya. Annalise menjawab hal yang sudah diketahui, lalu meminta waktu untuk bagian yang belum pernah dipikirkan.
Ia tidak menganggap setiap pertanyaan sebagai ujian yang harus dijawab tanpa ragu.
Ketika seorang pelayan menanyakan letak meja yang ingin digunakan untuk menggambar, gadis itu meminta pendapatnya mengenai jalan membawa nampan. Mereka menemukan posisi yang membuat kertas cukup mendapat cahaya tanpa menghalangi pekerjaan.
Thomas lewat ketika meja sedang digeser.
"Aku meninggalkan ruangan sebentar dan perabot sudah berpindah."
"Kau sudah diberi peringatan sebelum menikah," jawab Annalise.
Ia tertawa, menyapa orang-orang yang bekerja, lalu meneruskan langkah tanpa mencoba membenarkan posisi meja menurut kebiasaan lamanya.
Annalise memperhatikan punggungnya menjauh.
Rumah itu mulai berubah melalui hal-hal kecil yang tidak memerlukan pertengkaran agar diakui.
***
Mereka berjalan di taman pada hari ketika cuaca dan tenaga Annalise memungkinkan. Thomas mempunyai urusan yang harus dikerjakan, tetapi tidak mengisinya sampai seluruh kunjungan hanya tersisa untuk makan dan tidur.
Pada satu sore, ia membawa surat ke bangku sementara Annalise menggambar. Keduanya bekerja dengan tenang sampai pria itu mulai berbicara sendiri mengenai kalimat yang terasa tidak perlu.
Gadis itu menoleh.
"Kau mengajak suratmu berdebat?"
"Ia kalah, sejauh ini."
"Hati-hati. Kertas tidak dapat membela diri."
Thomas tersenyum dan meletakkannya. Ia bertanya mengenai gambar istrinya, lalu mendapati bahwa dirinya telah dimasukkan sebagai bentuk kecil di ujung bangku.
"Aku terlihat sangat serius."
"Kau sedang mengalahkan surat. Itu pekerjaan penting."
Tawanya membuat Annalise menghentikan pensil sebentar. Ia ingin mengingat wajah tersebut sebelum kembali menggambar bayangan pohon yang bergerak di tanah.
***
Edith tiba beberapa hari kemudian dengan cerita kunjungan yang jauh lebih banyak daripada barang bawaannya.
Ia menemukan putranya lebih sering berada di luar ruang kerja dan Annalise mulai mengetahui di mana benda-benda rumah disimpan. Sang dowager tampak senang tanpa merasa perlu menanyakan berapa banyak keputusan yang dibuat selama dirinya pergi.
Ketika melihat meja berpindah, ia hanya mencoba duduk dan mengakui cahayanya lebih baik.
Annalise tertawa lega.
Makan malam mereka dipenuhi cerita mengenai sahabat Edith, anjing yang terus berusaha memperoleh makanan, serta gambar yang akhirnya tidak lagi membuat Thomas tampak seperti sedang memarahi seluruh taman.
Tidak ada berita besar yang perlu diumumkan agar malam tersebut mempunyai arti.
Sesudah ibunya beristirahat, Thomas menemani Annalise menyimpan kertas-kertasnya.
Gadis itu meletakkan gambar pohon lama di bawah gambar baru, membiarkan keduanya tetap ada.
***
"Kau senang datang?" tanyanya.
Annalise mengangguk. "Aku juga akan senang kembali ke London pada waktu yang sudah kita rencanakan."
Thomas tersenyum.
Ia tidak mendengar jawaban tersebut sebagai penolakan terhadap rumah yang dicintainya. Istrinya boleh menyukai taman ini dan tetap merindukan pelajaran, keluarga, serta suara kota yang berbeda.
Mereka memeriksa waktu kepulangan tanpa mengubahnya menjadi persaingan siapa yang harus mengalah.
Setelah kertas disimpan, Annalise berdiri dekat jendela dan memandang pohon yang mulai hilang dalam cahaya sore.
Dulu ia merasa harus menemukan satu tempat yang dapat menyelamatkannya dari seluruh hal yang tidak diinginkan.
Sekarang ia mempunyai beberapa tempat yang ingin didatangi kembali.
Thomas meraih tangannya, dan gadis itu menoleh sambil tersenyum.
Ia tidak perlu memilih satu jendela untuk dipandang sepanjang hidup.