Thomas, perpisahan yang baik tidak selalu memerlukan janji besar. Kadang cukup memastikan surat berikutnya mempunyai alamat yang benar.
Duke of Gordon ke-X.
***
Ruthbone dan Isabel datang berpamitan sebelum kembali ke Bath.
Kali ini Annalise menerima mereka sebagai nyonya rumah. Ia sudah meminta teh disiapkan, memastikan kursi tidak menghalangi jalan, dan menyerahkan beberapa urusan kepada orang yang lebih mengetahui cara menjalankannya.
Namun, ketika Isabel memuji ruang duduk, gadis itu masih hampir menjawab bahwa Edith yang memilih semuanya.
Ia berhenti sebelum membuat dirinya sendiri terdengar seperti tamu yang sedang meminjam kursi.
"Aku juga menyukainya," katanya. "Kami belum mengubah banyak hal."
Ruthbone tersenyum dan duduk di tempat yang ditawarkan. Thomas menyusul setelah menyelesaikan pembicaraan singkat dengan pengurus, membawa kabar bahwa kereta tamu mereka sudah diperiksa untuk perjalanan.
Isabel segera menanyakan apakah itu berarti suaminya tidak mempunyai alasan mengurangi waktu berhenti.
"Aku tidak berani ikut memutuskan," jawab Thomas.
Annalise tertawa. Rupanya pengalaman menikah beberapa hari telah membuat suaminya lebih pandai mengenali perdebatan yang tidak memerlukan bantuannya.
***
Mereka membicarakan pernikahan, kabar keluarga Berrow, serta kemungkinan saling mengunjungi ketika urusan memungkinkan. Tidak ada janji bahwa setiap orang akan segera kembali ke London hanya untuk menghindari kesedihan berpisah.
Ruthbone mempunyai pekerjaan di Bath. Isabel mempunyai rumah yang ingin ditengok dan orang-orang yang pasti sudah menyiapkan banyak kabar.
Annalise mendengar semua itu tanpa merasa harus menjadi alasan mereka tinggal lebih lama.
Ketika dokter menanyakan bagaimana dirinya menyesuaikan kegiatan sesudah hari pernikahan, gadis itu mengatakan ia masih perlu mengatur tenaga, tetapi tidak sedang memaksakan semua kunjungan dalam satu pekan.
Ia menyampaikan bahwa ada hal mengenai kesehatannya yang kelak ingin dibicarakan secara pribadi ketika waktunya sesuai.
Ruthbone mengangguk. Ia tidak meminta pertanyaan tersebut dibuka di hadapan seluruh ruang duduk.
Tidak ada kepastian baru yang diberikan hanya karena Annalise kini menikah.
Gadis itu justru senang urusan tersebut tetap dapat diperlakukan sebagai bagian hidupnya, bukan sesuatu yang harus dijawab agar kunjungan berpamitan terasa lengkap.
***
Sesudah teh, Isabel meminta melihat kain pemberiannya. Annalise mengantar wanita itu ke ruang menggambar dan menunjukkan tempat benda tersebut digunakan dekat buku-buku yang sering dibaca.
Wajah Isabel langsung cerah.
"Aku senang kau tidak menyimpannya terlalu baik."
"Aku menyukai benda yang dapat kulihat setiap hari."
Isabel menyentuh ujung kain, lalu memperhatikan gambar yang terbuka di meja. Ia tidak memberi penilaian seperti seorang ahli, tetapi mengatakan dirinya mengenali bentuk tangan pada halaman.
Annalise tersenyum.
"Tangan itu lebih mudah diminta diam daripada tangan Thomas."
Dari pintu, suaminya langsung membantah bahwa dirinya sudah menjadi model yang cukup sabar.
Ruthbone mengatakan kesabaran pasien yang dikenalinya selama ini belum mendukung pernyataan tersebut.
Tawa memenuhi ruangan kecil itu. Tidak ada seorang pun perlu kembali menjadi orang sakit atau orang yang diselamatkan agar persahabatan mereka mempunyai alasan untuk bertahan.
Mereka dapat bertemu karena senang mendengar suara masing-masing.
***
Annalise menitipkan surat untuk Hugo sebelum kedua tamunya berangkat. Isinya tidak panjang, tetapi lebih banyak daripada satu ucapan terima kasih atas selamat yang sudah dikirim.
Ia menceritakan rumah barunya, kebiasaan Thomas membaca surat ketika sarapan, dan pelajaran menggambar yang masih ingin diteruskan. Di bagian akhir, ia berharap Hugo tetap bercerita tentang pekerjaannya meskipun kisah itu tidak selalu terdengar luar biasa.
Ia ingin mengetahui kehidupan sahabatnya sebagaimana adanya.
Ruthbone menerima surat tanpa membuka atau mengomentari.
Ketika Isabel memeluknya di dekat kereta, Annalise merasa sedih sedikit. Namun, ia juga dapat membayangkan surat berikutnya, kunjungan lain, serta banyak hari yang akan mereka jalani di tempat berbeda sebelum bertemu kembali.
Thomas berdiri di sisinya sampai kereta bergerak.
Ia tidak menanyakan apakah istrinya perlu dihibur.
Gadis itu menggenggam tangannya, dan untuk beberapa saat keduanya hanya melihat kendaraan menjauh.
***
Perpisahan dengan Joanna serta Alaric berlangsung pada hari lain, ketika keduanya harus kembali memenuhi kewajiban rombongan.
Matthew membantu membawa beberapa barang, tetapi tidak mengambil alih semua urusan perjalanan seolah tanpa dirinya tidak ada orang yang dapat menemukan pintu kereta.
Joanna menanyakan apakah ia akan menulis lebih panjang setelah melihat betapa banyak kabar yang dapat dikirim Annalise.
"Aku tidak ingin bersaing dengan seorang duchess," jawab kakaknya.
"Kau boleh mencoba menjadi saudara yang lebih banyak bercerita."
Matthew menerima teguran tersebut dengan senyum.
Annalise menyerahkan sebuah gambar kecil yang belum sempat diberikan pada hari pernikahan. Bukan potret Joanna, melainkan sudut ruang tempat mereka berbicara saat kunjungan terakhir, dengan sebuah buku terbuka di kursi.
Sahabatnya menyukai bahwa gambar itu tidak berusaha menjadikannya selalu sebagai pemain yang sedang dilihat penonton.
"Aku akan menyimpannya bersama gambar Mrs. Hudson," katanya.
***
Edith mengucapkan selamat jalan kepada Alaric dengan peringatan agar ia tidak kembali membalas surat terlalu singkat.
Pria itu mengeluh bahwa satu halaman penuh seharusnya dianggap kemajuan.
"Jika separuhnya berisi cuaca, aku berhak meminta lebih banyak," jawabnya.
Thomas tertawa, lalu menyalami mentornya. Tidak ada tugas rahasia yang dititipkan di balik ucapan perpisahan. Alaric hanya mengingatkan agar dirinya sesekali membaca buku yang diberikan, bukan menyimpannya di tempat terhormat sampai berdebu.
"Aku sudah mulai."
"Kau menyetujui catatanku?"
"Sebagian."
"Bagus. Aku akan khawatir jika semuanya."
Keduanya tersenyum. Thomas tidak lagi merasa perlu memilih antara menghormati orang yang pernah membimbingnya dan mengakui bahwa sebagian pelajaran harus diubah ketika dirinya bertambah dewasa.
Alaric juga tampak cukup tenang menerima perbedaan itu.
Hubungan mereka tidak harus berhenti tumbuh hanya karena masa latihan sudah lama berakhir.
***
Joanna memeluk Annalise, kemudian beralih kepada Matthew. Pelukan kakak beradik itu tidak tergesa, tetapi tidak pula membuat keberangkatan terasa seperti pengkhianatan.
Mereka sudah mempunyai rencana berkabar. Jika perjalanan berubah, alamat penghubung akan diberi tahu. Jika tidak ada kabar besar, surat tetap boleh dikirim.
Matthew tidak meminta janji bahwa adiknya akan selalu bahagia. Joanna tidak berpura-pura pekerjaan panggung tidak pernah melelahkan.
Mereka hanya ingin tetap mengetahui kehidupan satu sama lain.
Annalise melihat keduanya dan teringat betapa banyak kesulitan pernah muncul karena orang merasa berhak memilih kabar mana yang boleh sampai kepada orang lain.
Kini semuanya tampak jauh lebih sederhana.
Bukan karena kehilangan serta kemarahan dahulu tidak berarti, melainkan karena tidak lagi ada seseorang yang berdiri menghalangi pintu di antara mereka.
Kereta berangkat setelah salam terakhir, membawa dua orang yang akan kembali kepada pekerjaan yang dipilihnya.
***
Malam itu Matthew duduk bersama Thomas untuk menyelesaikan urusan yang memang perlu dibahas. Percakapan berlangsung singkat, dan sesudahnya sang duke menanyakan apakah sepupunya ingin tinggal makan malam.
Matthew menerima.
Annalise mendengarkan kisah tentang Joanna yang menolak meninggalkan satu pita karena yakin benda itu akan diperlukan dalam pertunjukan berikutnya. Edith mempunyai pendapat bahwa semua wanita pernah mengalami keyakinan serupa mengenai sesuatu yang akhirnya tidak dipakai.
Thomas cukup bijaksana untuk tidak menambahkan contoh dari lemari ibunya.
Sesudah makan, Matthew pulang dengan waktu yang masih cukup untuk menulis. Tidak ada pekerjaan tambahan yang muncul hanya karena meja belum sepenuhnya kosong.
Annalise dan Thomas tinggal di ruang duduk, memandangi surat-surat yang akan dikirim pagi berikutnya.
"Rumah terasa lebih tenang," kata istrinya.
Thomas mengangguk dan meraih tangannya.
"Aku senang mereka datang."
"Aku juga senang mereka mempunyai tempat yang ingin dituju setelah pergi."
Keduanya duduk bersama kalimat itu, membiarkan perpisahan menjadi bagian kehidupan yang berlanjut, bukan tanda bahwa sesuatu telah selesai dimiliki.