Mrs. Bell hampir memanggil Annalise dengan gelar barunya sebelum gadis itu tertawa dan mengatakan bahwa sebuah cangkir tetap akan terlihat miring jika gambarnya memang salah.
"Gelar tidak boleh menyelamatkanku dari koreksi," tambahnya.
Pengajar itu tersenyum. "Kalau begitu, kita akan mulai dari bagian yang terlalu lebar."
Henrieta tertawa dari kursi sebelah, dan suasana kembali menyerupai pertemuan-pertemuan yang sudah dikenal Annalise sebelum menikah.
Ia datang dengan buku baru serta beberapa latihan yang dibuat di rumah. Tidak semuanya bagus. Salah satu gambar tangan masih mempunyai jari yang terlihat terlalu panjang, sementara sebuah lipatan kain tampak seperti kertas yang diremas.
Namun, ia membawanya juga.
Dulu Annalise mungkin akan memilih hanya halaman yang tidak terlalu memalukan. Kini ia lebih ingin mengetahui bagian yang dapat diperbaiki daripada membuat orang mengira dirinya tidak pernah kesulitan.
Mrs. Bell memeriksa satu gambar dengan perhatian, lalu meminta ia melihat benda aslinya lagi.
***
Seorang peserta menanyakan apakah ia masih akan sering datang setelah mempunyai urusan rumah sendiri. Pertanyaan itu tidak disampaikan sebagai sindiran, hanya rasa ingin tahu yang cukup wajar.
Annalise mengatakan dirinya ingin melanjutkan, meskipun waktu mungkin tidak selalu sama.
"Aku masih belajar mengatur kegiatan," katanya.
Wanita itu mengangguk dan mengaku dirinya pun pernah berhenti terlalu lama karena menganggap tidak ada waktu yang cukup baik untuk kembali.
Percakapan singkat tersebut membuat Annalise merasa lebih ringan. Pernikahan tidak menjadikannya satu-satunya orang yang perlu menyesuaikan kegemaran dengan kehidupan lain.
Ia dapat melewatkan pertemuan jika perlu, lalu datang lagi tanpa memperlakukan ketidakhadiran sebagai kegagalan yang harus ditebus.
Henrieta menyodorkan penghapus ketika Annalise mulai mencari miliknya.
"Ada hal yang belum berubah," bisiknya.
Gadis itu memandang meja yang sudah penuh kertas, lalu tertawa.
Kedudukan baru rupanya tidak membuat benda-benda kecil lebih mudah ditemukan.
***
Di rumah, Thomas menghabiskan pagi membahas pekerjaan dengan pengurus. Ia telah menetapkan waktu berhenti agar dapat makan bersama Annalise ketika istrinya pulang, tetapi tidak menggunakan janji tersebut sebagai alasan mendesak semua orang menjawab lebih cepat.
Bagian yang belum selesai dapat dibaca kemudian. Keputusan yang dapat dilakukan pengurus tidak perlu menunggu pertemuan berikutnya hanya karena Thomas ingin melihat setiap kertas sekali lagi.
Ketika tamunya pergi, ia masih mempunyai waktu untuk mencuci tangan dan berpindah ruangan tanpa terburu-buru.
Kebiasaan itu belum sepenuhnya terasa alami.
Kadang ia tetap memikirkan satu hal yang dapat diselesaikan jika tinggal lima menit lagi. Namun, ia sudah mengenali bagaimana lima menit tersebut dapat memperoleh saudara sampai seseorang di ruangan lain menunggu tanpa kabar.
Thomas meletakkan catatan tambahan di meja dan keluar.
Hari itu ia ingin mendengar cerita istrinya ketika ceritanya masih segar, bukan meminta ringkasan karena dirinya terlalu lelah pada malam hari.
***
Annalise pulang dengan wajah senang dan bahu yang mulai meminta istirahat. Ia menyerahkan tas kepada Wilda, menyapa Thomas, lalu mengatakan ingin duduk sebelum makan.
Pria itu hampir bertanya apakah pelajaran tadi terlalu lama. Pertanyaan tersebut berhenti ketika ia menyadari bahwa dirinya sudah mempunyai jawaban yang cukup untuk saat ini.
Istrinya ingin duduk.
Ia mempersilakannya memilih kursi, meminta minuman disiapkan, dan mendengarkan ketika Annalise mulai bercerita tentang penghapus yang dipinjam.
Tidak ada upaya mengubah kelelahan menjadi alasan melarang kegiatan berikutnya.
Sesudah beberapa saat, gadis itu tampak lebih nyaman dan membuka bukunya. Ia menunjukkan perbaikan yang diajarkan Mrs. Bell, lalu meminta Thomas mengatakan apakah perbedaan dua gambar terlihat.
Ia mengamati dengan sungguh-sungguh.
Kali ini ia menunjuk bagian yang benar.
Annalise menatapnya dengan takjub berlebihan sampai Thomas mengancam tidak akan memberikan pendapat lagi sepanjang sore.
***
Sesudah makan, mereka duduk di ruang menggambar. Thomas membawa buku, sementara Annalise bermaksud memperbaiki satu bagian sebelum lupa petunjuk yang didengar.
Selama beberapa waktu tidak ada yang berbicara.
Keheningan itu terasa menyenangkan sampai Thomas menyadari istrinya sudah memandang halaman yang sama tanpa menggerakkan pensil.
"Kau ingin berhenti?"
Annalise mengangguk, sedikit kecewa.
Ia ingin menyelesaikannya hari itu, tetapi keinginan tidak selalu menyediakan tenaga tambahan. Tidak ada penyakit baru yang muncul. Tubuhnya hanya mempunyai batas yang tetap perlu diingat meskipun dirinya sedang bahagia.
Thomas tidak mengatakan gambar tersebut pasti dapat selesai jika ia mencoba sebentar lagi.
Ia membantu menutup buku setelah diminta, lalu memindahkan barang agar meja tidak menghalangi saat Annalise berdiri.
Gadis itu mengucapkan terima kasih dan meminta Wilda menemaninya beristirahat.
Tidak ada rasa malu yang perlu ditutupi dengan kemarahan agar orang lain berhenti melihat.
***
Sore menjelang malam, Annalise kembali dengan perasaan lebih ringan. Gambar tersebut masih belum selesai, tetapi ternyata dunia tidak menagih hasilnya selama dirinya tidur.
Thomas berada di ruang duduk, membaca salah satu buku dari Alaric. Ia menunjukkan catatan di tepi halaman yang menurutnya terlalu yakin menyederhanakan sesuatu.
Annalise membaca, kemudian tertawa.
"Kau juga pernah terdengar seperti itu."
"Aku berharap penggunaan kata pernah cukup disengaja."
"Aku sedang bersikap murah hati."
Thomas meraih tangannya ketika ia duduk, lalu menanyakan apakah istirahatnya membantu. Gadis itu menjawab ya tanpa merasa perlu memastikan bahwa satu kata itu menjanjikan dirinya akan selalu baik sesudahnya.
Mereka membicarakan hari tersebut dengan tenang.
Annalise mengakui dirinya masih kadang kesal karena tidak dapat menyelesaikan semua hal ketika semangat sedang baik.
Suaminya mendengarkan tanpa menawarkan cara baru mengatur seluruh hidup agar rasa kesal tidak pernah muncul.
***
"Aku tidak ingin kau merasa pernikahan kita gagal membuatku lebih sehat," katanya setelah beberapa saat.
Thomas menatapnya dengan serius.
"Aku menikahimu, Annalise. Bukan janji bahwa tubuhmu akan berubah setelah upacara."
Gadis itu mengangguk perlahan. Ia mengetahui mereka pernah membicarakan hal yang berkaitan, tetapi mendengarnya pada sore yang benar-benar memuat kelelahan terasa berbeda dari mendengar rencana sebelum menikah.
Thomas kemudian mengatakan bahwa dirinya juga tidak ingin hari lelah membuat istrinya merasa harus terus-menerus menyampaikan permintaan maaf.
Ia dapat bertanya apa yang diperlukan, menerima jawaban, dan tetap menjalani kegiatan yang tidak perlu dihentikan.
Mereka tidak harus menjadikan setiap perubahan suasana sebagai keadaan darurat bagi seluruh rumah.
Annalise tersenyum kecil dan menyandarkan kepala pada bahunya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.
Di meja, buku Alaric tetap terbuka pada halaman yang belum selesai dibaca.
***
Keesokan pagi, Annalise kembali kepada gambar itu.
Ia memperbaiki satu garis, mempertahankan bagian yang sudah disukai, lalu menyadari bahwa beberapa pilihan terlihat lebih jelas setelah dirinya tidak lagi memaksa menyelesaikan semuanya dalam keadaan letih.
Thomas masuk membawa surat yang baru tiba dari Henrieta. Gadis itu membacanya, tersenyum, dan mengatakan kakaknya ingin bertemu pada pekan berikutnya.
"Kau ingin pergi?"
"Ya. Aku akan memilih hari yang tidak terlalu penuh."
Ia kembali kepada gambar setelah surat disimpan. Thomas melihat tangan yang memegang pensil, cincin yang bergerak sedikit bersama jarinya, dan wajah yang serius memikirkan bayangan di atas kertas.
Ia tidak pernah dapat membuat semua hari istrinya mudah.
Namun, ia dapat membantu menjaga agar hari yang sukar tidak mengambil seluruh ruang dari hal-hal yang masih ingin dijalaninya.
Thomas keluar dengan pelan, membiarkan Annalise bekerja sampai dirinya sendiri memutuskan kapan perlu berhenti.