Richard membuka percakapan dengan memanggil adiknya Duchess of Wellington dalam nada yang membuat gelar itu terdengar seperti gurauan yang sudah dilatih sejak pagi.
Annalise berhenti di ambang ruang duduk Berrow.
"Jika kau melakukannya lagi, aku akan meminta semua orang memanggilmu Earl of Westcliff setiap kali kau mencari sepatu."
Arthur tertawa dari dekat jendela. Gresham berdiri menyambut putrinya, lalu memeluk tanpa menanyakan terlebih dahulu apakah ia sudah makan cukup atau beristirahat dengan benar.
Annalise sangat menghargai urutan tersebut.
Rumah itu masih mempunyai aroma yang dikenalnya. Kursi ayahnya tetap pada tempat yang sama, sebuah buku terbuka menunggu di meja, dan Richard masih tampak terlalu puas setelah berhasil membuatnya membalas.
Ia baru pergi beberapa hari.
Namun, datang kembali sebagai tamu yang disayangi terasa berbeda dari sekadar turun dari kamar sendiri.
Gadis itu belum mengetahui apakah rasa hangat di dadanya lebih dekat kepada rindu atau lega.
Barangkali keduanya.
***
Thomas belum dapat datang bersama karena pertemuannya berlangsung sampai menjelang siang. Ia sudah mengirim kabar lebih awal, sehingga Annalise tidak perlu menunggu di rumah Wellington sambil memperkirakan kapan dirinya boleh berangkat.
Gresham menerima penjelasan itu tanpa wajah khawatir.
"Dia akan menyusul jika sempat," kata putrinya.
"Baiklah. Kita dapat mulai teh sekarang."
Richard menanyakan bagaimana kehidupan pernikahan. Annalise menjawab bahwa suaminya mempunyai hubungan yang tidak sehat dengan surat pada waktu sarapan.
Ayahnya, yang masuk pada saat itu dengan kertas di tangan, berhenti dan memandang benda yang sedang dibawanya.
Semua orang tertawa.
"Aku belum duduk di meja," bela Duke of Berrow.
"Papa masih dapat menyelamatkan diri," kata Annalise.
Percakapan menjadi lebih ringan setelah itu. Tidak ada yang meminta laporan lengkap mengenai rumah tangganya. Mereka hanya ingin mendengar kabar, termasuk hal-hal yang cukup kecil untuk membuat gadis itu merasa tidak sedang dinilai apakah telah memilih dengan benar.
***
Henrieta datang membawa buku yang tertinggal saat mereka memilah barang. Ia meletakkannya di pangkuan Annalise, lalu mengatakan dirinya sengaja tidak mengirim melalui pelayan karena ingin melihat adiknya sendiri.
Gadis itu mengucapkan terima kasih dan menanyakan jadwal pertemuan menggambar berikutnya.
Richard mengeluh bahwa setiap percakapan kini berakhir pada pensil.
"Kau boleh memberi kami topik yang lebih baik," jawab Henrieta.
"Aku baru saja melakukannya."
Arthur menggeleng dengan sabar. Perdebatan singkat itu membuat Annalise tertawa sampai Gresham memintanya minum sebelum terlalu sibuk menjawab semua orang.
Ia menurut, kemudian memperhatikan bahwa tidak ada seorang pun menganggap cincinnya membuat dirinya harus berhenti menggoda kakak sendiri.
Gelar barunya berlaku di luar rumah ini.
Di sini, ia tetap Elise yang mengetahui persis bagaimana membuat Richard kehilangan pembelaan pada kalimat kedua.
Ia senang kedua hal tersebut tidak harus saling menghapus.
***
Sesudah saudara-saudaranya berpindah membicarakan urusan lain, Annalise meminta izin melihat kamar lamanya. Gresham menemaninya sampai pintu, lalu membiarkan gadis itu masuk lebih dahulu.
Ruangan tersebut lebih kosong, tetapi tidak terasa ditinggalkan secara mendadak. Beberapa buku masih berada di rak, tirai telah dibuka, dan meja tidak dipenuhi barang yang sengaja disusun untuk membuatnya merasa bersalah karena pergi.
Annalise duduk di sisi tempat tidur sebentar.
"Aneh," katanya.
"Bagian mana?"
"Aku mengenal semuanya, tetapi sekarang aku berpikir apakah Thomas sudah selesai bekerja dan sempat datang."
Gresham tersenyum.
Putrinya memandang jendela, lalu mengatakan ia merindukan rumah ini tanpa ingin membatalkan perpindahannya.
Ibunya duduk di sampingnya. Ia tidak menggunakan pengakuan tersebut sebagai kesempatan menyarankan Annalise tinggal lebih lama setiap kali suaminya sibuk.
"Kau boleh mempunyai lebih dari satu tempat yang membuatmu senang pulang," katanya.
Kalimat itu membuat gadis tersebut mengangguk dengan mata sedikit hangat.
***
Annalise menemukan secarik kertas latihan yang tertinggal di laci. Gambar di atasnya hanya sudut jendela, dibuat ketika dirinya masih sering menganggap hidup berlangsung di luar tempat yang dapat dijangkaunya.
Ia memandangnya cukup lama, kemudian memasukkannya ke dalam buku yang diberikan Henrieta.
Gresham tidak menanyakan apakah gambar itu lebih bagus daripada yang sekarang.
Ia menanyakan apakah Annalise ingin membawa sesuatu lagi.
Gadis tersebut menggeleng. Tidak semua benda harus dipindahkan agar rumah baru terasa miliknya.
Beberapa hal dapat tetap menunggu di sini, tempat ia masih mempunyai alasan datang tanpa perlu menciptakan keperluan.
Ketika mereka turun, suara Thomas terdengar dari ruang duduk. Ia sudah tiba dan sedang menerima komentar Richard mengenai ketepatan waktunya yang rupanya dianggap prestasi keluarga.
Annalise berhenti sebentar di tangga, mendengarkan tawa mereka.
Lalu ia melanjutkan langkah dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada ketika membuka pintu kamar tadi.
***
Thomas berdiri menyambutnya, tetapi tidak langsung mengulurkan pertanyaan mengenai kapan mereka akan pulang.
Ia duduk bersama keluarga, mendengar cerita yang sudah sebagian terlewat, dan menerima ketika Arthur meminta penjelasan singkat mengenai perbaikan rumah di pedesaan.
Gresham memastikan ada makanan untuk tamu yang datang belakangan. Duke of Berrow menyerahkan satu buku yang ingin dipinjamkan kepadanya, lalu memperingatkan bahwa Richard pernah kehilangan pembatasnya.
"Aku tidak kehilangan. Aku memindahkannya."
"Ke tempat yang tidak dapat ditemukan siapa pun," jawab Arthur.
Thomas tertawa. Annalise memperhatikan bahwa dirinya kini dapat menyaksikan kedua bagian hidupnya berada di meja yang sama tanpa merasa harus menjaga agar salah satunya tidak menyinggung yang lain.
Mereka tentu masih dapat berbeda pendapat.
Namun, tidak setiap perbedaan memerlukan dirinya berdiri di tengah seperti penjaga pintu.
Ia mengambil teh dan membiarkan percakapan berlangsung.
***
Dalam perjalanan pulang, Thomas menanyakan apakah kunjungannya menyenangkan.
Annalise mengangguk dan memperlihatkan gambar lama yang ditemukan. Ia menjelaskan dari mana kertas itu berasal, kemudian mengatakan kamar Berrow terasa lebih kecil daripada dalam ingatannya.
"Mungkin karena beberapa barang sudah dipindahkan," kata Thomas.
"Mungkin. Atau karena aku tidak lagi hanya memikirkan bagaimana keluar darinya."
Ia tidak segera menjawab. Thomas memperhatikan garis jendela pada kertas, lalu mengembalikannya dengan hati-hati.
Gadis itu menyandarkan punggung dan mengakui bahwa kunjungan yang menyenangkan pun membuatnya cukup lelah.
Mereka sepakat makan lebih tenang malam itu, tanpa menerima tamu tambahan. Tidak ada kekecewaan yang perlu disembunyikan karena istrinya tidak ingin melanjutkan sore menjadi perayaan lain.
Thomas hanya menanyakan apakah buku baru dari ayahnya boleh dibaca di ruang yang sama ketika Annalise beristirahat.
Ia tersenyum dan menjawab boleh, selama pria itu tidak membacakan semua bagian yang menurutnya menarik.
***
Ketika kereta tiba, Annalise melihat jendela ruang menggambarnya dari halaman. Buku yang ditinggalkan pada kunjungan sebelum menikah kini berada di antara beberapa buku lain yang sudah diisi ke rak.
Ia turun dengan bantuan Thomas, membawa pemberian Henrieta dan kertas lama dalam satu bungkusan.
Di dalam, Wilda menerima barangnya dan menanyakan apakah kunjungan berlangsung baik.
"Sangat baik."
Jawaban itu datang tanpa keraguan.
Annalise menoleh kepada Thomas yang sedang menyerahkan mantel, kemudian mengulurkan tangan ketika pria itu kembali ke sisinya.
Pagi tadi ia datang ke rumah keluarganya.
Sore ini ia pulang bersama suaminya.
Dua kalimat tersebut ternyata dapat sama-sama benar tanpa membuat salah satu rumah kehilangan artinya.