Thomas, menikah tidak membuatmu memperoleh kemampuan membaca pikiran. Jika teh istrimu dingin, tanyakan dahulu sebelum mengganti seluruh kebiasaannya.
Duke of Gordon ke-X.
***
Pada pagi ketiga pernikahan, Annalise mengetahui bahwa Thomas dapat membaca surat sambil makan tanpa benar-benar mengetahui apa yang baru saja dimasukkan ke mulutnya.
Ia menyaksikan suaminya mengambil sepotong roti, meletakkannya kembali, lalu mengulangi gerakan yang sama ketika matanya mencapai bagian lain kertas.
"Roti itu menunggu keputusan penting?" tanyanya.
Thomas mengangkat wajah.
"Apa?"
Annalise menunjuk piring.
Pria itu memandang roti seolah baru menyadari keberadaannya, kemudian melipat surat dengan sedikit malu.
"Maaf. Ada jawaban yang perlu kukirim pagi ini."
"Kau boleh menyelesaikannya. Aku hanya ingin memastikan sarapanmu tidak dipakai memindahkan pikiran dari satu tangan ke tangan lain."
Thomas tertawa dan akhirnya menggigit roti tersebut. Edith, yang masuk beberapa saat kemudian, melihat surat terlipat di samping piring dan langsung tampak puas.
"Aku menyukai pengaruhmu," katanya kepada Annalise.
Gadis itu mengangkat alis. "Aku belum berani menyatakan berhasil."
***
Mereka menemukan beberapa kebiasaan lain sebelum pekan pertama selesai.
Thomas bangun lebih awal. Annalise kadang memerlukan waktu tenang sebelum ingin berbicara panjang. Pria itu menyukai jendela dibuka lebih lebar daripada yang nyaman bagi istrinya ketika udara pagi masih dingin.
Tidak satu pun menjadi pertengkaran besar. Namun, tidak semuanya langsung menyenangkan.
Pada suatu pagi, Annalise menutup sebagian jendela tanpa bertanya. Thomas membukanya kembali ketika lewat, mengira seorang pelayan belum memahami kebiasaannya.
Gadis itu memandangnya dari kursi.
"Aku yang menutupnya."
"Kau kedinginan?"
"Sedikit."
Thomas berhenti dengan tangan pada bingkai, lalu mengembalikannya ke posisi sebelumnya. Ia tampak hendak meminta selendang tambahan, tetapi Annalise mengatakan dirinya sudah cukup nyaman jika anginnya tidak langsung mengenai kursi.
"Baiklah."
Jawaban sederhana itu mengakhiri persoalan lebih cepat daripada seluruh penjelasan mengenai siapa yang biasanya duduk di mana sebelum mereka menikah.
***
Persoalan yang lebih mengganggu datang melalui sebuah kartu kunjungan.
Thomas sudah mengatakan kepada kenalan lama keluarga bahwa mereka mungkin dapat menerima kedatangannya pada sore tertentu. Ia menganggap kunjungan singkat tidak akan mengubah banyak hal, terlebih orang tersebut mengenal Edith dan hanya ingin memberi selamat.
Annalise baru mendengarnya ketika sedang menyiapkan buku untuk pertemuan bersama Henrieta.
"Aku sudah mempunyai rencana," katanya.
Thomas melihat tas di tangannya.
"Aku mengira kau pergi besok."
"Aku pergi hari ini."
Keheningan pendek muncul di antara mereka. Bukan karena persoalan itu tidak dapat diselesaikan, melainkan karena keduanya mengenali kebiasaan lama yang hampir kembali lewat jalan yang sangat biasa.
Thomas dapat menemui tamunya sendiri. Yang membuat Annalise kesal adalah perasaan bahwa jadwalnya baru dianggap perlu diketahui setelah sesuatu telanjur disepakati.
Ia menjelaskan itu tanpa meninggikan suara.
Suaminya mendengarkan sampai selesai.
***
"Aku seharusnya bertanya sebelum menyebut kita," kata Thomas.
Annalise mengangguk. Ia tidak ingin membatalkan kegiatannya agar kunjungan tampak mudah. Ia juga tidak ingin Thomas harus menolak semua orang karena dirinya tidak ada.
Mereka memutuskan bahwa pria itu akan menerima kenalannya bersama Edith, sementara Annalise tetap pergi sesuai rencana. Jika tamu menanyakan, jawabannya cukup bahwa ia mempunyai kegiatan yang telah disepakati lebih dahulu.
Tidak ada alasan menciptakan penyakit.
Thomas kemudian menanyakan apakah mereka perlu saling memberi tahu kegiatan yang sudah pasti pada awal pekan, agar tidak terus mengandalkan dugaan.
Annalise menyetujuinya, selama itu bukan berarti setiap jam harus dilaporkan seperti urusan perjalanan kerajaan.
"Aku berharap masih boleh memindahkan waktu membaca tanpa mengajukan surat," katanya.
Thomas tersenyum dengan agak menyesal.
"Permintaan yang masuk akal, Your Grace."
Kata-kata itu akhirnya membuatnya tertawa.
Ia berangkat bersama Wilda tanpa membawa persoalan kecil tersebut menjadi alasan meragukan seluruh pernikahan.
***
Sore itu Thomas menerima tamu seperti yang direncanakan. Ketika ketidakhadiran Annalise ditanyakan, ia menjawab dengan wajar dan meneruskan pembicaraan.
Tidak ada seorang pun tampak sangat tersinggung karena seorang duchess mempunyai kegiatan menggambar.
Edith memperhatikannya setelah tamu pulang.
"Kau tampak baru mempelajari sesuatu yang seharusnya sederhana."
"Mama tidak perlu terlalu menikmati hal itu."
"Aku sedang berusaha."
Thomas tertawa dan mengambil kartu kunjungan dari meja. Ia menyadari bahwa menjadikan rumah sebagai milik bersama memerlukan lebih dari menyediakan sebuah ruangan yang disukai Annalise.
Ia perlu mengingat keberadaan jadwal, selera, serta waktu istrinya bahkan ketika gadis itu sedang tidak berdiri di depannya.
Hal tersebut tidak terasa seperti kehilangan kebebasan.
Ia hanya tidak lagi hidup seolah semua kekosongan pada harinya juga merupakan kekosongan dalam hari orang lain.
***
Annalise pulang membawa satu gambar yang cukup memuaskan dan keluhan mengenai pensil yang patah pada saat paling tidak tepat.
Thomas mendengarkan cerita tersebut sebelum menanyakan apakah ia masih kesal.
"Sudah berkurang," jawabnya jujur.
"Bagus. Aku berharap gambar yang buruk tidak semuanya disalahkan kepadaku."
"Aku belum menentukan."
Ia tertawa, lalu memperlihatkan halaman yang dibuat. Thomas mencoba menyebut bagian bayangan yang disukai dan memperoleh teguran karena ternyata menunjuk bagian yang belum dikerjakan.
Annalise tidak dapat terus mempertahankan wajah serius.
Mereka duduk sebentar di ruang menggambar dengan pintu terbuka dan cahaya yang mulai berubah. Di atas meja terdapat buku, satu vas kecil, dan serpihan pensil yang belum dibuang.
Rumah itu tidak tampak sempurna.
Namun, ia menampung kepulangan seorang wanita yang dapat membawa cerita tentang sore sendiri tanpa harus meminta maaf karena tidak menghabiskannya bersama suaminya.
***
Malamnya mereka membicarakan rencana beberapa hari berikutnya sambil menunggu makan. Annalise ingin mengunjungi keluarga Berrow setelah memperoleh waktu istirahat. Thomas perlu menemui pengurus pada pagi yang sama, tetapi dapat menyusul jika pertemuannya selesai sesuai rencana.
"Jika tidak, aku tetap akan pergi," kata istrinya.
"Tentu. Aku akan memberi kabar."
Mereka tidak menuliskan semuanya dalam daftar panjang. Cukup beberapa hal yang memang sudah pasti, sehingga tidak ada orang yang perlu menebak tempat kosong di antara harapan masing-masing.
Sesudah makan, Thomas hendak kembali mengambil surat. Annalise menanyakan apakah jawabannya perlu dikirim malam itu juga.
Ia memeriksa, lalu menggeleng.
Kertas tersebut ditinggalkan di meja.
Ia duduk di dekat istrinya, yang sedang membaca dengan kaki ditempatkan nyaman, dan meminta mendengar bagian yang membuatnya tersenyum.
***
Annalise membacakan beberapa kalimat, lalu berhenti karena Thomas mulai mengomentari tokoh dalam cerita seolah orang itu sungguh dapat dinasihati.
"Kau bisa membiarkan satu orang membuat kesalahan tanpa membenahinya?"
"Aku mencoba membantunya."
"Dia tinggal di dalam buku."
Thomas memandang sampulnya, kemudian tertawa.
Istrinya menyandarkan kepala pada bahunya sesaat sebelum kembali membaca. Kedekatan itu tidak datang sebagai hadiah karena ia sudah berhasil menjadi suami yang tidak pernah salah.
Hari mereka justru memuat kesalahpahaman kecil, satu permintaan maaf, dan beberapa kebiasaan yang belum sejalan.
Namun, Annalise masih ingin duduk di sisinya ketika malam menjadi tenang.
Thomas membiarkan tokoh dalam buku menghadapi akibat pilihannya sendiri.
Untuk sementara, ia mempunyai kehidupan yang lebih menarik untuk diperhatikan.