Annalise hampir tertawa ketika pelayan menyambutnya sebagai Duchess of Wellington di pintu rumah.
Bukan karena sebutan itu lucu. Hanya karena beberapa jam sebelumnya dirinya masih mencari pensil di kamar Berrow, dan tidak ada bagian pengalaman tersebut yang membuatnya merasa jauh lebih agung.
Thomas melihat senyum yang ditahannya.
"Kau ingin membagikan sesuatu?"
"Aku sedang berharap tidak melupakan nama sendiri karena terlalu sibuk mengenali gelar."
Ia tertawa pelan, lalu mempersilakannya masuk.
Rumah tidak dipenuhi tamu yang menunggu perayaan kedua. Barang-barang yang sudah dipindahkan berada di tempatnya, pengurus menyampaikan sambutan singkat, dan Wilda siap membantu Annalise beristirahat serta mengganti pakaian.
Edith masih menyelesaikan beberapa urusan perpisahan bersama keluarga dan akan pulang kemudian. Tidak ada yang menganggap kedua pengantin harus mempertahankan wajah segar setelah menjalani hari panjang.
Annalise merasa sangat berterima kasih atas keputusan yang telah dibuat sebelum hari itu tiba.
***
Di kamar yang kini akan digunakannya, ia menemukan tas kecil, buku, dan kain pemberian Isabel telah ditata tanpa menyembunyikan semua benda di tempat yang tidak dikenalnya.
Wilda menanyakan apakah ia ingin duduk lebih dahulu.
"Sangat."
Jawaban tersebut membuat pelayannya tersenyum. Annalise duduk, melepaskan sepatu setelah dibantu merapikan bagian gaun, lalu menghela napas panjang yang sama sekali tidak terdengar seperti seorang duchess dalam lukisan.
"Apakah itu berarti semuanya berjalan baik?" tanya Wilda.
"Itu berarti aku senang duduk tanpa perlu menjawab ucapan selamat."
Mereka tertawa. Pengait gaun dibuka dengan hati-hati, hiasan rambut disimpan agar dapat dikembalikan dengan baik kepada Gresham, dan pakaian yang lebih ringan membuat tubuh Annalise terasa kembali menjadi miliknya sendiri.
Ia melihat cincin pernikahan yang sederhana, lalu menyentuh cincin pertunangan yang dipilih bersama.
Kedua benda itu nyata.
Namun, dirinya masih dapat merasa lelah, lapar, dan ingin bertanya ke mana sisir diletakkan.
***
Thomas menunggu di ruang duduk kecil setelah memberi istrinya waktu yang diperlukan. Ia sendiri sudah melepas sebagian pakaian resmi yang membuat hari itu terasa lebih kaku daripada biasanya.
Ketika Annalise masuk bersama Wilda, pria itu berdiri, lalu langsung tersenyum melihat wajahnya yang lebih santai.
"Kau tampak lega."
"Aku menyukai gaunku. Aku juga sangat menyukai saat selesai memakainya."
"Keduanya dapat kuhormati."
Pelayan membawa makanan ringan serta minuman yang sudah diminta. Annalise menyadari dirinya ingin makan sesuatu yang tidak perlu dinikmati sambil memandang tiga orang bergantian untuk menjawab pertanyaan.
Thomas duduk di samping, tidak terlalu dekat sampai membuatnya sulit bergerak.
Mereka membicarakan kejadian-kejadian kecil dari pagi. Richard yang berusaha tampak tidak terharu. Isabel yang hampir kehilangan saputangan. Matthew yang akhirnya dapat duduk bersama Joanna tanpa membawa urusan kerja ke meja.
Kisah-kisah itu membuat hari yang begitu besar mulai berubah menjadi kenangan yang dapat dipegang satu per satu.
***
Setelah makan, Annalise meminta melihat ruang menggambar sebentar. Ia mengetahui letaknya, tetapi ingin masuk pada hari pertama sebagai penghuni rumah, bukan tamu yang sebentar lagi harus pulang.
Thomas menemaninya.
Mejanya belum dipenuhi hadiah. Satu vas kecil berada cukup jauh dari kertas, buku-bukunya menunggu pada rak, dan kursi yang dipilihnya menghadap cahaya yang kini mulai berkurang.
Annalise menyentuh sandaran kursi, lalu duduk selama beberapa saat.
"Masih sesuai?" tanya Thomas.
"Ya."
Ia membuka buku pemberiannya dan menemukan gambar tangan yang belum selesai. Untuk sesaat ia hampir mengambil pensil, kemudian tertawa kepada diri sendiri.
"Besok," katanya.
Thomas mengangguk. Ia tidak meminta sebuah gambar baru untuk memperingati hari itu. Annalise sudah menjalani cukup banyak hal tanpa harus mengubah semuanya menjadi pekerjaan yang selesai sebelum tidur.
Mereka kembali ke ruang duduk dengan langkah pelan, memberi kesempatan rumah itu terasa lebih akrab melalui perjalanan yang sederhana.
***
Edith pulang tidak lama kemudian. Ia masuk setelah memastikan tidak mengganggu, menanyakan apakah keduanya sudah makan, lalu menerima jawaban sebelum mengajukan pertanyaan berikutnya.
Annalise tersenyum melihat usaha tersebut.
"Semuanya nyaman," katanya. "Terima kasih."
Sang dowager memandang ruangan, kemudian wajah putranya. Ada kegembiraan dan rasa haru yang tidak lagi perlu disembunyikan di balik urusan bunga atau tamu.
Ia memeluk Annalise singkat, menepuk lengan Thomas, dan mengatakan akan beristirahat di bagian rumah yang biasa digunakannya.
Tidak ada pengumuman bahwa dirinya tidak boleh mengganggu pasangan muda. Ia hanya memberi mereka waktu seperti yang akan diberikan kepada siapa pun yang telah melalui hari panjang.
Sesudah ibunya pergi, Thomas duduk kembali.
Annalise memandangnya dengan senyum kecil.
"Aku senang dia berada di sini."
"Aku juga."
Jawaban itu membuat rumah baru tersebut terasa tidak harus dimulai dengan seseorang kehilangan tempat agar orang lain diterima.
***
Malam menjadi lebih tenang. Dari lorong terdengar suara langkah yang semakin jarang, lalu pintu yang ditutup dengan hati-hati.
Thomas menggenggam tangan istrinya dan menanyakan apa yang diinginkannya sebelum mereka beristirahat.
Annalise memandangnya. Ada kegugupan baru, berbeda dari saat berdiri di gereja, tetapi tidak ada dorongan untuk menjawab hanya karena merasa harus membuktikan bahwa dirinya sudah menjadi istri yang tepat.
"Aku ingin kau tetap bersamaku," katanya.
Thomas mengangguk. Ia mendekat setelah Annalise meraih lengannya, lalu menciumnya dengan lembut.
Tidak ada ketergesaan yang menjadikan malam itu perlombaan untuk memenuhi harapan orang lain. Mereka berbicara pelan, sesekali tertawa karena sebuah kata terasa terlalu canggung, dan membiarkan jarak berubah dengan cara yang diinginkan bersama.
Ketika akhirnya meninggalkan ruang duduk, Thomas memadamkan lampu yang tidak lagi diperlukan.
Di balik pintu yang ditutup perlahan, malam itu menjadi milik mereka.
***
Pagi berikutnya datang dengan cahaya di sisi tirai dan suara kereta jauh di jalan.
Annalise memerlukan beberapa detik untuk mengingat bahwa langit-langit yang dilihatnya bukan langit-langit kamar Berrow. Kemudian ia menoleh dan menemukan Thomas sudah terjaga, memperhatikannya dengan senyum yang terlalu menyenangkan untuk pagi sepagi itu.
"Selamat pagi," katanya.
Gadis itu membalas, lalu tertawa kecil ketika menyadari dirinya masih mempunyai keinginan mengucapkan sesuatu yang sangat cerdas dan belum mempunyai cukup tenaga untuk menemukannya.
"Kau tidak perlu mengalahkanku sebelum sarapan," ujar Thomas.
"Aku belum memutuskan."
Ia tertawa dan menanyakan apakah Annalise ingin beristirahat lebih lama. Gadis itu mengangguk, lalu meminta sarapan sederhana dibawa kemudian agar dirinya tidak perlu segera bersiap menerima seluruh rumah.
Thomas menyetujuinya tanpa menganggap pagi pertama mereka harus diisi kegiatan yang istimewa.
Ia juga tidak mempunyai keinginan meninggalkan ruangan dengan tergesa.
***
Ketika akhirnya duduk di dekat jendela setelah bersiap, Annalise melihat nampan sarapan dan menyadari ia dapat meminta teh ditempatkan pada sisi yang biasa digunakannya.
Ia melakukannya.
Perubahan kecil itu tidak membuat siapa pun terkejut. Thomas menggeser piring, menyerahkan sesuatu yang dimintanya, lalu menceritakan bahwa ibunya telah mengirim pesan singkat: tidak ada tamu yang akan diterima pagi ini kecuali mereka menginginkannya.
Annalise tersenyum lega.
Ia ingin menulis kepada orang tuanya nanti, mungkin membuka buku gambar, mungkin berjalan sebentar jika tubuhnya merasa cukup nyaman.
Tidak semuanya harus dilakukan hari ini.
Thomas menanyakan apakah ia menyukai sarapannya, dan gadis itu menjawab sebelum mengulurkan tangan di atas meja.
Suaminya menggenggam jemarinya.
Di luar, London memulai hari seperti biasa. Di dalam rumah, mereka mulai mengenal kebiasaan yang belum pernah perlu dibagi sebelumnya.
Pernikahan telah berlangsung.
Sekarang ada kehidupan yang ingin mereka pelajari bersama, satu pagi pada satu waktu.