"Ada hubungan apa kata terkenal dan Ruthbone?" kata Thomas masam. Gadis itu terus menerus menyebutkan Ruthbone seolah dia adalah seorang pahlawan yang sudah menyelamatkan sebuah kerajaan. Padahal Ruthbone hanyalah Ruthbone. Dokter yang memang terkenal karena jasanya saat membantu peperangan melawan Napoleon satu dekade yang lalu. Tapi demi Tuhan, jasanya tidak sebesar itu. Setidaknya jika disandingkan dengan Thomas, Annalise harus tahu bahwa Ruthbone tidak ada apa-apanya.
Annalise mengedikkan bahunya tidak peduli. "Itu hanya kebiasaan karena ibuku selalu menyebutnya demikian."
"Dokter Ruhtbone yang terkenal?"
Annalise mengangguk. Tahu bahwa apapun yang ia lakukan tidak akan bisa dilihat oleh Thomas. Tapi dia tidak peduli.
"Dokter Ruthbone yang terkenal. Dokter Ruthbone bertangan dingin. Dokter Ruthbone si tangan ajaib. Dan sebagainya," jawabnya panjang lebar.
Thomas bisa merasakan bahwa gadis di belakangnya sedang tersenyum geli. Dan penjelasannya tadi mau tidak mau membuatnya turut tersenyum geli. Ia kini tahu bahwa gadis bersurai keemasan itu tidak sepenuhnya tergila-gila dengan kawannya.
Isabel lalu berdeham. Menyadarkan kedua manusia itu bahwa dirinya –istri dari dokter Ruthbone yang terkenal— berada di sini.
"Maaf Isabel. Tapi suamimu memang benar-benar terkenal," ujar Annalise menahan tawa.
Isabel tidak menjawab. Hanya menggerutu tidak jelas sambil dirinya berputar di ruangan rawat itu. Melakukan entah apa sehingga membelakangi dan memberikan privasi kepada mereka.
"Dia memang mudah tersinggung. Tetapi dia orang yang baik selain hobinya yang suka bergosip," bisik Annalise pelan di telinga Thomas. Sekali lagi membuat posisi mereka terlalu dekat dan Thomas kembali menghirup aroma jeruk dan madu yang menguar dari tubuh Annalise.
Thomas tidak menjawab. Sibuk mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu ketika sentuhan jari-jari lembut Annalise menyentuh punggung telanjang Thomas.
Thomas merasakannya. Sentakan listrik statis yang seolah berasal dari punggungnya dan secara perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Berusaha menjaga dirinya untuk tertarik kepada benang-benang kasat mata yang gadis itu berusaha jeratkan kepadanya.
Sementara itu, Annalise tampak biasa saja. Tertawa-tawa sambil membeberkan tingkah lucu Isabel yang membuat Annalise hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mengingatnya.
"Dan Isabel pernah mengatakan kepada teman-temannya bahwa dirinya baru saja mencium aroma tidak menyenangkan di ruangan minum teh, milik seorang temannya. Dan apa kau tahu? Ternyata Mrs. Hudson yang saat itu Isabel bawalah penyebabnya!"
Annalise kembali tertawa.
"Kukira saat itu Isabel akan berhenti bergosip dan berhenti mengatakan sesuatu tanpa berpikir panjang."
Thomas lalu mendengar suara deheman dari Isabel. Namun dirinya masih bingung dengan kondisi tubuhnya. Ia bingung membagi fokusnya. Tidak ketika suara tawa merdu seperti lonceng yang terdengar di belakangnya dan listrik statis yang masih terus menerus terasa di punggungnya.
Oh Tuhan. Apakah dirinya sudah gila?
Thomas lalu menutup matanya. Berusaha menormalkan detak jantungnya dan perlahan, ia bisa mendengarkan suara langkah kaki. Dua pasang langkah kaki yang mendekati ruangan mereka. Ia lalu berhitung dalam hati dan sepuluh detak jantung kemudian, ia mendengar suara pintu yang terbuka dan suara dari dokter Ruthbone yang terkenal.
"Oh, apa yang terjadi di sini?" tanyanya bingung.
"Kau sudah datang! Untunglah!" seru Annalise sembari berlari mendekati sang dokter. Ia lalu menyeret lengan Ruthbone dan membawanya ke tempatnya sebelumnya berdiri.
"Sir Thomas menolongku tadi dan menyebabkan luka yang kau obati menjadi terbuka," jelasnya.
Mata Ruthbone menyipit melihat luka yang telah dibersihkan dan kembali teroles oleh ramuan herbal miliknya yang berwarna hitam. Kemudian Thomas menoleh, memberikan tatapan peringatan yang sama sehingga membuat Ruthbone mengangguk paham.
Ruthbone akan diam dan melihat. Dan ketika keadaan mungkin sudah tidak bisa Thomas kendalikan, mungkin dirinya bisa sedikit membantu.
Tubuh Thomas kemudian membatu satu menit kemudian ketika mendengar langkah kaki mantap dan tampak tergesa-gesa mendekati ruangan mereka. Sosok yang ia duga memang akan mencarinya –namun seharusnya tidak saat ini— berada di sini.
Dengan satu sentakan keras, Matthew lalu membuka pintu dengan lebar. Menyapu ruangan rawat yang tidak terlalu besar dan seolah tatapan peringatan Thomas tidak mampu lagi mempengaruhi Matthew, dengan lantang dirinya berkata,
"Your Grace! Bagaimana bisa Anda meninggalkanku sendirian di sana!"
Oh tidak. Jika gadis itu cukup cerdas, apapun rencana yang sedang Thomas susun akan hancur berantakan dan itu semua karena tangan kanannya yang bertingkah laku bodoh.
Ya Tuhan, Matthew! Geram Thomas dalam hati.