Pagi pernikahan dimulai dengan Wilda mengatakan bahwa rambut Annalise akan lebih mudah dirapikan jika pemiliknya berhenti menoleh setiap kali mendengar langkah di lorong.
"Aku tidak terus menoleh."
Pelayan itu menatapnya melalui cermin.
Annalise tersenyum dengan wajah bersalah dan akhirnya diam cukup lama agar hiasan rambut Gresham dapat dipasang.
Henrieta berada di dekat jendela, memeriksa ujung kain yang sebentar lagi dikenakan adiknya. Ibunya datang membawa sesuatu untuk dimakan sebelum seluruh orang terlalu sibuk memberi perintah yang saling bertentangan.
Gadis itu menerima dan makan perlahan. Ia sudah tidur, meskipun tidak selama malam yang biasanya diinginkan. Tubuhnya terasa cukup nyaman, dan kegugupan tidak perlu diubah menjadi alasan menyatakan seluruh pagi akan sulit.
Ketika gaun akhirnya dikenakan, ruangan menjadi lebih hening.
Annalise menatap cermin.
Ia melihat dirinya sendiri, hanya dengan pakaian yang lebih indah dan orang-orang yang memandangnya seolah ingin menyimpan saat tersebut selama mungkin.
***
Gresham memperbaiki satu lipatan yang sebenarnya sudah rapi. Henrieta melihatnya, tetapi tidak menggodanya.
"Sesuai?" tanya ibunya.
Annalise mengangguk, lalu bergerak sedikit untuk memastikan tidak ada bagian yang mengganggu. Wilda memeriksa pengait terakhir sebelum mundur.
Tidak ada perubahan besar yang diminta pada menit terakhir. Gaun itu sudah dipilih melalui cukup banyak percakapan untuk tidak perlu membuktikan dirinya sekali lagi.
Duke of Berrow menunggu di luar sampai diizinkan masuk.
Ketika melihat putrinya, ia berhenti sebentar di ambang pintu.
Annalise langsung tersenyum.
"Papa tidak boleh membuatku menangis sebelum berangkat."
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Wajah Papa sudah."
Sang duke tertawa pelan, lalu mendekat dan mencium keningnya. Ia mengatakan kereta telah siap, tetapi mereka masih mempunyai waktu untuk turun dengan tenang.
Annalise meraih tangannya dan membiarkan ayahnya menuntun langkah pertama keluar dari kamar yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.
***
Thomas datang lebih awal ke gereja bersama Matthew. Ia sempat menganggap hal itu akan membuat dirinya lebih tenang.
Ternyata datang lebih awal hanya memberi waktu tambahan untuk menyadari betapa lambatnya orang berjalan ketika hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Matthew berdiri di dekatnya dengan sikap yang terlalu tenang.
"Kau sengaja tampak seperti itu?" tanya Thomas.
"Seperti apa, Your Grace?"
"Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Sejauh ini memang tidak ada."
Jawaban tersebut sangat masuk akal dan sama sekali tidak membantu.
Alaric datang tidak lama kemudian, menyapa keduanya, lalu memilih tidak memberikan nasihat panjang. Ia hanya menepuk bahu Thomas dan mengatakan bahwa dirinya sebaiknya bernapas sebelum seseorang mengira sang pengantin pria memerlukan bantuan Ruthbone.
Thomas tertawa meskipun terdengar sedikit lebih pendek daripada biasanya.
Ketika Edith tiba, ia memeluk putranya singkat dan pergi ke tempat duduk sebelum matanya menjadi terlalu basah untuk menyalahkan cahaya pagi.
***
Para tamu yang dekat dengan mereka memenuhi tempat yang sudah disiapkan tanpa membuat ruangan terasa sesak. Thomas melihat George membantu Kate duduk, Richard berbicara pelan dengan Arthur, serta Joanna melambai kecil kepada Matthew sebelum mengikuti tempat yang ditunjukkan.
Ruthbone dan Isabel berada tidak jauh dari keluarga Berrow.
Thomas memandang pintu.
Kini ia membiarkan dirinya menunggu seorang wanita yang mempunyai hak datang dengan langkah sendiri.
Ketika gerakan di dekat pintu berubah, seluruh pikirannya mendadak menjadi sederhana.
Annalise telah tiba.
***
Gadis itu tidak melihat semua orang sekaligus. Ia mengenali ibunya lebih dahulu, kemudian beberapa wajah keluarga, lalu Thomas yang berdiri menunggu.
Ada cahaya pada sisi wajahnya yang membuat Annalise teringat sore ketika mencoba menggambar potret pertama.
Saat itu ia mengira bagian tersulit adalah menangkap garis rahang.
Sekarang ia mengetahui ada wajah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat bentuknya. Ia perlu mengenal cara pria itu tersenyum ketika gugup, cara bahunya mengendur ketika merasa lega, dan tatapan yang tidak lagi meminta dirinya mengikuti keputusan yang telah dibuat.
Ayahnya berjalan di sampingnya dengan langkah yang dapat diikuti tanpa tergesa.
Annalise tidak mencari keberanian dari wajah semua tamu.
Ia melihat Thomas.
Pria itu tersenyum, begitu hangat sampai sisa ketegangan di dadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat kepada kegembiraan.
Ketika mereka sampai, Duke of Berrow menatap putrinya sekali lagi sebelum memberi tempat kepada kedua orang yang akan mengucapkan janji.
***
Upacara tidak terasa seperti rangkaian kata yang pernah didengar pada pernikahan orang lain.
Annalise mendengarkan dengan perhatian yang kadang terganggu oleh kesadaran akan tangan Thomas di dekatnya. Setiap pertanyaan kini mempunyai akibat yang akan dibawa pulang ke dalam hari-harinya sendiri.
Ketika tiba gilirannya menjawab, suaranya tidak setinggi yang dibayangkan.
Namun, cukup jelas.
Thomas mendengarnya tanpa perlu mencondongkan tubuh atau mencari kepastian tambahan melalui wajah keluarganya.
Ia mengucapkan jawabannya dengan kesungguhan yang membuat Annalise menatapnya lebih lama. Tidak ada kalimat yang digunakan untuk menyamarkan sesuatu. Tidak ada kesepakatan sementara yang dimaksudkan untuk menghindari season.
Cincin pernikahan yang sederhana disematkan dengan hati-hati. Annalise merasakan sentuhannya, lalu mengangkat wajah ketika Thomas melepaskan jemarinya perlahan.
Ia masih orang yang sama seperti ketika bangun pagi tadi.
Tetapi kini ada janji yang diucapkan dan didengar, bukan hanya diharapkan dalam hati.
***
Bagian-bagian upacara berikutnya berjalan tenang. Annalise dapat mengikuti setiap langkah tanpa merasa tertinggal oleh peristiwa yang begitu penting bagi hidupnya.
Ketika mereka akhirnya diperkenalkan sebagai suami dan istri, ia mendengar perubahan pada gelarnya dan memandang Thomas dengan sedikit takjub.
Pria itu menunduk mendekat, cukup untuk bertanya pelan apakah ia baik-baik saja.
Annalise mengangguk.
"Aku sedang mencoba terbiasa menjadi istrimu."
Senyum Thomas melebar.
"Aku berharap diberi kesempatan membantu."
"Jangan terlalu cepat memberi petunjuk."
Ia tertawa pelan, dan suara itu membuat sesuatu yang besar serta khidmat kembali mempunyai ruang bagi diri mereka yang biasa.
***
Ucapan selamat datang sesudahnya, hangat dan berlapis. Gresham memeluk putrinya, Duke of Berrow menggenggam tangan Thomas, dan Edith akhirnya berhenti berpura-pura matanya hanya terganggu cahaya.
Richard mengatakan dirinya masih akan memeriksa apakah adiknya cukup sering tertawa. Annalise menjawab bahwa ia dapat mulai dengan berhenti membuat komentar yang terlalu panjang di depan pintu.
Arthur tertawa, kemudian memeluknya dengan lembut. Henrieta memegang kedua tangannya dan memuji betapa tenang ia menjawab tadi.
Joanna menunggu sampai keluarga memberi ruang, lalu mendekat dengan senyum yang membuat Annalise hampir menangis lagi.
Tidak semua ucapan perlu dibalas dengan kalimat yang sempurna.
Ia mengucapkan terima kasih, menggenggam tangan, dan membiarkan kegembiraan orang lain datang tanpa merasa dirinya harus berdiri menerima semuanya sampai kehabisan tenaga.
Thomas berada di sisinya, memperhatikan saat mereka perlu bergerak agar pintu tidak terhalang.
***
Di luar, udara terasa berbeda meskipun London tetap mempunyai suara roda dan langkah seperti pagi mana pun.
Annalise berhenti sebentar sebelum naik ke kereta. Thomas menunggu, tidak menarik lengannya agar mereka segera pergi.
"Apa?" tanyanya lembut.
Gadis itu menatap cincin di tangannya, lalu wajah pria yang kini menjadi suaminya.
"Aku ingin mengingat ini."
Thomas tersenyum dan membiarkan beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang spektakuler terjadi dalam waktu sesingkat itu. Angin bergerak pada tepi pakaiannya. Seseorang tertawa di dekat tangga. Ayahnya sedang membantu ibunya berjalan.
Namun, Annalise mengetahui saat itu akan menjadi miliknya.
Ia akhirnya menerima tangan Thomas untuk naik ke kereta.
Pintu ditutup, dan perjalanan menuju jamuan dimulai bersama dua orang yang tidak lagi perlu menebak apakah mereka telah memilih hal yang sama hari itu.