Thomas, jangan habiskan malam sebelum pernikahan untuk memeriksa semua pintu. Besok seseorang akan datang karena ia ingin masuk.
Duke of Gordon ke-X.
***
Pada malam sebelum pernikahan, Thomas menemukan dirinya memeriksa satu daftar yang sudah selesai tiga kali.
Tidak ada nama yang berpindah. Waktu kereta tidak berubah. Cincin yang akan digunakan pada upacara berada di tempat yang disepakati, dan Matthew sudah mengatakan bahwa ia mengetahui di mana kotaknya disimpan.
Thomas tetap melihat kertas itu lagi.
Edith masuk tanpa mengetuk setelah mendengar dari pelayan bahwa putranya belum turun.
"Jika kau membaca cukup lama, apakah daftar itu akan memberimu jawaban mengenai besok?"
Thomas mengangkat wajah.
"Aku memastikan tidak ada yang terlewat."
"Kau melewatkan makan malam."
Pernyataan tersebut sulit dibantah. Ia meletakkan kertas, berdiri, lalu mengikuti ibunya keluar dengan ekspresi yang membuat Edith harus berusaha keras tidak tertawa.
Pria yang sanggup menghadapi banyak urusan berbahaya ternyata dapat dikalahkan oleh kereta, kursi tamu, dan sebuah jam yang bergerak terlalu lambat.
***
Makan malam hanya dihadiri penghuni yang memang berada di rumah. Tidak ada perayaan tambahan yang sengaja disisipkan setelah mereka sepakat membuat malam terakhir cukup tenang.
Matthew ikut duduk setelah Thomas memintanya. Alaric telah menemui mereka lebih awal dan kini beristirahat di tempatnya menginap, siap datang keesokan hari.
Edith menanyakan apakah Joanna sudah cukup nyaman. Matthew mengangguk dan menceritakan bahwa adiknya lebih khawatir mengenai pita rambut daripada perjalanan menuju gereja.
"Akhirnya ada orang dengan kecemasan yang masuk akal," ujar sang dowager.
Thomas memandang ibunya.
"Aku tidak menyebut namamu," katanya.
Matthew menunduk terlalu cepat untuk menyembunyikan senyum.
Percakapan beralih kepada hal-hal kecil. Thomas perlahan berhenti memperkirakan berapa menit yang dapat digunakan untuk membaca daftar setelah makan.
Makanan masih hangat ketika ia menyelesaikannya, sesuatu yang diperhatikan Matthew tetapi cukup bijaksana untuk tidak dijadikan teguran kedua malam itu.
***
Sesudahnya, Edith meminta berjalan sebentar ke ruangan tempat potret Benyamin berada. Thomas mengikuti tanpa merasa perlu menanyakan alasannya.
Mereka berdiri berdampingan dalam keheningan yang sudah lebih mudah ditanggung daripada bertahun-tahun lalu.
"Aku berharap dia bisa berada di sini," kata ibunya.
Thomas mengangguk.
Ia tidak mencoba menenangkan Edith dengan mengatakan bahwa ayahnya pasti akan mengetahui dari suatu tempat. Yang mereka ketahui adalah ketidakhadiran itu masih terasa, bahkan ketika hari berikutnya menjanjikan kegembiraan.
"Aku juga," jawabnya.
Edith menyentuh lengan putranya. Ia mengatakan bahwa Benyamin mungkin akan terlalu sibuk mengoreksi cara Thomas mengenakan pakaian sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu yang hangat ketika tidak ada orang lain mendengar.
Thomas tertawa pelan.
Mereka berbagi satu kisah lama, lalu yang lain. Tidak semua kenangan berakhir pada kehilangan.
Ketika meninggalkan ruangan, Edith tidak tampak berhenti merindukan suaminya. Namun, ia berjalan lebih ringan, dan Thomas senang dapat berada di sampingnya tanpa harus mencari cara menghapus perasaan tersebut.
***
Di ruang duduk, ibunya berhenti sebelum berpamitan untuk beristirahat.
"Besok kau akan mempunyai seseorang yang menunggumu pulang."
Thomas hampir menjawab bahwa Edith selalu menunggunya, lalu memahami maksud kalimat itu.
"Aku ingin belajar pulang sebelum seseorang perlu mencariku," katanya.
Sang dowager tersenyum.
Ia tidak meminta janji bahwa putranya tidak akan pernah pergi atau tidak akan menerima pekerjaan yang membuatnya khawatir. Mereka sudah terlalu lama hidup bersama tugas untuk mengetahui bahwa janji semacam itu mudah diucapkan dan sukar dipertahankan.
Edith hanya mengatakan bahwa rumah tidak perlu terus-menerus membuktikan kegunaannya dengan menunggu sampai Thomas kehabisan tenaga.
Pria itu mengangguk.
Kemudian ia memeluk ibunya, singkat tetapi erat. Edith menerima sebelum menepuk punggungnya dan memperingatkan agar dirinya tidak kembali membaca daftar sampai pagi.
Thomas tidak menjanjikan lebih dari yang dapat dilakukan.
Ia mengatakan akan mencoba tidur.
***
Di rumah Berrow, Annalise menghadapi persoalan berbeda: Richard tidak bersedia mengakui bahwa dirinya datang hanya untuk melihat apakah adiknya baik-baik saja.
Ia mengaku mencari sebuah buku.
Buku itu sudah diberikan Arthur kepadanya beberapa hari lalu.
Annalise membiarkannya mencari selama hampir satu menit sebelum mengatakan judul yang dimaksud.
Richard terdiam, lalu duduk dengan wajah pasrah. Arthur, yang menyusul bersama Henrieta, langsung tertawa.
Mereka berkumpul sebentar di ruang keluarga tanpa membawa pembicaraan besar. Ada teh, satu piring kecil yang segera kosong, serta gurauan mengenai siapa yang paling mungkin membuat kereta terlambat esok pagi.
Richard menuduh Arthur.
Arthur mengatakan tuduhan itu cukup membuktikan siapa yang sebenarnya perlu diawasi.
Annalise tertawa bersama mereka dan merasa bersyukur malam terakhirnya di rumah tidak seluruhnya dipenuhi wajah sedih yang membuat dirinya merasa bersalah karena akan pergi.
***
Duke of Berrow datang setelah putra-putranya mulai kehabisan alasan untuk tinggal. Ia mengatakan Annalise perlu beristirahat dan meminta mereka menyimpan sebagian kegaduhan untuk hari berikutnya.
Richard memeluk adiknya dengan lebih lama daripada biasanya.
"Kau boleh datang mengeluh kapan pun," katanya.
"Termasuk mengeluhkanmu?"
"Aku berharap pernikahan membuatmu mempunyai bahan baru."
Arthur mengucapkan selamat malam dengan lembut, lalu Henrieta mencium kening Annalise sebelum mereka pergi.
Sang duke duduk sebentar bersama putrinya.
Tidak ada pertanyaan terakhir untuk menguji keyakinannya. Ia hanya menanyakan apakah Annalise ingin mengatakan sesuatu sebelum malam berakhir.
Gadis itu memandang ayahnya dan mengakui bahwa ia akan merindukan rumah.
"Rumah ini tidak pergi ke mana-mana," jawabnya.
Annalise tersenyum, kemudian menyandarkan kepala pada bahunya sebentar, sebagaimana pernah dilakukan jauh sebelum dirinya mengetahui betapa rumit kata dewasa dapat terdengar.
***
Gresham datang ke kamar ketika Wilda selesai menyiapkan keperluan pagi. Gaun telah disimpan dengan baik, hiasan rambut berada di tempat aman, dan tidak ada sesuatu yang perlu diperiksa untuk keempat kalinya.
Ibunya duduk di tepi tempat tidur.
"Kau ingin Mama tinggal sebentar?"
Annalise mengangguk.
Mereka tidak membicarakan tugas seorang duchess. Gresham menceritakan kegugupannya sendiri sebelum menikah, termasuk kekhawatiran yang sekarang terdengar kecil tetapi saat itu sanggup membuatnya tidak bisa tidur.
Annalise tertawa, lalu menanyakan apakah rasa gugup benar-benar hilang ketika upacara dimulai.
"Tidak seluruhnya. Tetapi ada wajah yang ingin kulihat di ujung perjalanan itu."
Gadis itu menunduk, memahami tanpa perlu penjelasan lain.
Ia memikirkan Thomas, cara pria tersebut memandangnya ketika ia mengatakan ya, dan buku kosong yang menunggu di antara barang-barang yang akan dibawa.
Malam mendadak terasa cukup panjang untuk beristirahat, bukan hanya untuk menunggu pagi.
***
Setelah Gresham pergi, Annalise duduk sebentar di dekat jendela. Jalan lebih tenang daripada siang hari. Ia tidak menemukan pertanda khusus mengenai apa yang akan terjadi besok.
Tidak perlu ada.
Ia sudah membuat keputusan pada hari-hari yang biasa, ketika Thomas datang tepat waktu, ketika ia terlambat, ketika mereka tertawa dan ketika percakapan membuat keduanya harus berpikir lebih lama.
Besok bukan hari ketika dirinya baru memilih seorang suami.
Besok ia akan mengucapkan pilihan yang sudah dijalaninya dengan sadar.
Annalise kembali ke tempat tidur dan membiarkan Wilda memadamkan lampu setelah memastikan tidak ada yang diperlukan lagi.
Di rumah Wellington, Thomas akhirnya menutup laci berisi daftar.
Untuk malam itu, segala sesuatu yang dapat disiapkan sudah disiapkan.
Sisanya akan datang bersama pagi, dan ia tidak ingin melewatkannya karena terlalu lelah untuk memperhatikan.