Thomas, ketika hari besar tinggal sedikit lagi, jangan lupa bahwa orang yang akan menikah denganmu masih mempunyai hari ini untuk dijalani.
Duke of Gordon ke-X.
***
Pada pekan terakhir sebelum pernikahan, Annalise tetap menghadiri pertemuan menggambar.
Keputusan itu mengejutkan seorang kenalan yang mengira calon pengantin pasti terlalu sibuk untuk memikirkan cangkir dan kain. Bagi Annalise, justru itulah alasannya ingin datang.
Ia membutuhkan satu sore ketika pertanyaan yang diajukan bukan mengenai bunga, tempat duduk, atau siapa yang belum menjawab surat.
Henrieta menemukannya sudah siap dengan buku di pangkuan.
"Kau tampak lebih cepat daripada biasanya."
"Aku takut seseorang menemukan urusan lain jika aku terlalu lama bersiap."
Kakaknya tertawa, lalu mengajaknya berangkat sebelum kemungkinan itu memperoleh kesempatan.
Pertemuan hari itu menggunakan ranting dengan beberapa daun yang mulai berubah bentuk karena disimpan terlalu lama. Mrs. Bell meminta mereka memperhatikan apa yang sungguh terlihat, bukan menggambar bentuk daun yang menurut ingatan seharusnya ada.
Annalise memandang contoh tersebut dan tersenyum.
Ia merasa sudah cukup sering melakukan kesalahan yang sama terhadap manusia.
***
Gambarnya tidak selesai dalam satu pertemuan. Ada bagian yang terlalu gelap, satu daun terlalu besar, dan bayangan yang perlu dicoba lagi ketika dirinya tidak lagi terburu-buru memperbaiki semuanya.
Namun, ia tidak pulang dengan rasa kecewa.
Mrs. Bell melihat perubahan pada cara Annalise memperhatikan sebelum menarik garis. Ia mengatakan gadis itu sudah lebih sabar, meskipun kadang masih ingin memaksa bentuk muncul terlalu cepat.
"Aku mengenal seseorang dengan kebiasaan yang lebih buruk," jawab Annalise.
Henrieta tertawa sebelum dapat menahannya.
Ketika berpamitan, pengajar itu mengucapkan selamat untuk pernikahan dan mengatakan dirinya senang jika Annalise kembali setelah mempunyai waktu.
Tidak ada anggapan bahwa gelar baru akan membuat pensilnya harus disimpan selamanya.
Gadis itu berterima kasih, lalu mengatakan ia memang ingin datang lagi.
Janji itu tidak mempunyai tanggal pasti. Namun, bagi Annalise, mengetahui dirinya masih dapat membayangkan hari sesudah pernikahan dalam ruangan tersebut terasa sangat menenangkan.
***
Gaun terakhir dicoba keesokan hari setelah pagi yang cukup tenang. Perubahan pada lengan membuatnya lebih mudah bergerak, dan hiasan rambut Gresham sesuai tanpa perlu menambahkan terlalu banyak benda lain.
Annalise memandang cermin lebih lama daripada sebelumnya.
Sekarang pakaian itu sudah tidak tampak seperti potongan-potongan yang sedang berusaha menjadi gaun.
Ia dapat membayangkan dirinya memakainya ketika berdiri di samping Thomas.
Gresham berada di belakangnya dengan wajah yang berubah lembut. Henrieta menyentuh satu lipatan, lalu mundur agar adiknya dapat melihat keseluruhan.
"Kau menyukainya?" tanya ibunya.
Annalise mengangguk.
"Sangat."
Jawaban tersebut tidak dibuat untuk mengakhiri pembicaraan atau membuat orang lain berhenti khawatir. Ia menyukai gaunnya, menyukai bahwa dirinya dapat duduk dengan nyaman, dan menyukai wajah yang terlihat di atas semua kain itu masih wajahnya sendiri.
Gresham memeluknya setelah penjahit memastikan tidak ada jarum yang tertinggal.
Henrieta menganggap kehati-hatian tersebut sangat bijaksana.
***
Thomas datang sore berikutnya dengan sebuah buku kosong yang sampulnya cukup kuat untuk dibawa bepergian. Ia menyerahkannya tanpa meminta gadis itu membuka di hadapan seluruh keluarga.
Annalise tetap langsung membukanya.
Di halaman pertama, ia menemukan tulisan singkat: Untuk gambar-gambar yang belum sempat kaubuat.
Gadis itu memandang Thomas, kemudian kembali kepada halaman yang masih bersih.
"Kau tidak takut aku akan menggambarmu lagi?"
"Aku berharap hidungku memperoleh perlakuan yang lebih baik setelah kau berlatih cukup lama."
"Hidungmu terlalu banyak menuntut."
Thomas tertawa. Annalise mengusap kertas dengan ujung jari dan mengatakan ia menyukai pemberian itu.
Pria tersebut tidak membelikan seluruh perlengkapan atau mengatur seorang pengajar tanpa bertanya. Ia hanya memberinya sesuatu yang dapat diisi sendiri, pada waktu dan dengan cara yang disukainya.
Annalise menutup buku perlahan.
Dalam beberapa hal, Thomas mulai pandai memilih hadiah yang tidak terlalu banyak berbicara atas namanya.
***
Mereka mengunjungi gereja bersama orang tua Annalise pada hari yang telah disepakati. Bukan untuk mengulang seluruh upacara sampai kegugupan hilang, melainkan memastikan beberapa urusan praktis tidak baru ditanyakan pada hari pernikahan.
Annalise melihat pintu, jarak menuju tempat mereka akan berdiri, serta tempat duduk yang disediakan bagi keluarga. Gresham menanyakan beberapa hal kepada orang yang membantu menyiapkan ruangan, sementara Duke of Berrow berjalan bersama putrinya.
Thomas menunggu di bagian depan sebelum mendekat lagi.
Melihatnya di sana membuat sesuatu dalam dada Annalise berubah.
Ia telah menerima lamaran. Memilih cincin. Melihat gaun yang selesai.
Namun, untuk beberapa detik, semua keputusan tersebut bertemu pada satu gambaran yang begitu jelas hingga dirinya berhenti melangkah.
Ayahnya menoleh.
"Kau ingin duduk?"
Annalise menggeleng, lalu tersenyum dengan sedikit malu.
"Aku hanya baru benar-benar membayangkannya."
Sang duke menepuk tangannya tanpa meminta penjelasan lebih jauh.
***
Thomas tidak langsung menanyakan apakah dirinya ragu. Ia memberi waktu kepada gadis itu sebelum menawarkan tempat duduk di dekat jendela samping.
Annalise menerima, dan keduanya berbicara sementara orang tua mereka menyelesaikan urusan lain tidak jauh dari sana.
"Kau gugup?" tanyanya.
"Ya."
Jawaban Thomas terlalu cepat untuk dianggap sebagai usaha menyenangkan hatinya.
Gadis itu tertawa pelan. "Kau tampak sangat tenang."
"Aku sudah berlatih membuat wajah seperti itu selama bertahun-tahun."
"Aku mulai mengetahuinya."
Ia mengatakan dirinya tidak takut menjawab ya. Ia hanya takut hari itu berlangsung terlalu cepat, dipenuhi begitu banyak suara sampai dirinya lupa memperhatikan hal yang ingin diingat.
Thomas memikirkan kalimat tersebut, lalu mengatakan bahwa mereka dapat mencari satu saat untuk berbicara hanya berdua sesudah upacara, tetap dalam pengaturan yang pantas dan tanpa membuat keluarga menunggu terlalu lama.
Bukan untuk membicarakan daftar tamu.
Hanya memastikan mereka sempat saling melihat.
Annalise menyukai gagasan itu.
***
Sesudah kembali, Thomas menemui Matthew untuk memeriksa urusan pekan berikutnya. Beberapa pekerjaan sudah diselesaikan lebih awal. Yang dapat ditangani pengurus tidak ditarik kembali ke meja sang duke hanya karena dirinya ingin merasa dibutuhkan.
Matthew akan hadir sebagai orang yang dekat dengannya, bukan menghabiskan seluruh hari berlari menyelesaikan tugas yang seharusnya dapat dibagi sejak sekarang.
Thomas mengatakan hal itu secara langsung.
Sepupunya memandangnya, kemudian tersenyum.
"Saya tetap akan membantu jika diperlukan."
"Aku tahu. Aku hanya tidak ingin kau melewatkan semuanya karena merasa harus memastikan setiap pintu terbuka sendiri."
Mereka menyelesaikan pembicaraan tanpa daftar baru yang lebih panjang. Ketika Matthew pergi, Thomas menutup ruang kerja lebih awal daripada kebiasaannya.
Ia menemui Edith di ruang duduk dan mendengarkan ibunya membicarakan surat terakhir yang datang.
Untuk sekali ini, tidak ada sesuatu yang harus diperbaiki sebelum dirinya boleh menikmati bahwa pernikahannya tinggal beberapa hari lagi.
***
Di rumah Berrow, Annalise mulai mengisi halaman pertama buku pemberian Thomas.
Ia tidak menggambar wajah pria itu. Tidak pula mencoba membuat pemandangan gereja yang masih terlalu besar dalam pikirannya.
Ia menggambar tangan sendiri di atas meja, dengan cincin yang dipilih bersama.
Garisnya tidak langsung tepat. Ia menghapus sedikit, mencoba lagi, lalu berhenti ketika Wilda mengingatkan sudah waktunya beristirahat.
Gadis itu menutup buku tanpa merasa harus menyelesaikan gambar sebelum tidur.
Pekan terakhir masih mempunyai beberapa hal yang perlu dilakukan. Ada keluarga yang akan datang, pakaian yang perlu disimpan dengan baik, serta percakapan yang belum selesai.
Namun, malam itu Annalise tidak merasa sedang dikejar oleh sebuah keputusan yang telanjur dibuat orang lain.
Ia sedang mendekati hari yang dipilihnya sendiri.
Di atas meja, buku tetap terbuka sedikit pada halaman yang belum selesai, menunggu waktu berikutnya dengan tenang.