Alaric tiba di rumah Wellington dengan membawa sebuah paket tipis dan keluhan mengenai kereta yang terlalu sempit bagi lututnya.
Edith menyambut keluhan itu dengan mengatakan bahwa ia sudah terlalu lama membiasakan diri pada peti-peti panggung sehingga lupa cara duduk seperti tamu biasa.
"Aku datang membawa pemberian. Kau bisa menunggu sebelum menghinaku."
"Aku tidak ingin kau merasa asing."
Thomas tertawa dari dekat pintu. Melihat keduanya berbicara tanpa kehati-hatian yang berlebihan membuat rumah tersebut terasa berbeda dari kunjungan-kunjungan yang dahulu dipenuhi sesuatu yang sengaja tidak disebutkan.
Alaric datang setelah jadwal rombongan memungkinkan. Ia tetap harus kembali bekerja, tetapi sudah memastikan dapat menghadiri pernikahan yang kini tinggal beberapa pekan lagi.
Joanna juga akan datang jika tidak ada perubahan perjalanan yang sungguh tak terhindarkan. Pengaturan sudah dibicarakan, bukan sekadar harapan yang dituliskan agar surat terdengar menyenangkan.
Matthew menerima kabar itu dengan senyum yang tidak perlu ditanya artinya.
***
Paket yang dibawa Alaric ternyata berisi buku, bukan pedang atau sesuatu yang membuat Edith perlu mengingatkan bahaya latihan pada putranya.
Thomas membuka sampul dan mengenali jenis bacaan yang dahulu sering diperbincangkan ketika masih tinggal bersama sang mentor. Ada tanda pada beberapa halaman, disertai catatan pendek yang jelas bukan tulisan baru semuanya.
"Aku menemukannya ketika membereskan barang," kata Alaric. "Kupikir kau mungkin ingin menyimpannya."
Thomas mengusap sisi kertas, teringat malam-malam ketika pembicaraan mereka beralih dari pelajaran kepada hal-hal yang belum cukup dipahaminya saat itu.
Tidak ada pesan rahasia di antara halaman.
Hanya jejak percakapan yang pernah membantu seorang anak lelaki tumbuh, meskipun tidak semua nasihat patut dibawa sampai dewasa tanpa dipikirkan lagi.
"Terima kasih," katanya.
Alaric mengangguk. "Kau boleh tidak menyetujui catatanku. Itu tampaknya sudah menjadi kebiasaan sehat."
Edith mengatakan setidaknya satu hasil pendidikan putranya akhirnya dapat diterima.
***
Setelah makan siang, Alaric dan Thomas berjalan ke ruangan tempat potret Benyamin berada. Edith tidak ikut pada awalnya. Ia memberi keduanya kesempatan berbicara tanpa harus menjadikan setiap ingatan sebagai milik bersama.
Thomas berhenti di depan lukisan ayahnya.
Pernikahan membuat ketidakhadiran Benyamin terasa dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi membayangkan ayahnya akan muncul untuk memberikan persetujuan yang tertunda. Namun, ada bagian dirinya yang tetap ingin mengetahui bagaimana pria itu akan memandang Annalise.
Alaric berdiri di sisinya.
"Ia mungkin akan menanyakan terlalu banyak hal sebelum mengucapkan selamat," katanya.
Thomas tertawa pelan. "Kau membuatnya terdengar sangat sulit."
"Ia memang kadang sulit. Kau tidak perlu melupakan bagian itu hanya karena merindukannya."
Jawaban tersebut membuat Thomas memandang lukisan lebih lama. Ia dapat menyayangi ayahnya tanpa menjadikan seluruh kebiasaannya sebagai sesuatu yang harus ditiru.
Begitu pula dengan pria yang berdiri di sampingnya sekarang.
***
Alaric mengatakan bahwa sesudah kehilangan istri dan putranya, ia sempat mengira satu-satunya cara tetap hidup dengan pantas adalah tidak menginginkan hal baru terlalu banyak.
Teater tidak menghapus kehilangan itu. Tidak pula membuat tahun-tahun yang sukar menjadi keliru. Namun, pekerjaan serta orang-orang yang ditemuinya memberi alasan untuk memperhatikan hari yang sedang dijalani.
"Kau tidak perlu menunggu sampai tak ada rasa takut sebelum membangun sesuatu," katanya.
Thomas mengangguk. Ia tidak menerima kalimat tersebut sebagai jaminan semua hal akan berjalan baik.
Ia hanya memahami bahwa pernikahan tidak mengharuskannya memilih antara mengingat orang yang meninggal dan menyayangi seseorang yang masih berdiri di dekatnya.
Ketika Edith bergabung, mereka berbicara tentang satu kejadian lama yang membuat Benyamin kehilangan kesabaran karena kedua pria di hadapannya tidak bersedia mengaku siapa yang salah membaca arah perjalanan.
Cerita itu berakhir dengan tawa, bukan karena kesedihan selesai, melainkan karena kenangan ternyata mempunyai lebih dari satu suara.
***
Annalise menerima kabar kunjungan Alaric melalui surat Thomas, lalu datang bersama Gresham pada sore yang sudah disepakati. Ia membawa salam dari ayahnya dan sebuah gambar kecil yang ingin ditunjukkan kepada Edith.
Alaric menyambutnya dengan ucapan bahwa dirinya sudah diberi tahu jumlah tamu tidak boleh bertambah karena seseorang terlalu rajin mengundang.
Edith segera mengatakan itu bukan tuduhan yang perlu diulang di depan calon pengantin.
Annalise tertawa. Ia bertanya apakah perjalanan rombongan memberi kesempatan beristirahat cukup sebelum pernikahan, dan Alaric menjawab bahwa dirinya sudah membuat pengaturan yang memungkinkan.
Tidak semua pemain akan meninggalkan pekerjaan untuk datang. Ia dan Joanna mempunyai tanggung jawab masing-masing yang perlu diselesaikan lebih dahulu.
Gadis itu menghargai jawaban tersebut. Kehadiran mereka akan berarti banyak, tetapi ia tidak ingin kebahagiaan hari pernikahannya harus dibayar dengan kekacauan yang tidak perlu bagi orang lain.
***
Matthew menyampaikan bahwa Joanna menitipkan sesuatu untuk Annalise. Bungkusan kecil itu berisi pembatas buku dari kain yang dijahit dengan rapi, dengan bentuk kucing sederhana pada salah satu ujungnya.
Ada pesan pendek bahwa gambar tersebut tidak sebaik karya Annalise, tetapi setidaknya tidak akan menolak diam ketika dipakai membaca.
Gadis itu tertawa sampai Thomas meminta melihatnya.
Ia segera menyisipkan pembatas tersebut ke buku yang dibawa. Pemberian itu tidak mahal, tetapi cukup pribadi untuk membuatnya ingin menulis balasan malam itu juga.
Matthew tampak senang melihat reaksinya. Annalise berterima kasih, lalu mengatakan dirinya akan menyampaikan ucapan itu langsung kepada Joanna juga.
Di seberang, Alaric memperhatikan mereka dengan tenang.
Tidak ada seorang pun yang harus mempertahankan hubungan dengan menyembunyikan alamat, nama, atau surat. Semua hal yang dahulu dibuat rumit oleh ketakutan kini tampak dapat berlangsung melalui kertas kecil yang diserahkan pada waktunya.
***
Beberapa kabar lain telah tiba pada pekan yang sama. Ruthbone dan Isabel menerima undangan, lalu mengabarkan bahwa mereka dapat mengatur perjalanan untuk hadir. Hugo belum dapat meninggalkan pelajarannya selama waktu yang diperlukan dan menulis ucapan selamat tanpa meminta Annalise merasa bersalah karena pernikahannya tidak menyesuaikan semua orang.
Gadis itu menerima kabar tersebut dengan tenang.
Ia akan senang melihat sahabatnya, tetapi kini memahami bahwa ketidakhadiran tidak selalu berarti kasih sayang berkurang.
Pembicaraan mengenai pengaturan pernikahan juga telah selesai diperiksa pada kesempatan terpisah. Annalise memperoleh penjelasan yang diminta dan cukup waktu untuk bertanya sebelum menyatakan persetujuan pada bagian-bagian yang menyangkut dirinya.
Tidak ada kejutan yang disimpan sampai hari terakhir.
Ketika Gresham menanyakan apakah masih ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, ia menjawab bahwa sekarang kegelisahannya lebih banyak mengenai apakah dirinya akan dapat tidur pada malam sebelum pernikahan.
Ibunya tersenyum.
Untuk pertama kalinya, itu terdengar seperti kecemasan yang dapat dibiarkan hadir tanpa perlu segera dikalahkan.
***
Alaric berpamitan sebelum terlalu malam. Thomas mengantarnya ke pintu, lalu menerima pelukan singkat yang membuatnya teringat bahwa sebagian kedekatan telah dimulai jauh sebelum dirinya mengerti cara menyebutkannya.
"Sampai hari pernikahan," kata sang mentor.
"Sampai hari itu."
Ketika kereta menjauh, Thomas kembali masuk dan melihat Annalise menunggu bersama ibunya. Gadis itu masih memegang buku dengan pembatas baru.
Ia menyadari betapa banyak orang yang kini dapat ditemuinya tanpa harus menjaga jarak antara satu bagian hidup dan bagian lain.
Annalise tersenyum kepadanya.
Thomas mendekat, dan sore itu tidak memerlukan janji baru agar terasa utuh.