Thomas, dua wanita dapat menyayangi orang yang sama tanpa harus menyukai tempat yang sama untuk sebuah vas. Jangan menyelesaikannya dengan membeli vas ketiga.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise menemukan ruang menggambarnya sudah dipenuhi bunga ketika datang bersama Gresham.
Ada satu wadah di meja, satu di dekat jendela, dan sebuah vas tinggi di sudut yang sebelumnya dipikirkan sebagai tempat meletakkan kertas besar. Semuanya indah. Semuanya juga membuat ruangan terasa seperti tempat menerima tamu yang tidak boleh disentuh sembarangan.
Edith berdiri di tengahnya dengan wajah puas.
"Aku ingin kau melihatnya sebelum bunga-bunga itu layu."
Annalise langsung merasa bersalah karena tidak dapat memberikan senyum sebesar yang tampaknya ditunggu.
Ia menyukai niat Edith. Ia hanya tidak menyukai meja kerjanya hampir menghilang.
Gresham melihat ruangan, kemudian wajah putrinya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Thomas menyusul dari lorong sambil membawa satu buku yang baru dipindahkan.
Ia berhenti ketika melihat keadaan di dalam.
"Mama mengundang taman untuk tinggal di sini?"
Edith memandangnya dengan tajam.
Annalise tidak berhasil menahan tawa.
***
Gurauan Thomas memberi kesempatan bernapas, tetapi tidak menjawab persoalan. Annalise meletakkan tas dan berjalan ke dekat meja, mencoba membayangkan bagaimana dirinya akan menggambar tanpa menyenggol kelopak atau menumpahkan air.
"Bunganya cantik," katanya kepada Edith. "Aku ingin mempertahankan yang kecil ini. Tetapi bisakah dua lainnya ditempatkan di ruang lain?"
Sang dowager melihat tempat yang ditunjuk.
"Kau tidak menyukai warnanya?"
"Aku menyukainya. Aku hanya membutuhkan tempat untuk bekerja."
Edith terdiam sebentar. Bukan kemarahan yang membuat wajahnya berubah, melainkan kesadaran bahwa ruangan yang disiapkannya sudah mulai mempunyai kegunaan yang tidak ditentukan olehnya.
Thomas hampir memanggil pelayan untuk segera memindahkan semuanya. Annalise mengangkat tangan kecil kepadanya, meminta waktu tanpa perlu berbicara.
Ia kembali memandang Edith.
"Aku ingin ruangan ini terasa seperti tempat yang boleh berantakan. Setidaknya selama aku sedang menggambar."
Kali ini sang dowager tersenyum, meskipun ada sesuatu yang lembut dan sedikit sedih di baliknya.
***
"Aku terbiasa membuat rumah terlihat siap sebelum orang datang," ujar Edith.
"Aku tahu. Aku senang datang ke sini."
Annalise berhenti, lalu menambahkan dengan lebih pelan, "Tetapi nanti aku ingin merasa sudah tinggal."
Kalimat itu membuat Thomas tidak jadi menyiapkan jawaban apa pun.
Edith mengangguk. Ia memanggil pelayan setelah Annalise menunjukkan vas yang ingin dipertahankan. Dua wadah lain dipindahkan ke ruang duduk, tempat keduanya tidak akan mengganggu kertas atau pensil.
Tidak ada yang dibuang.
Annalise memindahkan vas kecil sedikit menjauh dari tepi meja. Ia masih ingin melihat bunga ketika mengangkat wajah dari gambar, hanya tidak ingin menjaganya setiap kali siku bergerak. Edith memperhatikan, kemudian mengangguk memahami perbedaannya.
Gresham menawarkan membantu menentukan letaknya, lalu membawa Thomas keluar setelah sang duke tampak masih ingin memastikan percakapan tidak berakhir buruk.
"Mereka dapat berbicara," katanya singkat di lorong.
Thomas memandang pintu yang terbuka, kemudian mengangguk.
Di dalam, Annalise mengambil kain kecil untuk mengeringkan bekas air di meja. Edith menyerahkan kain yang lebih sesuai, dan keduanya mulai tertawa ketika menyadari pekerjaan itu jauh lebih mudah daripada seluruh kegelisahan yang baru saja dilaluinya.
***
Edith duduk setelah meja kembali kosong. Ia mengatakan sudah memikirkan beberapa perubahan bagi dirinya sendiri sesudah pernikahan.
Annalise menoleh dengan cepat.
"Anda tidak perlu pergi karena aku datang."
"Aku tidak sedang diusir, sayang."
Sang dowager menjelaskan bahwa dirinya ingin menggunakan lebih banyak waktu untuk kunjungan, surat, dan hal-hal yang disukai setelah terlalu lama menganggap keadaan putranya sebagai pekerjaan yang belum selesai.
Ia tetap mempunyai tempat di rumah keluarga. Namun, ia juga tidak ingin Thomas dan Annalise merasa semua kebiasaan harus tetap sama hanya karena dirinya sudah terbiasa melakukannya.
"Aku mungkin masih akan terlalu banyak berpendapat," tambahnya.
"Aku menduganya."
Edith tertawa. Annalise segera merasa lebih berani.
Mereka membicarakan beberapa ruang yang digunakan bersama dan hal-hal kecil yang sebaiknya ditanyakan, bukan diputuskan melalui Thomas setiap kali muncul perbedaan.
Gadis itu mulai melihat ibu tunangannya sebagai seseorang yang sedang belajar menghadapi perubahan juga, bukan hanya orang yang menunggunya menjadi duchess baru.
***
Ketika Thomas kembali, ia menemukan keduanya sedang memindahkan isi rak kecil.
Annalise ingin satu bagian dibiarkan kosong untuk buku yang belum dibawa. Edith berpendapat benda yang jarang dipakai sebaiknya tidak memenuhi tempat paling mudah dijangkau.
Kali ini mereka sepakat.
Thomas meletakkan buku yang dibawanya, lalu menanyakan apakah masih ada yang perlu dilakukan.
"Kau boleh mengangkat vas di ruang duduk," jawab Edith.
"Aku mengira persoalannya sudah selesai."
"Persoalannya sudah selesai. Vasnya tetap berat."
Annalise tertawa begitu mendengar jawaban itu. Thomas membungkuk kecil sebelum keluar memenuhi permintaan, dengan kelegaan yang tidak seluruhnya berhasil disembunyikan.
Ia kembali beberapa saat kemudian dan menemukan tempat yang kini benar-benar menyerupai ruang untuk bekerja. Ada meja, satu vas kecil, buku, dan bekas kertas yang belum dipindahkan.
Annalise berdiri di sampingnya, memandang hasil yang sederhana tersebut dengan senyum puas.
Thomas menyukainya jauh lebih banyak daripada ruangan yang sepenuhnya rapi saat pertama masuk.
***
Perjalanan pulang memberi Annalise kesempatan menceritakan percakapan itu kepada ibunya. Gresham mendengarkan, kemudian mengakui dirinya mungkin akan melakukan kesalahan yang sama jika terlalu bersemangat membantu.
"Mama sering melakukannya," jawab Annalise.
"Aku berharap kau menunggu sampai aku selesai mengakui sebelum menyetujuinya."
Keduanya tertawa.
Gresham mengatakan bahwa rumah yang baik tidak harus membuat semua orang menyukai benda yang sama. Yang lebih sulit adalah belajar kapan menawarkan bantuan dan kapan memberi tempat kepada orang lain untuk mencoba.
Annalise memikirkan kursi, buku, dan bunga yang dipindahkan tanpa membuat hubungan mereka rusak.
Ia senang telah berbicara sebelum mengumpulkan rasa kesal yang kelak mungkin keluar sebagai tuduhan lebih besar.
Edith pun boleh merasa sedih sedikit. Perasaan itu tidak otomatis berarti dirinya tidak menyambut Annalise.
Gadis itu bersandar ketika kereta berbelok, menyadari bahwa beberapa ketakutan menjadi lebih ringan setelah orang-orang yang terlibat diberi kesempatan menjawab sendiri.
***
Sore itu Thomas menemui ibunya di ruang duduk. Salah satu vas yang dipindahkan kini berada di meja dekat jendelanya.
"Tempatnya lebih sesuai di sini," katanya.
Edith menatapnya. "Jangan mencoba terdengar bijaksana setelah hampir memindahkan seluruh taman untuk mengakhiri pembicaraan."
Thomas tertawa dan duduk.
Ia menanyakan apakah ibunya merasa kehilangan sesuatu. Edith mempertimbangkan jawaban sebelum mengatakan bahwa dirinya sedang membiasakan diri tidak lagi menjadi orang yang paling dahulu memutuskan kebutuhan rumah.
"Itu tidak berarti aku ingin menghentikan perubahan," tambahnya.
Thomas menggenggam tangannya sebentar.
Edith tersenyum, lalu meminta putranya berhenti membuat wajah seolah mereka sedang berpisah selamanya. Ia hanya memindahkan bunga, bukan berangkat ke ujung dunia malam itu juga.
Thomas menerima teguran tersebut dengan lebih ringan.
Di antara pernikahan yang mendekat dan rumah yang mulai berubah, rupanya ibunya pun membutuhkan kesempatan mengatakan perasaannya tanpa seluruh orang segera berusaha memperbaikinya.