Penjahit meminta Annalise berdiri tegak, lalu segera memperbaiki kalimatnya ketika melihat gadis itu menahan napas.
"Tidak perlu sekaku itu, Milady. Anda tetap harus dapat bernapas."
Henrieta tertawa dari kursi dekat jendela. Gresham memeriksa sepotong kain, sementara Edith membicarakan hiasan dengan perhatian seseorang yang telah berjanji tidak akan memberikan terlalu banyak pendapat dan mulai menyesalinya.
Gaun yang dicoba belum selesai. Ada bagian yang hanya disematkan sementara, lipatan yang perlu diubah, serta ujung kain yang diangkat agar tidak terseret.
Annalise melihat bayangannya dan mencoba memahami bagaimana semua potongan tersebut kelak menjadi pakaian yang dikenakan pada hari pernikahan.
"Aku tampak seperti pekerjaan yang belum selesai," katanya.
"Itu memang keadaan gaunnya sekarang," jawab Henrieta.
"Terima kasih. Kau sangat membantu."
Penjahit tersenyum tanpa mengangkat wajah dari jahitan yang sedang diperiksa.
***
Pilihan akhir tidak menggunakan seluruh sulaman berat yang semula disukai Gresham. Warnanya gading lembut, dengan hiasan secukupnya pada bagian yang tetap dapat bergerak ketika Annalise duduk.
Gadis itu meminta mencoba berjalan beberapa langkah. Kemudian ia duduk, mengangkat tangan, dan memastikan tidak ada bagian yang menarik terlalu keras.
Edith mengangguk puas ketika penjahit menandai satu perubahan pada lengan.
"Gaun seharusnya menemanimu melewati hari itu, bukan membuatmu ingin segera melarikan diri darinya."
Gresham memandang sahabatnya. "Aku senang mendengarmu mengatakan itu sebelum menambahkan hiasan lain."
"Aku hanya sedang melihat."
Henrieta tidak berusaha menyembunyikan senyum.
Annalise memperhatikan pantulan ketiga wanita tersebut di cermin. Ada masa ketika ia mengira persiapan pernikahan hanya akan membuat dirinya semakin sulit mendengar keinginan sendiri.
Kini mereka masih mempunyai pendapat yang berbeda, tetapi perbedaan itu tidak selalu harus berakhir dengan seseorang mengalah sambil merasa tidak dilihat.
Ia menunjukkan bagian yang disukai dan mengatakan bagian lain tidak diperlukan.
***
Setelah pengukuran selesai, Annalise berganti kembali dan duduk dengan rasa lega. Gaunnya akan dikerjakan menurut perubahan yang sudah disepakati, lalu dicoba sekali lagi sebelum hari pernikahan.
Tidak ada tuntutan datang setiap pagi untuk melihat satu jahitan baru.
Dalam perjalanan pulang, Edith mengatakan dirinya akan membawa beberapa pilihan hiasan rambut pada kunjungan berikutnya. Gresham segera membatasi jumlahnya sebelum janji itu berubah menjadi peti.
Annalise tertawa, lalu menanyakan apakah ia boleh menggunakan sesuatu yang pernah dipakai ibunya.
Gresham terdiam sebentar.
"Tentu. Kita bisa melihat bersama."
Gadis itu tidak mencari benda paling berharga. Ia hanya ingin membawa sesuatu yang dikenalnya ketika melangkah menuju kehidupan baru.
Henrieta menyandarkan punggung dan mengatakan itu keputusan yang baik, terutama jika dapat mencegah Edith membuka seluruh koleksi pada satu sore.
Sang dowager memandangnya dengan pura-pura tersinggung.
"Kalian mulai bersekutu."
"Kami belajar dari Mama," jawab Annalise sambil menunjuk Gresham.
***
Dua pekan telah berlalu sejak tanggal dipilih, dan rumah Berrow mulai mempunyai tumpukan kecil barang yang belum perlu dibawa tetapi sudah perlu diputuskan.
Annalise menemukan bahwa memilih buku lebih sukar daripada memilih gaun.
Ia ingin membawa beberapa yang sering dibaca, meninggalkan yang menjadi milik bersama keluarga, dan menyelamatkan sebuah buku tua yang pernah diberi catatan konyol oleh Richard pada halaman kosong.
Kakaknya datang tepat ketika ia sedang memeriksa coretan tersebut.
"Aku berharap kau tidak menuduhku tanpa bukti."
Annalise mengangkat buku agar tulisan terlihat.
Richard mengamati sebentar. "Tulisan tanganku jauh lebih baik sekarang."
Arthur, yang masuk di belakangnya, langsung mengatakan itu bukan pembelaan yang meyakinkan.
Mereka duduk di lantai dekat peti yang masih kosong, sementara Annalise tetap di kursinya. Setiap buku membawa kisah kecil yang membuat kegiatan memilah berlangsung jauh lebih lama daripada yang direncanakan.
Tidak ada seorang pun tampak terburu-buru menyelesaikannya.
***
Henrieta bergabung setelah mendengar tawa. Ia menemukan gambar lama terselip di antara halaman dan segera mengenali burung yang pernah menjadi bahan ejekan Richard.
"Ia tampak marah karena terus dibicarakan," katanya.
Annalise mengambil kertas itu sebelum kakaknya memperoleh kesempatan baru.
"Aku akan membawanya."
Richard mengangkat alis. "Sebagai peringatan?"
"Sebagai bukti bahwa aku pernah mempunyai kesabaran menanggung kalian."
Arthur tertawa, kemudian menyerahkan sebuah buku yang semula masuk tumpukan untuk ditinggalkan. Di halaman depannya ada catatan singkat dari ayah mereka, ditulis ketika Annalise terlalu lama berada di kamar dan meminta sesuatu yang berbeda untuk dibaca.
Gadis itu menyentuh tulisan tersebut dengan jari.
"Yang ini juga," katanya lebih pelan.
Richard tidak membuat gurauan.
Untuk beberapa saat mereka duduk bersama bunyi halaman yang dibalik, menyadari bahwa adik yang masih dapat mereka goda sesuka hati akan mempunyai rumah lain untuk menyimpan kebiasaannya.
***
Annalise tidak merasa perlu menangis agar keluarganya mengetahui dirinya akan merindukan mereka. Ia justru menanyakan apakah Richard tetap akan datang mengganggu setelah dirinya menikah.
"Aku perlu memastikan Wellington tidak terlalu nyaman," jawabnya.
"Itu alasan yang sangat mulia."
Arthur mengatakan mereka akan datang ketika diundang, tambahan yang sengaja diarahkan kepada kakaknya.
Henrieta mengusulkan bahwa sebagian pertemuan menggambar dapat tetap menjadi kegiatan mereka berdua. Annalise menyetujuinya tanpa menganggap setiap janji harus sudah mempunyai tanggal.
Ia tidak sedang meninggalkan seluruh kehidupan lama di dalam peti yang tidak dibawa.
Namun, ada hal yang memang berubah. Ia tidak akan selalu mendengar suara langkah ayahnya dari ruang kerja pada pagi hari. Tidak setiap tawa Richard datang tanpa didahului kabar kunjungan.
Menyadari itu membuatnya memandang wajah mereka lebih lama.
Kemudian Richard menjatuhkan satu buku ke kakinya sendiri dan merusak suasana dengan sangat efektif.
***
Thomas datang sore itu setelah saudara-saudaranya pergi. Annalise memperlihatkan tumpukan buku dan mengatakan ruang menggambar kecilnya mungkin harus berunding dengan beberapa penghuni tambahan.
"Aku mulai khawatir bukuku akan kalah jumlah," katanya.
"Bukumu sudah mempunyai seluruh ruangan."
"Mereka tetap mudah cemas."
Annalise tertawa, lalu menunjukkan gambar burung lama. Thomas mengenalinya dan mengatakan dirinya merasa terhormat mengetahui makhluk tersebut juga akan pindah.
Di antara gurauan, ia memperhatikan bahwa gadis itu lebih diam ketika membicarakan rumah keluarganya.
"Kau sedih?"
Annalise mengangguk.
Thomas tidak menafsirkannya sebagai keraguan terhadap lamaran. Ia hanya mendengarkan ketika gadis itu menjelaskan bahwa dirinya sangat bahagia dan tetap akan kehilangan beberapa hal kecil yang selama ini dianggap akan selalu tersedia.
"Aku tidak ingin kau merasa harus menyembunyikannya dariku," katanya.
Gadis itu memandangnya, lalu meraih tangannya sebentar.
***
Malamnya, Gresham datang membawa sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat hiasan rambut yang tidak paling mencolok dari koleksinya, tetapi cukup ringan dan disukai Annalise sejak lama.
Ibunya meletakkannya di dekat cermin.
"Kita coba besok, ketika kau tidak terlalu lelah."
Annalise mengangguk dan menyentuh tangan Gresham sebelum wanita itu pergi.
"Mama tidak keberatan aku membawa beberapa buku yang sering dibaca bersama?"
Gresham tersenyum.
"Aku akan tahu ke mana harus mencarinya."
Jawaban itu membuat rumah baru Thomas terasa tidak begitu jauh dari kamar yang telah dikenalnya sepanjang hidup.
Sesudah sendirian, Annalise menutup buku terakhir dan meletakkannya pada tumpukan yang akan dibawa.
Ia tidak harus memilih antara masa lalu yang disayangi dan masa depan yang diinginkan.
Sebagian dari keduanya ternyata dapat tinggal di rak yang sama.