Thomas, jangan menganggap anggukan sebagai pemahaman. Kadang seseorang hanya terlalu sopan untuk menyuruhmu mengulang dari awal.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise semula mengira pertemuan itu akan membuatnya mengantuk.
Ia sudah menyiapkan wajah yang cukup serius, membawa kertas untuk mencatat, dan meminta Wilda memastikan pensilnya tidak kembali tertinggal di meja dekat cermin. Namun, setelah penjelasan berlangsung beberapa saat, yang dirasakannya justru keinginan mengangkat tangan seperti sedang mengikuti pelajaran yang bergerak terlalu cepat.
Pria yang membantu mengurus pengaturan pernikahan berbicara dengan sopan. Sayangnya, beberapa kata yang digunakannya terdengar seolah sengaja dipilih agar orang malu mengaku tidak paham.
Thomas duduk di samping Duke of Berrow. Gresham berada dekat putrinya, mendengarkan tanpa meneruskan penjelasan dengan suara sendiri.
Annalise menunggu sampai satu kalimat selesai.
"Maaf. Aku ingin bagian tadi diulang dengan lebih sederhana."
Semua orang berhenti.
Gadis itu merasakan pipinya hangat, tetapi tidak menarik permintaannya kembali.
Pria tersebut mengangguk dan mulai menjelaskan dari bagian yang ditunjuknya.
***
Yang dibicarakan bukan lagi sekadar apakah ia akan tinggal di London. Ada pengeluaran rumah, pengaturan yang perlu dipastikan sebelum pernikahan, dan cara Annalise dapat mengetahui kepada siapa sebuah pertanyaan harus diajukan.
Ia tidak mendadak memahami semuanya. Namun, semakin lama ia mendengarkan, semakin jelas perbedaan antara hal yang memang rumit dan hal yang hanya terdengar rumit karena belum diterangkan.
Annalise membuat satu catatan, lalu menanyakan bagaimana dirinya dapat memeriksa pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhannya sendiri.
Thomas hampir menjawab bahwa ia hanya perlu meminta kepadanya. Ia berhenti sebelum kalimat itu keluar sepenuhnya.
Gadis itu ingin mengetahui caranya, bukan memperoleh janji bahwa seseorang akan mengurusnya selamanya.
Penjelasan dilanjutkan. Duke of Berrow mengajukan pertanyaan tambahan pada bagian yang belum jelas, tetapi membiarkan Annalise menyampaikan pertanyaannya sendiri terlebih dahulu.
Ketika satu lembar akhirnya selesai dibahas, gadis itu tidak merasa telah menjadi ahli.
Ia hanya merasa lebih sulit dibuat diam oleh kertas yang belum dikenalnya.
Ia menandai satu bagian yang ingin dibaca kembali. Pria yang memberi penjelasan menunggu sampai catatannya selesai sebelum beralih ke halaman berikutnya. Perubahan kecil dalam kecepatan itu membantu Annalise mengikuti pembicaraan tanpa terus merasa tertinggal. Ketika ia mengajukan pertanyaan kedua, suaranya sudah lebih tenang, dan pensil di tangannya tidak lagi digenggam terlalu erat. Ia bahkan sempat menuliskan contoh yang membuat penjelasannya lebih mudah diingat.
***
Pertemuan dihentikan untuk beristirahat sebelum semua orang kehilangan kemampuan mendengarkan. Tidak ada tanda tangan yang diminta hanya karena pena sudah disediakan.
Bagian yang telah disepakati akan dirapikan, dan penjelasan berikutnya dilakukan setelah mereka mempunyai kesempatan membaca kembali.
Annalise meletakkan pensil sambil menggerakkan jari.
"Aku berharap tulisanku masih dapat kubaca besok."
Thomas melirik catatan di depannya. "Aku hanya memahami tiga kata terakhir."
"Itu karena tiga kata terakhir berbunyi jangan mengangguk dahulu."
Duke of Berrow tertawa, dan ketegangan yang selama ini berada di bahu Annalise mulai berkurang.
Gresham meminta teh dibawa. Percakapan berpindah kepada sesuatu yang jauh lebih mudah dipahami, yaitu apakah kue yang tersisa cukup bagi semua orang.
Thomas menyerahkan piring lebih dahulu kepada tunangannya.
Annalise mengambil satu, lalu mendapati dirinya benar-benar lapar. Berpikir dengan sungguh-sungguh ternyata menghabiskan tenaga dengan cara yang tidak selalu terlihat dari luar.
***
Sesudah tamu yang membantu pengaturan itu pergi, Thomas mengakui bahwa dirinya hampir menjawab beberapa pertanyaan atas nama Annalise.
"Aku melihatnya," kata gadis itu.
"Kau tidak melewatkan banyak hal."
"Aku sedang berlatih."
Ia mengatakan bantuan Thomas akan tetap berguna, terutama jika suatu hari ada hal yang tidak dimengerti. Namun, ia ingin dapat meminta bantuan tanpa menjadikan ketidaktahuan sebagai keadaan yang harus dipertahankan agar semua orang merasa diperlukan.
Thomas mendengarkan, kemudian menunjukkan catatan sendiri. Ada bagian yang perlu diperiksa kembali bersama pengurus rumah, bukan karena Annalise bertanya terlalu banyak, melainkan karena dirinya pun belum mempunyai jawaban yang cukup tepat.
Gadis itu memandang tulisan yang dicoret beberapa kali.
"Kau juga tidak memahami semuanya."
"Rahasia yang sangat buruk bagi reputasiku."
Annalise tertawa. Mereka masih berada dalam ruangan yang sama dengan orang tuanya, tetapi ada rasa bekerja bersama yang membuat jarak di antara mereka terasa lebih kecil daripada saat datang.
***
Pada sore lain di pekan yang sama, Wilda menemui pengurus rumah Wellington. Annalise hadir pada awal percakapan, lalu membiarkan keduanya membahas rincian pekerjaan yang tidak perlu terus dijawab melalui dirinya.
Thomas menunjukkan ruang menggambar yang sedang disiapkan. Kursi pilihan Annalise sudah dipindahkan, tetapi meja belum diisi apa pun selain buku yang ditinggalkannya.
"Tidak terasa terlalu kosong?" tanyanya.
"Justru aku senang masih dapat menaruh barang sendiri."
Ia duduk sebentar, membuka buku, lalu memeriksa cahaya. Thomas berdiri di dekat jendela sampai Annalise mengatakan bayangannya jatuh tepat di atas halaman.
Pria itu segera bergeser.
"Kau akan sering mengusirku dari sini?"
"Hanya jika kau menutupi seluruh cahaya."
Thomas tersenyum. Ada sesuatu yang menyenangkan dalam teguran yang begitu biasa, sesuatu yang tidak meminta dirinya menjadi pahlawan atau pemilik jawaban.
Ia hanya perlu berdiri sedikit lebih ke kiri.
***
Wilda kembali setelah percakapannya selesai. Wajahnya tampak lebih tenang, dan ia menjelaskan bahwa pengaturan tempat tinggal serta pekerjaan sudah cukup jelas untuk mulai mempersiapkan perpindahan.
Annalise mengangguk, lalu menanyakan apakah ada sesuatu yang masih perlu dibicarakan.
"Ada beberapa barang yang perlu saya pindahkan lebih dekat dengan hari pernikahan. Selebihnya dapat dilakukan lebih dahulu."
Mereka menyepakati agar tidak semua barang dibawa sekaligus pada hari yang sudah mempunyai cukup banyak urusan.
Thomas mendengarkan tanpa mengubah pembicaraan menjadi perintah kepada semua pelayan. Orang yang akan menjalani pengaturan itu lebih mengetahui apa yang diperlukan.
Ketika mereka hendak pulang, Annalise melihat buku kecilnya masih berada di meja.
Ia sempat ingin membawanya kembali untuk dibaca malam itu, lalu mengurungkan niat. Ada buku lain di rumah Berrow.
Benda tersebut boleh tetap di sini.
Ia menyukai perasaan bahwa sebagian kecil kehidupannya sudah menunggu tanpa mendesaknya segera datang.
***
Malamnya, Gresham menemukan putrinya sedang membaca ulang catatan pertemuan.
"Masih ada yang membuatmu khawatir?"
"Ada yang belum kupahami. Tetapi aku sudah tahu bagian mana yang harus kutanyakan."
Ibunya duduk di dekatnya dan menawarkan membantu membaca satu kalimat yang nyaris tidak terbaca karena ditulis terlalu cepat.
Annalise menyerahkan kertas dengan lega.
Mereka tertawa ketika akhirnya mengetahui bahwa kata yang diperdebatkan ternyata hanya pengeluaran, bukan nama seseorang yang terlupakan.
Sesudah catatan disimpan, gadis itu bersandar dan mengatakan bahwa pernikahan mulai terasa nyata melalui hal yang sama sekali tidak menyerupai musik atau bunga.
Gresham mengangguk.
"Itu tidak membuat bagian yang indah menjadi kurang berarti."
Annalise memandang cincin di tangannya.
Ia masih menantikan hari ketika Thomas berdiri di sampingnya. Kini ia juga mulai memahami beberapa hal yang akan mereka bawa pulang sesudah semua tamu selesai mengucapkan selamat.