Annalise menemukan noda pensil di sisi cincin ketika Thomas datang membawa beberapa kemungkinan tanggal.
Ia sedang mencoba membersihkannya dengan ujung kain, sementara Wilda berusaha meyakinkan bahwa batu tersebut tidak akan kehilangan kilaunya hanya karena pemiliknya menggambar terlalu dekat dengan tangan sendiri.
Thomas berhenti di pintu.
"Aku mulai khawatir perhiasannya sudah mengalami petualangan."
"Hanya sebuah kendi yang sulit diatur."
"Lawan yang berbahaya."
Gadis itu tertawa, kemudian meletakkan kain. Cincin sudah bersih. Gambarnya belum selesai, tetapi ia cukup senang dengan bagian yang dikerjakan untuk tidak memulai kunjungan dengan mengeluhkan seluruh halaman.
Thomas menyapa Gresham dan Duke of Berrow sebelum duduk. Edith datang bersamanya, membawa catatan yang kali ini hanya satu lembar.
Annalise memandang kertas tersebut dengan lega yang sengaja diperlihatkan.
"Kami belajar," kata sang dowager.
"Aku sangat menghargainya."
***
Ada beberapa waktu yang memungkinkan, setelah kegiatan keluarga dan ketersediaan tempat dibicarakan. Tidak satu pun mengharuskan pernikahan diadakan begitu cepat sehingga semua persiapan berubah menjadi perlombaan.
Annalise meminta penjelasan mengenai setiap pilihan. Thomas tidak lebih dahulu menunjuk waktu paling dekat untuk membuat yang lain tampak seperti penundaan.
Mereka akhirnya memilih waktu sekitar enam pekan lagi.
Upacara akan diadakan di gereja yang cukup dekat dari rumah keluarga Berrow di London. Sesudahnya, keluarga serta orang-orang dekat berkumpul untuk jamuan yang tidak akan diperpanjang menjadi rangkaian acara sepanjang malam.
Kabar lebih luas dapat disampaikan melalui surat. Mereka tidak perlu menjanjikan kunjungan pengganti kepada semua orang yang tidak hadir.
Gresham masih mempunyai satu pertanyaan mengenai saudara seorang kenalan, tetapi kali ini ia mengajukannya tanpa langsung menulis nama.
Annalise menjawab setelah mempertimbangkan, dan penolakan kecil itu diterima tanpa membuat suasana kehilangan kegembiraan.
Tanggal tersebut dicatat.
Tiba-tiba enam pekan terasa jauh lebih nyata daripada kata kelak yang selama ini digunakan.
***
Duke of Berrow kemudian mengatakan bahwa beberapa pembicaraan mengenai pengaturan pernikahan dapat dimulai bersama orang yang membantu mengurusnya. Ia memandang Annalise, memastikan putrinya mengetahui bahwa penjelasan akan diberikan kepadanya juga.
Gadis itu mengangguk. Ia ingin memahami hal yang akan disetujui, terutama urusan kehidupan di rumah dan pengeluaran yang selama ini mungkin hanya dilihat sebagai kebiasaan keluarga.
Thomas mendukung permintaan tersebut.
Tidak ada berkas panjang yang disodorkan untuk langsung ditandatangani pada sore yang penuh kegembiraan. Waktu tersendiri akan diberikan agar pertanyaan tidak terasa seperti gangguan terhadap perayaan.
Annalise merasa lega. Ia tidak mendadak memahami seluruh hal hanya karena kini mempunyai cincin. Namun, ia dapat mengaku belum tahu tanpa seseorang mengambil kertas dari tangannya dan mengatakan semuanya sudah ditangani.
Edith menanyakan apakah mereka ingin tinggal di London dahulu setelah menikah.
"Itu yang kami rencanakan," jawab Thomas, lalu memandang Annalise.
Gadis itu mengangguk dan menambahkan bahwa perjalanan ke rumah keluarga akan dibicarakan setelahnya, sesuai kegiatan serta keadaan mereka berdua.
***
Sesudah pembicaraan selesai, Gresham menyerahkan surat yang tiba pagi itu kepada putrinya. Annalise mengenali tulisan Hugo dan meminta izin membacanya sebentar di dekat jendela.
Ucapan selamatnya sederhana dan hangat. Ia senang mengetahui sahabatnya memilih kebahagiaan dengan hati yang lebih tenang. Kabar pelajarannya masih dipenuhi pekerjaan yang harus diulang, buku yang belum selesai, dan teguran Ruthbone agar tidak terlalu cepat merasa mengerti.
Annalise tersenyum pada bagian terakhir.
Hugo juga menyampaikan salam ayahnya, yang rupanya telah mendengar kabar pertunangan melalui keluarga Berrow dan mempunyai pendapat bahwa surat anaknya selalu terlalu pendek.
Tidak ada penyesalan romantis yang diselipkan di antara kabar itu.
Tidak ada alasan bagi Annalise mencari makna lain.
Ia membaca sampai akhir, melipat kertas dengan hati-hati, lalu kembali kepada orang-orang yang sedang membicarakan hari pernikahannya.
Thomas melihat senyumnya dan menanyakan apakah kabarnya baik.
"Baik. Hugo masih belajar, dan Ruthbone masih membuatnya bekerja dengan sungguh-sungguh."
Thomas tersenyum tanpa mengajukan pertanyaan yang tidak diperlukan.
***
Pada hari berikutnya, Annalise memberi Wilda penjelasan yang lebih jelas mengenai rencana pindah. Pengurus rumah Wellington sudah bersedia bertemu dan membicarakan pekerjaannya, termasuk tempat tinggal serta waktu untuk urusan pribadi.
Tidak ada yang akan menganggap dirinya harus meninggalkan semua kebiasaan lama pada hari pernikahan majikannya.
Wilda mendengarkan, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu mengatakan ia bersedia melanjutkan pekerjaannya bersama Annalise dengan pengaturan yang dijelaskan.
Gadis itu merasa begitu lega hingga hampir memeluknya sebelum menyadari pelayan tersebut sedang memegang beberapa jarum.
"Itu bisa dilakukan sesudah saya meletakkan ini, Milady."
Annalise tertawa dan menunggu.
Pelukan mereka singkat, sedikit canggung, tetapi hangat. Wilda kemudian kembali kepada pakaian yang sedang diperiksa, sementara Annalise duduk dengan kesadaran bahwa persiapan pernikahan menyangkut kehidupan orang lain juga.
Ia senang telah bertanya.
Tidak semua orang yang mencintai atau merawatnya harus membuktikan kesetiaan dengan tidak mempunyai kebutuhan sendiri.
***
Thomas mengundangnya bersama Gresham untuk melihat lagi rumah London setelah beberapa hari. Kali ini mereka tidak datang untuk jamuan, melainkan menentukan hal-hal kecil yang perlu dipersiapkan sebelum Annalise pindah.
Edith menyambut dengan wajah puas ketika gadis tersebut langsung menanyakan ruangan yang dapat dipakai menggambar.
Mereka melihat dua kemungkinan. Annalise memilih ruangan yang lebih kecil, dengan cahaya cukup baik dan letak yang tidak membuat dirinya merasa harus berjalan jauh hanya untuk bergabung dengan yang lain.
Thomas menerima pilihan itu, lalu mengatakan meja dapat diganti jika terlalu tinggi.
Gadis itu duduk untuk mencoba sebelum menjawab.
"Mejanya sesuai. Kursinya mungkin perlu diganti."
Edith memandang putranya dengan senyum yang sangat jelas.
Thomas menghela napas. "Aku sudah diberi peringatan mengenai kursi."
Annalise tertawa, kemudian meminta agar rak kecil tetap berada di dekat dinding. Ia ingin menyimpan buku yang sering dipakai tanpa mengambil alih seluruh ruang kerja Thomas.
"Bukuku berterima kasih," katanya.
***
Tidak ada ruangan yang diubah seluruhnya hari itu. Mereka hanya membuat beberapa pilihan, memastikan siapa yang akan membantu, dan membiarkan bagian lain menunggu sampai Annalise benar-benar tinggal di sana.
Gadis itu menyukai kesederhanaan tersebut. Ia tidak sedang menciptakan kamar yang sempurna untuk ditunjukkan kepada tamu. Ia sedang mencoba membayangkan tempat bagi kertas, pensil, serta hari ketika dirinya ingin duduk tenang tanpa merasa terasing.
Thomas berdiri di dekat jendela ketika kedua ibu berpindah ke lorong untuk memeriksa sesuatu.
"Kau tampak puas," katanya.
"Aku berhasil memindahkan satu kursi tanpa meruntuhkan keluarga Wellington."
"Ujian berat pertama."
Annalise mendekat, mengulurkan tangan, dan membiarkan pria itu menggenggamnya. Cahaya menyentuh cincin baru di jarinya.
"Enam pekan," gumamnya.
Thomas mengangguk.
Kini ada waktu yang dapat dihitung, tetapi ia tidak ingin menghabiskannya hanya dengan menunggu hari terakhir tiba.
***
"Aku ingin tetap mengunjungimu selama persiapan," kata Thomas. "Bukan hanya datang untuk mendengar apa yang belum selesai."
Annalise tersenyum, lalu mengatakan ia juga ingin mendengar kabar selain undangan dan kain. Masih ada pelajaran yang ingin diikuti, pertunjukan yang mungkin dibicarakan, serta hari-hari biasa yang tidak perlu kehilangan tempat hanya karena pernikahan mendekat.
"Dan kau boleh mengatakan lelah membahasnya," tambahnya.
"Bahkan di depan Mama?"
"Terutama sebelum dia mengeluarkan daftar kedua."
Thomas tertawa. Ia mencium tangannya singkat, lalu melepaskannya ketika suara Gresham kembali terdengar dari lorong.
Di meja kosong, Annalise meletakkan satu buku yang sengaja dibawa untuk mencoba ukuran ruang.
Ia tidak mengambilnya kembali ketika mereka berpamitan.
Benda itu boleh menunggu di sana, di rumah yang belum sepenuhnya menjadi rumahnya, tetapi sudah mulai menyimpan tempat yang dipilihnya sendiri.