Thomas. Wanita adalah makhluk yang cerdik. Karena itulah, kau harus selalu lebih cerdik dari mereka dan berada satu langkah di depan mereka.
Duke of Gordon ke-X.
***
Ayah Thomas, Benyamin Hardy mengirim Thomas di bawah asuhan Alaric Rees, Duke of Gordon ke-X ketika usianya empat belas tahun. Thomas yang memang dibesarkan untuk menjadi penerus seorang duke hanya menurut, patuh, dan menghomati Alaric dengan segala yang Alaric berikan kepada Thomas. Pun bekas luka sabetan pedang di dadanya yang diberikan Alaric Rees ketika berlatih dengannya, tidak melunturkan rasa hormat Thomas kepadanya. Hanya satu hal yang pada akhirnya membuat Thomas melakukan tindakan tegas dan meminta Alaric untuk membuat keputusan tegas di dalam hidupnya.
Alaric adalah mentor dan guru yang hebat. Melatih ketajaman berpikir Thomas dan kemampuan fisik Thomas dengan ketat. Thomas tidak pernah mengeluh, karena Alaric juga memberikan kebutuhan Thomas yang jarang ia dapatkan dari ayah kandungnya, yaitu perhatian dan kasih sayang.
Tiga tahun setelahnya, Thomas telah menjadi pemuda yang memesona dalam segala hal. Alaric merasa cukup untuk mengajarkan ilmunya dan bertepatan dengan hal itu, Benyamin Hardy dikabarkan tewas dalam tugas yang ia laksanakan untuk sang ratu. Maka Thomas muda segera pulang, mengambil alih segala tanggung jawab sang ayah serta tugasnya sebagai kaki tangan langsung dari sang ratu. Sejak saat itulah, Thomas beserta bahaya telah menjadi sahabat karib.
Dua tahun setelahnya, Thomas bertemu kembali dengan Matthew. Saudara jauhnya yang sempat akrab dengannya semasa kecil. Thomas melihat kemampuannya ketika berada di dalam akademi yang berada dalam pengawasan Alaric. Ia lalu menemui Matthew. Meminta –setengah memaksanya— untuk bersumpah setia kepada sang ratu dan bekerja di bawah perintahnya.
Sejak saat itu, sudah menginjak delapan tahun sejak pertama kali Thomas merekrut Matthew sebagai partnernya. Tidak terhitung berapa banyak pertempuran yang sudah mereka alami bersama. Bahkan untuk sebagian kalangan masyarakat, Thomas dan Matthew sudah dianggap sebagai duo pahlawan yang pemberani.
Tetapi ketika pada akhirnya Thomas membuat Matthew berpisah dengan adik perempuannya, Thomas tahu bahwa ia harus menebus hutangnya di kemudian hari. Dan itu ada dalam agendanya kali ini.
Setidaknya kedatangannya ke kota Bath tidak akan sia-sia dan ia merasa akan mendapatkan pencapaian yang besar. Jika pencapaian itu termasuk dengan takdir yang mengikatnya sehingga bertemu dengan gadis yang tengah menahan tangis di depannya, maka...
"Ya Tuhan. Sebenarnya apa yang sudah kau perbuat dalam hidupmu?"
Thomas meringis. Mengabaikan suara serak itu dan membuka bagian belakang kemejanya yang basah karena darah. Oh, sepertinya lukanya terbuka dengan lebar.
Thomas lalu berbalik. Membuat punggungnya menghadap Annalise yang kini terdengar sedang terisak.
"Jika kau berniat untuk mengobati-"
"Ma-maafkan aku. Aku akan segera mengobatimu," bisik Annalise dengan lemah.
Ia merasa terganggu saat ini. Dan gangguan itu muncul bukan karena ada dua orang wanita yang menyaksikannya bertelanjang d**a dan melihat tubuhnya yang mungkin saja menurut mereka mengerikan, namun karena ada gadis yang menangis untuknya. Itulah yang benar-benar mengganggu Thomas dan membuatnya ingin menenangkan Annalise.
Barangkali, ia bisa memeluknya. Berbisik di pucuk kepalanya bahwa ia tidak apa-apa. Bahwa apa yang tergambar dalam tubuhnya barangkali adalah medali tidak kasat mata yang melejitkan namanya di antara para kriminal yang sudah ia tangani dan membuat mereka berakhir dengan peradilan yang sesuai untuk mereka. Thomas lalu merasakan usapan lembut dari handuk basah di belakangnya. Membuatnya mendesis karena rasa perih yang menyengat.
"Bekas hitam ini-" tanya Annalise tidak yakin.
"Ya, aku sudah mengunjungi dokter Ruthbone sebelumnya dan dia memberikan salep yang sama seperti yang akan kau berikan," ujar Thomas menjelaskan. Thomas merasa ingin tertawa ketika dirinya menyebut kawan lamanya dengan panggilan kehormatan 'dokter'. Ruthbone pasti akan terkena sakit jantung dan mungkin bisa mati sambil berdiri.
"Ada yang lucu?" tanya Annalise masih membersihkan bekas darah yang ada di punggung Thomas.
"Tidak," bantah Thomas.
"Apa itu berarti kau sudah bertemu dengan Isabel sebelumnya?" tanya Annalise lagi.
Thomas mengernyit. Mengingat bagaimana Ruthbone selalu memberikan pertanyaan kepada Thomas untuk mengatasi rasa sakit yang sedang ia derita. Apa itu metode yang sedang Annalise gunakan kepadanya?
"Tidak. Saat itu orang yang kau panggil Isabel tidak ada," jawab Thomas cerdik. Jika ia tidak ingin gadis itu mengetahui siapa sebenarnya dirinya, ia perlu berhati-hati dalam menjawab pertanyaan gadis itu.
"Well, dia adalah istri dari dokter Ruthbone yang terkenal itu," katanya lagi.