Penjual perhiasan meletakkan kotak ketiga di atas meja dengan wajah seorang pria yang yakin telah memahami keinginan seluruh orang dalam ruangan.
Annalise memandang cincin di dalamnya, kemudian menatap Thomas.
Batu itu begitu besar hingga ia merasa perlu memikirkan cara mengangkat cangkir sebelum berani mencobanya.
"Indah," kata Gresham dengan sopan.
Edith mencondongkan tubuh sedikit. "Sangat mudah ditemukan jika terlepas."
Thomas menahan senyum. Rencana memilih cincin tanpa kedua ibu rupanya hanya bertahan sampai Gresham menanyakan siapa yang akan menemani putrinya. Mereka akhirnya datang berempat, setelah Annalise memastikan dirinya tetap boleh menentukan pilihan.
Penjual itu tampak hendak membuka kotak lain yang lebih mengesankan. Gadis tersebut mengangkat tangan sebelum kesempatan itu berubah menjadi seluruh sore.
"Bolehkah aku melihat yang tadi? Yang diletakkan di sebelah kiri."
Pria itu mengikuti arah telunjuknya dengan sedikit terkejut.
Thomas tidak menambahkan saran. Ia hanya menunggu sampai kotak kecil tersebut dipindahkan mendekat.
***
Cincin itu mempunyai batu bening berbentuk lonjong, dengan lingkar emas yang lebih ramping daripada pilihan sebelumnya. Hiasannya tidak menyerupai mahkota. Tidak ada bagian yang membuat Annalise langsung teringat malam ketika dirinya menantang Thomas dan mengira sedang menyelamatkan harga diri.
Ia mencobanya dengan hati-hati.
Ukurannya belum tepat, tetapi ia menyukai cara benda itu terlihat di tangannya.
"Yang ini," katanya pelan.
Penjual menjelaskan bahwa ukurannya dapat disesuaikan. Ia juga mempunyai pilihan lain dengan batu lebih besar jika Duke of Wellington menghendaki sesuatu yang lebih pantas bagi gelarnya.
Thomas memandang Annalise, lalu menjawab bahwa yang perlu disesuaikan hanyalah ukurannya.
Gadis itu menahan senyum.
Edith meminta melihat dari dekat setelah Annalise mengulurkan tangan. Sang dowager memperhatikan sebentar, kemudian mengangguk.
"Aku menyukainya."
Annalise merasakan kelegaan kecil yang semula tidak ingin diakuinya. Cincin lama merupakan pemberian Edith kepada putranya, dan sebagian dirinya masih khawatir pilihan baru akan terdengar seperti penolakan terhadap sang ibu.
Edith menepuk tangannya sekali, seolah mengetahui bagian yang belum dikatakan.
Gresham meminta Annalise mencoba menggenggam tangan sebelum melepasnya. Gadis itu melakukannya, lalu menggerakkan jari seolah sedang memegang pensil.
"Aku tidak ingin baru mengetahui sesuatu mengganggu setelah pulang," jelas ibunya.
Nasihat tersebut membuat Annalise merasa lebih tenang. Tidak semua perhatian orang tua harus diterima sebagai usaha mengubah pilihannya; kadang ibunya hanya memikirkan hal praktis yang terlewat karena ia terlalu gembira.
Ia mengatakan bentuknya nyaman. Thomas bertanya apakah ada bagian yang terasa tajam, dan Annalise menggeleng setelah memeriksa sekali lagi. Penjual menunggu sampai gadis itu sendiri menyatakan puas sebelum mengambil catatan ukuran.
***
Sementara ukuran dicatat, Thomas menanyakan kapan cincin dapat diambil. Ia menerima jawaban yang diberikan tanpa menawarkan tambahan uang agar semua pekerjaan orang lain dipindahkan demi dirinya.
Annalise memperhatikannya dengan rasa geli.
"Kau tidak akan membawanya sekarang?"
"Aku sedang berusaha menjadi pelanggan yang menyenangkan."
"Ambisi besar."
Penjual itu pura-pura sibuk menutup kotak. Gresham mengalihkan pandangan kepada sebuah bros, sedangkan Edith tidak mempunyai kesopanan serupa untuk menyembunyikan tawanya.
Ketika semuanya selesai, Annalise melepaskan cincin dan menyerahkannya kembali untuk penyesuaian. Tangannya kosong lagi, tetapi tidak ada rasa kehilangan yang datang.
Ia sudah mengetahui jawabannya sebelum memasuki toko.
Benda yang akan diambil beberapa hari lagi bukan sesuatu yang memaksanya mengingat janji. Ia justru menantikan kesempatan memakainya karena janji tersebut sudah ingin dipertahankannya.
Di pintu, Thomas menawarkan lengan. Gadis itu menerimanya dan mendapati bahwa berjalan melewati orang-orang yang mungkin mengenali mereka tidak lagi membuat dirinya ingin menyembunyikan wajah.
***
Mereka berhenti sebentar sebelum pulang karena Gresham ingin membeli sesuatu untuk Henrieta. Edith ikut masuk, sementara Annalise memilih menunggu di kereta dengan Wilda dan Thomas berdiri di dekat pintu yang terbuka.
"Kau masih memikirkan cincin lama?" tanyanya.
Gadis itu mempertimbangkan jawaban.
"Sedikit. Aku tidak ingin ibumu merasa pemberiannya tidak berharga."
Thomas menggeleng. Ia mengatakan telah membicarakannya dengan Edith. Cincin tersebut akan tetap disimpan, tetapi tidak perlu menjadi sesuatu yang dikenakan Annalise hanya untuk menunjukkan rasa terima kasih.
"Aku ingin kau menyukai cincin yang kaupilih," katanya. "Bukan belajar menyukainya karena semua orang telanjur senang."
Annalise mengangguk, lalu bertanya apakah ia sendiri menyukai pilihan tadi.
Thomas tersenyum.
"Aku menyukai wajahmu ketika melihatnya. Itu sangat membantu penilaianku."
Gadis itu tertawa, kemudian memandang jalan agar tidak terlalu jelas memperlihatkan rasa hangat di pipinya.
Wilda menyesuaikan letak tas dengan kesibukan yang sangat sopan.
***
Beberapa hari kemudian, cincin tersebut dibawa Thomas dalam kunjungan sore ke rumah Berrow.
Richard berada di sana dan segera menanyakan apakah benda itu telah melewati pemeriksaan yang cukup ketat.
"Empat orang ikut memilih," jawab Thomas.
"Hanya satu yang memilih," koreksi Annalise. "Tiga lainnya diberi kesempatan berpendapat."
Gresham mengangkat alis, tetapi tidak membantah.
Thomas membuka kotak setelah kakak gadis itu berhenti mengganggu. Annalise mengulurkan tangan dengan kemauan yang begitu jelas hingga ia tidak merasa perlu mengulang lamaran di depan seluruh ruangan.
Ia menyematkan cincin perlahan.
Ukurannya tepat.
Annalise memutar tangan sedikit, melihat cahaya bergerak pada batu, kemudian mengangkat wajah kepada pria di hadapannya.
"Aku menyukainya," katanya.
Thomas mencium punggung tangannya dengan lembut. Richard tiba-tiba menemukan sesuatu yang sangat menarik pada jendela, sementara Gresham tersenyum tanpa berpura-pura sibuk.
***
Henrieta datang tidak lama setelahnya dan meminta melihat cincin. Ia memuji pilihan adiknya, lalu menanyakan apakah Annalise masih dapat menggambar tanpa terganggu.
Pertanyaan itu segera membawa mereka kepada percobaan yang lebih penting daripada pendapat mengenai ukuran batu.
Annalise mengambil pensil, duduk di meja, dan mencoba beberapa garis sambil semua orang menunggu dengan kesungguhan yang dibuat-buat.
"Berfungsi," katanya akhirnya.
Richard menghela napas lega. "Syukurlah. Kita tidak perlu mengembalikannya."
Thomas tertawa. Ia melihat Annalise meletakkan pensil dengan cincin baru pada jarinya, dan hal sederhana itu terasa lebih nyata daripada semua bayangan mewah yang pernah dibuatnya mengenai seorang duchess.
Gadis itu masih mempunyai buku yang ingin diselesaikan, saudara yang gemar menggodanya, dan pilihan yang akan terus berubah seiring hidupnya.
Cincin tersebut berada di antara semua itu.
Bukan menggantikannya.
***
Malamnya, Annalise melepas cincin ketika bersiap tidur dan meletakkannya di tempat yang aman. Ia memandangnya beberapa saat sebelum Wilda menutup kotak kecil.
"Anda ingin memakainya lagi?"
Gadis itu menggeleng sambil tersenyum.
"Besok pagi."
Ia tidak merasa perlu tidur dengan tangan tergenggam agar janji tersebut tidak hilang. Thomas masih akan menjadi tunangannya ketika ia bangun, dan dirinya masih boleh merasa lelah, berubah pendapat tentang warna gaun, atau tidak ingin menerima tamu sepanjang hari.
Sebelum lampu dipadamkan, Annalise mengambil surat yang mulai ditulis untuk Joanna. Ia menambahkan satu kalimat mengenai cincin, lalu mencoret penjelasan panjang yang membuatnya terdengar seperti sedang membela keputusan.
Sebagai gantinya, ia menulis bahwa dirinya bahagia.
Untuk sahabat yang pernah melihatnya menyembunyikan begitu banyak perasaan di Bath, kalimat sederhana itu sudah mengatakan cukup banyak.