Thomas, jika hari itu akhirnya datang, dengarkan jawabannya. Jangan terlalu sibuk mengingat betapa lama kau menunggunya.
Duke of Gordon ke-X.
***
Pada hari Thomas akan datang, Annalise kehilangan pensilnya.
Ia mencari di dalam tas, di bawah buku, lalu di tempat yang sama untuk kedua kalinya. Wilda memperhatikan selama beberapa saat sebelum menunjuk meja dekat cermin.
Pensil itu berada di sana, tepat di samping sarung tangan yang sudah tiga kali dipindahkan.
"Aku meletakkannya tadi?"
"Ya, Milady."
"Kau seharusnya mengatakan lebih awal."
"Anda meminta saya tidak mengganggu ketika sedang berpikir."
Annalise menatap pelayannya, kemudian tertawa dengan gugup. Wilda tersenyum dan menyerahkan pensil, seolah benda tersebut dapat membantu majikannya menemukan ketenangan yang tertinggal entah di mana.
Gadis itu meletakkannya kembali.
Ia tidak membutuhkan gambar baru sore ini. Tidak pula gaun yang diubah pada saat terakhir agar tampak seperti seseorang yang belum pernah dikenali Thomas sebelumnya.
Ia menarik napas, merapikan satu lipatan, dan memutuskan turun sebelum seluruh kamar menjadi korban kegelisahannya.
***
Thomas tiba pada waktu yang disepakati.
Duke of Berrow menerimanya lebih dahulu di ruang depan, lalu memberitahukan bahwa Annalise berada di ruang duduk kecil. Gresham akan tetap dekat, tetapi mereka diberi kesempatan berbicara tanpa seluruh keluarga duduk menghadap seperti penonton pertunjukan.
Thomas mengucapkan terima kasih.
Ia tidak membawa kotak cincin lama. Benda tersebut ditinggalkan di rumah setelah dirinya memilih tidak menjadikan perhiasan yang sudah mempunyai begitu banyak ingatan sebagai kejutan yang harus diterima dengan wajah gembira.
Tangan kirinya terasa terlalu kosong ketika masuk.
Annalise berdiri di dekat meja. Ada buku gambar tertutup, dua cangkir yang belum digunakan, serta bunga rendah yang tampaknya dipilih agar tidak menghalangi mereka saling melihat.
Thomas memandang gadis itu dan lupa kalimat pertama yang sempat disusun di kereta.
"Kau tampak gugup," kata Annalise.
"Aku berharap dapat menyembunyikannya lebih baik."
"Tidak berhasil."
Ia tersenyum, dan Thomas langsung merasa sedikit lebih mudah bernapas.
***
Mereka duduk terlebih dahulu. Annalise menuang teh karena tangannya memerlukan kegiatan, lalu hampir bertanya tentang pekerjaan Thomas sebelum menyadari bahwa ia tidak sungguh ingin membahas pengurus atau surat.
Pria itu menunggu cangkir diletakkan dengan aman.
"Aku sudah berbicara dengan ayahmu," katanya.
"Aku tahu."
"Tetapi aku datang meminta jawabanmu. Bukan membawa keputusan yang dibuat di ruang kerjanya."
Annalise mengangguk. Ia menghargai penjelasan tersebut, meskipun sebenarnya sudah melihat perbedaannya jauh sebelum sore ini.
Thomas menatapnya tanpa mencari perlindungan pada gurauan.
Ia mengatakan bahwa dirinya mencintai Annalise dan ingin membangun kehidupan bersamanya. Bukan karena ibunya menghendaki seorang duchess, bukan karena dirinya perlu mengakhiri season dengan kemenangan, dan bukan untuk memperbaiki cerita pertunangan lama agar orang lain berhenti membicarakannya.
Ia menginginkan hari-hari yang mereka mulai kenal: percakapan, ketidaksepakatan, gambar yang belum selesai, serta kesempatan pulang kepada orang yang berani mengatakan ketika ia bertindak bodoh.
Annalise mendengarkan dengan mata yang terasa semakin hangat.
***
Thomas berdiri, lalu berlutut di hadapannya.
Tidak ada gerakan yang terburu-buru. Tidak ada tangan yang ditahan agar gadis itu tidak pergi.
"Annalise Collins, maukah kau menikah denganku?"
Pertanyaan itu akhirnya hadir tanpa sesuatu yang disembunyikan di belakangnya.
Gadis itu memandang wajah yang sudah berkali-kali dicobanya di atas kertas. Ia mengenal senyum yang angkuh, tatapan yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, serta wajah tenang yang kadang menutupi rasa takut.
Ia juga mengenal pria yang belajar mendengarkan, kembali setelah membuat kesalahan, dan membiarkannya menutup percakapan ketika belum sanggup memberi jawaban.
Tidak semua hari bersama akan menyenangkan.
Ia mengetahui itu, dan keinginannya tidak hilang karenanya.
"Ya," jawab Annalise.
Thomas tetap diam sesaat, seolah perlu memastikan tidak ada kata berikutnya yang belum didengar.
Gadis itu tertawa kecil dengan mata basah.
"Aku mau menikah denganmu, Thomas. Kau boleh berhenti tampak tidak percaya."
Ia akhirnya tersenyum, begitu lebar hingga Annalise merasa seluruh ruangan ikut berubah.
***
Thomas meraih tangannya setelah gadis itu mengulurkannya. Ia mencium jemari tersebut, lalu berdiri ketika Annalise ikut bangkit.
Kali ini gadis itu memeluknya lebih dahulu.
Thomas membalas dengan hati-hati, tidak karena menganggapnya akan pecah, tetapi karena ia ingin memberi ruang jika Annalise memilih menjauh. Gadis itu justru tetap berada di dekatnya dan tertawa pelan pada bagian mantel yang menyentuh pipinya.
"Apa yang lucu?"
"Aku sempat takut akan menangis terlalu banyak untuk menjawab."
"Aku bersedia menunggu."
"Aku tahu."
Dua kata itu membuat Thomas memejamkan mata sebentar.
Ketika Annalise mengangkat wajah, ia menunggu sampai gadis itu mendekat, lalu menciumnya singkat. Tidak ada kebutuhan menyembunyikan seluruh kegembiraan, tetapi mereka masih dapat mendengar Gresham berbicara kepada pelayan di ruangan sebelah.
Annalise menjauh dengan senyum yang tidak dapat lagi disusun agar tampak tenang.
Thomas baru mengingat sesuatu ketika pandangannya turun kepada tangan gadis itu.
***
"Aku tidak membawa cincin," katanya.
Annalise berkedip, lalu melihat tangan kirinya sendiri.
"Aku memperhatikannya."
Thomas menjelaskan bahwa cincin lama tidak harus digunakan kembali. Jika ia menginginkan yang lain, mereka dapat memilih bersama. Jika ia perlu waktu untuk memikirkannya, keputusan sore itu tidak menjadi kurang berarti hanya karena jarinya masih kosong.
Gadis itu mendengarkan, kemudian mengatakan ia ingin memilih cincin baru bersamanya.
Bukan untuk berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi. Ia hanya ingin melihat sesuatu yang mereka tentukan sesudah mengetahui mengapa mereka ingin menikah.
Thomas mengangguk.
"Mama akan sangat senang mempunyai alasan membicarakan perhiasan."
"Apakah kita harus mengajaknya?"
Ia tampak mempertimbangkan bahaya pertanyaan tersebut dengan kesungguhan yang membuat Annalise tertawa lagi.
"Kita boleh memilih sendiri," jawabnya akhirnya. "Lalu menghadapi pendapat Mama setelahnya."
"Rencana yang berani, Your Grace."
***
Mereka memberitahukan kedua orang tua Annalise bersama-sama.
Gresham memeluk putrinya, lalu memandang Thomas dengan senyum yang masih menyimpan sedikit mata basah. Duke of Berrow menjabat tangannya dan mengucapkan selamat sebelum menanyakan apakah mereka ingin duduk.
Tidak ada pengumuman tanggal pernikahan yang sudah disiapkan di laci.
Annalise mengatakan dirinya ingin membicarakan waktunya setelah semua orang memperoleh kesempatan bernapas. Thomas menyetujuinya.
Mereka akan memberi tahu keluarga dekat lebih dahulu. Kabar kepada kenalan dan pengaturan lainnya dapat dibahas setelahnya, dengan Annalise ikut mendengar serta memutuskan hal yang menyangkut dirinya.
Gresham menerima tanpa mengeluarkan tumpukan kertas undangan.
Setidaknya, belum.
Duke of Berrow memandang istrinya seolah memahami usaha yang baru saja dilakukannya. Annalise menangkap tatapan tersebut dan tertawa.
Kebahagiaan keluarga ternyata dapat terasa hangat tanpa harus segera berubah menjadi kesibukan yang menelan seluruh sore.
***
Thomas menemui Edith setelah meninggalkan rumah Berrow.
Ibunya berdiri ketika ia masuk, berusaha tampak baru kebetulan berjalan ke dekat pintu. Thomas tidak mempunyai niat membiarkannya menunggu lebih lama.
"Dia menerima, Mama."
Edith meletakkan tangan di dada, lalu mendekat dan memeluk putranya dengan erat.
Beberapa saat ia tidak mengatakan apa-apa. Thomas membiarkannya, merasakan kegembiraan yang bercampur dengan ingatan tentang seseorang yang tidak akan mendengar kabar tersebut secara langsung.
Ketika Edith akhirnya melepaskan pelukan, ia mengusap sudut mata sambil mengeluh bahwa putranya selalu memilih saat yang buruk untuk membuatnya kehilangan ketenangan.
"Aku akan mencoba menjadwalkannya lain kali."
Ia menepuk lengan Thomas dan tertawa.
Di rumah Berrow, Annalise membuka buku gambar untuk mengambil kertas berisi daftar keinginannya. Di bawah kalimat terakhir, ia menuliskan tanggal hari itu.
Kemudian ia menutup buku.
Tangannya masih kosong, tetapi kali ini ia telah memberikan sebuah janji yang sungguh ingin dijalaninya.