Wilda menjatuhkan pita ketika Annalise menanyakan apakah ia ingin tetap bekerja dengannya jika kelak pindah rumah.
Pita itu jatuh tanpa suara, tetapi keduanya memandangnya seolah benda tersebut baru saja memberi pendapat yang terlalu keras.
"Anda akan menikah, Milady?"
"Belum ada lamaran. Aku sedang menanyakan kemungkinan."
Wilda mengambil pita, merapikannya lebih lama daripada diperlukan, lalu menatap majikannya.
"Saya ingin tetap menemani Anda. Tetapi bolehkah saya mengetahui bagaimana pengaturannya nanti?"
Annalise langsung mengangguk.
Mereka membicarakan hal sederhana yang biasanya dianggap akan mengikuti keputusan keluarga dengan sendirinya: pekerjaan sehari-hari, tempat tinggal, waktu untuk urusan pribadi, serta siapa yang perlu ditemui di rumah baru jika rencana sungguh berjalan.
Annalise belum mempunyai semua jawaban. Ia berjanji akan menanyakannya sebelum meminta Wilda mengambil keputusan terakhir.
Pelayan itu tampak lega karena jawaban pertamanya tidak dianggap sebagai persetujuan untuk segala hal yang belum dijelaskan.
***
Sesudah pembicaraan selesai, Wilda kembali merapikan rambut Annalise di depan cermin.
"Anda tampak bahagia," katanya pelan.
Gadis itu memperhatikan wajah sendiri sebelum tersenyum.
"Aku memang bahagia. Aku juga takut."
"Keduanya terlihat sedikit."
"Aku berharap yang kedua lebih sulit dikenali."
Wilda tersenyum, kemudian mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu lama melihat Annalise bersiap melakukan sesuatu yang dianggap mudah sampai gadis itu benar-benar berdiri di depannya.
"Seperti memanjat pohon?"
"Saya lebih menyukai contoh yang tidak melibatkan cabang, Milady."
Annalise tertawa. Ia memandang buku gambar di atas meja dan memikirkan betapa banyak hal yang telah berubah sejak Bath.
Tidak semuanya karena Thomas. Sebagian karena dirinya akhirnya berhenti menggunakan ketakutan sebagai alasan menunda seluruh kehidupan.
Ia mencintai pria itu.
Namun, keputusan yang mulai dibentuknya terasa miliknya sendiri, bukan sesuatu yang harus diberikan sebagai balasan karena sudah dicintai.
***
Annalise menemui ayahnya setelah makan siang. Duke of Berrow meletakkan surat ketika putrinya meminta waktu berbicara, lalu mempersilakannya duduk.
"Aku ingin membicarakan Thomas."
"Aku mendengarkan."
Gadis itu mengatakan bahwa mereka sudah saling menyatakan cinta dan membahas beberapa hal mengenai kehidupan bersama. Ia tidak membacakan daftar atau mengulang semua percakapan pribadi, tetapi menjelaskan bahwa dirinya mulai ingin menikah dengannya.
Ayahnya tidak segera memberikan restu yang terdengar seperti perintah agar rencana itu dilaksanakan.
Ia bertanya apa yang membuat Annalise yakin kali ini berbeda.
Gadis itu memikirkan jawabannya dengan tenang. Thomas tidak berubah menjadi pria yang tidak pernah membuatnya kesal. Ia masih dapat terlalu cepat menyusun rencana, terlalu percaya diri, dan terlalu mudah lupa bahwa orang lain mempunyai pendapat sebelum ia bertanya.
"Tetapi sekarang aku bisa mengatakannya kepadanya," ujar Annalise. "Dan aku melihat apa yang dia lakukan setelah mendengar."
***
Duke of Berrow menanyakan apakah ia merasa harus segera menjawab agar Thomas tidak pergi. Annalise menggeleng.
Ia justru mengetahui pria itu akan menunggu, dan karena itulah dirinya dapat memikirkan jawaban tanpa terus membayangkan hukuman jika terlambat.
"Aku tidak mempunyai kepastian bahwa semuanya akan mudah, Papa."
"Aku tidak memilikinya ketika menikahi ibumu."
Annalise tersenyum, lalu mendengarkan ayahnya menjelaskan bahwa kecocokan tidak terlihat hanya pada hari ketika dua orang menginginkan hal yang sama.
Ia ingin putrinya mengetahui ke mana akan berpaling jika suatu hari memerlukan bantuan. Pintu rumah keluarganya tidak akan menjadi lebih jauh hanya karena namanya kelak disebut bersama gelar lain.
Tenggorokan Annalise terasa mengencang.
"Aku tahu."
"Aku ingin kau mengingatnya juga ketika sedang bahagia. Bukan hanya ketika mempunyai masalah."
Gadis itu berdiri dan memeluk ayahnya. Sang duke menepuk punggungnya dengan hati-hati, kemudian mengatakan bahwa dirinya masih harus menyelesaikan surat sebelum Gresham menuduh mereka berdua bersekongkol menghindari pekerjaan.
***
Thomas datang keesokan paginya untuk menemui Duke of Berrow pada waktu yang sudah diminta melalui surat.
Annalise mengetahui kunjungan tersebut, tetapi tidak turun mengintip ruang kerja. Ia memilih duduk bersama Gresham dan mencoba menggambar tangan ibunya memegang buku.
Hasilnya terganggu setiap kali Gresham membalik halaman.
"Mama sengaja melakukannya."
"Aku sedang membaca, Elise. Kau yang memilih kegiatan dengan korban yang tidak cocok."
Di ruang kerja, Thomas mengatakan maksudnya tanpa membuat pembicaraan terdengar seperti permintaan memindahkan kepemilikan seseorang.
Ia ingin melamar Annalise dengan benar. Ia mengetahui jawaban tetap milik gadis itu, tetapi ingin ayahnya mengetahui kesungguhan serta kesiapan dirinya membicarakan urusan keluarga setelah jawaban diberikan.
Duke of Berrow mendengarkan, kemudian bertanya bagaimana Thomas memahami perbedaan antara merawat putrinya dan terus mengawasinya.
Pertanyaan tersebut tidak mudah.
Thomas menjawab dengan pengalaman yang benar-benar terjadi, termasuk surat Annalise mengenai hari ketika ia terlalu lelah mengikuti pelajaran.
Ia tidak menceritakan bagian yang tidak berhak dibagikannya.
***
Pembicaraan berlangsung cukup lama untuk membuat gambar tangan Gresham mempunyai tiga kemungkinan posisi ibu jari.
Ketika Thomas akhirnya keluar, ia menemui Annalise di ruang duduk. Tidak ada cincin di tangannya, tidak ada pengumuman kepada seluruh rumah.
Gadis itu mencoba memandangnya dengan biasa dan gagal.
"Papa membuatmu berputar mengelilingi pertanyaan?"
"Ayahmu cukup terampil melakukannya tanpa meninggalkan kursi."
Gresham tertawa, lalu menyampaikan bahwa makan siang hampir siap. Thomas tidak dapat tinggal karena mempunyai pekerjaan yang telah dijanjikan, tetapi menanyakan apakah ia boleh datang dua hari lagi pada sore hari.
Annalise menyetujuinya.
Keduanya mengetahui undangan itu mungkin membawa sesuatu yang berbeda. Namun, Thomas tidak mengubah kunjungan pagi tersebut menjadi lamaran mendadak hanya karena percakapan dengan sang ayah telah berakhir baik.
Ia berpamitan, dan Annalise kembali melihat gambar tangan yang kini hampir tidak dapat diselamatkan.
"Salah siapa ini?" gumamnya.
"Aku tetap menyalahkan modelnya," jawab Gresham dengan tenang.
***
Di rumah, Thomas membuka kotak cincin yang pernah diterima Annalise pada malam pertama pertunangan.
Bentuk mahkota dan batu di tengahnya masih sama. Dulu ia menganggap benda itu cukup untuk mengakhiri perdebatan dan memulai kehidupan yang akan diatur kemudian.
Ia menutup kotaknya sebelum Edith masuk.
Ibunya melihat gerakan tersebut, lalu menunggu.
"Aku ingin melamarnya," kata Thomas.
Edith mengangguk. Tidak ada seruan meminta kereta segera disiapkan.
"Dengan cincin itu?"
"Aku belum tahu apakah dia ingin memakainya lagi. Aku tidak ingin memutuskan itu untuknya."
Sang dowager duduk di dekatnya. Ia mengatakan pemberian tersebut tidak perlu digunakan kembali hanya untuk membuat dirinya senang.
Thomas merasa lega, lalu tersenyum ketika ibunya menambahkan bahwa cincin lain pun tidak harus dipilih dengan melibatkan seluruh pedagang perhiasan London.
***
Malam itu ia mencoba menyusun kalimat lamaran di atas kertas.
Hasil pertama terdengar seperti pidato. Yang kedua terlalu panjang. Pada percobaan ketiga, Thomas membaca kembali sebuah kalimat dan menyadari bahwa dirinya sedang menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin dipastikan manusia mana pun.
Ia meremas kertas tersebut, kemudian berhenti sebelum mengambil lembar baru.
Annalise sudah mendengar penjelasannya mengenai rumah, pekerjaan, dan harapan. Ia tidak memerlukan pertunjukan yang lebih cerdas daripada seluruh percakapan mereka.
Thomas meletakkan pena.
Ia hanya perlu datang, mengatakan apa yang diinginkan dengan jujur, dan membiarkan gadis itu menjawab.
Anehnya, kesederhanaan tersebut lebih menakutkan daripada banyak urusan berbahaya yang pernah ditanganinya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mempunyai niat menghilangkan ketakutan itu dengan mengendalikan hasilnya.