Thomas, jika kau menginginkan jawaban jujur, jangan mengernyit setiap kali jawaban itu berbeda dari gambaranmu.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise membawa selembar kertas ke ruang duduk, lalu langsung menyesal ketika Thomas melihatnya.
"Kau membuat daftar?"
"Hanya beberapa hal yang tidak ingin kulupakan."
Pria itu mengeluarkan lipatan kertas dari saku mantelnya.
Annalise menatapnya, kemudian tertawa begitu keras hingga Gresham mengangkat wajah dari meja di seberang ruangan.
"Kami rupanya sama-sama takut lupa cara hidup," jelas gadis itu.
Ibunya memilih tidak meminta penjelasan lebih jauh.
Thomas duduk dan meletakkan kertasnya terbalik. Tidak ada alasan memulai dengan membaca daftar seperti dua orang yang sedang membandingkan barang kiriman.
"Apa yang paling ingin kauketahui?" tanyanya.
Annalise memikirkan jawabannya sebentar.
"Di mana kau ingin tinggal jika menikah?"
Thomas menyebut rumah keluarga di luar London, dengan waktu di kota sesuai urusan serta kegiatan yang diperlukan. Ia mengatakan hal itu sebagai kebiasaan yang dibayangkannya, lalu melihat perubahan kecil pada wajah gadis tersebut.
Rupanya pertanyaan pertama sudah cukup untuk membuat daftarnya kehilangan susunan.
***
Annalise tidak membenci rumah yang baru dikunjunginya. Ia menikmati taman, ruangan bercahaya, dan perasaan tenang setelah kebisingan London.
Namun, ia baru mulai menemukan kegiatan yang ingin diteruskan di kota. Henrieta ada di sini. Mrs. Bell mempunyai pertemuan yang tidak dapat dipindahkan hanya karena seorang duke lebih menyukai rumah lain.
"Aku tidak meminta tinggal di London sepanjang tahun," katanya. "Aku hanya belum ingin semua hal yang baru kusukai langsung menjadi sesuatu yang sesekali boleh kukunjungi."
Thomas membuka mulut, lalu berhenti sebelum mengatakan seorang pengajar dapat dipanggil ke kediaman mereka.
Annalise rupanya mengetahui arah pikirannya.
"Bukan hanya pelajarannya. Aku menyukai orang-orangnya juga."
Ia mengangguk. Itu bagian yang terlalu mudah diabaikan ketika dirinya menganggap semua kebutuhan dapat diselesaikan dengan membawa benda atau orang tertentu ke tempat yang dipilihnya.
Mereka membicarakan waktu yang memang perlu Thomas habiskan di luar kota dan bagian lain yang hanya merupakan kebiasaan lama.
Tidak semuanya ternyata sama wajibnya.
***
"Kita dapat mulai dengan tinggal di London lebih lama," kata Thomas. "Lalu menentukan perjalanan berikutnya bersama setelah mengetahui urusan yang menunggu."
Annalise menatapnya.
"Kau sungguh tidak keberatan, atau hanya ingin membuat percakapan ini mudah?"
"Aku akan keberatan jika tidak pernah mengurus rumah di sana. Tetapi aku tidak perlu menganggap semua pekerjaan harus diawasi setiap hari olehku. Aku baru belajar itu dengan cara yang agak memalukan."
Gadis itu tersenyum kecil.
Ia juga mengakui ada bagian pedesaan yang mungkin disukainya lebih lama setelah terbiasa. Namun, mereka tidak perlu memutuskan susunan seluruh tahun sebelum mencoba beberapa bulan yang benar-benar dijalani bersama.
Kesepakatan itu belum merupakan jadwal. Ada banyak urusan yang kelak perlu disesuaikan.
Setidaknya Annalise tidak merasa pilihannya hanya mengikuti Thomas ke mana pun atau membuktikan bahwa dirinya tidak cukup mencintainya.
Ia membalik kertas dan melihat hal berikutnya.
"Wilda," katanya.
***
Thomas segera memahami keinginannya membawa pelayan yang sudah mengenal kebiasaannya. Ia mengatakan dirinya tidak keberatan, tetapi Annalise mengangkat tangan sebelum penjelasan itu selesai.
"Aku perlu menanyakan keinginannya juga. Dia sudah lama menemaniku. Aku tidak ingin menganggap itu berarti dia harus menerima semua perubahan tanpa ditanya."
Thomas melirik ke pintu, tempat Wilda baru saja lewat membawa nampan kosong.
"Tentu."
Mereka membicarakan bagaimana perkenalan dengan penghuni rumah akan dilakukan jika pernikahan sungguh terjadi. Annalise tidak ingin datang lalu mengubah segala hal dalam semalam. Namun, ia juga tidak ingin hanya mendapat tempat untuk tidur sementara semua keputusan sudah dibuat sebelum dirinya sempat bertanya.
Thomas mengatakan ia menginginkan rumah yang mereka jalani bersama.
"Termasuk jika aku memindahkan kursi?"
"Aku akan berusaha menanggungnya."
"Dan buku?"
"Kita perlu membicarakan bagian itu dengan lebih hati-hati."
Annalise tertawa. Ketegangan yang tersisa mengendur, meskipun Thomas tampak sungguh mempertimbangkan bagaimana bukunya dapat selamat dari selera penataan seorang wanita yang disukainya.
***
Pembicaraan tentang pekerjaan lebih sulit.
Thomas tidak dapat menjanjikan tidak akan pernah menerima tugas yang memerlukan perjalanan. Ia juga tidak dapat selalu menceritakan semua isi pekerjaan tersebut. Namun, ia dapat membedakan rahasia yang memang harus dijaga dari kebiasaan diam karena menganggap penjelasan merepotkan.
Annalise mendengarkan tanpa menunduk pada daftar.
"Aku tidak meminta semua rincian," katanya. "Aku ingin tahu hal yang memengaruhi hidup kita jika memang boleh diberitahukan. Dan jika kau tidak boleh menjelaskan, katakan demikian. Jangan membuat cerita agar aku berhenti bertanya."
Thomas mengangguk.
"Aku juga tidak akan menyebut semua ketidaksukaanku sebagai tuntutan tugas," tambahnya.
Gadis itu memandangnya lebih lembut. Ia tahu pengakuan tersebut berkaitan dengan Matthew dan Joanna, bukan hanya dirinya.
Mereka tidak menghapus kemungkinan rasa takut. Ada perjalanan yang bisa membuat Annalise khawatir, sebagaimana hari sakitnya mungkin membuat Thomas gelisah.
Tetapi mereka dapat berhenti menambah ketakutan dengan kebohongan yang dimaksudkan untuk membuat percakapan lebih mudah.
***
Pada bagian akhir, Thomas menanyakan bagaimana Annalise ingin membicarakan pengeluaran pribadi serta urusan rumah. Ia mengetahui rincian pernikahan kelak perlu ditangani dengan bantuan keluarga dan orang yang mengerti pekerjaan tersebut.
Namun, ia tidak ingin semua pembicaraan berlangsung antara dirinya dan ayah Annalise saja.
Gadis itu tampak terkejut sebelum mengatakan ia ingin mendengar penjelasannya sendiri.
"Aku mungkin perlu bertanya pada bagian yang tidak kupahami."
"Aku juga bertanya kepada pengurus lebih sering daripada yang pernah kuakui."
"Itu kabar yang menenangkan."
Mereka tidak menghitung jumlah atau membuat kesepakatan resmi sore itu. Yang dipastikan Annalise adalah bahwa keinginannya membeli kertas, memberi sesuatu kepada sahabat, atau membantu keluarganya tidak akan diperlakukan seperti permohonan seorang tamu yang tidak mempunyai tempat tetap.
Thomas mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Di meja dekat jendela, Gresham tidak ikut menjawab. Untuk sekali ini, ia cukup puas mendengar putrinya berani mengajukan pertanyaan yang dahulu mungkin dianggap tidak pantas mengganggu suasana romantis.
***
Ketika teh sudah diganti, Annalise menyadari mereka belum menyentuh seluruh isi daftar.
Ia melipat kertas tanpa merasa perlu menyelesaikannya sampai tidak tersisa persoalan.
Thomas melakukan hal yang sama.
"Apakah ini membuatmu takut?" tanyanya.
"Sedikit," jawab Annalise. "Tetapi lebih baik daripada berpura-pura menikah hanya berarti kita bisa terus berdansa."
"Aku berharap masih ada dansa."
"Tergantung apakah bukumu selamat ketika kupindahkan."
Thomas tertawa dan mengulurkan tangan di atas meja. Gadis itu meletakkan jemarinya di sana selama beberapa saat, cukup lama untuk mengingat bahwa percakapan yang praktis tidak mengurangi alasan mereka ingin bersama.
Sesudah Thomas pergi, Annalise membuka kembali kertasnya.
Pada bagian paling bawah, ia menulis satu kalimat yang tidak akan diberikan kepada siapa pun.
Aku ingin mencoba kehidupan ini bersamanya.
Ia membacanya, merasakan takut dan gembira sekaligus, lalu menyimpan kertas tersebut di dalam buku gambar.