Matthew membaca surat Joanna dengan wajah yang membuat Thomas menduga ada sesuatu yang sangat baik atau sangat merepotkan.
Keduanya kadang tampak serupa pada sepupunya.
"Ia akan berada lebih dekat dengan London," kata Matthew sebelum ditanya. "Rombongan mengatur persinggahan berikutnya. Jika waktunya tidak berubah, saya bisa menemuinya tanpa pergi terlalu lama."
Thomas meminta tanggal perkiraannya, lalu memeriksa kegiatan yang sudah disepakati. Ada satu urusan yang memerlukan Matthew, tetapi dapat diselesaikan sebelum perjalanan tersebut jika mereka menyiapkan keterangan lebih awal.
"Kita bisa mengaturnya," katanya.
Matthew mengangguk, masih memegang surat.
Thomas menunggu sebentar.
"Ada bagian lain?"
"Joanna mengatakan Mrs. Hudson mulai menyukai seorang pemain yang selalu membawa makanan. Ia merasa kesetiaan kucingnya dapat dibeli terlalu murah."
Thomas tertawa. Kabar keluarga yang dahulu hanya berupa sesuatu yang disembunyikannya kini hadir di ruang kerja sebagai kisah biasa yang boleh didengar karena pemiliknya memilih bercerita.
Ia jauh lebih menyukai keadaan itu.
Matthew melipat surat sebelum kembali memeriksa pekerjaan. Senyumnya masih bertahan ketika menemukan satu angka yang perlu dikoreksi. Thomas menunjukkannya, menerima perbaikan, lalu membiarkan percakapan selesai tanpa merasa harus mengembalikan suasana ruangan menjadi lebih serius.
***
Pada sore yang sama, Edith menerima surat Alaric.
Thomas mengetahui siapa pengirimnya ketika ibunya membaca satu kalimat, mendengus, lalu melipat kertas dengan perhatian yang terlalu hati-hati untuk sesuatu yang baru saja dihina.
"Ia masih gemar memberi nasihat?"
"Ia mengatakan aku tidak boleh terus mengira semua orang makan buruk hanya karena aku tidak berada di dekat dapurnya."
"Nasihat yang berani."
Edith memandang putranya. "Kau ingin berpihak kepadanya?"
Thomas segera mengatakan tidak. Ibunya tersenyum dan melanjutkan bahwa Alaric mungkin dapat datang berkunjung ketika urusan rombongan memungkinkan. Tidak ada kepastian tanggal, tetapi kali ini ia tidak menulis seolah masa lalu membuat dirinya harus tetap jauh selamanya.
Thomas ikut senang.
Ia tidak meminta ibunya menyerahkan seluruh surat. Ada bagian hubungan lama yang tidak perlu diketahuinya untuk memastikan semuanya baik.
Edith menyimpan kertas itu di antara surat pribadi dan menanyakan apakah dirinya sedang menunggu kabar Annalise.
Thomas mendesah.
Rupanya hak menyimpan urusan sendiri tidak dibagikan secara merata di rumah tersebut.
***
Annalise berada di toko cetakan bersama Henrieta dan Wilda ketika dua pria sedang memperdebatkan gambar sebuah bangunan.
Salah seorang bersikeras jumlah jendelanya keliru. Pemilik toko menjawab bahwa cetakan dibuat dari gambar seorang pelancong, bukan ukuran yang diambil untuk memperbaiki dinding.
Henrieta membawa adiknya menjauh sebelum Annalise terlalu tertarik mendengarkan pertengkaran.
Mereka berhenti pada sekumpulan gambar taman. Ada garis yang begitu halus sampai gadis itu harus mendekat untuk melihat bagaimana bayangan dibentuk.
"Aku tidak pernah memikirkan berapa banyak cara membuat daun," gumamnya.
Henrieta menanyakan apakah ia ingin memilih satu untuk dibawa pulang. Annalise memeriksa harganya, mempertimbangkan uang yang dibawa, lalu memilih cetakan kecil yang lebih sederhana daripada gambar pertama yang menarik perhatiannya.
Ia ingin dapat mengamatinya berulang kali, bukan membeli sesuatu hanya karena takut tidak mempunyai kesempatan lain.
Pemilik toko membungkus pilihan itu tanpa mengetahui bahwa sebuah pembelian kecil membuat Annalise merasa sangat puas terhadap dirinya sendiri.
***
Di luar, mereka bertemu seorang kenalan keluarga yang menanyakan kabar kunjungan ke rumah Wellington. Pertanyaannya sopan, tetapi matanya sempat bergerak ke tangan kiri Annalise.
Gadis itu memperhatikannya dan tidak langsung merasa perlu menyembunyikan tangan.
"Kunjungannya menyenangkan," jawabnya. "Aku membuat gambar pohon yang masih perlu diselesaikan."
Wanita tersebut bertanya apakah Edith sudah kembali ke London. Henrieta membantu meneruskan percakapan sebelum mereka berpamitan.
Tidak ada pertanyaan langsung mengenai pertunangan.
Namun, ketika berjalan menuju kereta, Annalise mengakui ia mulai lelah mengetahui bahwa sebagian orang menganggap seluruh kegiatannya sebagai petunjuk menuju pernikahan.
"Mereka juga melakukannya ketika kau tidak pergi ke mana-mana," kata Henrieta.
"Itu tidak membuatnya lebih menyenangkan."
"Tidak. Tetapi mungkin membantu mengingat bahwa kau tidak perlu menyesuaikan semua langkah agar tafsiran mereka tepat."
Annalise mengangguk. Ia menatap bungkusan di tangannya dan memutuskan hal paling penting dari sore tersebut tetap gambar yang dibelinya, bukan tatapan yang tidak dapat dikendalikannya.
***
Thomas datang pada kunjungan singkat dua hari kemudian. Annalise sudah menyiapkan cetakan kecil itu bersama buku latihan.
Ia menceritakan perdebatan mengenai jendela, berharap pria tersebut akan membela pelancong yang menggambarnya. Ternyata Thomas justru ingin mengetahui bangunan mana yang dimaksud.
"Kau akan menjadi orang ketiga yang bertengkar?"
"Aku hanya ingin memastikan apakah jendelanya memang keliru."
Annalise menatapnya tanpa harapan.
Thomas tertawa dan menyerah. Ia memeriksa cetakan taman yang dipilihnya, lalu menanyakan bagian yang ingin dipelajari.
Gadis itu menjelaskan tentang bayangan. Thomas mendengarkan cukup lama hingga ia menyadari dirinya belum menanyakan kabar pria tersebut.
Ia segera melakukannya.
Thomas menceritakan surat Joanna kepada Matthew dan kemungkinan perjalanan singkat sepupunya. Annalise tampak senang, kemudian mengatakan ia akan menanyakan langsung kepada Joanna kapan mungkin dapat bertemu jika rombongan cukup dekat.
"Aku bisa ikut menonton jika waktunya sesuai," tambahnya.
Thomas mengangguk. Kali ini pertunjukan tidak memerlukan rahasia apa pun agar menarik untuk ditunggu.
***
Ketika percakapan beralih kepada hari berikutnya, Thomas mengatakan Edith ingin berbicara dengan Gresham mengenai suatu undangan. Ia tidak tahu seluruh isinya dan menyadari hal itu membuatnya sedikit gelisah.
Annalise tersenyum.
"Kau khawatir mereka membuat rencana?"
"Mama mempunyai bakat itu."
"Mamaku juga. Kita boleh menanyakan setelah mereka selesai."
Thomas memandangnya. Dulu ia mungkin akan mencari tahu lebih dahulu, menyiapkan jawaban, lalu memastikan kedua ibu memilih sesuatu yang menguntungkan dirinya.
Sekarang Annalise tampak cukup yakin bahwa ia dapat mendengar rencana dan tetap memilih apakah ingin ikut.
Ia ingin belajar mempunyai ketenangan serupa.
Mereka akhirnya mengetahui undangan tersebut hanya mengenai jamuan seorang kenalan. Edith tidak sedang mengatur pengumuman rahasia, dan Gresham belum menjanjikan kehadiran putrinya.
Annalise tertawa begitu melihat kelegaan Thomas.
"Kau tampak sangat kecewa tidak mempunyai sesuatu untuk dikalahkan."
"Aku sedang menyesuaikan diri dengan sore yang terlalu damai."
***
Sesudah kunjungan itu, Thomas bertemu Matthew di ruang kerja. Sepupunya telah menyiapkan urusan yang memungkinkan dirinya menemui Joanna pada waktu yang dibicarakan.
Thomas memeriksa beberapa bagian, menyetujui susunannya, lalu menanyakan apakah ada sesuatu lagi yang perlu dilakukan sebelum keberangkatan.
Matthew menggeleng.
"Terima kasih, Your Grace."
Thomas meletakkan kertas. "Kau sudah mengatur pekerjaanmu. Itu bukan sesuatu yang perlu kautebus."
"Saya tahu. Saya berterima kasih karena sekarang kita bisa membicarakannya."
Kalimat itu membuat Thomas diam lebih lama daripada dugaan sepupunya.
Akhirnya ia mengangguk.
Kepercayaan rupanya tidak kembali melalui satu pernyataan besar. Kadang ia hadir dalam seorang pria yang berani membawa surat adiknya ke meja tanpa khawatir surat tersebut akan menjadi alasan untuk dilarang pergi.
Thomas kembali kepada daftar yang dibuatnya tentang masa depan.
Ia menambahkan satu hal yang belum ditulis: orang-orang di rumahnya seharusnya tidak perlu menyembunyikan hal yang menyenangkan hanya karena takut mengganggu kehendaknya.