Thomas, setelah seseorang mengatakan mencintaimu, jangan membuatnya menyesal karena kau menjadi terlalu puas dengan dirimu sendiri.
Duke of Gordon ke-X.
***
Henrieta mengetahui sesuatu telah berubah sebelum Annalise selesai menceritakan anjing di rumah Wellington.
Bukan karena kisah anjing itu sangat romantis. Justru karena adiknya terlalu bersungguh-sungguh membicarakan hewan tersebut, seolah seluruh kunjungan hanya terdiri atas kursi yang dikuasai tanpa izin dan makanan yang perlu dijaga.
"Bagaimana Thomas?" tanya Henrieta akhirnya.
"Dia tidak mencuri makanan dari meja."
"Aku senang mendengarnya. Pertanyaanku sedikit lebih luas daripada itu."
Annalise menutup buku di pangkuan. Mereka berada di kamar pada sore sesudah kepulangan, dengan Wilda sedang memeriksa pakaian yang perlu dirapikan. Gresham belum meminta mereka turun, sehingga tidak ada alasan menyelamatkan diri melalui kegiatan lain.
Gadis itu memandang kakaknya dan merasa senyum muncul tanpa dapat dicegah.
"Kami saling mencintai."
Henrieta tidak langsung berteriak atau memanggil seluruh rumah. Ia hanya mengulurkan tangan dan menggenggam tangan adiknya.
"Kau mengatakannya?"
Annalise mengangguk.
"Aku lebih dahulu."
***
Menceritakan hal itu membuat peristiwa di ruang taman terasa nyata kembali. Ia mengingat cahaya, wajah Thomas ketika mendengar pengakuannya, serta betapa gugup dirinya sesaat sebelum keberanian berhasil menemukan kata-kata.
Henrieta mendengarkan tanpa meminta setiap rincian. Ketika Annalise sampai pada bagian bahwa belum ada lamaran, kakaknya mengangguk seolah itu bukan sesuatu yang perlu dijelaskan dengan permintaan maaf.
"Aku masih ingin memikirkan pernikahan dengan sungguh-sungguh," kata Annalise.
"Tentu."
"Kau tidak menganggapku terlalu lambat?"
"Elise, aku baru mendengar kabarnya beberapa menit lalu. Beri aku waktu menikmati satu peristiwa sebelum memikirkan peristiwa berikutnya."
Annalise tertawa dan menyandarkan kepala sebentar pada bahu kakaknya.
Wilda keluar membawa pakaian, tersenyum kecil saat melewati mereka. Gadis itu menyadari bahwa tidak semua kebahagiaan perlu disembunyikan agar tidak segera berubah menjadi tuntutan dari orang lain.
Ia dapat membiarkan Henrieta mengetahuinya.
Ia juga dapat memilih kapan ingin membicarakan bagian yang masih membuatnya berpikir.
Henrieta kemudian meminta cerita tentang rumah itu, kali ini tanpa membiarkan seluruh penjelasan dikuasai anjing. Annalise menggambarkan jendela yang disukai dan bunyi langkah di lorong. Ia baru menyadari betapa banyak rincian kecil yang diingatnya ketika kakaknya mengatakan bahwa tempat tersebut terdengar sudah cukup akrab untuk dirindukan.
***
Thomas tiba di London setelah menyelesaikan pertemuan yang dijanjikan. Ia mengirim kabar dari rumah, kemudian mendapati Edith telah lebih dahulu menerima surat dari Gresham mengenai perjalanan keluarga Berrow.
"Mereka sampai dengan baik," kata ibunya.
"Aku senang mendengarnya."
"Annalise beristirahat kemarin. Hari ini Henrieta datang."
Thomas memandang surat di tangannya sendiri.
"Mama sudah mengetahui lebih banyak daripada aku."
"Aku mempunyai teman yang rajin menulis. Kau sebaiknya mencoba."
Ia hampir mengatakan dirinya baru saja menulis, lalu menyadari ibunya sengaja menunggu reaksi tersebut.
Thomas pergi ke ruang kerja tanpa memberinya kepuasan tambahan. Potret dari Annalise dibawa pulang dengan hati-hati dan kini menunggu untuk diletakkan pada tempat yang sesuai.
Ia memilih sisi meja yang memperoleh cahaya, kemudian memindahkan tumpukan kertas agar tidak menutupi bagian bawahnya.
Matthew masuk dan berhenti ketika melihat perubahan tersebut.
"Apakah berkasnya dipindahkan karena tidak cukup menarik dipandang, Your Grace?"
"Berkasnya tidak pernah mencoba menangkap wajahku dengan baik."
Matthew menunduk menyembunyikan senyum.
***
Kunjungan berikutnya berlangsung dua hari kemudian. Annalise turun ke ruang duduk dan mendapati Thomas sedang menjawab pertanyaan Richard mengenai rumah keluarga mereka.
Kakaknya bersikap cukup sopan. Hal itu sendiri sudah membuat Annalise curiga.
"Elise mengatakan ada penghuni rumahmu yang tidak dapat diperintah," ujar Richard.
Thomas mengangguk. "Ia sudah terlalu tua untuk mengubah kebiasaannya."
"Aku semula mengira yang dimaksud Edith."
Dari meja dekat jendela, Gresham mengeluarkan suara teguran yang tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan tawa.
Thomas tertawa sebelum menjawab bahwa dirinya tidak cukup berani menentukan siapa di antara kedua penghuni itu yang paling sulit dibujuk.
Annalise duduk dan menerima sapaannya. Tidak ada yang berubah secara lahiriah dari kunjungan sebelumnya. Kursi yang sama, meja yang sama, ibunya masih memeriksa surat.
Namun, ketika Thomas memandangnya, Annalise mengetahui mereka kini menyimpan sebuah kalimat yang telah diucapkan bersama.
Ruang duduk itu terasa lebih kecil karenanya.
***
Richard akhirnya pergi menemui ayahnya. Annalise menunjukkan surat pendek dari Henrieta mengenai rencana melihat beberapa gambar di tempat penjual cetakan yang dikenal Mrs. Bell.
Ia ingin ikut pada hari yang memungkinkan. Bukan untuk membeli sesuatu yang mahal, melainkan melihat bagaimana orang lain menggambarkan tempat yang tidak pernah dikunjunginya.
"Apakah kau akan membawaku agar dapat menunjukkan semua kesalahan pemandangannya?" tanya Thomas.
"Aku belum mengundangmu."
Ia meletakkan tangan di dada dengan wajah terluka.
Annalise tertawa, lalu menambahkan bahwa ia memang ingin pergi bersama Henrieta dahulu. Ia akan senang menceritakannya kepada Thomas setelah pulang.
Pria itu menerima jawaban tersebut tanpa membuat gurauan berikutnya terdengar seperti tuntutan.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan pendapat yang tidak diminta setelah mendengar ceritanya."
"Kebiasaan yang sudah sangat terlatih."
Mereka tersenyum. Annalise merasa lega karena menyatakan cinta tidak mendadak membuat seluruh rencana di luar kebersamaan mereka harus dipertanggungjawabkan.
***
Thomas kemudian menanyakan apakah ia bersedia membicarakan hal yang lebih serius pada kunjungan berikutnya. Annalise meletakkan buku.
"Apa?"
"Bagaimana kau membayangkan kehidupanmu beberapa tahun mendatang. Bukan hanya rumah atau undangan. Aku ingin mengetahui apa yang ingin tetap kaulakukan."
Gadis itu memperhatikannya. Ada masa ketika pertanyaan serupa akan disertai jawaban yang sudah dipilihkan untuknya.
Sekarang Thomas tampak benar-benar menunggu.
"Aku perlu memikirkannya," katanya.
"Aku juga."
Annalise menatapnya lebih tajam. "Kau belum menyiapkan seluruh rencana?"
"Aku mempunyai beberapa gagasan. Aku sedang berusaha tidak menganggap semuanya harus dilaksanakan."
Gadis itu tersenyum, lalu menyetujui percakapan tersebut. Ia tidak ingin masa depan menjadi kata yang hanya disebut ketika salah satu dari mereka takut kehilangan yang lain.
Mereka dapat membicarakannya pada sore yang biasa, sambil minum teh, tanpa cincin menunggu di saku untuk mengubah jawaban menjadi sesuatu yang lebih besar.
***
Sesudah Thomas pergi, Annalise mengambil selembar kertas. Ia menulis beberapa hal yang ingin dijaga: menggambar, bertemu keluarganya, berkirim kabar dengan Joanna, waktu untuk beristirahat tanpa membuat semua orang cemas.
Kemudian ia berhenti pada bagian yang belum dapat diringkas menjadi satu kata.
Ia ingin berada di dekat Thomas ketika pria itu pulang. Ingin mengetahui hal kecil yang membuatnya tertawa atau kesal. Ingin sesekali memindahkan kursi tanpa merasa sedang melanggar susunan milik seseorang yang hanya menampungnya.
Annalise tidak menuliskan semuanya. Beberapa bagian ingin dikatakannya langsung.
Di ruang kerja Wellington, Thomas menyadari bahwa kertas yang dipakainya membuat daftar justru lebih banyak berisi pekerjaan daripada kehidupan yang diharapkan.
Ia membalik halaman dan mulai lagi.
Untuk pertama kalinya, pertanyaan mengenai seorang duchess tidak dijawabnya dengan nama seorang wanita.
Ia sedang mencoba menjelaskan pria seperti apa yang ingin hadir di rumah bersama wanita tersebut.