Pada pagi terakhir kunjungannya, Annalise menemukan potret Thomas di ruang kecil yang dipakainya membaca surat.
Pintunya terbuka. Ia sedang berjalan bersama Wilda menuju ruang sarapan ketika melihat kertas itu diletakkan pada penyangga sederhana, jauh dari tepi meja yang dipenuhi berkas.
Gambar tersebut belum dibingkai.
Namun, Thomas sudah memilih tempat yang membuatnya terlihat setiap kali masuk.
Annalise berhenti cukup lama sampai Wilda mengikuti arah pandangannya.
"Anda ingin masuk?"
Gadis itu menggeleng, lalu berubah pikiran ketika Thomas muncul dari ujung lorong membawa sebuah buku.
Ia langsung mengetahui apa yang sedang diperhatikan Annalise.
"Cahayanya cukup baik di sana," katanya.
"Aku hampir ingin memperbaiki alisnya lagi."
Thomas meletakkan buku dan berdiri di samping pintu.
"Aku menolak. Pria dalam gambar itu sudah tinggal dengan tenang sejak kemarin."
Annalise tertawa. Rasa hangat yang datang setelahnya tidak mempunyai banyak hubungan dengan kebanggaan terhadap hasil gambar.
Ia senang mengetahui sesuatu dari tangannya telah memperoleh tempat dalam hari-hari Thomas.
***
Sarapan berlangsung lebih ramai daripada pagi sebelumnya. Duke of Berrow sedang membicarakan waktu berangkat, Gresham memastikan persinggahan yang akan digunakan, dan Edith berpendapat bahwa semua tamu selalu pulang sebelum dirinya sempat menunjukkan bagian rumah yang paling menarik.
"Kau sudah menunjukkan cukup banyak," kata Gresham.
"Itu pendapat orang yang belum melihat lemari kain sebelah timur."
Thomas menunduk menyembunyikan senyum. Annalise tidak berhasil menahannya sebaik itu.
Edith memandang mereka bergantian.
"Kalian boleh tertawa. Lemari itu mempunyai lebih banyak cerita daripada sebagian tamuku."
Duke of Berrow menyarankan agar cerita berikutnya disimpan untuk kunjungan lain. Kalimat tersebut membuat Annalise melirik Thomas tanpa sengaja.
Ia sedang memandangnya juga.
Tidak ada janji dalam percakapan itu, tetapi kemungkinan kembali terasa menyenangkan. Annalise tidak lagi mengingat rumah tersebut hanya melalui ukuran, tanggung jawab, atau pertanyaan yang membuatnya takut.
Ada jendela, seekor anjing malas, dan meja tempat gambarnya disimpan.
***
Sebelum berangkat, Edith meminta Thomas menemani Annalise mengambil buku yang tertinggal di ruang taman. Wilda sudah mengetahui letaknya, tetapi ikut berjalan tanpa menawarkan diri mengambilnya sendirian.
Gadis itu menduga tidak ada seorang pun yang benar-benar tertipu oleh urusan buku tersebut.
Ia tetap senang menerimanya.
Jalan melewati ruang-ruang yang kini dikenalnya terasa lebih pendek. Ketika tiba, Thomas membuka pintu dan mempersilakannya masuk. Gambar pohon masih berada di antara halaman, dengan satu cabang yang belum selesai.
Annalise mengeluarkannya dan melihat pohon asli di luar.
"Aku perlu datang lagi untuk ini."
"Aku akan berusaha memastikan pohonnya tidak pergi."
Ia tertawa, lalu duduk sebentar. Thomas mengambil kursi di dekatnya, sementara Wilda memeriksa selendang yang disampirkan pada sandaran dekat pintu.
Keheningan itu tidak terasa canggung sampai Annalise menyadari ada sesuatu yang ingin dikatakannya.
Kali ini ia tidak ingin membawanya pulang sebagai kalimat yang terus dicoba dalam pikiran.
***
"Aku senang kita datang," katanya.
Thomas mengangguk. "Aku juga."
"Bahkan setelah percakapan yang sulit itu."
Ia memandang gadis tersebut dengan lebih sungguh-sungguh.
Annalise menjelaskan bahwa dirinya belum memperoleh jawaban untuk semuanya. Ia masih perlu memahami keinginannya, kesehatannya, serta apa yang akan berarti jika benar-benar memilih kehidupan bersama.
Namun, ia tidak lagi merasa semua pertanyaan harus disembunyikan sampai Thomas cukup menyukainya untuk memaafkan jawabannya.
"Aku dahulu sering memikirkan cara membuat seseorang tetap berada di dekatku," katanya. "Dengan Hugo, aku berharap bisa menunda cukup banyak hal sampai dia menginginkan apa yang kuinginkan. Denganmu, awalnya aku justru ingin menemukan jalan untuk tidak perlu memilih apa pun."
Thomas mendengarkan tanpa mengubah nama Hugo menjadi alasan cemburu.
"Sekarang aku ingin memilih," lanjut Annalise. "Bukan karena aku tahu semuanya akan mudah. Aku hanya sudah tahu perasaanku bukan lagi sesuatu yang ingin kusembunyikan di balik alasan lain."
***
Thomas merasa seluruh jawaban yang pernah disiapkannya untuk percakapan penting mendadak tidak berguna.
Annalise menatapnya, gugup tetapi tidak mundur.
"Aku mencintaimu."
Kalimat itu sederhana. Tidak disertai janji mengenai anak, tanggal pernikahan, atau kesediaan meninggalkan seluruh hal yang sedang dipelajarinya.
Justru karena itu, Thomas mengetahui betapa besar yang diberikan kepadanya.
Ia mengulurkan tangan, berhenti cukup dekat agar Annalise dapat memilih menerima. Gadis itu meletakkan jemarinya di atas telapak tangannya.
"Aku mencintaimu juga," jawabnya.
Tidak ada kemenangan dalam cara ia mengatakannya. Yang ada justru rasa takjub yang membuat Annalise tersenyum, lalu menunduk ketika matanya mulai terasa hangat.
"Kau tidak perlu terlihat begitu terkejut," gumamnya.
Thomas tertawa pelan.
"Aku sedang mencoba menerima bahwa aku mendengarnya dengan benar."
"Jangan membuatku mengulang hanya untuk memuaskan kesombonganmu."
"Aku tidak berani."
Mereka saling memandang dan sama-sama mengetahui bahwa pernyataan terakhir tidak sepenuhnya dapat dipercaya.
***
Thomas membawa tangannya lebih dekat dan mencium jemari yang digenggamnya dengan lembut. Annalise membiarkannya, kemudian berdiri ketika ia ikut bangkit dari kursi.
Gadis itu mendekat atas kehendaknya sendiri. Thomas menunggu sesaat, memastikan arah gerakannya, lalu menerima ciuman singkat yang diberikan Annalise.
Ia tidak menariknya lebih dekat untuk mengubah perpisahan menjadi sesuatu yang akan membuat gadis itu harus memilih antara keinginan sendiri dan ketergesaan orang lain.
Ketika mereka berpisah, Annalise tetap memegang tangannya.
"Aku belum menjawab pertanyaan yang belum kautanyakan," katanya dengan senyum kecil.
Thomas memahami maksudnya.
"Aku tahu. Dan aku tidak akan menggunakan kalimatmu tadi untuk berpura-pura sudah menerima jawaban itu."
Annalise mengangguk. Ia tidak ingin cinta diperlakukan seperti perangkap yang lebih indah daripada cincin pertama mereka.
Dari dekat pintu, Wilda berdeham pelan dan mengingatkan bahwa buku yang dicari sudah ditemukan cukup lama.
Thomas tertawa. Gadis di hadapannya menutup wajah sebentar dengan buku tersebut.
***
Di ruang depan, seluruh barang sudah siap. Duke of Berrow berbicara dengan pengurus mengenai bantuan yang diberikan selama kunjungan, sementara Gresham mengucapkan terima kasih kepada Edith.
Annalise menyampaikan salam kepada mereka yang ditemui sebelum keluar. Ia tidak berjanji akan menjadi bagian keluarga ini, tetapi tidak pula merasa perlu membuat dirinya tampak dingin demi mempertahankan kebebasan memilih.
Thomas berjalan di sampingnya menuju kereta.
"Aku akan kembali ke London setelah menyelesaikan satu pertemuan besok," katanya. "Aku akan menulis saat tiba."
"Aku akan menunggu kabarnya."
Ia menyukai bahwa mereka masih dapat mengatakan hal praktis setelah pengakuan yang membuat segala sesuatu terasa baru. Jalan tetap memerlukan waktu. Orang tuanya tetap perlu pulang. Cinta tidak harus membatalkan seluruh rencana agar terlihat sungguh-sungguh.
Thomas membantu setelah ayah Annalise mempersilakan, kemudian melepaskan tangan gadis itu ketika ia sudah duduk dengan nyaman.
Kereta mulai bergerak.
Kali ini Annalise tidak menyembunyikan senyum ketika menoleh.
***
Beberapa saat setelah rumah menghilang di balik pepohonan, Gresham melihat putrinya masih memegang buku dengan kedua tangan.
"Kau membawa gambarnya?"
"Gambar pohonnya. Potretnya tinggal."
"Bagus."
Ibunya tidak bertanya lebih jauh. Duke of Berrow memandang pemandangan di luar, cukup bijaksana untuk tidak mengomentari senyum yang terus kembali pada wajah putrinya.
Di rumah, Thomas masuk ke ruang kecil dan berhenti di depan potret.
Edith menemukan putranya di sana ketika hendak menanyakan urusan perjalanan pulang.
"Kau tampak sangat senang untuk seseorang yang baru ditinggalkan tamunya."
Thomas menoleh.
"Aku memang senang, Mama."
Edith memandangnya, lalu tersenyum tanpa meminta penjelasan yang belum ingin dibagikan.
Thomas kembali melihat gambar tersebut. Ia belum mempunyai seorang duchess. Belum ada tanggal atau cincin baru di tangan Annalise.
Namun, gadis itu telah mengatakan mencintainya dengan suara sendiri, pada waktu yang dipilihnya sendiri.
Untuk hari itu, Thomas tidak ingin meminta lebih banyak.