"Oh Tuhan!" Seru Isabel tertahan.
"Diamlah sebentar Isabel dan tolonglah aku. Kau mengerti?" hardik Annalise dengan kesal.
Isabel mengangguk. Menatap Thomas yang kembali mengangkat sebelah alisnya ketika Isabel menuruti perintah Annalise. Diamnya Isabel kali ini bukannya karena dia takut dengan gadis bandel itu. Namun semata-mata karena instingnya menyarankan untuk diam ketika Thomas memberikan tatapan peringatan kepadanya untuk kesekian kalinya.
Sedekat apapun hubungan sang duke dengan Ruthbone, suaminya, tetap tidak akan menjamin bahwa kehidupannya akan baik-baik saja jika dirinya melanggar perintah tak kasat mata darinya. Duke muda itu terlalu berbahaya untuk dijadikan musuh. Dan dalam keadaannya kali ini, akan lebih baik jika dirinya menurut.
"Kubilang, buka bajumu!" perintah Annalise lagi dengan nada tidak sabar.
Thomas masih menaikkan sebelah alisnya. Menatap lurus kepada iris biru lautan milik Annalise yang menatapnya dengan tidak sabar.
"Isabel, tolong bawakan air hangat, handuk bersih, dan salep herbal berwarna hitam yang biasa dokter Ruthbone gunakan," perintah Annalise kepada Isabel.
Isabel masih berdiri dengan bingung. Demi kesopanan, seharusnya dirinya tetap berada di ruangan yang sama bersama dengan sang lady dan duke muda itu.
"Cepatlah, sebelum lukanya menjadi infeksi!" tuntutnya membuat mata Isabel membelalak. Ia lalu memaksa kakinya dan keluar dari ruangan. Meneriakkan nama pelayannya yang saat ini sibuk di dapur dan berusaha melakukan tugas yang diberikan sesegera mungkin.
Sementara itu, Thomas mulai melepaskan satu persatu kancingnya dengan ragu-ragu. Ia menatap pintu yang tertutup dan gadis muda di depannya bergantian. Gadis itu tampak akrab dengan ruangan ini. Bergerak dari satu sudut ke sudut lainnya dan memekik kecil ketika menemukan benda yang sepertinya sedari tadi dicarinya.
"Sepertinya kau sudah hapal dengan letak benda-benda di sini," ujar Thomas mengganggu kesibukan Annalise yang sedang membebaskan lembaran kain kasa yang akan ia gunakan untuk membebat luka Thomas.
"Ya. Sudah kubilang bahwa aku lumayan sering mengunjungi dokter Ruthbone." Annalise mengangkat wajahnya. Tersenyum masam kepada Thomas dan kembali lagi untuk berdiri di depannya.
Ia menyeret bangku tinggi dan duduk berhadapan dengan Thomas yang duduk di atas ranjang pasien. Ranjang yang sama seperti yang ia gunakan beberapa hari yang lalu ketika Thomas berada dalam kondisi yang tidak baik.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Thomas sengaja berlama-lama dengan pakaiannya yang masih melekat di tubuhnya. Siapa pun bisa masuk dan jika mereka menemukan dirinya yang bertelanjang d**a dengan seorang gadis yang tidak ia kenali, dirinya tahu sangsi apa yang bisa ia terima. Pada akhirnya, dirinya harus bertanggung jawab akan nama baik Annalise dengan menikahinya. Sedangkan, dirinya belum mengenal gadis itu dengan baik. Ia bahkan belum memutuskan apa yang akan dirinya lakukan kepada lady muda yang sedang menyamar ini.
Gadis di depannya memang cantik. Dengan kesempurnaan fisik yang akan membuat para bidadari di langit iri dengannya. Bahkan, mantan tunangannya kalah cantik dengan Annalise. Gadis itu, Annalise Collins memiliki kencantikan liar dan kelembutan di saat yang bersamaan. Membuat seorang pria tertantang sekaligus ingin melindunginya dengan segenap kekuatannya.
Gadis yang berbahaya. Setidaknya, itu yang insting Thomas katakan mengenai gadis bersurai pirang keemasan di depannya. Dan instingnya sering kali tidak pernah mengkhianatinya.
Annalise mengedikkan bahunya menanggapi pertanyaan Thomas. Ia lalu menunduk dan menatap kain kasa di tangannya.
"Aku akan mencoba membersihkan lukamu dan memberikan salep ajaib milik dokter Ruthbone. Itu akan membantu sampai dokter Ruthbone atau Hugo datang ke sini."
"Kau tahu, bahwa bisa saja aku tidak terluka."
Annalise menghela napas panjang. "Aku mencium bau darah darimu. Sudah kubilang-"
Thomas terkekeh. "Memangnya kau itu apa? Manusia serigala?"
Annalise mendelik. Namun tak urung dia juga tertawa bersama Thomas. "Saudaraku memang memanggilku demikian karena hidungku yang tajam." Ia lalu berhenti tertawa, menatap lurus kepada Thomas dengan wajah serius. "Aku sudah sering berusan dengan dokter, klinik, rumah perawatan, tabib, dan lainnya semenjak kecil, atau bahkan semenjak aku dilahirkan. Percayalah bahwa aku sudah hapal dengan bau darah. Atau..." Annalise menggantung ucapannya. Membuat sebelah alis Thomas terangkat karena tertarik.
"Atau?" ujar Thomas penasaran.
"Bisa saja segala obat yang mereka berikan membuatku menjadi penyihir yang memiliki darah separuh manusia serigala," katanya diselingi dengan seringaian lebar.
Thomas tergelak mendengar penuturan ajaib dari gadis cantik di depannya. Membuat tubuhnya berguncang dan kembali meringis saat merasakan luka di punggungnya.
Oh, sial.
"Lihat? Sudah kubilang bahwa kau terluka," gerutu Annalise.
Tidak berapa lama, Isabel lalu datang bersama seorang pelayan yang membawa sebaskom air hangat sementara dirinya membawa handuk dan salep. Sang pelayan menaruh baskom itu di samping Thomas bersamaan dengan Isabel yang menaruh kedua benda itu di dekatnya.
"Terima kasih," kata Annalise dengan senyum yang merekah. Ia meminta sang pelayan untuk pergi sementara Isabel tetap berada di sini dan menemani mereka. "Nah, sekarang kau bisa melepas bajumu karena ada Mrs. Albern di sini."
"...."
"Aku tahu kau merasa tidak nyaman karena tadi kita hanya berdua. Namun sekarang ada Isabel di sini dan kau bisa membuka bajumu," perintah Annalise lagi.
Thomas mendengkus. Ia baru menyadari bahwa gadis di depannya benar-benar tukang perintah dan suka sekali menyeret-nyeret orang sesuka hatinya. Namun Thomas tetap melakukan apa yang ia perintahkan dan dengan perlahan membuka kemeja katunnya.
Mata Annalise, atau barangkali juga Isabel membelalak lebar melihat tubuh Thomas. Campuran antara rasa kagum dan kengerian yang bersatu padu. Dan entah sejak kapan, Annalise sudah menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca dan dirinya berusaha untuk tidak meloloskan isakan dari bibirnya.
"Ya Tuhan. Sebenarnya apa yang sudah kau perbuat dalam hidupmu?"