Thomas, orang yang kauinginkan di sisimu tidak berutang jawaban yang mudah hanya karena kau akhirnya berani bertanya.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise memilih ruang menghadap taman untuk berbicara.
Hari itu cahaya tidak secerah kemarin, tetapi ia masih dapat melihat pohon yang mulai digambarnya. Wilda membawa buku serta selendang, kemudian duduk dekat pintu yang terbuka. Gresham berada di ruang sebelah bersama Edith.
Thomas datang tanpa membawa bunga atau sesuatu yang dapat dijadikan pembuka untuk menghindari persoalan.
Ia duduk setelah Annalise mempersilakan.
"Aku ingin menanyakan sesuatu yang belum pernah kubicarakan denganmu," kata gadis itu.
Thomas mengangguk.
"Tentang anak-anak."
Ia tidak berpura-pura terkejut. Namun, mendengarnya disebut langsung tetap membuat Thomas menyadari bahwa mereka telah sampai pada percakapan yang tidak dapat diakhiri dengan gurauan mengenai pohon atau sepatu.
Annalise menatapnya, menunggu.
"Apakah kau menginginkannya?"
Thomas mempertimbangkan jawaban sebelum berkata, "Ya. Aku pernah membayangkan mempunyai anak."
Gadis itu menunduk sebentar, lalu memintanya menjelaskan lebih banyak.
***
Thomas mengatakan bahwa bayangan tersebut telah lama ada, tetapi tidak pernah dipikirkannya serinci yang seharusnya. Ada rumah, seorang istri, dan anak-anak dalam gambaran masa depan yang terasa wajar karena semua orang berbicara seolah itulah urutannya.
Ia juga sungguh menyukai kemungkinan mengenal seorang anak yang akan tumbuh di rumah ini. Bukan hanya untuk memenuhi harapan ibunya atau meneruskan nama keluarga.
Annalise mendengarkan sampai selesai.
"Aku belum tahu bagaimana menjawab tentang diriku sendiri," katanya.
Ia menjelaskan perasaan yang dibicarakan bersama Gresham. Ia dapat membayangkan hal yang menyenangkan, tetapi juga takut kepada tuntutan yang mungkin menyertainya dan tidak mengetahui apa yang berarti bagi kesehatan dirinya.
Thomas tidak menyela untuk mengatakan semuanya pasti baik.
"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum kupahami," lanjut Annalise. "Dan aku takut kau akan menganggap keraguanku sementara saja, sesuatu yang nanti hilang setelah kita menikah."
Kata terakhir membuat keduanya diam sejenak.
Ini pertama kalinya kemungkinan itu disebut di antara mereka tanpa digunakan sebagai gurauan atau sesuatu yang sudah dibatalkan.
***
Thomas memandang tangannya sendiri.
Dahulu ia mungkin akan menjawab bahwa dirinya dapat mencari dokter terbaik, rumah paling nyaman, dan semua bantuan yang diperlukan. Ia masih bersedia melakukan hal-hal yang berguna, tetapi kini memahami bahwa uang tidak dapat mengubah pertanyaan Annalise menjadi kepastian.
"Aku tidak ingin menikah dengan anggapan kau pasti berubah sesuai harapanku," katanya.
Gadis itu mengangkat wajah.
"Itu jawaban yang indah, Thomas. Aku perlu tahu apakah kau memahaminya ketika jawabanku tetap sulit."
Ia menerima teguran tersebut. Tidak ada cara membuktikan seluruh masa depan dalam satu percakapan, dan ia tidak berhak meminta Annalise mempercayai sesuatu hanya karena diucapkan dengan suara yang sungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa menunjukkan tahun-tahun yang belum terjadi," jawabnya. "Tetapi aku bisa berhenti menganggap anak sebagai sesuatu yang kaujanjikan kepadaku bahkan sebelum aku melamar dengan benar."
Annalise melepaskan napas perlahan.
Ia masih mempunyai pertanyaan lain.
***
"Bagaimana dengan keluargamu? Dengan semua orang yang menganggap seorang duke harus mempunyai pewaris?"
Thomas memandang ke arah taman sebelum kembali kepadanya.
Ia tidak meremehkan harapan tersebut. Ia dibesarkan bersama pembicaraan mengenai keluarga, tanah, dan tanggung jawab. Mengatakan semua itu tidak pernah penting akan menjadi kebohongan yang mudah dikenali bahkan oleh dirinya sendiri.
Namun, Annalise bukan jawaban yang dapat dimasukkan ke dalam urusan keluarga agar semuanya tampak beres.
"Aku perlu membicarakan harapan itu dengan keluargaku sendiri," katanya. "Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu untuk dihadapi seorang diri."
Ia menjelaskan bahwa dirinya ingin belajar membicarakan masalah keluarga sebelum masalah itu berubah menjadi tekanan yang diarahkan kepada calon istrinya.
Annalise mendengarkan, tetapi tidak mengangguk sekadar untuk membuatnya nyaman.
"Aku tidak ingin menjadi seseorang yang kaupilih sambil berharap kekurangannya tidak mengganggu rencana."
Thomas menggeleng.
"Ketidakpastian bukan kekuranganmu. Aku pun tidak bisa menjanjikan semua hal yang kelak terjadi pada diriku."
***
Perkataan itu tidak menyelesaikan ketakutan Annalise, tetapi mengubah cara ia duduk di hadapan pria tersebut. Ia tidak lagi merasa sedang mengajukan pembelaan mengapa dirinya patut dipilih meskipun ada sesuatu yang belum dapat diberikan.
Ia menanyakan apakah Thomas ingin waktu untuk berpikir.
Pria itu tampak hendak langsung menjawab tidak, lalu berhenti.
"Aku ingin memikirkan bagaimana menjalaninya dengan benar," katanya. "Itu berbeda dari menunggu kau memberikan jawaban yang lebih mudah."
Annalise mengangguk.
Ia sendiri memerlukan waktu. Jika kelak memutuskan membicarakan kesehatannya lebih jauh dengan Ruthbone atau dokter yang menanganinya, itu akan dilakukan untuk memahami hidupnya, bukan memperoleh surat kelayakan bagi seorang duke.
Thomas menyetujuinya. Ia tidak meminta izin membaca keterangan yang belum ada.
Untuk beberapa saat, mereka mendengar langkah dari ruangan sebelah dan suara Edith menanyakan letak sesuatu yang ternyata berada di depan matanya.
Annalise tersenyum kecil.
Dunia rupanya tetap dapat terasa biasa sementara sebuah percakapan penting sedang mengubah sesuatu di dalam dirinya.
***
Thomas menanyakan apakah ia ingin ditinggalkan sendiri. Gadis itu menggeleng.
"Aku hanya tidak ingin membicarakannya terus sampai semua kata kehilangan arti."
"Baiklah."
Annalise mengambil buku gambar dan membukanya pada pohon. Ia mencoba menambahkan satu garis, lalu berhenti karena tangan terasa terlalu sibuk memikirkan hal lain.
Thomas melihatnya tanpa berkomentar. Ia meminta kertas kosong dan, setelah mendapat izin, mulai menggambar bangku taman dengan kemampuan yang tidak banyak berubah sejak jendela di Bath.
Annalise menatap hasilnya.
"Kakinya tidak akan menahan siapa pun."
"Aku berharap orang yang melihatnya cukup sopan untuk tidak duduk."
Tawanya keluar sebelum sempat ditahan. Tidak semua keheningan harus dipenuhi jawaban besar, dan tidak semua kedekatan harus dibuktikan dengan janji.
Mereka duduk beberapa saat dengan gambar yang buruk di antara keduanya.
Ketika Annalise akhirnya mengatakan ingin beristirahat, Thomas mengantarnya sampai pintu ruangan dan membiarkan Wilda menemani langkah berikutnya.
***
Sore itu Thomas meminta berbicara dengan Edith sebelum makan malam.
Ia tidak menceritakan seluruh ketakutan Annalise. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya ingin harapan mengenai pernikahan dan anak-anak tidak terus dibicarakan di hadapan gadis itu seolah jawabannya sudah diketahui.
Edith mendengarkan dengan serius.
"Aku memahami itu."
"Aku juga perlu mengingatnya untuk diriku sendiri."
Ibunya memandangnya lebih lama, lalu mengangguk.
Thomas mengakui ia menginginkan masa depan bersama Annalise, tetapi belum ingin melamar hanya karena takut gadis itu berubah pikiran jika diberi terlalu banyak waktu.
Edith tersenyum sedih.
"Aku dahulu mendesakmu memilih agar kau tidak sendirian," katanya. "Kadang aku lupa bahwa rasa takutku bukan alasan yang cukup untuk mempercepat hidup orang lain."
Thomas meraih tangan ibunya dan menggenggamnya sebentar.
Tidak ada cincin yang dikeluarkan. Tidak ada tanggal yang dibahas.
Namun, percakapan itu terasa lebih dekat kepada sebuah pernikahan yang sungguh dipahami daripada seluruh rencana yang pernah dibuatnya pada malam pertama Annalise menerima pertunangan.