Makan malam bersama tetangga dimulai dengan seorang tamu yang hampir duduk di tempat anjing tua itu sedang tidur.
Kursinya berada dekat pintu ruang duduk, dan kain penutup sebagian menyembunyikan tubuh hewan tersebut. Edith memperingatkan tepat sebelum tamunya menurunkan diri.
Pria itu menegakkan punggung dengan cepat.
"Rupanya kursinya sudah dipesan."
Annalise tertawa bersama yang lain. Ketegangan kecil yang dibawanya sejak berpakaian mulai berkurang. Mereka hanya beberapa orang yang saling mengenal, bukan barisan hakim yang menunggu dirinya melakukan kesalahan dengan sendok.
Thomas berdiri di dekat ayahnya, tetapi sesekali memandang ke arahnya. Annalise menyukai perhatian itu meskipun berusaha tidak terlalu sering membalasnya.
Ketika waktunya menuju meja makan, ia berjalan bersama Gresham dan seorang wanita tetangga yang sudah lama mengenal Edith.
Wanita tersebut menanyakan perjalanan dari London, lalu berbicara tentang taman.
Sejauh itu, semuanya mudah.
***
Percakapan pertama di meja tidak menyangkut pernikahan. Ada kabar mengenai jalan yang rusak setelah hujan, seekor kuda yang bertingkah buruk, serta kegemaran seseorang menanam bunga di tempat yang terlalu teduh.
Duke of Berrow bercerita tentang Richard yang pernah menganggap dirinya ahli memilih jalur perjalanan sebelum harus kembali dengan sepatu berlumpur.
Annalise meminta agar kisah itu diulang ketika kakaknya hadir.
"Ia selalu mempunyai bagian tambahan untuk membela diri," katanya.
"Itulah sebabnya aku menceritakannya sekarang," jawab ayahnya.
Thomas tertawa. Gadis itu memperhatikan betapa berbeda wajahnya ketika berada di meja sendiri, dikelilingi orang yang tidak mengharapkannya menyelesaikan suatu pekerjaan sebelum hidangan berikutnya datang.
Ia dapat membayangkan malam-malam seperti ini.
Pikiran tersebut begitu menyenangkan sehingga ketika percakapan beralih kepada kabar keluarga seorang tetangga, Annalise tidak segera menyadari ke mana arahnya akan bergerak.
***
Wanita yang duduk dekat Gresham menceritakan kelahiran cucunya. Edith mengucapkan selamat, lalu mendengarkan kisah tentang rumah yang kini dipenuhi orang datang membawa nasihat.
"Kita selalu mengatakan akan membiarkan orang tua muda belajar sendiri," ujar wanita itu. "Lalu kita tiba dan tidak bisa berhenti berbicara."
Beberapa orang tertawa.
Kemudian ia memandang Thomas dengan keakraban seorang kenalan lama.
"Rumah sebesar ini tentu akan berbeda jika kelak ada anak-anak berlarian. Edith pasti sudah lama membayangkannya."
Annalise merasakan jemarinya berhenti pada gelas.
Tidak ada yang menyebut namanya. Wanita tersebut mungkin akan mengatakan hal yang sama meskipun dirinya tidak hadir. Namun, ia tiba-tiba memikirkan semua pembicaraan lama tentang tubuhnya, usia, pernikahan, dan hal-hal yang seolah harus mampu diberikannya agar kehidupan orang lain lengkap.
Edith meletakkan sendok.
"Aku membayangkan banyak hal," katanya ringan. "Tetapi malam ini aku lebih berkepentingan memastikan tidak ada orang menambah hidangan sebelum kita selesai dengan yang sekarang."
Percakapan beralih, dibantu pertanyaan Duke of Berrow mengenai cucu yang baru lahir.
Tidak ada pertengkaran.
Annalise tetap sulit kembali menikmati makanannya.
Ia memotong bagian kecil hidangan dan mendengarkan jawaban tamu di seberang meja. Suara garpu, tawa, dan langkah pelayan tidak berubah. Tidak seorang pun sengaja membuat malam itu berat baginya. Mengetahui hal tersebut membantu Annalise menahan keinginan menyalahkan seseorang, tetapi tidak menjawab pertanyaan yang kini telanjur muncul.
***
Thomas melihat perubahan itu, tetapi tidak menanyakannya di depan meja. Ia menyampaikan cerita kecil ketika percakapan memberi kesempatan, lalu membiarkan Annalise memilih apakah ingin ikut berbicara.
Gadis itu tersenyum pada saat yang tepat. Ia bahkan menanyakan nama tanaman yang sedang dibahas salah seorang tamu.
Tidak ada alasan bagi orang asing untuk menduga sesuatu yang tidak menyenangkan.
Justru itulah yang membuat Thomas semakin berhati-hati. Ia kini mengenali perbedaan antara senyum yang datang sendiri dan senyum yang dipilih agar ruangan tidak bertanya.
Setelah makan malam, Annalise duduk dekat ibunya sementara yang lain menikmati percakapan. Ia menolak tambahan minuman dengan sopan dan mengatakan ingin naik sedikit lebih awal.
Edith mengangguk, tidak meminta satu lagu atau satu kisah lagi sebelum dirinya pergi.
Thomas hanya sempat mendekat di pintu.
"Kau ingin berbicara besok?"
Annalise memandangnya, lalu mengangguk.
Ia bersyukur pertanyaannya tidak disampaikan sebagai tuntutan untuk menjelaskan malam itu juga.
***
Gresham menemaninya sampai kamar, tetapi tidak segera menyebut percakapan di meja. Ia membantu membuka pengait kecil yang menyulitkan Wilda, kemudian menanyakan apakah Annalise ingin ditinggal beristirahat.
Gadis itu menggeleng.
"Mama mendengar tadi."
Ibunya duduk.
"Ya."
Annalise memandang kedua tangan di pangkuannya. Ia tidak marah kepada wanita tersebut. Bahkan bagian dirinya yang paling kesal memahami bahwa orang dapat membicarakan cucu tanpa bermaksud menilai seseorang.
Namun, ia belum pernah menanyakan kepada Thomas bagaimana ia membayangkan keluarganya sendiri.
Apakah selalu ada anak-anak dalam gambaran itu?
Apakah ia menginginkan hal yang sama? Apakah tubuhnya akan memungkinkan? Tidak ada seorang pun yang pernah memberikan jawaban pasti, dan ia tidak ingin dugaan orang-orang menjadi satu-satunya jawaban yang dikenalnya.
"Aku tidak tahu apa yang boleh kujanjikan," katanya.
Gresham menyentuh tangannya dengan lembut.
"Jangan mulai dengan janji. Mulailah dengan apa yang ingin kauketahui."
***
Annalise mengangkat wajah. Ia mengaku kadang tidak dapat membedakan keinginannya sendiri dari rasa takut mengecewakan seseorang.
Ia menyukai Rafe dan Steve. Ia juga menyukai saat berkunjung, tertawa, lalu pulang tanpa harus mengetahui apakah perasaan hangat itu berarti dirinya sudah siap menjadi ibu.
"Aku tidak ingin menjawab hanya karena orang menganggap sudah sewajarnya," katanya.
"Maka jangan menjawab demikian."
Gresham tidak mengatakan bahwa semua ketakutannya akan hilang jika ia cukup mencintai Thomas. Ia juga tidak membuat janji tentang kesehatan yang tidak dapat diketahuinya.
Jika Annalise kelak ingin memahami pertanyaan mengenai tubuhnya, ia boleh membicarakannya dengan dokter yang mengetahui keadaannya. Pembicaraan itu miliknya, bukan sesuatu yang harus digelar di depan tetangga.
Gadis itu mengangguk.
Yang paling menakutkan ternyata bukan pertanyaan di meja.
Yang menakutkan adalah kemungkinan mencintai seorang pria dan baru kemudian mengetahui bahwa dirinya telah menyetujui kehidupan yang tidak pernah sungguh dibicarakan.
***
Di bawah, Thomas membantu Edith menutup malam sesudah tamu terakhir pergi. Ibunya tampak lebih lelah daripada ketika menyambut mereka, tetapi segera menanyakan Annalise.
"Ia sudah naik bersama Gresham," jawab Thomas.
"Aku tahu. Aku bertanya apakah kau mengerti mengapa."
Thomas menatap meja yang mulai dibereskan.
"Aku menduga. Aku akan menanyakannya besok."
Edith mengangguk. Untuk beberapa saat ia memainkan tepi serbet, lalu mengakui bahwa dirinya pernah terlalu banyak berbicara tentang cucu di hadapan gadis itu.
"Aku sudah meminta maaf. Itu tidak berarti kalimat-kalimatnya hilang begitu saja."
Thomas duduk di kursi dekatnya.
Ia juga mempunyai masa lalu yang tidak dapat diperbaiki hanya dengan bersikap lebih baik pada satu sore.
"Aku tidak ingin dia merasa harus membawa jawaban yang menyenangkan," katanya.
"Kalau begitu, jangan siapkan wajah kecewa sebelum dia selesai berbicara."
Edith berdiri dan memanggil pelayan untuk urusan terakhir. Thomas tetap duduk beberapa saat, memikirkan betapa banyak masa depan yang dahulu pernah disusunnya tanpa benar-benar mengenal orang yang ingin ditempatkan di dalamnya.